<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986</id><updated>2012-01-12T18:27:41.758-08:00</updated><category term='Syaiful Anam Assyaibani'/><category term='Nurel Javissyarqi'/><category term='Puisi'/><category term='Sutedjo'/><category term='S. Yoga'/><category term='W.S. Rendra'/><category term='Catatan'/><category term='Suryanto Sastroatmodjo'/><category term='Naskah Teater'/><category term='Herry Lamongan'/><category term='Resensi'/><category term='Esai'/><category term='A. Syauqi Sumbawi'/><category term='Imamuddin SA'/><category term='Sumarlam'/><category term='Pringadi AS'/><category term='Sungatno'/><category term='Forum Sastra Lamongan'/><category term='Friedrich Wilhelm Nietzsche'/><category term='Balada'/><category term='Hallaj'/><category term='Mardi Luhung'/><category term='Octavio Paz Lozano (1914-1998)'/><category term='Iman Budhi Santosa'/><category term='Supaat I. Lathief'/><category term='Sajak'/><category term='Cerpen'/><category term='Maman S. Mahayana'/><category term='Prosa'/><category term='Kasnadi'/><title type='text'>Imamuddin SA</title><subtitle type='html'>wiji hening manunggal ing panunggal</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>46</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-5594291568981604648</id><published>2011-09-24T13:19:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:40:10.255-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Teater'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><title type='text'>SYAM (Sebuah Naskah Teater)</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak 1&lt;br /&gt;Panggung dalam keadaan kosong. Permainan dilakukan dengan menggunakan silhuet. Ini adalah ilustrasi sebuah mimpi dari seorang penyair. Dalam permainan silhuet tersebut muncul sesosok lelaki yang membawa sekantong besar harta. Ia menyeretnya dari sisi kiri ke kanan. Ia berada dalam kondisi susah payah saat membawanya. Dalam suasana seperti itu diiringi dengan irama musik sendu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, muncul dua orang pemain dari dua arah yang berlawanan. Mereka mengambil posisi pertemuan tepat di tengah. Keduanya melakukan tarian yang romantis. Saat itu suasana telah diiringi dangan alunan musik yang romantis pula. Adegan itu dilakukan hingga musik berhenti. Saat musik telah berhenti, kedua pemain tadi berpisah keluar silhuet dengan mengambil posisi yang berlawanan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silhuet masih terus berlangsung. Tidak lama kemudian musik kembali didendangkan. Tetapi irama musik telah berubah. Yang tadinya romantis kini menjadi nada-nada mencekam. Masih dengan pemain yang sama, kedua pemain itu mengambil jarak satu sama lain. Mereka melakukan gerakan memutar. Fokus di tengah-tengah silhuet mereka bertemu. Pemain laki-laki mendekap tubuh pemain perempuan. Dan terlihat pemain lelaki mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya. Pisau itu diangkat tinggi-tinggi seraya hendak ditikamkan kepada pemain perempuan. Pemain perempuan berusaha menghalagi usaha itu dengan memegangi tangan pemain laki-laki yang mengenggam pisau. Ia berusaha sekuat tenaga untuk terhindar dari pembunuhan itu. Pemain perempuan lalu menjatuhkan pemain laki-laki dengan sekuat tenaga. Pemain laku-laki itu akhirnya terjatuh. Pisaunya terhempas dan diambil oleh pemain perempuan. Ia lantas menikamkannya tepat di dada kiri pemain laki-laki. Pemain perempuan tegap berdiri menantang. Dan silhuetpun diakhiri. Seluruh lampu di padamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara musik masih terus bergema dengan nada-nada mencekam. Panggung yang tadinya kosong kini diisi dengan sebuah tempat tidur, meja, dan kursi. Di atas meja terdapat beberapa tumpukan kertas, buku, dan pensil. Sementara di atas tempat tidur terdapat seseorang yang tengah tidur. Dalam tidurnya ia terlihat gelisah. Ia bermimpi. Suara musik makin berdentum keras yang menunjukkan kegelisahan yang sangat mencekam. Pemain itu akhirnya terbangun sambil berteriak keras. Bersamaan dengan itu, musik berhenti dengan seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam kondisi yang belum setabil, irama nafas ngos-ngosan, dan jantung berdetak keras, orang tersebut bangun dari tempat tidurnya. Tetapi masih ada di atas tempat tidurnya. Ia lantas bergeser perlahan-lahan menepi dari tempat tidurnya dan fokus ke arah penonton. Ia duduk di tepi tempat tidurnya. Kedua tangannya mengusap wajah, mengucek kedua mata, dan dilanjutkan gerakan memegangi kepalanya lantas menengadah. Tangan diturunkan, disandarkan pada kedua paha. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan panggilan dari luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : (Tok… tok… tok… tok) Tuan, Tuan masih belum tidur? Boleh masuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Ya, masuklah May!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : (Masuk dan berjalan menuju Tuan Syam. Mengambil duduk di sampingnya.) Ada apa Tuan? Tengah malam begini, Tuan kok berteriak keras sekali? Kelihatannya Tuan sangat gelisah. Apa yang sebenarnya tuan risaukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Tidak ada apa-apa May. Hanya saja, belakangan ini aku susah tidur. Aku sering bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Tadi Tuan bermimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Benar, aku tadi bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Memangnya Tuan tadi mimpi apa sampai berteriak histeris seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : (Berdiri dari tempat duduk. Berjalan menuju sisi kiri panggung) Entahlah…….. cukup banyak yang aku mimpikan malam ini. Tidak seperti biasanya aku mimpi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Mungkin Tuan banyak pikiran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Mungkin juga May. Mungkin ini bawaan dari mimpi-mimpi kemarin yang belum dapat aku tuliskan menjadi sebuah sajak. Beberapa hari ini pikiranku tertekan May. Ada sekian banyak ide yang menumpuk di kepalaku. Tapi aku tak mampu mengguratnya May! (Histeris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Sabarlah Tuan. Mungkin besok, besok lusa, atau seminggu lagi, Tuan akan dapat mengguratnya. O… ya… maaf Tuan, sebenarnya apa yang Tuan mimpikan barusan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : (………………………………….)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Baiklah, jika Tuan tak mau mengatakannya. Tapi …….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Tidak May. Aku akan menceritakannya padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : (Kembali berjalan menuju May dan mengambil tempat duduk di sampignya. Memegang pundak May) Dalam mimpiku, aku melihat seorang manusia membawa tumpukan harta yang cukup banyak. Sampai-sampai ia menyeretnya. Ia mencoba menawar-nawarkannya pada sesamanya tapi tak ada yang mau. Semuanya menolak. Entah apa yang terjadi dengan mereka! Justru orang-orang ditawarinya malah balik menawarkan hartanya untuk dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Tapi mengapa Tuan sampai berteriak-teriak sekeras itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Kau tenaglah barang sebentar. Ceritaku belum selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : (Berjalan lirih ke panggung sebelah kanan menghadap penonton) Setelah itu, tiba-tiba mimpiku berubah. Kali ini, aku menyaksikan sepasang anak manusia yang tengah bermesraan. Menari-nari, bercumbu tiada henti. Mereka tak menghiraukan dengan sekelilingnya. Asyik terbuai dalam tariannya. Sementara, dari jarak yang tak sebegitu jauh, aku terus memperhatikan mereka. Gerak kakinya, lambaian tangannya, dan ……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Dan apa Tuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Dan semakin kutajamkan mataku, aku mendapatkan lelaki itu mengeluarkan sebilah pisau. Ia mencoba menikamkan pisaunya ke dada pasangannya. Sementara, perempuan itu menahan dengan sekuat tenaga. Ia terjepit. Entah ada apa dengan perempuan itu. Tiba-tiba saja ia bertenaga. Ia membanting lelaki itu. Dan merebut pisaunya. Lelaki itu pun terjatuh. Kini giliran perempuan itu yang menguasainya. Ia mencoba menikam balik lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Dalam mimpi itu, Tuan tidak berusaha menolongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Aku ingin melerai pertikaian itu. Tapi tubuhku terasa kaku. Seluruh sendi-sendiku tak sanggup aku gerakkan. Aku semakin panik. Aku memanggil-manggilnya dengan suaraku, tapi suaraku tak kunjung keluar. Suasana semakin bertambah mencekam. Jantungku berdetak kencang. Tak menentu. Dan saat perempuan itu menikamkan pisaunya tepat di jantung lelaki itu, aku kaget dan berteriak histeris sekeras-kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : (Berjalan menuju Tuan Syam) Kira-kira, apa maksud dari semua mimpi-mimpi Tuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : (Memandang May dengan pandangan yang sangat tajam) Kau ingin mengerti May?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Ya Tuan. Aku ingin mengerti semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : (Berjalan ke tempat tidur dan duduk di sana) Sebentar lagi, hari itu akan tiba May. Orang-orang saling mengharap keselamatan dari Tuhannya. Mereka ingin berderma dengan harta yang selama ini ditumpuknya. Tapi …… Tidak May, tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : (Menyerongkan badan ke arah Tuan Syam dan memandangnya penuh penasaran) Apa yang tidak Tuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Aku tak ingin melanjutkan kata-kataku May.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Tolong Tuan, bicaralah padaku. Aku ingin tahu kabar darimu. Dari arti mimpi-mimpimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Tidak May. Ini sudah cukup. Kita sudahi saja pembicaraan kita malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Sebentar lagi Tuan. Aku masih ingin mendengar penjelasanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Jangan kau paksa aku lagi untuk mengatakannya. Dan kau harus ingat May. Bukannya kau dapat berfikir sendiri? Aku sudah menceritakan semua mimpiku padamu. Maka berfikirlah May. Berfikir dengan hatimu. Biar tak ada kekufuran di dadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : Baiklah Tuan, kalau itu mau Tuan. Aku tak dapat menolaknya. Lagian, malam sudah terlalu larut. Kita sudahi pembicaraan ini. Tidurlah Tuan. Tenangkan jiwamu. Dan aku pamit Tuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Ya, pulanglah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May : (Berjalan menuju keluar. Di tengah-tengah perjalanan berhenti sejenak untuk mengucap salam. Lalu kembali melanjutkan perjalanan) Selamat malam Tuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : Malam May!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah May keluar, Tuan Syam masih dalam kegelisahan. Ia mondar-mandir di dalam rumahnya. Sesekali duduk di tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana. Beberapa saat kemudian ia bangkit dari tidurnya. Saat itu diiringi dengan musik dan nyanyian yang bernuansakan pedesaan. Dengan syair sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam semakin larut&lt;br /&gt;bentar lagi fajar menjemput&lt;br /&gt;gelisah masih mencekam&lt;br /&gt;cermin hati yang temaram&lt;br /&gt;tentang mimpi, tentang puisi&lt;br /&gt;tentang pagi menjemput senja hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dunia akan binasa&lt;br /&gt;harta benda tiada berguna&lt;br /&gt;jiwa yang tlah durhaka&lt;br /&gt;esok pasti akan tersiksa&lt;br /&gt;terluntah-luntah tiada berdaya&lt;br /&gt;tak tahu arah entah ke mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik berganti dengan irama lirih atau dengan genderang dengan tempo lambat yang pelan. Tuan Syam lalu menuju meja dan duduk di kursinya. Mengambil beberapa carik kertas dan sebuah pensil. Ia mulai menggurat sebuah puisi. Tapi sayang, kata-kata yang diguratnya, baginya terasa gagal. Ia meremat-remat tulisan itu lalu membuangnya. Hal itu terjadi berulang kali, hingga kertas yang ada di mejanya tinggal sedikit. Saat itu genderang dimainkan dengan tempo yang semakin bertambah cepat dan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tersebut dibarengi dengan kemunculan dua sosok bayangan yang menjadi cermin jiwa Tuan Syam. Bayangan itu selalu menghantui Tuan Syam yang sedang menggurat sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan 1 : (Masuk lewat panggung sebelah kiri dalam dengan gerakan-gerakan yang atraktif menghampiri Tuan Syam. Melihat tulisan Tuan Syam dari kanan beralih kekiri yang dilakukan beberapa kali) Apalagi yang kau tuliskan Syam. Kau akan menghasilkan kesia-siaan. Kau hanya buang-buang tenaga dan waktumu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan 2 : (Masuk dari kerumunan penonton dengan gerakan-gerakan yang atraktif menghampiri Tuan Syam.) Berhentilah Syam. Kau takkan perlu menemukan kata-kata lagi untuk syairmu. Bahkan mimpi-mimpimu menuntunmu untuk diam. Minumlah sendiri air telagamu. Jangan pernah kau bagi-bagikan lagi kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan 1 : (Tegas) Ya, benar! Sudah tak ada lagi yang menghiraukan kata-katamu. Walau itu sebuah kebenaran. Karena kata-katamu, mereka bahkan menganggapmu buta. Padahal justru kaulah yang telah memberikan tongkat bagi kebutaannya. Kata-kata adalah tubuhmu sendiri, Syam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan 2 : (Tegas) Kata-katamu terlalu asing dalam nalar mereka. Mereka menganggapnya suatu kemustahilan. Kau hanya membual. Kau hanya tukang khayal. Bahkan orang yang paling dekat denganmu, hanya bermain topeng di hadapanmu. Sejujurnya di luar sana, ia menikammu dari belakang. Ia menudingmu sebagai lelaki gila yang kehilangan akalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan 1 : Tak ada lagi yang perlu kau lakukan. Diamlah. Dan bermain topenglah seperti apa yang mereka tudingkan padamu. Berpura-puralah buta walau sebenarnya kau telah melihatnya. Berpura-puralah tuli walau sebenarnya kau telah mendengarnya. Dan tunjukkan kegilaanmu walau sebenarnya kau dalam kesadaran penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : (Semakin panik, gusar, geram, dan jiwanya tak karu-karuan. Suara genderang semain dikencangkan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan 1&amp;amp;2: (Beranjak pergi meninggalkan Tuan Syam. Terus berkata dengan kata-kata yang menajam) Diamlah dan bermainlah dengan kepura-puraan. Buta, tuli, gila, atau persembahan nyawa. Mungkin mereka baru akan percaya. (minimal diucapkan tiga kali secara bersama-sama oleh bayangan 1dan 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam : (Berteriak keras. Genderang dan suara-suara itu dengan seketika berhenti) Diam …………….! Diamlah kalian. Dan pergilah sejauh mungkin dari hadapanku (Menggedor meja dan menunjuk ke suatu arah tertentu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam perlahan mulai tenang. Melanjutkan kembali menggurat puisi. Namun selalu gagal kembali. Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia kembali menulis, tapi kemudian meninggalkannya di meja. Ia beranjak mencari-cari sesuatu dan menemukan seutas tali. Ia mengikatkan tali itu tepat di bawah pintu dengan bantuan sebuah kursi. Ia bermaksud bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seteah selesai mengikatkannya, Tuan Syam lalu mengambil secarik kertas yang ada di mejanya. Kertas itu berisi puisi yang belum selesai diguratnya. Ia mengambil posisi tepat di bawah tali gantungan itu sambil bertumpu di sebuah kursi. Ia lalu sejenak membacakan puisinya dengan lantang. Sementara itu, irama sunyi yang lirih mengiringi peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demi musim hujan yang bersemi&lt;br /&gt;segala rasa, jiwa dan kata-kata&lt;br /&gt;lebur dalam nyawa&lt;br /&gt;laksana gerimis menumbuhkan tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sajakku, sajak alap-alap&lt;br /&gt;kuukir dalam pesona gelap&lt;br /&gt;tiada mata, tiada telinga&lt;br /&gt;tiada jiwa terjaga:&lt;br /&gt;-tak percaya-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada daun bertasbih&lt;br /&gt;mengisahkan jejak senja esok hari;&lt;br /&gt;hawa menjadi perkasa oleh pesona sapa&lt;br /&gt;menimbun anak manusia dalam tumpukan harta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, tiba-tiba kusaksikan rintih dari dalam bumi&lt;br /&gt;menagih janji dari serpihan lalai:&lt;br /&gt;-mengajaknya kembali-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat itu, harta terbungkus sia-sia&lt;br /&gt;menjadi nanah,&lt;br /&gt;dan segala kan bertanya:&lt;br /&gt;-hanya tanah menggali tanah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Syam tak dapat melanjutkan lagi puisinya. Dengan seketika, ia menjatuhkan diri dari atas kursi. Lehernya tergantung oleh tali. Bersamaan dengan peristiwa gantung diri, musik berakhir dan lampu dipadamkan secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELESAI&lt;br /&gt;*) Pernah dipentaskan dalam Temu Karya Teater Se-Jawa Timur di Unisda Lamongan, 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-5594291568981604648?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/5594291568981604648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=5594291568981604648' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5594291568981604648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5594291568981604648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2011/09/syam-sebuah-naskah-teater.html' title='SYAM (Sebuah Naskah Teater)'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-6410973789880896046</id><published>2010-12-20T05:14:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:40:23.003-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><title type='text'>Puisi-Puisi Imamuddin SA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DALAM API WAKTU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti tembakau hatiku&lt;br /&gt;tak pernah merindukan hujan sabdamu&lt;br /&gt;hanya memuja siraman air&lt;br /&gt;dari tarian kata-katamu&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;tidakkah kau pastikan&lt;br /&gt;adalah lidah tak berdaya: terbata&lt;br /&gt;membiarkan perut, kaki, tangan,&lt;br /&gt;mata, hidung, telinga&lt;br /&gt;bersaksi sendiri&lt;br /&gt;dalam raga hampa esok hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;basah air mata hanya di tanah&lt;br /&gt;keluh sesal menjadi bah luka&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dan tidakkah kau tajamkan mata-matamu&lt;br /&gt;saf para pembual bergolong-golong&lt;br /&gt;mengantri menjadi batu dan kayu&lt;br /&gt;dalam api waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;adalah dia yang bersaksi&lt;br /&gt;tak pernah bersapa mengenal sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   Lamongan, Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGANTIN CAHAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jantungku adalah dingin puncak&lt;br /&gt;berkerai kabut di ujung lambaian jejak&lt;br /&gt;hatiku adalah sunyi hujan&lt;br /&gt;merajut nafas dalam penghambaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa sulit kulukis keindahan&lt;br /&gt;dingin, kabut, sunyi, awan, hujan&lt;br /&gt;tuhan&lt;br /&gt;yang mendekap perjalananku kali ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh rumit kueja dengan kata&lt;br /&gt;segala tercurah dalam satu alif&lt;br /&gt;menjadikan aku seperti manggar&lt;br /&gt;tertiup angin yang terjatuh pada kelopak&lt;br /&gt;dan berbuah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa sublimnya nafasku&lt;br /&gt;hingga tak pernah kutemu&lt;br /&gt;dalam pengembaraan tidurku&lt;br /&gt;dalam gelap batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan sekarang kau biarkan aku&lt;br /&gt;berdiri di puncak ciptamu&lt;br /&gt;merajut langkah waktu&lt;br /&gt;tanpa mengenal panggilanmu&lt;br /&gt;bersama jejak merapi menutup nadi hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah tubuh sekeras ini di wajahmu&lt;br /&gt;menyepakati yang haq&lt;br /&gt;dari telapak takdirmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka seperti saat ini&lt;br /&gt;esok restui aku bersila di puncak keabadianmu&lt;br /&gt;menjadi pengantin cahaya arshmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TAMAN BUNGA PERSINGGAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah keniscayaan&lt;br /&gt;lebur dalam pandangan&lt;br /&gt;mengisahkan berkas penciptaan&lt;br /&gt;pada titik keagungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;subhanallah&lt;br /&gt;dari mata air langit&lt;br /&gt;setetes kasih membelah biji&lt;br /&gt;menjadi tangkai&lt;br /&gt;menjalar daun&lt;br /&gt;menebar warna&lt;br /&gt;di batas bunga-bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masyaallah&lt;br /&gt;taman bunga persinggahan ini&lt;br /&gt;telah bersaksi akan tubuh ringkih&lt;br /&gt;atas sepercik kesetiaan&lt;br /&gt;dalam luka tertahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tak kan ada yang terpetik&lt;br /&gt;dari keelokan kembang&lt;br /&gt;hanya keagungan bermain-main&lt;br /&gt;di balik fana jalan:&lt;br /&gt;khuld adalah jawaban&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;subhanallah&lt;br /&gt;ada detak sungsang dalam jantungku&lt;br /&gt;ada wajah cahaya masa lalu:&lt;br /&gt;-aku masih mengingatmu-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KONJUNGSI SEBUAH KERETA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dzikir kepala menjadi maya&lt;br /&gt;menyaksikan berkas hitam&lt;br /&gt;di garis telapak tangan&lt;br /&gt;gaib dalam kesadaran angan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukankah baru sore tadi&lt;br /&gt;kau rajut benang harapan&lt;br /&gt;pada sepenggala lengan&lt;br /&gt;membuka motif perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;saudaraku, biarkan aku menyapamu&lt;br /&gt;sambutlah dalam hati rindu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ada lukisan bunga&lt;br /&gt;pada kursi kereta&lt;br /&gt;-mawar merah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, tiba-tiba kutangkap dalam kaca&lt;br /&gt;bunga cinta merekah&lt;br /&gt;merahnya menjadi darah:&lt;br /&gt;amis mewangi kamboja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari kereta menuju kereta&lt;br /&gt;pada rel berbeda&lt;br /&gt;-kereta kencana-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan perjalanan tidaklah diam&lt;br /&gt;namun kembali pada permulaan&lt;br /&gt;mengenali saudara sebadan&lt;br /&gt;bertanya suatu alamat kediaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lamongan, Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KALI MAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;pada sungai ini kupijak kembali&lt;br /&gt;kaki-kaki angan di tebing kenangan&lt;br /&gt;silam:&lt;br /&gt;-air, ikan, jaring, permainan-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;wus wayah tumandang lumrah&lt;br /&gt;wolak-waliking lemah tumomo pasrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;sementara di sisi kiriku&lt;br /&gt;berdiri lelaki tua&lt;br /&gt;tanpa wajah:&lt;br /&gt;-tanpa arah-&lt;br /&gt;mengajakku bermain di kedalaman sungai jiwa&lt;br /&gt;membentang jaring-jaring ketabahan&lt;br /&gt;menangkap ikan-ikan keikhlasan&lt;br /&gt;memilah bening mata air perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;segala yang ada menemukan muara&lt;br /&gt;bangkit dari yang lama&lt;br /&gt;tenggelam dalam kali maya&lt;br /&gt;seperti kalijaga di hening sugainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Lamongan, Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-6410973789880896046?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/6410973789880896046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=6410973789880896046' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/6410973789880896046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/6410973789880896046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/12/puisi-puisi-imamuddin-sa.html' title='Puisi-Puisi Imamuddin SA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-6411543745935741629</id><published>2010-12-20T05:04:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:40:39.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syaiful Anam Assyaibani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Estetik Sajak Syaiful Anam Assyaibani</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan bismillah segala pintu kan terbuka&lt;br /&gt;mengajarkan degup jantung mengeja langkah&lt;br /&gt;atas nama cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang memengaruhi perkembangan pribadi seorang manusia. Dua hal itu yaitu bakat dan lingkungan. Bakat mengarah pada suatu pembawaan sejak lahir. Sedangkan lingkungan merupakan stimulan dalam merangsang bakat sebagai kesempurnaan perwujudan. Ibarat tanaman yang berkuncup dan pada suatu ketika akan merekah berbunga bahkan menyembulkan wewangi khasnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bakat yang dimiliki oleh seorang manusia yaitu kemampuan untuk berbahasa. Secara normal, semua orang yang dilahirkan ke dunia, kemampuan berbahasa menjadi bekal pokoknya. Hal itu menjadi sarana dalam mengembangkan potensi kepribadiannya yang lain. Tinggal di mana orang tersebut berada, maka bahasa yang terbentuk adalah sesuai dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berkaitan dengan bahasa dan merupakan sebagian bentuk dari pengembangan kemampuan berbahasa adalah sastra. Dalam mencipta karya sastra konstruksi bahasa tidak akan terlepas darinya. Bahasa sastra merupakan bahasa pengembangan pribadi manusia yang berkonotasi pada nilai estetis. Bahasa ini pada dasarnya dibentuk sama dengan bahasa-bahasa pada umumnya, yaitu melalui proses interaksi dengan lingkungan yang bertumpu pada pembawaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang menuturkan bahasa disebabkan oleh adanya wacana lingkungan, baik lingkungan fisik maupun psikis. Lingkungan itulah yang menjadi media pemicu akan hadirnya ujaran bahasa termasuk sastra. Orang tersebut bermaksud ingin menyampaikan pesan tertentu atas fenomena yang telah ditangkapnya. Oleh sebab itulah, estetika bahasa dalam sastra merujuk pada dua hal yaitu estetika struktural dan estetika semiotik. Estetika struktural (puisi) diwakili dengan adanya perwujudan nilai puitis yang berhubungan dengan diksi, rima, irama, aliterasi, asonansi, permajasan, persajakan, enjambemen, tipografi. Estetika semiotika berorientasi pada makna dan nilai-nilai yang hendak disampaikan pengarang melalui karya sastra yang diguratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai kedua estetika tersebut, seorang pengarang tidaklah sertamerta atau spontanitas menggenggamnya. Seorang pengarang harus menempuh proses tertentu dalam menggauli dan mengintimi sastra. Proses tersebut dapat ditempuh dengan dua jalan, yaitu menghujani pikiran dengan bacaan-bacaan dan bertukar pikiran atau bertukar pengalaman dengan kawan yang sama-sama gandrung dengan sastra. Kedua hal itu tentunya tidak terlepas dari faktor lingkungan juga. Sebab fenomena lingkunganlah yang mengilhami akan hadirnya sebuah karya dari pribadi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua estetika di atas pada gilirannya akan menjelma sebagai suatu kekuatan yang sungguh luar biasa dalam karya sastra. Dapat dikatakan bahwa dua hal itu seiring sejalan. Yang satu sebagai jasad dan yang lainnya sebagai ruh. Jasad tanpa ruh maka tak ada kehidupan. Ruh tanpa jasad maka tak tampak jejak keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi Indonesia mutakhir, pemanfaatan estetika struktural tidak diterapkan secara total. Seorang penyair kadang kala hanya menyematkan beberapa bagian saja. Misalnya hanya ada yang menyematkan konstruksi majas dan mengabaikan rima, asonansi, aliterasi, dan lain-lain. Hal itu sangatlah wajar sebab yang dijadikan patokan dalam perpuisian adalah nilai rasa dan selera pengarangnya. Oleh sebab itulah, bentuk puisi yang hadir di kalangan pembaca selalu berubah-ubah dalam setiap zamannya. Entah selera apa lagi yang akan melingkupi puisi Indonesia mendatang. Kita nantikan tanggal mainnya. Semoga kita jeli dan arif dalam mengantongi perkembangan zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengok saja dua puisi Saiful Anam Assyaibani berikut yang secara bentuk memiliki satu perbedaan. Padahal itu hanya berselang dua tahun saja. Dan perbedaan itu tentunya dipengaruhi oleh selera pengarang guna menciptakan suatu tampilan yang baru dalam karyanya. Biar sajak tampak terlihat segar. Namun perubahan dan perbedaan bentuk itu bisa jadi mengarah pada satu usaha pencarian karakter karya yang pasti sebagai ciri khas penyair itu sendiri. Baik secara estetika struktural maupun estetika semioik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAKILAKI TAK BERNAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lakilaki tak bernama itu berjalan sepanjang jalan raya&lt;br /&gt;hidup dan mati sepanjang jalan raya&lt;br /&gt;ia datang dari arah laut dan akan mencair di laut&lt;br /&gt;saat bayangbayang matahari jatuh&lt;br /&gt;di lengkung langit utara&lt;br /&gt;ia menggiring senja ke ujung paling sudut&lt;br /&gt;takdir hidup ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lakilaki tak bernama itu&lt;br /&gt;khusyuk, membaca semburat waktu&lt;br /&gt;membaca perubahan cuaca&lt;br /&gt;yang berpendar di belantara sunyi&lt;br /&gt;ingatan&lt;br /&gt;cinta dan kegelisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lakilaki tak bernama itu&lt;br /&gt;mengukir sejarah tubuhnya sendiri&lt;br /&gt;menjadi gelombang gelap&lt;br /&gt;menjadi hujan yang tak henti meneteskan luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lakilaki tak bernama itu&lt;br /&gt;menyeretku ke dasar laut&lt;br /&gt;tak bernama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAGU SURGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku membaca surga di halaman matamu&lt;br /&gt;kutemukan seayat sungai mengalir bening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak bisa kutolak khuldi menggantung ranum di dadamu&lt;br /&gt;dan kita menikmatinya dalam hentian waktu&lt;br /&gt;yang merampas keabadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JALAN KETIADAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bacalah maktab tubuhmu&lt;br /&gt;dan kau kan temukan&lt;br /&gt;BETAPA RAPUH PERJALANAN SETAPAK MENEMU DIRI&lt;br /&gt;BETAPA TUBUH HANYA SEMACAM RANJANG KUMAL&lt;br /&gt;tempat terlelap dalam fana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka mengeranglah dalam kasidah doadoa&lt;br /&gt;biarkan ia membakar rasa bersalah&lt;br /&gt;kepada jalan ketiadaan yang pernah kau lewati&lt;br /&gt;murnikan dalam sungai&lt;br /&gt;tubuhmu yang mengalir&lt;br /&gt;hingga kau lihat dasar&lt;br /&gt;di pedalaman dadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah ziarah dalam diri&lt;br /&gt;simpuh sepi dalam ketakterhinggaan waktu&lt;br /&gt;pengembaraan sesaat&lt;br /&gt;dalam isyarat beribu rindu&lt;br /&gt;dalam bismillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga sajak di atas tipografinya memiliki konstruksi bentuk yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada penulisan huruf kapital pada sajak Jalan Ketiadaan. Penyair selain berusaha menciptakan stile bentuk yang baru dalam karyanya, penulisan tersebut dapat berupa suatu tindak penegasan atau penekanan esensi dasar sajaknya. Nilai yang terkandung dalam ujaran yang tercetak kapital menjadi poros utama pesan yang hendak disampaikan kepada pembaca. Penyair berusaha memberikan penekanan dalam bentuk kesadaran bagi pembaca melalui ujaran kapital tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah kepenulisan, konsistensi karya itu penting. Hal itu disebabkan oleh adanya tindak pengaruh pemahaman terhadap karakteristik pengarang. Jika perubahan-perubahan bentuk tersebut dilakukan secara serampangan oleh penyair, itu dapat menjadikan sesuatu yang kurang baik bagi keberadaan karya dan penyairnya. Berbeda lagi jika itu dilakukan secara berkala atau dalam kurun waktu tetentu, ini dapat menjadi kekuatan yang dahsyat yang mampu mewarnai khasanah kesusastraan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diuraikan lebih panjang, secara keseluruhan sajak di atas tidak memanfaatkan estetika struktural yang berupa rima. Hal itu tampaknya dilkukan oleh penyairnya sebagai usaha penyelarasan selera perpuisian Indonesia mutahkhir yang bersifat sedikit longgar dengan aturan-aturan kepuitisan yang ada. Meskipun demikian, penyir masih menyematkan kostruksi estetika struktural yang lain yang berupa asonansi, aliterasi, citraan, dan majas. Entah itu dilakukan secara sengaja atau tidak oleh penyairnya. Yang jelas konstruksi tersebut telah hadir dalam sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliterasi tampak pada sajak Lakilaki Tak Bernama yang ditandai dengan ungkapan “ia datang dari arah laut dan akan mencair di laut” dan “ia menggiring senja ke ujung paling sudut”, pada sajak Jalan Ketiadaan : “maka mengeranglah dalam kasidah doadoa”. Asonansi terdapat pada sajak Lakilaki Tak Bernama : “membaca perubahan cuaca”, sajak Lagu Surga : “aku membaca surga di halaman matamu”, sajak Jalan Ketiadaan : “beribu rindu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citraan juga tersematkan dalam tiga puisi di atas. Citraan penglihatan terdapat pada sajak Lakilaki Tak Bernama : “ lakilaki tak bernama itu berjalan sepanjang jalan raya // hidup dan mati sepanjang jalan raya // ia datang dari arah laut dan akan mencair di laut // saat bayangbayang matahari jatuh // di lengkung langit utara (bait 1), lakilaki tak bernama itu // khusyuk, membaca semburat waktu // membaca perubahan cuaca // yang berpendar di belantara sunyi (bait 2), menjadi gelombang gelap // menjadi hujan yang tak henti meneteskan luka (bait 3)”. Pada sajak Lagu Surga : aku membaca surga di halaman matamu // kutemukan seayat sungai mengalir bening (bait 1), tak bisa kutolak khuldi menggantung ranum di dadamu (bait 2)”. Pada sajak Jalan Ketiadaan : “murnikan dalam sungai // tubuhmu yang mengalir // hingga kau lihat dasar // di pedalaman dadamu (bait 2)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citraan gerak terdapat pada sajak Lakilaki Tak Bernama : “lakilaki tak bernama itu berjalan sepanjang jalan raya // hidup dan mati sepanjang jalan raya // ia datang dari arah laut dan akan mencair di laut // saat bayangbayang matahari jatuh // di lengkung langit utara // ia menggiring senja ke ujung paling sudut // takdir hidup ini (bait 1), lakilaki tak bernama itu // mengukir sejarah tubuhnya sendiri // (bait 3), lakilaki tak bernama itu // menyeretku ke dasar laut // tak bernama… (bait 4)”. Pada sajak Lagu Surga : “kutemukan seayat sungai mengalir bening (bait 1), yang merampas keabadian (bait 2). Pada sajak Jalan Ketiadaan : “BETAPA RAPUH PERJALANAN SETAPAK MENEMU DIRI (bait 1), biarkan ia membakar rasa bersalah (bait 2), tubuhmu yang mengalir (bait 2), adalah ziarah dalam diri (bait 3), pengembaraan sesaat (bait 3)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citraan perasaan terdapat pada sajak Lakilaki Tak Bernama : “yang berpendar di belantara sunyi // ingatan // cinta dan kegelisahan (bait 2), menjadi hujan yang tak henti meneteskan luka (bait 3). Pada sajak Jalan Ketiadaan : “biarkan ia membakar rasa bersalah (bait 2), simpuh sepi dalam ketakterhinggaan waktu (bait 3), dalam isyarat beribu rindu (bait 3)”. Citraan pendengaran pada sajak Jalan Ketiadaan : “maka mengeranglah dalam kasidah doadoa” (bait 2). Adapun citraan pikiran terdapat pada seluruh sajak Lagu Surga yang berkonotasi pada tragedi Adam dan Hawa saat melanggar larangan Tuhan agar tidak memakan buah khuldi yang menyebabkannya terusir dari keabadian surga hingga berada di bumi. “tak bisa kutolak khuldi menggantung ranum di dadamu // dan kita menikmatinya dalam hentian waktu // yang merampas keabadian (bait 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majas yang disematkan juga terdapat majas metafora. Dalam sajak Lakilaki Tak Bernama, Tuhan diibaratkan sebagai laut, yaitu sosok tanpa batas yang tak bermula dan tak berakhir: “ia datang dari arah laut dan akan mencair di laut” (bait 1). Hari tua atau usia tua dimetaforkan dengan senja : “ia menggiring senja ke ujung paling sudut” (bait 1). Perjalanan dan prahara hidup yang suram dimetaforkan dengan delombang gelap : “menjadi gelombang gelap” (bait 3). Perjalanan dan prahara hidup yang penuh dengan keterpayahan dimetaforkan dengan hujan yang tidak pernah berhenti meneteskan luka : “menjadi hujan yang tak henti meneteskan luka” (bait 3). Perenungan, pemahaman, serta pengetahuan yang luas dan mendalam serta penuh misteri dimetaforkan dengan dasar laut yang tak bernama : “lakilaki tak bernama itu // menyeretku ke dasar laut // tak bernama…” (bait 4). Pada sajak Jalan Ketiadaan, getar hati yang paling dalam dimetaforkan dengan sungai tubuh : “murnikan dalam sungai // tubuhmu yang mengalir // hingga kau lihat dasar // di pedalaman dadamu” (bait 2). Majas simile terdapat pada sajak Jalan Ketiadaan dengan membandingkan tubuh dengan ranjang yang kumal : “BETAPA TUBUH HANYA SEMACAM RANJANG KUMAL” (bait 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang sempat terasa sungsang dari sajak Jalan Ketiadaan. Hal itu mengarah pada penyematan satu diksinya, yaitu: “di pedalaman dadamu”. Kesungsangannya disebabkan oleh ketidakkoherensian dengan larik-larik sebelumnya. Pada larik sebelumnya, penyair menyematkan konstruksi kata dengan fenomena air. Akan tetapi pada penyematan larik “di pedalaman dadamu”, kata pedalaman seolah menggambarkan fenomena untuk kampung atau hutan. Lebih efektif dan koherennya jika disematkan kata “kedalaman” yang sama-sama memiliki konotasi fenomena air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi estetika semiotik, ada pesan yang sangat indah dan menyentuh melalui sajak tersebut. Pesan yang sangat kentara berorientasi pada nilai religius. Sajak di atas pada dasarnya tergolong dalam puisi lirik. Ini merupakan suatu luapan batin penyairnya atas pengalaman ruhaniah yang sangat dalam yang dipicu oleh fenomena lingkungan, baik lingkungan fisik maupun psikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajak Lakilaki Tak Bernama, hadirnya puisi ini diilhami dari suatu fenomena lingkungan yang ada di sekeliling penyair. Fenomena tersebut bersifat sederhana yang kadang kerap tak tersentuh oleh kebanyakan orang. Lakilaki Tak Bernama tampaknya diilhami oleh fenomena orang gila. Sang penyair menangkapnya sebagai ide dasar dalam sajaknya. Penyair yang notabenenya tidak mengetahui nama orang gila tersebut, kemudian menyebutnya dengan istilah laki-laki tak bernama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu penyair menyaksikan keberadaan lelaki gila yang tengah berjalan menyusuri jalan raya. Lelaki itu dalam pandangan penyair adalah sesosok manusia yang pada akhirnya nanti menghabiskan masa hidupnya di sepanjang jalan raya. Ia tak memiliki tempat persinggahan dan tujuan hidup yang pasti. Ia melangkah sesuka hati tanpa memahami perjalanan yang ditempuhnya. Lelaki itu saat itu berjalan dari arah utara yang pada gilirannya nanti akan kembali kepada Tuhan pada usia tua. Ia melakoni kegilaannya hingga sampai batas usia yang paling akhir. Yaitu takdir kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lakilaki tak bernama itu berjalan sepanjang jalan raya&lt;br /&gt;hidup dan mati sepanjang jalan raya&lt;br /&gt;ia datang dari arah laut dan akan mencair di laut&lt;br /&gt;saat bayangbayang matahari jatuh&lt;br /&gt;di lengkung langit utara&lt;br /&gt;ia menggiring senja ke ujung paling sudut&lt;br /&gt;takdir hidup ini (bait 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh liar imajinasi penyair ketika memandang dan menyaksikan lelaki gila itu yang sedang berdiam diri di hadapannya. Kediamannya diimajinasikan oleh penyair sebagai usaha dalam memahami perjalanan waktu yang semakin bertambah sore dan perubahan cuaca saat itu dengan suasana hati yang sunyi. Tak ada seorangpun yang meemani dan memahami keberadaanny. Penyair mengimajinasikan lelaki itu tengah mengingat fenomena dan kenangan masa lalunya tentang cinta dan kegelisahan hati dalam menjalani realitas kehidupan yang menimpa dirinya. Berusaha memahami sebab musbab kegilaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lakilaki tak bernama itu&lt;br /&gt;khusyuk, membaca semburat waktu&lt;br /&gt;membaca perubahan cuaca&lt;br /&gt;yang berpendar di belantara sunyi&lt;br /&gt;ingatan&lt;br /&gt;cinta dan kegelisahan (bait 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair kembali memahami bahwa lelaki gila itu dengan kegilaannya pada dasarnya telah membuat sejarah hidupnya sendiri. Ia telah memosisikan dirinya secara alamiah pada prahara hidup yang suram dan selalu berada dalam keterpayahan. Ia dalam caci maki, hinaan, dan keburukan. Hal itu seolah-olah tampak sebagai sesuatu yang pasti yang melekat dalam pribadi lelaki gila tersebut yang tak penah lekang dalam kehidupannya hingga akhir hayatnya. Kecuali ia telah sembuh dari kegilaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lakilaki tak bernama itu&lt;br /&gt;mengukir sejarah tubuhnya sendiri&lt;br /&gt;menjadi gelombang gelap&lt;br /&gt;menjadi hujan yang tak henti meneteskan luka (bait 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, melalui tindak pengamatan terhadap sosok lelaki gila tersebut, penyair merasa bahwa imajinasi dan perasaannya dibawa masuk dalam pemahaman hakikat hidup sejati yang penuh dengan misteri. Tentang rasa syukur atas rahmat yang menempatkan dirinya sebagai lelaki normal yang tak kehilangan akal sehatnya. Rasa ikhlas dan ridla dalam menerima segala ujian dan coban dari-Nya. Rasa iba dan prihatin atas keberadaan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lakilaki tak bernama itu&lt;br /&gt;menyeretku ke dasar laut&lt;br /&gt;tak bernama… (bait 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajak Lagu Surga, tampaknya penyair diilhami oleh suasana kebersamaan bersama istrinya. Saat itu penyair diindikasikan tengah bermain cinta dengan istrinya. Penyair memandang kedalaman sorot mata istrinya hingga ia teringat tentang suatu peristiwa di surga. Peristiwa yang terjadi antara Adam dan Hawa yang menjadikannya keluar dari keabadian surga dan berdiam diri di bumi. Peristiwa itulah yang kemudian menjadikan diri penyair seolah-olah mendapatkan petunjuk serta ilham tentang kesucian kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku membaca surga di halaman matamu&lt;br /&gt;kutemukan seayat sungai mengalir bening (bait 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair tampaknya tak sanggup memungkiri dan mengakui akan eksistensi khuldi yang dulu sempat terpetik dan termakan oleh Adam dan Hawa. Ternyata, khuldi tersebut merupakan satu jembatan dalam menghadirkan kenikmatan yang lain. Yaitu kenikmatan surga dunia. Khuldi itulah yang pada gilirannya saat ini menjadi stimulus untuk saling berbagi kenikmatan antara lelaki dan perempuan di dunia hingga ia sampai pada puncak kebahagiaannya yang hanya tergapai dalam seper sekian detik saja. Namun semua orang berusaha ingin menggapainya, termasuk penyair dan istrinya yang hendak menikmatinya secara bersma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena itu menandaskan bahwa kenikmatan dan kebahagiaan yang terengkuh oleh seseorang di dunia itu bersifat sementara dan hanya sekejap saja. Keberadaannya tidaklah abadi layaknya Adam dan Hawa yang terlempar keluar dari kenikmatan dan kebahagiaan yang abadi, yaitu kenikmatan dan kebahagiaan surga yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu penyair benar-benar merasakan dan menikmati dengan sendirinya buah dari khuldi bersama sang istri. Ia merasa bahwa benar-benar telah merampas keabadian. Tindak perampasan keabadian itu terwujud dengan adanya peleburan sel kelamin hingga menjadi darah. Darah menjadi daging. Kulit membalut daging. Daging membalut tulang. Tulang membalut sum-sum. Hingga menjadi orok yang pada akhirnya memaksa Tuhan untuk melepaskan sebagian keabadian-Nya dalam wujud ruh guna mendiami tanah sementara waktu. Mengaliri hidup pada jasad mati hingga kembali mati lagi dalam takaran yang telah pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak bisa kutolak khuldi menggantung ranum di dadamu&lt;br /&gt;dan kita menikmatinya dalam hentian waktu&lt;br /&gt;yang merampas keabadian. (bait 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajak Jalan Ketiadaan, merupakan suatu seruan untuk mengenali jati diri. Barang siapa yang berkenan menginstropeksi diri melalui perjalanan hidup yang telah terlewati, maka ia akan menemukan satu gambaran tentang betapa sulitnya perjuangan dalam mengenali hakikat hidup ini. Seseorang bahkan akan menemukan dan merasakan keputusasaan yang sungguh luar biasa perjuangan pencarian itu. Sebab pada dasarnya tindak pencarian jati diri merupakan suatu proses perjalanan panjang yang melelahkan dan tanpa akhir kecuali dengan kematian jasad. Bahkan di balik kematian jasd itu masih menuntut akan adanya pencarian hakekat ketuhanan. Seseorang akan menemukan bahwa dirinya merupakan sesuatu yang tak berharga yang dijadikan wahana dan berselimutkan kelalaian di dalam dunia yang sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bacalah maktab tubuhmu&lt;br /&gt;dan kau kan temukan&lt;br /&gt;BETAPA RAPUH PERJALANAN SETAPAK MENEMU DIRI&lt;br /&gt;BETAPA TUBUH HANYA SEMACAM RANJANG KUMAL&lt;br /&gt;tempat terlelap dalam fana (bait 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang telanh mengethui akan hal tersebut, maka tindakan yang patut dilakukan menurut penyair yaitu mengagungkan nama Tuhan dalam lantunan doa agar Tuhan berkenan melebur dan menghapuskan segala dosa yang telah tercipta yang disebabkan oleh lupa. Rasa bersalah akan terhapus pula atas tindakan peniadaan eksistensi Tuhan dalam diri dan jiwa yang sempat terlewati. Hal itu merupakan suatu usaha dalam hidup dan kehidupan untuk menuju kesejatian, yaitu Tuhan. Ini adalah jalan ketiadaan. Meniadakan eksistensi diri dengan meleburkan diri ke dalam eksistensi tuhan yang sejati. Laa khaula wala kuwwata illa billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka mengeranglah dalam kasidah doadoa&lt;br /&gt;biarkan ia membakar rasa bersalah&lt;br /&gt;kepada jalan ketiadaan yang pernah kau lewati (bait 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha mengenali jati diri, hakikat hidup, dan kesejatian Tuhan seseorang harus mengakui bahwa diri pada dasarnya tidak ada tanpa adanya cinta kasih dan kuasa dari Tuhan. Ini termasuk dalam usaha pemurnian hasrat dari unsur nafsiah. Seseorang haruslah membeningkan hati dengan bersikap polos, tulus dan ikhlas hingga ia melihat dan menemukan getar hati yang terdalam yang memancarkan nur ilahiah sebagai risalah kesejatian diri, hidup, dan Tuhan. Jika ini terengkuh maka muncullah istilah tajjali. Penglihatan adalah penglihatan Tuhan. Pendengaran adalah pendengaran Tuhan. Ucapan adalah ucapan Tuhan. Perilaku adalah perilaku Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;murnikan dalam sungai&lt;br /&gt;tubuhmu yang mengalir&lt;br /&gt;hingga kau lihat dasar&lt;br /&gt;di pedalaman dadamu (bait 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diri seseorang pada dasarnya merupakan suatu tempat yang sakral. Diri itulah yang menjadikan manusia “sempurna” dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain. Diri itulah yang mampu menampung keberadaan dan tajjali Tuhan. Oleh sebab itu, keberadaanya perlu untuk diziarahi, didatangi, dan dikenal sebagai wahana persemayaman Sang Mahasepi yang tak terbatas oleh ruang dan waktu. Yang harus digapai dalam perjalanan hidup di dunia yang hanya sesaat. Itulah yang disebut pengembaraan sebagai isyarat rindu akan kebersamaan dan keabadiaan Tuhan yang gerbang dan bekal perjalanannya terdapat dalam bismillah. Dalam kesaksian dan pengagungan nama-Nya. Dalam implementasi sifat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah ziarah dalam diri&lt;br /&gt;simpuh sepi dalam ketakterhinggaan waktu&lt;br /&gt;pengembaraan sesaat&lt;br /&gt;dalam isyarat beribu rindu&lt;br /&gt;dalam bismillah. (bait 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2010/12/estetik-sajak-syaiful-anam-assyaibani/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2010/12/estetik-sajak-syaiful-anam-assyaibani/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-6411543745935741629?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/6411543745935741629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=6411543745935741629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/6411543745935741629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/6411543745935741629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/12/estetika-sajak-penyair-mutakhir-syaiful.html' title='Estetik Sajak Syaiful Anam Assyaibani'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-4186639170380383562</id><published>2010-05-28T20:36:00.001-07:00</published><updated>2011-10-08T11:40:49.841-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Octavio Paz Lozano (1914-1998)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>VOTUM SANG PENYAIR: Pemikiran &amp;Pemberontakan Octavio Paz</title><content type='html'>Imamuddin SA *&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan mempengaruhi dan bukan mendoktrin siapapun. Saat ini cobalah alihkan segala bentuk imajinasi dan logika pada satu arah sudut pandang yaitu kesusastraan. Sastra merupakan satu bentuk perwujudan agung dan suci yang terpancar dari kedalaman pribadi seorang manusia. Ia menjelma dalam hidup dan kehidupan sebagai cahaya kejujuran yang memancarkan sinar kemalanya yang berbinar-binar. Ini tak pandang bentuk dan tampilanya. Walaupun kadang berbentuk rekaan maupun tampilan esensinya secara real terasa tersembunyi, ia pada dasarnya merupakan satu ungkapan kejujuran hati atau gambaran nyata dari kepribadian pengguratnya yang bertujuan agar mampu ditangkap, dipahami, dicerna, direfleksi, dan bahkan untuk diikuti oleh siapa saja yang berkenan membacanya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semua itu adalah keinginan yang mutlak yang timbul dari dalam diri seorang sastrawan. Semua satrawan pasti memiliki hasrat semacam itu. Hasrat agar karyanya dibaca, ditangkap, dipahami, dicerna, direfleksi, dan juga diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu masih terdapat satu hasrat yang sangat fital dan menjadi landasan utama dalam karya yang di guratnya. Hasrat ini terkadang sama, namun kebanyakan berbeda sebab beracuan pada eksistensi logika dan daya imajinasi yang dipancarkan oleh seorang sastrawan dalam merefleksi sebuah fenomena yang sedang melintasi indra, hati, dan benaknya. Tentunya semua itu tidak lepas dari kedekatan pribadi sastrawan sendiri. Hasrat tersebut adalah hasrat pikiran dan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat pikiran merupakan hasrat yang terungkap dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh eksistensi logika mereka. Sedangkan hasrat keyakinan terkait erat dengan persoalan keimanan mereka yang merupakan pancaran hati sanubarinya. Keimanan tersebut merupakan suatu daya yang dahsyat yang dipancarkan oleh pribadi seseorang terhadap suatu hal yang dianggap memiliki nilai kebenaran yang mutlak bagi dirinya. Kedua hasrat ini tersugesti oleh realitas fisik maupun nonfisik yang telah menjadi pengalaman pribadi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari mencermati pancaran hasrat seorang Octavio Paz yang merupakan perefleksian diri atas realitras yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu bentuk dari pengalaman pribadi yang sempat ia temui dan menjadi ilham bagi terciptanya karya sastranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku bisa berbelok untuk hidup bersama satwa,&lt;br /&gt;Mereka begitu lembut lagi percaya diri,&lt;br /&gt;Aku berdiri memandang mereka begitu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran hasrat yang terpancar dari kedalaman hati dan jiwa Paz memilki intensitas yang begitu dalam dan bahkan sangat jalang. Ungkapan tersebut muncul akibat adanya fenomena indrawi yang sedang melintasinya. Saat itu Paz dengan cukup lama serta dengan khusuknya memandang sekawanan satwa yang berada di depanya. Namun, ini bisa jadi tidak mengarah pada kegiatan memandang secara fisikal, memandang dapat berorientasi pada satu perenungan pengalaman masa lampau yang ia bangkitkan kembali pada masa kini. Ketika terjadi proses pengamatan tersebut, timbullah perefleksian diri yang ia bentur-benturkan dengan realitas kehidupan yang sedang terjadi di dunia sekitarnya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitas yang terpancar dari ungkapan tersebut, Paz memandang bahwa dunia yang berada di sekitarnya memiliki satu keganjilan tertentu. Ia merasakan satu keanehan sehingga ia tidak memiliki satu ketenangan, ketentraman, juga kelembutan perasaan saat menjalani realitas kehidupan yang ada. Dengan timbulnya perasaan semacam itu, ia berhasrat untuk mengubah pola hidup yang ada yang dimulai dari diri pribadinya terlebih dahulu. Ia bekeinginan untuk membelokkan diri untuk hidup bersama satwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat untuk hidup bersama satwa bukan berarti berorientasi pada pembauran diri bersama hewan-hewan. Bukan berarti harus bersosialisasi dengan hewan, namun bisa mengarah pada sikap hidup yang terpancar dari sekawanan satwa yang telah ia amati, rasakan, renungkan, serta ia refleksikan ke dalam realitas kehidupan manusia pada umumnya. Ia merasakan realitas kehidupan yang dijalin oleh sekawanan satwa mengandung nilai kehangatan, kelembutan, serta kasih sayang yang tinggi sehingga ia berpikir untuk mengubah kehidupan manusia yang penuh dengan kekerasan, penindasan, serta penganiayaan dengan pola hidup satwa yang penuh dengan cinta kasih. Tentunya pola hidup semacam ini akan ia awali dari diri pribadinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak berkeringat meratapi nasibnya,&lt;br /&gt;Mereka tak berbaring dan mendelik dalam gelap&lt;br /&gt;menangisi dosa-dosanya,&lt;br /&gt;Mereka tidak memualkanku dengan berbicara kewajiban terhadap Tuhan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etape kedua yang ditunjukkan oleh Paz akan realitas kehidupan yang dijalani sekawanan satwa adalah berorientasi pada ketenangan jiwa. Kehidupan satwa ia rasakan memiliki satu pesona kedamaian dan ketenangan yang tinggi. Mereka tenang karena tak disibukkan dengan masalah-masalah dosa. Mereka dalam realitas hidupnya tidak terbebani kriteria-kriteria dosa sehingga tidak harus melakukan pertaubatan atau penebusan dosa. Semua itu tentunya tidak terlepas dari kodrati hewani yang bersifat ma’sum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kehidupan satwa tidak pernah menuntut terhadap sesamanya dengan tuntutan-tuntutan yang berkaitan dengan kewajiban terhadap Tuhan. Kehidupanya lebih mengalir, yaitu tanpa adanya paksaan dan pengekangan-pengekangan tertentu yang berorientasi terhadap diri Tuhan. Hal itu dilandasi dengan satu keyakinan bahwa urusan dengan tuhan adalah urusan fundamental dari tiap-tiap personal. Sehingga hal ini tidak perlu dipaksa-paksakan pada sesamanya yang pada akhirnya memunculkan nilai ketulusan dan keikhlasan yang tinggi dan bukan malah mencipta pengekangan terhadap personalitas yang ada. Selain itu juga tidak pernah memperdebatkan atau mempertentangkan keyakinan antarsesama. Mereka cenderung mencipta satu kedamaian dan kebahagiaan, bukan malah menciptakan realitas perselisihan yang memualkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling mendasar dalam etape ini adalah sifat ikhlas menerima segala bentuk realitas kehidupan yang menimpa mereka. Tentunya dalam hal ini bukan sekedar tabah dan sabar dalam menerima realitas yang menimpa, tetapi mereka juga menelusuri dan menjalaninya. Sifat ikhlas menerima disamping sebagai salah satu bagian yang mendasar dalam tiap personal, ia juga merupakan bentuk tertinggi sebuah kepribadian. Mengapa demikian? Karena semuanya berawal dari sebuah peninjauan dari sisi mistikus. Sifat ini dalam tradisi mistikus menduduki tahap atau etape paling atas yang disimbolkan dengan ungkapan fana dari kefanahan. Dalam diri sudah lenyap akan sifat personalitas. Yang ada hanyalah sifat kesemestaan, yaitu segala orientasi hidup hanyalah tertuju kepada Tuhan dan bahkan kondisi fisikal dari individi akan terabaikan. Jiwa menjadi tenang karena seolah-olah tuhan telah bersamanya dan membaur dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pola kehidupan semacam itu, bagi Paz dalam etape ini mendambakan satu bentuk ketenangan jiwa untuk segera melingkupi personalitas tiap manusia. Semua itu diharapkan agar tercipta suasana yang enjoi dan menyenangkan dalam menjalani realitas kehidupan yang bersifat fana ini. Tidak ada satu pengekangan, tidak ada lagi perbuatan dosa, tidak ada rasa was-was serta yang ada hanyalah kedamaian rasa dalam tiap-tiap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Paz juga mendambakan satu kehidupan dalam diri manusia untuk bersifat kaya. Yang dimaksud adalah adanya perasan cukup atau tidak merasa kurang yang selalu melingkupi hati dan pikiran manusia. Selain itu dambaan lain adalah tidak adanya orang yang bersifat melampaui batas dalam segala hal baik yang mengacu pada harta maupun perhiasan duniawi maupun lainya yang telah ditentukan Tuhan kepadanya. Semua itu tidak lain adalah pengaruh nafsiyah manusia yang selalu merincu dan selalu mengobarkan api “kewas-wisan” dalam diri seorang individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang kekurangan, tidak ada yang jadi edan&lt;br /&gt;Oleh nafsu memiliki benda-benda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adanya sifat dan sikap penindasan maupun penghegemonian terhada sesama dalam realitas kehidupan tampaknya juga menjadi dambaan oleh seorang Octavio Paz. Penghegemonian ini bisa mengarah pada sebuah kekuasaan pemerintahan dan dapat bersifat ideologis yang telah ditelorkan atau didoktrinkan lampau hari oleh mereka yang telah hidup lebih awal. Oleh mereka yang telah mengantongi sekali atau beribu penghargaan. Oleh mereka yang diagung-agungkan, yang mampu menimbulkan pesona kedukaan yang begitu mendalam oleh penjuru dunia ketika mereka sudah tiada lagi hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghegemonian ini memiliki dampak yang sangat besar dalam kreatifitas manusia. Ia mampu membunuh kreatifitas yang hendak tumbuh dan berkembang ketika ia mencoba untuk mengisi sejarah kehidupan umat manusia. Hal itu juga akan mencipta satu bentuk kehidupan yang statis dan monoton di dunia ini. Manusia-manusia seolah menjadi robot hidup yang hanya dikendalikan oleh orang-orang tertentu, oleh mereka yang berkuasa baik dari sisi pemerintahan maupun ideology&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Tak ada yang berlutut pada yang lain, tak juga pada sesama&lt;br /&gt;Yang hidup ribuan tahun silam,&lt;br /&gt;Yang sekalipun dihargai atau berduka atas seluruh penjuru bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan-ungkapan yang telah di ujarkan Paz mencerminkan hasrat pemberontak terhada realitas kehidupan yang begitu dahsyat. Ini akan menjadi wacana dan bahkan doktrin maupun ajaran yang begitu menyentuh hati seorang manusia yang khusuk melakukan perenungan akan realitas hidup yang sedang bergelora. Mengapa demikian? Hal tersebut disebabkkan oleh adanya perefeleksian diri di dalam hakekat dasar manusia. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang paling sempurna penciptaanya. Ia sempurna ketimbang makhluk-makhluk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mengapa di sini berbeda dan mengandung daya ironi, sehingga kehidupan manusia dianggap jauh lebih rendah ketimbang kehidupan satwa? Semuanya tidak terlepas dari konsepsi dasarnya. Manusia diciptakan sempurna bukan mengarah pada kesempurnaan hidupnya, melainkan kesempurnaan bentuk penciptaanya yang di tandai dengan adanya kemampuan berfikirnya yang lebih. Gambaran kehidupan yang hina ketimbang kehidupan satwa ini muncul apabila sugesti nafsu selalu melingkupi tiap gerak langkahnya. Logika berfikirnya tidak sanggup menetralisir serta membendung hal tersebut. Ia cenderung hanyut ke dalamnya. Saat itulah derajatnya akan turun. Dan realitas semacam itu kini muncul dalam logika berfikir Paz, sehingga ia ingin membalik keadaan lewat diri pribadinya dahulu untuk melakukan pola hidup seperti satwa yang dirasanya lebih banyak mengandung kedamaian, ketentraman dan juga cinta kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2010/05/votum-sang-penyair-pemikiran-dan-pemberontakan-octavio-paz/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2010/05/votum-sang-penyair-pemikiran-dan-pemberontakan-octavio-paz/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-4186639170380383562?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/4186639170380383562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=4186639170380383562' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4186639170380383562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4186639170380383562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/05/votum-sang-penyair.html' title='VOTUM SANG PENYAIR: Pemikiran &amp;Pemberontakan Octavio Paz'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-1096182882848595049</id><published>2010-05-28T20:21:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:41:01.989-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Friedrich Wilhelm Nietzsche'/><title type='text'>NIETZSCHE DAN KEMATIAN TUHAN DALAM SEBUAH REFLEKSI</title><content type='html'>Imamuddin SA *&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan omong kosong, melainkan sesuatu yang benar-benar terjadi. Ini adalah realitas kehidupan dari dulu hingga sekarang. Fenomena ini kerap dipandang sebelah mata oleh kalangan-kalangan tetentu, padahal jika mereka bersedia menelisik kedalaman makna, mereka akan menemukan sesuatu yang besar yang sanggup dijadikan perenungan, permenungan serta refleksi terhadap realitas yang ada. Mereka tidak akan menganggap bahwa kata-kata ini bukan sebuah kata bualan yang terpancar dari mulut seorang radikal ateistik. Andaikan kata-kata ini benar merupakan ujaran dari seorang radikal ateistik, paling tidak mereka dapat mengambil sisi baiknya, sebab segala sesuatu yang ada pasti mengandung nilai yang dapat diambil dan dijadikan sebuah pembelajaran bagi diri pribadi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Coba, cermati serta telisik kembali ungkapan ini serta kantongi nilai-nilainya. Ini merupakan harapan serta tantangan bagi anda semua untuk bisa menghargai kata-kata atau pengujarnya agar tidak selalu berpandangan picik atau culas terhadap realitas hidup dan kehidupan yang sedang menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan telah mati!”! Ungkapan Nietzsche dalam Sabda Zaratustranya inilah yang dari zaman dahulu sampai sekarang seolah-olah menjelma sebagai virus dalam diri manusia. Virus ini terus menggerogoti logika dan perasaan manusia. Ungkapan ini selalu dianggap sebagai virus yang mematikan yang harus segera dibumihanguskan. Padahal jika diperhatikan lebih jauh, ungkapan ini merupakan cambuk pengingat bagi mereka yang telah lalai. Cambuk bagi mereka yang selalu mengutamakan esensi dan eksistensi pribadi hingga mereka menjual, mematahakan dan bahkan membunuh eksistensi Tuhan dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan “Tuhan telah mati”mengandung nilai filosofis yang begitu dahsyat. Kematian ini bukan mengarah pada kematian esensi (dzat), melainkan mengarah pada kematian eksistensi (wewenang dan perintah) Tuhan dalam diri seorang manusia..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kodrati, dzat Tuhan bersifat kekal dan abadi. Keberadaanya selalu ada melampaui ruang dan waktu serta menjadi poros kehidupan. Begitu juga dengan eksistensi Tuhan. Secara kodrati eksistensi Tuhan juga bersifat kekal dan abadi, namun dalam realitasnya eksistensi inilah yang kerapa dikebiri oleh pribadi seseorang. Ia kerapa dibantai dan ditiadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk pembantaian serta peniadaan eksistensi Tuhan mungkin terlihat jelas pada waktu itu, sehingga dengan seketika pula Nietzsche mengujarkan kata-kata tersebut. Pada waktu itu manusia banyak yang beralih pandangan. Mereka selalu mengejar kenikmatan duniawi yang bersifat sementara dibandingkan dengan mengabdi kepada Tuhan. Mereka menghalalkan segala cara demi kepuasan tersebut. Mereka kerap berbuat curang, culas terhadap sesama, dan bahkan mereka kerap membuat kerusakan-kerusakan di muka bumi hanya demi kepuasan nafsiahnya semata. Di sinilah letak pembantaian dan peniadaan eksistensi Tuhan dalam diri seorang manusia. Wewenang dan perintah-Nya untuk bertaqwa dan tidak membuat kerusakan di muka bumi telah di kebiri dan di tiadakan dari dalam diri pribadinya. Tuhan seolah tidak ada hingga mereka berbuat sewenang-wenang dan semaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah telah terungkap jelas, bahwa nafsulah yang telah mengantarkan manusia berada dalam lembah kesesatan. Dialah pengantar manusia untuk berbuat ingkar kepada Tuhan. Olehnya, manusia kini telah beralih melakukan pengagungan dan pemujaan terhadap hakekat Tuhan yang sejati. Manusia telah beralih menuhankan benda-benda, harta, tahta dan lain sebagainya yang merupakan perhiasan dunia yang bersifat semu dan menipu. Orientasi hidupnya kini telah berbelok menuju kebendaan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal tersebut, fenomena semacam itu juga telah dilukiskan beberapa puluh tahun yang lalu sebelum adanya konsep Nietzcsche. Tindakan semacam ini dilakukan oleh Karl Marx. Pada saat itu ia mengkritisi realitas sosial yang terjadi dengan mengatakan bahwa “Agama Itu Candu”. Realitas sosial sudah kacau balau. Agama sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Agama hanya berposisi sebagai alat pemuas kebutuhan nafsiah manusia. Agama hanya dijadikan tunggangan dalam mempertinggi stratifikasi sosial, dan juga untuk mengeruk harta kekayaan demi kepentingan personal seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat satu fenomena lain dari konsep ujaran Nietzsche. Konsep ini mungkin juga diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar mengabdikan diri terhadap hakekat Tuhan yang sejati. Bagi mereka yang benar-benar mengorientasikan diri hanya kepada hakekat Tuhan yang sejati, maka esensi dan eksistensi tuhan-tuhan yang lain akan ditiadakan. Tuhan yang bersifat kebendaan akan ia bantai habis-habisan, hingga pesonanya tidak ada lagi melekat di dalam diri seorang individu. Contoh saja agama Islam. Dalam agama Islam sudah terlihat jelas lewat kesaksian yang dibuat oleh para pemeluknya. Secara konseptual kesaksian ini berlaku bagi siapa saja yang hendak masuk dalam agam tersebut. Semua orang pasti mengikrarkan ungkapan ini, yaitu ikrar yang bersifat peniadaan terhadap Tuhan yang bersifat kebendaan. Mereka hanya meyakini hanya ada satu Tuhan yaitu Allah. Dialah yang dijadikan sandaran dan tujuan hidup bagi mereka. Dia diyakini sebagai sesuatu yang bersifat kekal, abadi, kuasa, dsan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitasnya, konsep ini telah ditanamkan bagi siapa saja yang memeluk agama Islam, namun dalam praktik yang sebenarnya masih perlu dipertanyakan. Pertanyaan yang timbul adalah: sudahkah para pemeluk agama Islam menerapakna dengan sepenuh hati konsep tersebut dalam hidup dan kehidupanya? Sudahkah mereka melakukan pembunuhan dan pembantaian terhadap segala sesuatu yang besifat kebendaan dan hanya berorientasi pada Allah semata? Ini menjadi tantangan besar bagi umat Islam untuk melakukan penerapan secara real bukan hanya sekedar dijadikan lipstik atau kaligrafi yang disakralkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tengok lebih jauh lagi tentang pembunuhan dan pembantaian Tuhan. Fenomena yang terjadi di dalam dunia sufistik, bahwa ungkapan Tuhan sudah tidak ada lagi. Ungkapan ini mereka ganti dengan istilah kekasih. Tuhan yang notabenenya masih bersifat plural, mereka spesifikkan dengan kata Kekasih. Mereka menggapai dan menuju Tuhan bukan sebagai Tuhan lagi, melainkan sebagai Kekasih yang harus didekati dengan cinta bukan dengan ketakutan-ketakutan. Mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang diberikan Tuhan kepada manusia tidak lain adalah bentuk kasih sayang-Nya, sehingga cara pendekatan diri pun harus dilakukan dengan cinta dan kasih sayang pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan ungkapan yang diujarkan oleh seorang “Pir” pada Abu Sa’id saat ia berilustrasi hendak bertemu dengan Tuhan. Saat Abu Said ditanya: “Apakah kau ingin bertemu Tuhan?”. Jawab Abu Sa’id: “Tentu saja aku ingin”. Kemuduan “Pir” itu menjawab: ”Jika demikian, kapan pun saat kau sendirian, lantunkan syair ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanpa Dikau, oh, Kekasih, setitik pun aku tidak bisa tenang;&lt;br /&gt;Kebaikan-Mu terhadapku tak sanggup kubalas.&lt;br /&gt;Sekali pun setiap helai rambut di tubuhku menjadi lidah,&lt;br /&gt;Ribuan syukur terhadap-Mu tak akan bisa kudaras.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam syair tersebut dikatakan bahwa Tuhan diibaratkan atau disimbulkan sebagai Kekasih. Ia telah melimpahkan begitu banyak kasih sayang terhadap manusia, sehingga beribu syukur dan terima kasih yang diucapkan seorang manusia terhadap-Nya masih tidak sanggup untuk membalas cinta kasih-Nya, bahkan seumpama helaian rambut yang ada pada tubuh manusia menjelma menjadi lidah dan saling mengucap syukur kepada-Nya, itu pun masih tidak sanggup membalas banyaknya cinta kasih yang telah dianugrahkan kepadanya. Oleh sebab itu, dalam ajaran Islam, setiap kali seseorang hendak melakukan sesuatu hal, ia disunnahkan untuk membaca basmalah. Ini menunjukkan akan bentuk kesaksian terhadap cinta kasih Tuhan yang esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang mengetahui, bahwa seorang sufi selalu mengorientasikan hidup dan kehidupanya hanya kepada Tuhan. Yang ia tuju hanyalah esensi dan eksistensi Tuhan semata. Hal tersebut kerap tercermin melalui ungkapan-ungkapanya, termasuk ungkapan syair di atas yang mengibaratkan Tuhan sebagi Sang Kekasih. Perlu dijadikan catatan, bahwa pengungkapan tersebut merupakan simbol semata. Masih banyak simbol-simbol lain yang merupakan bentuk pembantaian dan pembunuhan terhadap penuhanan benda-benda keduniawian, yaitu harta, tahta, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2010/05/nietzsche-dan-kematian-tuhan-dalam-sebuah-refleksi/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2010/05/nietzsche-dan-kematian-tuhan-dalam-sebuah-refleksi/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-1096182882848595049?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/1096182882848595049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=1096182882848595049' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1096182882848595049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1096182882848595049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/05/nietzsche-dan-kematian-tuhan-dalam.html' title='NIETZSCHE DAN KEMATIAN TUHAN DALAM SEBUAH REFLEKSI'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-3348183297911228673</id><published>2010-05-22T03:18:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:41:20.146-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='S. Yoga'/><title type='text'>S. YOGA DALAM LIMA TANGGA KEPUITISAN</title><content type='html'>Imamuddin SA *&lt;br /&gt;http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sulit dewasa ini memberikan penilaian terhadap karya sastra, lebih khususnya puisi. Memakai standart penilaian yang bagaimana untuk diterapkan pada sebuah karya sastra? Hal itu disebabkan oleh keberadaan karya sastra itu sendiri. Karya sastra kontemporer lebih bersifat bebas dari ikatan-ikatan atau aturan perpuisian. Inilah yang kiranya menjadikan seorang kritikus sastra harus memutar otak lebih serius lagi. Ujung-ujungnya hal ini akan mengarah pada satu bentuk kritik yang bersifat impresionis. Kritik yang memberikan tafsiran-tafsiran untuk mengagumkan dan untuk menimbulkan kesan yang indah kepada pembaca. Padahal secara konsep dasar, kritik sastra itu bertumpu pada pertimbangan baik-buruk sebuah karya berdasarkan nilai-nilai tertentu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai tersebut dapat bertumpu pada pengalaman jiwa seorang pengarang. Itulah yang kemudian dapat dijadikan standart penilaian karya sastra secara objektif. Sebagaimana Rachmat Djoko Pradopo, ia melakukan penerapan kritik sastra berdasarkan lima tingkat pengalaman jiwa manusia. Kelima tingkat pengalaman jiwa tersebut meliputi neveau anorganis; tingkat jiwa yang rendah dan berorientasi pada pola bunyi, irama, baris sajak, majas dan lain-lain, neveau vegetatif; tingkat seperti tumbuh-tumbuhan dan berorietasi pada suasana, neveau animal; tingkat yang dicapai seperti hewan dan berorientasi pada unsur nafsiah, neveau human; tingkat yang hanya dicapai oleh manusia dan berorientasi pada sifat luhur kemanusiaan, dan neaveau religius/filosofis; tingkat tertinggi dan berorientasi pada renungan-renungan yang mengarah pada hakekat hidup dan kehidupan. Berdasarkan fenomena itu, marilah sejenak kita mendedah puisi S Yoga yang berjudul Jaran Goyang berdasarkan pada tingkat pengalaman jiwa kemanusiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mulai dari tingkat yang paling bawah, yaitu neveau anorganis. Puisi penyair kelahiran Purworejo ini kental dengan persajakan. Rimanya tertata rapi. Persajakannya sangat konsisten dan seimbang. Itu terlihat dari jumlah baris dalam tiap baitnya. Mulai bait pertama hingga terakhir, puisi ini tersusun atas tiga baris dalam tiap baitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rima yang disematkan dalam puisi Jaran Goyang begitu mendominasi keseluruhan puisi. Ditinjau dari huruf akhir dalam setiap baitnya, S Yoga tidak banyak menggunakan variasi rima. Ia cukup menggunakan rima rata dengan pola “aaa”. Vokal “u” melingkupi bait pertama, ke tiga, ke lima, dan ke enam. Bait pertama dapat dilihat dari penyematan kata bernafsu-rayu-menjebakmu. Bait ketiga ditandai dengan kata wajahmu¬-selalu-tabu. Bait kelima terlihat dari penyematan kata merayumu¬-membenciku-apiku. Bait keenam ditandai dengan kata berbulu-rohmu-malamku. Nada-nada tersebut membangun suasana yang begitu berat, mendalam, dan mengharukan dalam kepribadian. Vokal “i” mewarnai bait ke empat, ke tujuh, dan ke lima belas. Itu ditandai dengan penyematan kata diri-kubimgkai-abadi (bait ke-4), hati-mati-berseri (bait ke-7), ati-abadi-suci (bait ke-15). Bunyi huruf tersebut terasa ringan diucapakan namun ragkaian kata-katanya mengisyaratkan sesuatu yang berat. Jadi, untuk menggapai hidup yang abadi yang penuh dengan kenikmatan itu sangat mudah diucapkan namun begitu berat untuk dilakukan. Vokal “a” menghiasi bait ke tiga belas; surga-seberapa-selamanya, dan bait ke sembilan belas; dipaksa-diminta-berlaksa. Bunyi-bunyi tersebut merupakan bunyi yang datar. Ini menggambarkan suatu kewajaran. Sudah sewajarnya seorang manusia mendambakan surga dalam keabadiannya. Sudah sewajarnya manusia hidup itu ada paksaan, persembahan, serta ada perbandingan/pertimbangan-pertimbangan. Konsonan “l” mewarnai bait ke dua; kanti¬l-kinti¬l-kekal yang membangun suasana sakral yang kental dan berkait. Konsonan “n” melingkupi bait ke delapan; penyamun-kegelapan-bulan yang mengisyaratkan akan kepastian. Konsonan “ng” terlihat pada bait ke sembila; gamang-hilang-kuning menggambarkan jiwa yang tidak tenang. Konsonan “k” mewarnai bait ke sepuluh; semak-rangkak-berjarak, dan bait ke delapan belas; kemaruk-remuk-berkecamuk. Bunyi-bunyi tersebut membangun suasana perjalanan. Konsonan “t” melingkupi bait sebelas; berkabut-pucat-nikmat, bait dua belas; aurat-kudapat-kujerat, bait empat belas; luput-langsat-keramat, bait enam belas; kabut-kusut-kalut, dan bait tujuh belas; lewat-larut-kalimat. Bunyi-bunyi tersebut mencerminkan kesakralan/kefundamentalan hidup. Konsonan “r” mewarnai bait ke dua puluh; altar-diantar-samar yang mencerminkan suatu bentuk kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditelisik dari bunyi akhir kata dalam tiap baitnya, S Yoga menggunakan dua rima, yaitu rima patah dan rima rata. Rima patah terdapat pada bait dua, lima, tujuh, delapan, sembilan, sebelas, empat belas, tujuh belas, sembilan belas, dan dua puluh. Itu terlihat dari kata-kata; kanti¬l-kinti¬l-kekal (bait dua), merayumu¬-membenciku-apiku (bait lima), hati-mati-berseri (bait tujuh), penyamun-kegelapan-bulan (bait delapan), gamang-hilang-kuning (bait sembilan), berkabut-pucat-nikmat (bait sebelas), aurat-kudapat-kujerat (bait dua belas), luput-langsat-keramat (bait empat belas), lewat-larut-kalimat (bait tujuh belas), keamruk-remuk-berkecamuk (bait delapan belas), dipaksa-diminta-berlaksa (bait sembilan belas), altar-diantar-samar (bait dua puluh). Adapun rima ratanya adalah bait sepuluh; semak-rangkak-berjarak, dan bait enam belas; kabut-kusut-kalut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majas metafora tampak hadir dalam puisi S Yoga ini. Ungkapan “mantraku terbang (bait 1, baris 1), apiku (bait 5, baris 3), birahi berbulu (bait 6, baris 1), bunga-bunga (bait 7, baris 1), cahaya bulan (bait 8, baris 3), anjing malam (bait 10, baris 1), semak (bait 10, baris 1), lidi lanang (bait 13, baris 1), buah pinang yang kuning langsat (bait 14), kabut (bait 16 baris 1), kabut (bait16 baris 1 dan 3), asap dapur (bait 17, baris 1), dan nyala damar di sentong (bait 17, baris 2) merupakan gambaran metaforanya. Dalam ungkapan mantraku terbang, kata mantra yang notabenenya adalah kata-kata yang berkekuatan magis (dapat dikatakan sebagai doa) disamakan dengan seekor burung atau sesuatu hal yang dapat terbang. Ia secara visual dapat melayang-layang ke angkasa. Kata apiku merupakan persamaan dari hasrat yang diliputi oleh nafsu. Kata bulu identik dengan kehangatan. Sesuatu yang memberikan kehangatan akan mencupta kedamaian. Jadi, kata birahi berbulu disamakan dengan nafsu (jiwa) yang damai/tenang. Bunga bunga disamakan dengan kehidupan yang bahagia. Pencerahan atau petunjuk tingkah laku yang benar dimetaforkan dengan ungkapan cahaya bulan. Anjing malam mengarah pada penyepadanan dengan keberingasan dan keliaran nafsu. Semak merupakan satu bentuk penyepadanan dengan citra Nabi Musa saat beraudensi dengan tuhan di Bukit Tursina yang diwujudkan dalam bentuk semak yang terbakar. Semak tersebut merupakan isyarah akan hakekat ketuhanan. Lidi lanang biasanya dipakai oleh para pawang hujan untuk menolak hujan. Pada ungkapan ini tidaklah mengarah pada penangkalan hujan, namun mengarah pada kebajikan dan kesucian sebab ungkapan itu dirangkainya dengan kata surga. Penyair bermaksud melakukan penangkalan terhadap segala bentuk keburukan yang muncul dari dalam pribadinya dengan sedikit kebajikan dan kesucian hatinya. Jadi ungkapan lidi lanang disamakan dengan penyucian diri (hati). Buah pinang yang kuning langsat berorientasi pada buah pinang yang tengah masak/matang. Dalam hal ini unrkapan tersebut disamakan dengan buah kuldi yang pernah termakan oleh Adam dan Hawa saat berada di surga. Kabut pada baris ke-1 bait 16 disamakan dengan alam atau kehidupan yang samar (gaib) sedangkan pada baris ke-3 dimetaforkan dengan Tuhan Yang Maha Gaib. Asap dapur disepadankan dengan kepribadian yang buruk/kotor. Nyala damar dimetaforkan dengan cahaya hati/petunjuk, sedangkan sentong berkonotasi pada tempat damar menyala. Dalam hal ini sentong disepadankan dengan hati itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tingkat neveau vegetatif tampak bermacam-macam suasana yang membangun kepribadian si “aku” yang tecermin dalam sajak ini. Suasana-suasana tersebut berorientasi pada suasana yang begitu berat, mendalam, dan mengharukan dalam pribadi pengarang (bait 3, 5, dan 6). Suasana hati yang gontai, cemas dan tidak tenang juga telukiskan (bait 1, 9, dan 18). Hal ini seoalah-olah muncul sebagai suatu kewajaran dalam realitas perjalanan hidup si “aku” dalam mencari hakekat kesejatian tuhannya (bait 3, 4, 11, dan 12). Suatu harapan juga tertuang dalam sajak ini (bait 19 dan 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pengalaman jiwa yang selanjutnya adalah neveau animal. Ini berupa nafsu-nafsu hidup, tanggapan-tanggapan indraan yang konkret, dan nafsu-nafsu jasmaniah. Nafsu-nafsu hidup dan jasmaniah tergambarkan melalui ungkapan “goda dan rayu (bait 1), merayumu dan membenciku (bait 5), murka (bait 7), rindu, cemas dan gamang (bait9), hati luka dan duka (bait 18), kebahagiaan, dipaksa (bait 19). Godaan, rayuan, kebencian, amarah, kerinduan, kecemasan, sakit hati, kesedihan, kebahagiaan, paksaan merupakan gambaran dari eksistensi nafsu. Semuanya bertumpu pada nafsu. Tanggapan indraan yang konkirit tecermin dari kata-kata uba rampe (sesaji-sesaji dalam ritual mistis), bunga mawar, kenanga dan kantiil (perkengkapan yang disediakan dalam ritual memantrai sesuatu), topeng (wajah palsu), apiku (sesuatu yang bersifat menyala, berkobar, dan membakar), berbulu (sesuatu yang menimbulkan kehangatan), bunga-bunga (gambaran yang indahdan memesona), cahaya bulan (sesuatu yang bersifat menerangi), burung hantu (gambaran dari malam dan ketakutan), anjing malam (gambaran dari sesuatu yang liar dan menakutkan), pucat (wajah yang tidak segar berseri yang menandakan bahwa diri seseorang itu sakit atau ketakutan), aurat (suatu aib atau agian-bagian tubuh seseorang yang mampu merangsang nafsu sahwat), surga (tempat yang indah yang penuh dengan kenikmatan), kulsi (buah yang enyesatkan yang menjadikan Adam dan Hawa terlempar dari surga), nyala damar (sesuatu yang bersifat menerangi dalam kegelapan), dan altar (tempat suci sebagai pemujaab/persembahan kurban kepada dew-dewa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat keempat, neveau human dalam sajak ini tampak sebagai kesadaran si “aku” bahwa segalanya akan tiada arti jika ia tidak mampu menemukan, memandang, dan menyayangi kekasihnya (bait 3 dan 4). Kesadaran juga muncul dalam bait ke-11. Ini mengisyaratkan bahwa si “aku” mengikhlaskan penderitaan sesaat sebab ia sadar bahwa ada kebahagiaan yang lebih nikmat di balik semua itu. Si “aku” juga sadar, demi petunjuk dan jalan terang menuju sang kekasih, ia mebiarkan dirinya berada dalam kegelapan dan keheningan dari hal-hal yang mampu menggoda hatinya (bait 12). Kesadaran untuk bersabar juga muncul kembali dalam pribadi si “aku”. Ia tidak akan memaksa akan kedatangan kebahagiaan melalui kehadiran kekasihnya. Ia membiarkannya datang dengan sendirinya seiring perjalanan waktu, sebab itulah yang dinamakan kewajaran hidup. Dan inilah yang akan merangkai kebahagiaan yang lebih melimpah-ruah (bait 19). Si “aku” juga sadar bahwa kasih sayang kekasihnya lebih tinggi dari kasih sayangnya. Sebab kekasihnya tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa (bait 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kelima adalah neveau religius/filosofi. Tingkat inilah yang tampak begitu kental dalam keutuhan puisi. Puisi ini mengarah pada perjalanan hidup si “aku” dalam melakukan hakekat kesejatian tuhan agar ia di kemudian hari berolehkan kebahagiaan dan kemuliaan. Sudah tampak jelas dari judulnya, Jaran Goyang, ini adalah mantra pengasihan untuk memikat hati seseorang. Tapi di sini beda. Judul itu berkonotasi pada yang lain. Si “aku” berusaha memikat tuhan dengan puja-puji doa dalam munajatnya. Ia mempersiapkan hal-hal dalam persembahan cinta kasih, ketulusan, dan kesucian hatinya agar tuhan berkenan cinta padanya dan selalu dekat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mantraku terbang bersama malam bernafsu&lt;br /&gt;adakah yang tak akan goyah karena goda dan rayu&lt;br /&gt;telah kusiapkan uba rampe guna menjebakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bunga mawar, kenanga, dan kantil&lt;br /&gt;agar kau selalu terpikat dan kintil&lt;br /&gt;wahai kekasih berelok rupa dalam singgasana kekal (bait 1 dan 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si aku menyadari bahwa segala pancaran kenikmatan yang diberikan tuhan kepadanya tidak aka berarti apa-apa apabila ia tak mampu dekat dan cinta kepada tuhannya. Ia semakin kecewa jika tuhan hanya sebatas bayangan angan dalam jiwanya saja. Ia menganggap bahwa perjalanan hidup yang telah dilaluinya haya sebatas kepura-puraan. Ia belum menemukan kesejatian hidup yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah artinya cahaya wajahmu&lt;br /&gt;bila tak bisa kupandang dan kusayang selalu&lt;br /&gt;hanya bayangan melayang di batas angan dan tabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila tak kutemukan sukmamu dalam diri&lt;br /&gt;hanyalah topeng hidup yang kupakai dan kubingkai&lt;br /&gt;tak terwujud kesejatian hidup yang abadi (bait 3 dan 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegasan dilakukan oleh si “aku”. Ia menegaskan bahwa ia telah melakukan usaha-usaha tertentu dengan jalan menghadirkan kesucian hati dari perbuatan-perbuat nista yang menimbulkan kebencian tuhannya. Dengan hal itu, ia semakin yakin, bahwa kini tuhan telah semain dekat bersama hasratnya yang menggebu. Ia lantas mendamaikan nafsunya agar kebajikan berselimut dalam dirinya yang kemudian mampu menjadikan tuhan jatuh hati dan iba oleh doa munajatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah lama kugiring agar semua arwah merayumu&lt;br /&gt;yang tak sudi kupinang karena membenciku&lt;br /&gt;kini kupastikan engkau semakin dekat dengan apiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang selalu kunyalakan dengan birahi berbulu&lt;br /&gt;agar harum tubuh menakjubkan rohmu&lt;br /&gt;hingga hati luluh melihat doa malamku (bait 5 dan 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________&lt;br /&gt;*) Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-3348183297911228673?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/3348183297911228673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=3348183297911228673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3348183297911228673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3348183297911228673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/05/s-yoga-dalam-lima-tangga-kepuitisan.html' title='S. YOGA DALAM LIMA TANGGA KEPUITISAN'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-3227244663225258590</id><published>2010-03-20T06:00:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:43:15.811-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Balada'/><title type='text'>BALADA SUNAN DERAJAT</title><content type='html'>ada titah sang ayahanda&lt;br /&gt;mengukir purnama di barat surabaya&lt;br /&gt;kala hati manusia berselimut gulita&lt;br /&gt;menebar kesungsangan di hening cakrawala laga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekuat banteng, tekad melumat samudra&lt;br /&gt;di atas sampan, lantang menepis ombak prahara&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;pecah! berkeping sampan kelana&lt;br /&gt;diterjang badai tak berarah,&lt;br /&gt;raden kosim moksa kesadaran&lt;br /&gt;terhantar talam ikan bersandar di pesisir lautan&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada jejak mutiara dari berkas telapak kakinya&lt;br /&gt;membangun pusara peradaban lama&lt;br /&gt;menanam benih kesejatian langkah&lt;br /&gt;kala siggah di jelang desa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang luka apalagi mengangah&lt;br /&gt;sebab luhur dan lunak lenggangnya&lt;br /&gt;warga berduyun menimba &lt;br /&gt;tirto wening dari telaga teratainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;raden kosim merdu menembang piwulang laku&lt;br /&gt;menggurat aksara mendayu rayu;&lt;br /&gt;wenehono teken marang wong kang wuto&lt;br /&gt;wenehono mangan marang wong kang luwe&lt;br /&gt;wenehono busono marang wong kang wudo&lt;br /&gt;wenehono ngiyop marang wong kang kodanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu demi satu lirik membatu&lt;br /&gt;menjelma pasak di kedalaman kalbu&lt;br /&gt;membias makna di relung-relung waktu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sembahlah seberkas cahaya pada mereka yang tak tahu apa&lt;br /&gt;melangkah di kegelapan fana,&lt;br /&gt;biar setapak jalan berarah nyata&lt;br /&gt;mengenal muara yang hendak digapainya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidanglah setetes kemurahan hati pada diri yang langsih&lt;br /&gt;lewat rizkimu yang telah membumi&lt;br /&gt;demi menangkis kekufuran sendiri &lt;br /&gt;demi membungkam sumber kenistaan yang lebih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rajutlah tudung sutra pada aib sesama&lt;br /&gt;lewat lambaian langkah dan mocopat nada&lt;br /&gt;sebab darinya ketelanjanganmu saling bersua&lt;br /&gt;pun adalah ia tanda martabat nan indah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dekaplah dengan sayap-sayapmu &lt;br /&gt;pada tubuh yang merindu kehangatanmu&lt;br /&gt;bersama kekuasaan yang bersarang di batas ruangmu&lt;br /&gt;selama ia bersimpuh di sajadah kebenaran waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;raden qosim munajat memetik kembang warta&lt;br /&gt;menelukkan ilmunya ke selatan desa&lt;br /&gt;mengukir legenda di bukit pesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;raden qosim membata tangga ma’rifatnya&lt;br /&gt;membangun maqom kewalianya&lt;br /&gt;menyandang gelar sunan derajat di muara cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pebruari 2008, Paciran, Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-3227244663225258590?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/3227244663225258590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=3227244663225258590' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3227244663225258590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3227244663225258590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/03/balada-sunan-derajat.html' title='BALADA SUNAN DERAJAT'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-5602633972037021818</id><published>2010-03-20T05:55:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:43:29.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Balada'/><title type='text'>BALADA AJI SOKO</title><content type='html'>ada yang sulit dipikirkan&lt;br /&gt;diremas akal, dibongkar mata telanjang&lt;br /&gt;kala kegaiban memberantas kenyataan&lt;br /&gt;jawa dwipa jadi tanah persinggahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seribu pasang nyawa bergelantungan&lt;br /&gt;mengayun lelakonan&lt;br /&gt;melintas belantara&lt;br /&gt;memangkas belukar, menegakkan istanah istirah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;laksana guntur mencabik-cabik dada&lt;br /&gt;nyawa meradang, terkulai dari jasadnya&lt;br /&gt;menyelimut ia yang hampa dalam misteri alamnya;&lt;br /&gt;pagi luka, senja pun tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aji soko terukir namanya&lt;br /&gt;jadi tumbal kebengisan jawa&lt;br /&gt;terbang dari bagdad mengeringkan darah&lt;br /&gt;melintas batas kesadaran&lt;br /&gt;lewat cahaya kesaktian&lt;br /&gt;bagai peghantar misi teremban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aji soko mengheningkan cipta&lt;br /&gt;menyemedikan jiwa;&lt;br /&gt;ada goresan sungsang&lt;br /&gt;mengerang mendambakan warna kemurahan&lt;br /&gt;dari mereka yang hidup di balik pandangan&lt;br /&gt;dalam gaib reruangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seribu hewan berjalan mundur dicarinya&lt;br /&gt;selaksa simbol jiwa kalah oleh gaib mayapada&lt;br /&gt;dirajutkan kupat bagai saksi kelepatannya&lt;br /&gt;diikatkan lepet bagai tanda keluputannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aji soko melenggang menelisik sudut tanah jawa&lt;br /&gt;mengokohkan persembahan di pusar keangkerannya&lt;br /&gt;mengubur satu demi satu segala yang telah tersyariat&lt;br /&gt;berharap prahara tersumbat memadat&lt;br /&gt;meniti lelangkah bersama kedamaian syahadat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2008, Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-5602633972037021818?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/5602633972037021818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=5602633972037021818' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5602633972037021818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5602633972037021818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/03/balada-aji-soko.html' title='BALADA AJI SOKO'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-1651152148563257092</id><published>2010-03-11T07:02:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:43:40.721-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mardi Luhung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>BAWEAN SENANDUNG DI ATAS AWAN</title><content type='html'>Judul Buku : Buwun&lt;br /&gt;Pengarang : Mardi Luhung&lt;br /&gt;Jenis Buku : Kumpulan Puisi&lt;br /&gt;Epilog : Beni Setia&lt;br /&gt;Penerbit : PUstaka puJAngga, Februari 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : 66 hlm. 12 x 19 cm&lt;br /&gt;Peresensi : Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya besar kerap lahir dari tangan-tangan pengarang yang peka dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tengok saja Gibran, Tagore, Octavio Paz, Albert Camus, setiap kali mereka melakukan suatu perjalanan, dapat dipastikan ada sesuatu yang mengendap dalam pikirannya. Membuncah-ruah menjadi ide bercahaya. Dan bergerak menghasilkan karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu terjadi entah disengaja atau secara alamiah. Yang jelas, sebuah karya kreatif lahir dari fenomena yang telah tersapa. Hal itu ternyata tidak hanya terjadi dalam diri tokoh-tokoh besar kesusastraan dunia, melainkan juga merambah pada pribadi seorang Mardi Luhung. Melalui perjalanannya ke pulau Bawean, lahirlah sebuah karya ekspresif-inspiratif dari tangannya. Karya tersebut diberijudul “Buwun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buwun merupakan sebuah nama klasik dari pulau Bawean, Kecamatan Gresik. Pulau ini juga dapat dikatakan sebagai pulau Hawa. Sebab kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para pria pulau tersebut banyak yang melancong di luar pulau untuk bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya kumpulan puisi yang berjudul Buwun ini merupakan sebuah isyarah bahwa Merdi mencoba menyuarakan kearifan lokal daerahnya. Yaitu Gresik. Selain itu, Mardi lahan-perlahan seolah meranggeh, memosisikan dirinya pada tangga kemasyhuran. Dalam Buwun diungkapkan cukup banyak realitas yang berkembang di pulau Bawean. Baik dari sisi kultur budaya, sosial kemasyarakatan, dan keadaan daerah. Istilah lokalitas bahasa sangat kentara melingkupi tiap guratan puisinya. Kisahan pulau Bawean yang diungkapkan Mardi penuh imajinasi yang tinggi. Fenomena yang diceritakan tidak sekedar realitas naratif fisual Bawean, namun ada kekuatan terselubung yang menjadikannya multi tafsir. Di samping itu, estetika sajak terbangun dengan eloknya melalui repetisi, asonansi, dan aliterasi bahasa. Inilah amunisi yang diusung Mardi dan mampu menjadi kekuatan dahsyat dalam perang sastra masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajian buku Buwun ini terasa sedikit kurang sedap dinikmati jika itu ditelisik melalui penulisan istilah bahasa lokalnya. Dalam buku ini, istilah-istilah bahasa lokal itu disajikan mengalir begitu saja tanpa adanya penjelasan dalam bentuk bahasa nasional. Entah itu sebagai suatu kesengajaan yang dilakukan pengarang dengan maksug mencapai bias makna atau tidak, yang jelas dalam proses apresiasi terasa mengganggu pemahaman pembaca. Pembaca disibukkan dengan penelisikan artian leksikalnya saja. Sedangkan secara leksikal, artian tersebut belum tercantum makna dan maksudnya. Karya ini terasa seolah-olah hanya diperuntukkan bagi masyarakat lokal Kabupaten Gresik, khususnya Bawean saja. Sebab yang tahu istilah lokalitas bahasa yang dinukilkan hanya mereka yang bernaung dalam satu daerah tersebut. Jika karya ini bermaksud menasionalkan atau menduniakan Bawean, alangkah renyahnya jika diikutsertakan artian istilah-istilah lokalnya. Dan akhirnya, “Meski tak pernah sampai, mereka tetap ingin jadi penyaksi!”. Selamat mengapresiasi dibalik makna tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2010/03/bawean-senandung-di-atas-awan/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2010/03/bawean-senandung-di-atas-awan/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-1651152148563257092?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/1651152148563257092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=1651152148563257092' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1651152148563257092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1651152148563257092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/03/bawean-senandung-di-atas-awan.html' title='BAWEAN SENANDUNG DI ATAS AWAN'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-2414953423308641217</id><published>2010-03-11T06:55:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:44:01.107-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman Budhi Santosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>HANTU JIWA IMAN BUDHI SANTOSA</title><content type='html'>Imamuddin SA *&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman Budhi Santosa lahir di Magetan, 28 Maret 1948. pendidikan formalnya: S. Pb. M. A. 4 th Yogyakarta (1968) dan Akademi Farming (1983). Ia pernah bekerja pada perkebunan teh di Kendal (1971-1975) dam Disbun Prop. Dati I Jateng (1975-1987). Pada tahun 1969 bersama Umbu Landu Paringgi Cs mendirikan Persada Studi Klub (PSK) komunitas penyair muda di Malioboro. Ia menulis sastra dalam dwi bahasa, yaitu Indonesia dan Jawa. Karya-karyanya kerap mengisi antologi-antologi puisi maupun cerpen di antaranya: antologi puisi Tugi (1986), Tonggak 3 (1987), Zamrud Katulistiwa (1997), Embun Tajalli (2000) dan lain-lain. Cerpenya dalam antologi Lukisan Matahari (1993), Liong Tembang Prapatan (2000), dan lain-lain. Sejak tahun 2004 ia menjadi anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta (DKKY) seksi bahasa dan sastra Jawa.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap ujaran bahasa merupakan tanda dari objek yang ditandainya. Tanda-tanda tersebut pada dasarnya memiliki makna, baik hanya sebatas ikon maupun indeks, bahkan bisa jadi itu merupakan simbol. Makna yang dihasilkan ikon biasanya hanya bersifat tersurat, sedangkan makna yang ditimbulkan indeks dan simbol itu bersifat tersirat. Indeks dan simbol maknanya bersifat konotatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Iman Budhi Santosa yang berjudul Potretmu, Potretku, Potret Kita Nanti. mengandung makna yang begitu dalam akan realitas kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia. Penyair seolah memberikan gambaran dan alarem kepada setiap manusia akan perjalanan hidupnya. Ia memperingatkan bahwa yang mesti ditakuti oleh setiap orang dalam hidupnya bukanlah kematian, melainkan masa tua. Ituah hantu jiwa yang eksistensinya perlu diwaspadai oleh setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh bukan maut yang menakutkan // tapi tua terpuruk sendirian (Dunia Semata Wayang, bait 1, hal 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata terpuruk dalam baris kedua puisi di atas menggabarkan bagaimana suatu kondisi seseorang yang berada dalam kesusahpayahan. Kata itu memiliki konotasi makna yang lebih kuat dan mendalam akan gambaran pribadi seseorang yang begitu menyedihkan dan begitu payah. Kata terpuruk tersebut dapat merujuk pada derajat dan martabat. Seseorang hargadirinya digambarkan telah hilang. Ia berada dalam kehinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa itu sebagaimana gambaran penyair, terjadi saat diri telah renta dan sudah tidak ada lagi orang yang berkenan menemani. Sanak, saudara, teman, bahkan keluarga sudah tidak ada di sisi lagi. Hal itu belum cukup, yang lebih tragis lagi adalah saat tubuh dalam keadaan sakit. Tubuh sudah tidak berdaya dan telah diserang benih-benih penyakit. Saat-saat itulah yang sungguh memrihatinkan bagi setiap orang. Itulah potret manusia ke depan yang harus diwaspadai keberadaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimakan batuk dan kembali ingusan // dijaga tongkat, sapu pengusir lalat // menunggu suapan sanak kerabat (Dunia Semata Wayang, bait 1, hal 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah gambaran realitas yang terjadi di masa tua. Penyair begitu jeli dalam mengungkapkannya. Penyakit yang kerap menghinggapi usia-usia lanjut adalah penyakit batuk dan flu. Lebih dari itu, kata kembali ingusan bahkan tidak sekedar menyaran pada penyakit flu. Kata itu dapat menjadi simbol bagi keadaan saat masa kanak-kanak, di mana mereka kerap ingusan meski tidak terkena flu. Kata tersebut memiliki makna konotasi bahwa seseorang yang telah lanjut usia itu pola pikir dan perilakunya seolah-olah kembali pada masa kanak-kanaknya. Ia menjadi bersikap lebih manja dan ingin perhatian yang lebih dari kerabat dan keluarganya. Tapi bagaimana jika realitas berbicara lain, ketika lanjut usia seseorang tidak ada yang memberi perhatian dan kasih sayang yang lebih kepadanya? Ia tidak ada lagi yang memenuhi kebutuhannya, baik makan, minum, maupun yang lain. Sungguh, betapa terpuruknya ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan itu belum melihat dari sisi fisiknya. Di usia tua, tenaga dan kekuatan seseorang telah menurun derastis. Jangankan untuk mengangkat beban, berdiri tegak saja sudah tidak mampu. Ia harus ditopang dengan tongkat penyangga. Kondisi semacam inilah, bagi masyarakat jawa kerap memberi julukan kepada mereka sebagai sapu gerang (sapu pengusir lalat). Sapu yang sudah tidak dapat difungsikan lagi untuk membersihkan tumpukan sampah. Itulah simbol dalam kehidupan masyarakat bagi mereka yang tengah measuk pada kriteria lanjut usia. Ia sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi tenaganya. Yang dapat dilakukanya hanyalah sebatas mengusur lalat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, ketika sanak-saudara dan keluarga sudah tidak ada di sisi dan tidak mendampingi mereka yang tengah lanjut usia, harapan satu-satunya hanyalah kerabat dan teman sejawat. Tidak adanya keluarga dan famili yang menemani mereka, kemungkinan disebabkan faktor-faktor tertentu, seperti meninggal dunia dan berada di tempat jauh. Itu biasanya yang kerap terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini juga mengandung isyarah pengingat untuk mereka yang berada di kejauhan yang sekian lama tengah meninggalkan keluarganya. Apalagi keluarga yang telah lanjut usia, misalkan; orang tua, kakek, nenek, dan lain-lain. Alangkah mulianya mereka yang berkenan mengikat kembali tali silaturrahmi keluarga. Membawa mereka yang tengah lanjut usia keluar dari kesendirian dan keterpurukan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selai itu, puisi tersebut memberi isyarat bagi para lanjut usia, jika terjadi demikian, janganlah berharap sesuatu yang lebih akan kehadiran teman sejawat. Bisa jadi mereka telah wafat terlebih dahulu. Biasanya saat-saat semacam itu, mereka kerap mengenang masa lalu yang indah yang tengah dilewati bersama, entah dengan sanak,-saudara, kerabat, keluarga, maupun teman-teman sejawat. Kini kenagan hanya tinggal kenangan yang tidak mungking diulang kembali di masa depan. Oleh sebab itu, untuk menghadapi kondisi semacam itu, seseorang tidak perlu memberikan harapan kebahagiaan yang berlebihan. Apalagi sampai membongkar kembali kenangan indah masa lalunya. Yang mereka butuhkan hanya satu, yaitu pendekatan diri kepada tuhan. Ajaklah mereka untuk banyak mengingat Tuhan, sebab tujuan mereka yang lanjut usia hanya satu, yaitu menjemput kematian yang ada di depan mata dan hanya tinggal sejengkal saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bertanya teman sejawat kemana // sebab lama telah mendahului&lt;br /&gt;Jangan menyapa dengan salam bahagia // karena cita-citanya satu semata. Mati! (Dunia Semata Wayang, bait 2 dan 3, hal 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mendahului maknanya berkonotasi pada kata mati. Orientasinya adalah keadaan jiwa yang telah kembali pada pemiliknya, yaitu Tuhan. Teman sejawat di sini digambarkan telah terlebih dahulu kembali pada alam keabadian. Ia telah masuk pada alam kehidupan setelah kematian untuk mempertanggungjawabkan diri di hadapan Tuhan atas segala perbuatan yang telah dilakukan. Jadi, keberadaan teman sejawat tidak perlu diharapkan lagi. Kondisinya pun pasti sama sebab keterkaitan usia, bahkan bisa jadi ia telah wafat terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang tidak dapat dipungkiri dalam realitas kehidupan manusia adalah adanya harapan dalam pribadinya. Ini dimulai dari masa kanak-kanak bahkan jika seorang bayi telah diketahui kehendaknya, ia pasti memiliki kehendak yang sama, yaitu ingin lekas besar dan bercinta. Kehendak inilah yang menyugesti seorang anak untuk selalu mengejarnya. Pada dasarnya mereka selalu dibayang-bayangi dengan fantasi yang indah dan membahagiakan saat beranjak besar, dewasa, dan bertaut dengan cinta. Mereka akan terobsesi dengan kegagahan, ketampanan dan kecantikan atas diri sendiri, sehingga mereka dengan mudah menggaet hati lawan jenisnya untuk masuk dalam dunia percintaan. Dunia yang secara imajinatif digambarkan sebagai dunia yang selalu diselimuti dengan keindahan dan kebahagiaan oleh para remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besar dan bercinta, dulu // anak suka mengejar dan mengecapnya (Dunia Semata Wayang, bait 4, hal 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah fenomena yang terjadi dalam perkembangan fase seorang anak hingga usia remaja. Apa yang terjadi saat fase tersebut telah terlewati dan mereka telah masuk pada dunia setenga baya? Orientasi kehidupan mereka telah burubah lagi. Dulu yang selalu mendambakan dan mengejar-ngejar cinta kini telah beralih pada pekerjaan. Mereka berfokus pada dunia kerja dan bagaimana cara mempertahankan hidupnya serta keluarganya. Fokusnya adalah mencari nafkah bagi keluarganya, mencukupi kehidupan sehar-hari, dan membesarkan keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda lagi saat menjelang usia lanjut melingkupi kehidupanya. Mereka dengan sendirinya akan terbersit benih-benih ketakutan dalam hatinya. Mereka takut akan kecantikan dan ketampanannya memudar. Kulit menjadi keriput. Tulang-tulang renta tak berdaya. Ingatan mulai melemah. Potret semacam inilah yang mesti diwaspadai dalam kehidupan mendatang bagi setiap orang. Apalagi kerabat dan keluarga tiada lagi menjadi pendamping yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu senja merebut, takut // cantik tampan tercerabut // badan jiwa lelah menuntut bicara (Dunia Semata Wayang, bait 4, hal 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan yang menyimbolkan usia tua atau lanjut terdapat pada kata senja. Kata ini menunjukan keberadaan hari yang hedak berganti; siang menjadi malam. Ini berkonotasi pada pergantian hidup di dunia menuju kehidupan akhirat sudah semakin dekat. Kehidupan seseorang telah dekat dengan kematian dan akan menuju kehidupannya yang baru. Keadaan semacam itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Kematian akan segera tiba, namun masih menjadi misteri kedatangannya. Ingin rasanya untuk mengakhiri hidup, tapi tidak menemukan jalan kematian yang wajar dan diridhai Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin pamit justru lupa alasannya (Dunia Semata Wayang, bait 4, hal 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________&lt;br /&gt;*) Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2010/03/hantu-jiwa-iman-budhi-santosa/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2010/03/hantu-jiwa-iman-budhi-santosa/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-2414953423308641217?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/2414953423308641217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=2414953423308641217' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2414953423308641217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2414953423308641217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/03/hantu-jiwa-iman-budhi-santosa.html' title='HANTU JIWA IMAN BUDHI SANTOSA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-5639940978038723215</id><published>2010-02-26T00:42:00.001-08:00</published><updated>2011-10-08T11:44:10.055-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>RUMI DAN JEJAK TUHAN DI ATAS SAJADAH MUSA</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://www.sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan sebelumnya telah disinggung bahwa hakekat hidup manusia di dunia ini adalah untuk kembali kepada Tuhan dengan membawa limpahan keselamatan dan kebahagiaan. Dengan kata lain, orientasi hidup di dunia ini hanya kepada Tuhan. Manusia hidup di dunia ini hanyalah proses pencarian terhadap hakekat Tuhan yang haqq, agar saat ia kembali kepada-Nya kelak sanggup memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;……“Dunia ini ibarat Thursina, dan kami Musa pencari sinar-Nya; setiap petunjuk datang dari-Nya, puncak gunung ini akan pecah berkeping-keping” ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumi menegaskan, bahwa semua tempat yang berada di dunia ini diibaratkan sebagai bukit Thursina serta semua manusia berposisi sebagai Musa AS. Manusia berposisi sebagai subjek yang melakukan pencarian terhadap bukti keberadaan tuhan dalam realitas kehidupanya. Tentunya bagi Rumi perlambang ini bukan berorientasi kepada seluruh manusia, tetapi bagi mereka yang yakin dan percaya akan keberadaan tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Thursina dan Musa yang menjadi perumpamaan? Hal tersebut dikarenakan, kedua citra ini merujuk pada sebuah kisah yang termaktub di dalam Al-Quran surat Al-a’raf ayat 143. Surat ini menceritakan bahwa di bukit tersebut Musa AS bermunajat kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar berkenan menampakkan bentuk dzat sejati-Nya. Kemudia Allah berkata pada Musa AS: “Engkau sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cobalah lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya, niscaya engkau akan dapat melihat-Ku”. Musa AS kemudian menoleh ke arah bukit yang dimaksud. Pada saat itu, ia melihat bukut-bukit yang tadinya berdiri tegak kini menjadi hancur berkeping-keping masuk ke dalam perut bumi tanpa meninggalkan bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena semacam itu merupakan ilustrasi dari Tuhan, bahwa dzat-Nya yang sejati tidak dapat ditangkap secara lahir. Dzat-Nya bersifat kasat mata yang tidak dapat terwujud dalam alam materi dan bahkan tidak sanggup digapai dengan menggunakan logika berfikir atau akal karena kesempurnaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kant yang bergelar sebagai Raksasa Ahli Pikir juga menyadari akan hal itu, sehingga ia berkata: Dzat Tuhan itu benar-benar ada dan merupakan perkara yang besar utuk dibahasnya, tetapi letaknya jauh di atas kemampuan akal, oleh karena itu saya terpaksa berhenti sejenak dari pengetahuan akal, supaya saya sediakan tempat buat iman. Selain itu Ibnu Khaldun juga menambahkan, bahwa mempergunakan akal untuk menimbang soal-soal yang berhubungan dengan keesaan Allah, hidup di akhirat kelak, hakekat kenabian, hakekat sifat-sifat ketuhanan, atau persoalan lain yang terletak di luar kesanggupan akal adalah sama dengan mencoba mempergunakan timbangan tukang emas untuk menimbang gunung. Ini tidaklah berarti timbangan itu tidak boleh dipercaya. Soal yang sebenarnya ialah akal itu mempunyai batas-batas yang dengan keras membatasinya; oleh karena itu, tidak bisa diharapkan bahwa akal itu dalam memahami Allah dan sifat-sifat-Nya, karena otak hanyalah satu dari beberapa atom yang diciptakan Allah. Secara lebih lanjut Agustin juga menyatakan bahwa tuhan tidak bisa ditanggap atau di sifati, sebab Ia mengatasi sifat dan gambaran. Beleh saja manusia memberi sifat kepada tuhan, namun sifat-sifat tersebut tidak sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jelas, fenomena di atas menegaskan bahwa Dzat Tuhan secara kodrati tidak dapat ditangkap oleh penglihatan dan bahkan oleh akal manusia. Dzat Tuhan tidak dapat dibuktikan dengan logika apa lagi harus mewujud dalam alam dzahir. Dzat Tuhan hanya dapat digapai dengan keyakinan bahwa Dia itu ada sebagai wujud yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan, apa yang dapat dilogikakan serta ditangkap oleh indrawi manusia sebagai bukti keberadaan tuhan? Yang dapat dilogikakan serta ditangkap oleh indrawi manusia adalah eksistensi Tuhan. Jadi, bukan esensi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa perdedaan esensi dengan eksistensi? Sebenarnya kedua istilah ini sama, yaitu sebagai penunjuk keberadaan suatu hal, baik hal tersebut bersifat hidup atau mati. Perbedaanya terletak pada kriterianya. Esensi merupakan intisari; sesuatu yang menjadikan suatu hal itu apa adanya, atau sesuatu yang dimiliki secara umum oleh bermacam-macam hal, sedangkan eksistensi merupakan bentuk yang menunjukan keberadaan suatu hal yang hidup yang berbeda dengan yang lainya (Partanto dan Barry, 1994:133 dan 159).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang pasti dimiliki oleh semua benda adalah dzat, sedangkan yang menjadikan suatu benda hidup itu berbeda satu sama lainya adalah pergerakanya. Eksistensi mengarah pada suatu bentuk amaliah atau akhlak dari suatu hal. Jadi, sekali lagi yang dapat dilogikakan sekaligus ditangkap oleh indra manusia adalah Akhlak atau Fi’liyah Tuhan. Akhlak Tuhan ini tercermin melalui nama dan sifat-Nya. Sebagaimana Al-Kindi mengungkapkan, bahwa alam lahir tidak mungkin rapi dan teratur kecuali karena adanya dzat yang tidak tampak. Dzat yang tidak tampak tersebut hanya dapat diketahui dengan melalui bekas-bekas-Nya dan kerapian yang terdapat pada alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar pada pandangan Al-Kindi, bentuk alam yang tertata rapi tidak mungkin ada dengan sendirinya, melainkan pasti ada yang menjadikanya. Yang menjadikan alam tidak lain adalah dzat yang tidak terlihat. Dzat itu adalah Dzat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzat Tuhan secara mutlak tidak dapat dipandang dengan menggunakan penglihatan mata, tetapi dapat diketahui melalui bekas-bekas-Nya yaitu akhlak dan perbuata-Nya serta kerapian alam semesta ini. Adapun sifat dan amaliah Tuhan tercermin melalui nama-nama-Nya yang termaktub dalam Asmaul Husnah yang berjumlah sembilan puluh sembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumi mengilustrasikan kembali perihal kehancuran bukit yang dipandang Musa AS saat itu. Kepingan-kepingan bukit yang tidak sanggup menerima penampakan Dzat Tuhan secara lahir itu menjelma menjadi beberapa bentuk. Bentuk kepingan tersebut ada yang berwarna hijau, putih, menjadi mutiara, batu manikam dan ambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Sebagian kepingan menjadi hijau, sebagian kepingan menjadi putih, sebagian kepingan menjadi mutiara, sebagian lagi kepingan menjadi batu manikam dan ambar ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ungkapan tersebut ditinjau lebih jauh lagi, ungkapan itu mengandung perlambang. Perlambang itu meliputi: warna hijau identik dengan ketenagan dan kedamaian, warna putih identik dengan kesucian dan kemuliaan, mutiara identik dengan batu permata, manikam identik dengan intan, dan ambar identik dengan damar yang keras seperti batu yang terdapat di dsar laut dan berbau harum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kriteria tersebut apabila ditarik satu garis lurus, akan menghasilkan satu pengertian baru. Pengertian tersebut adalah sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi dalam kehudupan ini yang menjadi incaran setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubunganya dengan konsep yang dibangun Rumi adalah berorientasi pada keagungan dan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Barang siapa yang ditunjukkan tanda-tanda kebesaran dan keagungan Tuhan kepadanya, niscaya itu adalah sebuah rahmat yang tinggi nilainya dan mereka termasuk orang-orang yang beruntung karena hal tersebut sanggup memperkuat keimanan yang telah tumbuh di hati seorang manusia akan esensi dan eksistensi Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Rumi menghimbau kembali kepada siapa saja yang hendak mengetahui Dzat Tuhan secara lahir, hendaknya kisah Musa AS dijadikan wacana. Alam semesta akan porak poranda dan hal semacam itu patutlah kiranya untuk dijadikan wahana dalam memperkuat keimanan dan sebagai bukti adanya Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Kau yang sangat merindukan wajah-Nya, lihatlah batu pecahan gunung-Nya itu ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musa AS tidak ingin mengulagi lagi tidakanya untuk memohon agar Dzat Tuhan mewujud dalam alam lahir. Ia hanya berharap dan rindu terhadap bukti-bukti keberadaan Tuhan di alam semesta ini sebagi wahana dan petunjuk dalam mendekatkan diri kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya dalam lirik puisi Rumi selanjutnya, ia menisbatkan dirinya sama dengan Musa AS. Sama bukan berarti sama dalam tataran sebagai nabi dan rasul, namun sama dalam konsep pemahaman bahwa dia tidak mengharapkan agar Dzat Tuhan mewujud dalam alam lahir. Ia hanya berharap agar mendapatkan petunjuk-petunjuk ilahiah sebagai wahana mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, Rumi menyatakan dengan ungkapan sebagai barikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……“O gunung, angin apa yang berhembus di puncakmu? Kami telah mabuk oleh suaranya.” …… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumi sungguh lihai dalam mengambil citra untuk disematkan sebagai konstruksi dasar karyanya. Ia memilih citra yang mengandung nilai filosofis yang tinggi sebagai pengingat kembali, mereka yang mendewakan logika maupun siapa saja yang hendak melakukan pencarian bukti akan adanya Tuhan. Ia juga memberikan wacana baru bagi tiap orang agar mereka tidak salah persepsi saat menafsirkan konsep ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Dzat Tuhan secara kodrati tidak dapat ditangkap oleh penglihatan dan bahkan oleh akal manusia. Dzat Tuhan tidak dapat dibuktikan dengan logika apa lagi harus mewujud dalam alam dzahir. Dzat Tuhan hanya dapat digapai dengan keyakinan bahwa Dia itu ada sebagai wujud yang sempurna. Dzat Tuhan secara mutlak tidak dapat dipandang dengan menggunakan penglihatan mata, tetapi dapat diketahui melalui bekas-bekas-Nya yang tampak pada indrawi mausia, yaitu akhlak dan perbuata-Nya serta kerapian alam semesta ini. Adapun sifat dan amaliah Tuhan tercermin melalui nama-nama-Nya yang termaktub dalam asmaul husnah yang berjumlah sembilan puluh sembilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-5639940978038723215?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/5639940978038723215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=5639940978038723215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5639940978038723215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5639940978038723215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/02/rumi-dan-jejak-tuhan-di-atas-sajadah.html' title='RUMI DAN JEJAK TUHAN DI ATAS SAJADAH MUSA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-2565251135164262857</id><published>2010-02-26T00:39:00.001-08:00</published><updated>2011-10-08T11:44:22.125-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>KIDUNG IMANENSI RUMI DI BALIK JUBAH MUSA</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://www.sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tiap-tiap umat itu ada rasulnya (QS. Yunus, ayat 47). Berdasarkan ayat tersebut, dalam tiap umat manusia pasti memiliki seorang rasul di setiap zamanya. Rasul tersebut diutus tuhan hanya untuk menyampaikan ajaran kebenaran tentang esensi Tuhan yang telah diselewengkan dan bahkan diingkari oleh suatu umat. Ia mengajak sekaligus mengarahkan mereka yang berada dalam kesesatan agar kembali pada jalan yang benar serta memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Hal tersebut ia lakukan dengan meneladankan sifat dan sikap yang terpancar melalui perkataan maupun perbuatan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ajaran-ajaran yang dibawakan oleh seorang rasul bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran-ajaran tersebut diterimanya sebagai wahyu dari Tuhan. Adapun proses penurunan wahyu itu dilakukan dalam situasi, tempat, maupun bentuk yang berfariasi. Hal ini menunjukan bahwa eksistensi wahyu berdasakan pada eksistensi Tuhan, sehingga seseorang tidak dapat mengetahui, apalagi menentukan, kapan wahyu akan diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kisah diceritakan, bahwa saat Musa AS bersama keluarganya hendak kembali ke mesir, ia melihat sinar api yang menyala-nyala di atas bukit Thursina. Melihat hal semacam itu, Musa AS kemudian mengharap kepada keluarganya untuk tenang dan berdiam diri di tempat tersebut. Ia kemudian berlari menghampiri sumber api tersebut. Tatkala ia telah sampai di sumber api itu, terdengarlah seruan kepadanya yang bersumber dari kobaran api yang menyala-nyala. Kisah ini terdapat dalam surat Thaha ayat 9-13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tersebut di atas dilukiskan Rumi secara indah dan mempunyai kandungan makna yang lebih menyentuh sekaligus mendalam. Rumi seolah-olah mengingatkan dan memberikan gambaran secara khusus kepada orang-orang akan esensi tuhan yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Ingatlah kisah musa dalam semak yang terbakar, semak berkata: “Aku adalah air telaga Kautsar, lepaslah terompahmu, mari!”&lt;br /&gt;“Janganlah takut pada api karena aku adalah air dan madu dalam api:”…… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini mengandung esensi yang sama dengan surat Thaha ayat 11-14. Peristiwa itu termasuk peristiwa penurunan wahyu yang pertama kepada Musa AS. Di tempat itu, ia memperoleh wahyu ketauhidan, yaitu tentang keimanan kepada Tuhan yang berorientasi pada keesaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Tuhan memanggil-manggil Musa AS dan menyatakan diri dengan ungkapan: Aku ini tuhanmu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaha, ayat:12 dan 14). Hal ini digambarkan Rumi, bahwa suara tersebut bersumber dari semak yang terbakar. Dalam ungkapan Rumi, pernyatana diri tuhan lebih disublimkan lagi. Ia mengungkapkanya dengan gaya bahasa metafora dengan pernyataan: Aku adalah air telaga Kautsar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini bukanlah sebuah pernyataan yang menyatakan wujud Tuhan yang sebenarnya. Tuhan bukan berbentuk semak, api, maupun yang lainya, sebab wujud Tuhan adalah sempurna yang tidak menyerupai suatu apapun. Sebagaimana Ibnu Sina menegaskan bahwa Tuhan itu tidak bersekutu dengan benda-benda apapun, karena benda yang lain termasuk sesuatu yang boleh ada dan boleh tidak, dan merupakan hasil ciptaan dari Tuhan. Dzat Tuhan berbeda dengan dzat-dzat yang lainya, Dzat Tuhan tidak ada batasnya sehingga Ia tidak ada yang menyamai-Nya. Begitu juga Ibnu Arabi menambahkan, bahwa tidak ada yang menyamai Dia dalam penciptaan-Nya. Esensi-Nya tidak dapat ditangkap oleh kita, sehingga kita tidak dapat membandingkan Dia dengan objek-objek terlihat, dan tidak pula tindakan-tindakan-Nya itu menyerupai kita. Pesona ini hanyalah sarana penurunan wahyu. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, bahwa wahyu diturunkan dalam situasi, tempat, maupun bentuk yang berfariasi, dan suasana yang semacam ini merupakan kejadian penurunan wahyu kepada Musa AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Aku dalam ungkapan: Aku adalah air telaga Kautsar, merupakan bentuk ungkapan tuhan yang menggunakan perantara atau medium semak yang terbakar. Air adalah sumber kehidupan yang menghidupi segala-galanya. Air bagi Thales adalah pangkal, pokok dan dasar segala-galanya. Telaga Kautsar adalah telaga yang berada di surga yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah dengan cara beribadah dan berkorban kepad-Nya, sedangkan surga adalah tempat yang indah yang dipenuhi dengan kenikmatan-kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran tersebut, maka ketauhidan yang tecermin adalah: Tuhan (Allah) adalah sumber, pangkal, serta pokok kehidupan yang mutlak Dialah yang memberi kehidupan, keindahan, serta kenikmatan-kenikmatan. Dialah tujuan hidup dan kehidupan bagi manusia, yang tidak harus didekati dengan perasaan taku terhadap sesuatu apapun sebab Dia adalah pemegang segalanya yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“……………….., lepaslah terompahmu, mari!”&lt;br /&gt;“Janganlah takut pada api karena aku adalah air dan madu dalam api: ……” (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, penggambaran kembali kisah Musa AS dalam puisi tersebut dengan maksud memberikan doktrin ketauhidan kepada tiap-tiap orang. Setiap orang yang telah yakin akan esensi dan eksistensi Tuhan, seyogyanya menanggalkan perasaan takut terhadap segala sesuatu yang berada di luar keberadaan Tuhan yang sanggup menghalang-halangi proses menuju kepada-Nya. Hal tersebut disebabkan oleh hakekat Tuhan yang kuasa atas segala sesuatu termasuk kehidupan, panas, dan pembicaraan pada api yang terpancar dari kisah Musa AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang telah yakin akan ke-kuasa-an Tuhan, mengapa dia harus takut terhadap sesuatu yang lain yang mesih berada dalam ruanglingkup kuasa-Nya? Tuhan bahkan sanggup menjadikan panas api menjadi dingin sebagaimana kisah Ibrahim AS saat dilemparkan Namrud dan pengikut-pengikutnya ke dalam tungku api yang besar. Ibrahim AS justru memperoleh tahta dan kedudukan yang mulia di sisi Tuhan dan di antara sesamanya. Ia memperoleh keselamatan sekaligus kesejahteraan dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……”Kesejahteran pasti saatnya datang padamu, tahta ini bagimu, selamatlah!” ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan di atas tidak mengarah pada kisah Ibrahim AS, melainkan lanjutan dari kisah Musa AS. Ungkapan tesebut memiliki kronologis yang sama dengan kisah Ibrahim AS, yaitu apabila seorang manusia sanggup melepas segala kebendaan serta yakin bahwa segalanya berada dalam kekuasaan Tuhan, maka ia akan memperoleh keselamatan, kesejahteraan dan martabat tinggi disisi Tuhan dan di antara sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan serta lanjutan kisah tersebut dinyatakan bahwa setelah Musa AS sanggup menanggalkan rasa takutnya terhadap kobaran semak yang sanggup berbicara, ia memperoleh kesejahteraan, martabat tertinggi dan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kesejahteraan hidupnya tercermin melalui penurunan wahyu dan penganugrahan mu’kizat yang diberikan kepadanya yang berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular dan tangan yang bisa memancarkan sinar putih yang cemerlang saat dikepitkan ke ketiaknya. Martabat tertinggi tercermin dari proses pengangkatannya sebagai nabi dan rasul. Adapun keselamtanya berupa keselamatan di dunia dan akhirat. Keselamatan di dunia berupa kemenangan dari bala tentara Fir’aun yang menyerangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa doktrin keimanan yang tercermin dalam sub pembahasan ini adalah: Tuhan (Allah) adalah sumber, pangkal, serta pokok kehidupan yang mutlak Dialah yang memberi kehidupan, keindahan, serta kenikmatan-kenikmatan. Dialah tujuan hidup dan kehidupan bagi manusia, yang tidak harus didekati dengan perasaan takut terhadap sesuatu apapun sebab Dia adalah pemegang dan kuasa atas segalanya yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan. Jika hal tersebut telah melekat erat dalam hati seseoarang, ia akan memperoleh keselamatan, kesejahteraan dan martabat tinggi di sisi tuhan dan di antara sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-2565251135164262857?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/2565251135164262857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=2565251135164262857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2565251135164262857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2565251135164262857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/02/kidung-imanensi-rumi-di-balik-jubah.html' title='KIDUNG IMANENSI RUMI DI BALIK JUBAH MUSA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-4512804980006901635</id><published>2010-02-26T00:10:00.003-08:00</published><updated>2011-10-08T11:44:37.603-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>RUMI DAN SYU’AIB ANTARA HARAPAN DAN PERSEMBAHAN</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://www.sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan identik dengan adanya keinginan. Orang yang menginginkan suatu hal pastilah ia memiliki harapan agar hal tersebut bisa segera terengkuhnya. Sebaliknya, untuk mendapatkan sesuatu tentunya seseorang harus ada pengorbanan, baik pengorbanan secara fisik maupun perasaan. Pengorbanan juga identik dengan persembahan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berbicara masalah harapan dan persembahan, kali ini akan diorientasikan pada harapan dan persembahan Syu’aib AS. Syu’aib AS merupakan salah satu dari sekian banyak nabi dan rasul yang diutus tuhan untuk menjadi perantara memberi pencerahan kepada umat manusia yang berjalan dalam lembah kesesatan.&lt;span class="fullpost"&gt; Ia diutus untuk kaum Madyan yang cenderung berbuat kemungkaran, kemaksiatan, dan tipu-menipu dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling jelas melekat pada kepribadian mereka adalah kecurangan dan penghianatan dalam hubungan dagang, seperti pemalsuan barang, pencurian dalam takaran dan timbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Berdo’alah, menangislah di waktu malam, sampai terdengar suara yang dahsyat dari langit memecah gendang telingamu…… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan pertama, yaitu “Berdo’alah, menangislah di waktu malam, sampai terdengar suara yang dahsyat dari langit memecah gendang telingamu”, ini merupakan himbauan dan anjuran dari seorang Rumi. Dalam sajaknya, ia menghimbau kepada siapa saja yang hendak menuju tuhan agar senantiasa bermunajat pada suasana yang hening dan juga penuh dengan ketenangan. Suasana itu tidak lain adalah saat malam telah tiba. Tepatnya pada sepertiga malam karena saat itulah segala bentuk aktifitas manusia yang berkaitan dengan urusan keduniawian telah berhenti sejenak. Jadi momen itulah yang cocok untuk bermunajat kepada tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa waktu tersebut merupakan waktu yang cocok untuk bermunajat? Hal tersebut berdasar pada hadits nabi yang berbunyi: sesungguhnya setiap malam, disepertiga akhir malam, Allah turun ke langit dunia, Dia berkata: adakah yang bisa aku Bantu? Adakah yang bisa aku Bantu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dijadikan catatan bahwa ungkapan Allah turun ke langit dunia, bukan merujuk pada eksistensi Dzat-tillah yang turun ke dunia. Dalam fenomena, Tuhan sebelumnya berada jauh dari tempat dan jangkauan manusia. Hal tersebut bertolak belakang dengan firman Allah yang artinya “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya.” (QS. Qaf, ayat 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat tersebut, keberadaan tuhan begitu dekat dengan diri pribadi seorang manusia. Ia bahkan lebih dekat dari urat leher manusia. Yang menjadi orientasi makna konotasi ungkapan Allah turun ke langit dunia, adalah rahmat dan hidayah Tuhan diberikan kepada seorang manusia, apabila ia berkenan bermunajat pada waktu itu, sebab Tuhan saat itu menawarkan rahmat dan hidayah-Nya kepada siapa saja yang sedang bermunajat atau memohon kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya ini, Rumi mengambil percontohan munajat yang dilakukan oleh Syu’aib AS. Kisah munajat Syu’aib ini tampaknya Rumi ambil dari karya Attar, yang berjudul Ilehinama. Hal itu mengisahkan bahwa Syu’aib ketika bermunajat mendapatkan bisikan gaib yang datang dari langit. Bisikan itu mempertanyakan perihal munajatnya. Saat itu Syu’aib AS bertaubat akan segala dosa yang pernah dilakukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katika suasan khusuk melingkupinya, terdengar seruan kepadanya bahwa segala dosanya akan diampuni. Selain itu, seruan itu juga menawarkan kepada Syu’aib AS perihal kenikmatan surga dan memerintahkan dia untuk segera mengakhiri munajatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……“Jika kau orang yang bergelimang dosa, akan kumaafkan kau dan kuampuni dosa-dosamu. Surgakah yang kau ingin raih? Lihatlah, kuberi sekarang, diam dan akhiri permintaanmu itu!” …… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendengar bisikan semacam itu, Syu’aib AS tidak serta-merta memperoleh kepuasan diri serta kebahagiaan hati. Ia tidak menghentikan munajatnya. Ia justru semakin khusuk dan bahkan menolak tawaran surga yang dijanjikan kepadanya. Ia tetap berdiri kokoh dengan harapan dan juga keinginan utamanya yaitu bertemu dan bersanding dengan Tuhan, sebab hanya Dia-lah Dzat yang sepatutnya dijadikan tujuan peribadatan dan penghambaan, bukan surga, neraka maupun yang lainya. Sebagaimana Al Qahthani menjelaskan bahwa Allah (Tuhan) adalah Dzat yang diibadahi dan dijadikan tujuan penghambaan, yang memiliki hak penghambaan serta peribadatan makhluk-makhlu-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, Syu’aib bahkan meneguhkan hati bahwa ia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa bertemu dan bersanding bersama tuhan, walaupun seluruh samudra telah menjadi api. Jika di tempat itu ia bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan, ia akan rela menghanguskan diri ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Syu’aib menjawab, “ Tak kuminta ini ataupun itu. yang kuminta hanyalah menatap wajah tugan semata. Walaupun tujuh samudra seluruhnya menjadi kobaran api yang mematikan, akan kuhanguskan diriku jika disitu aku dapat menyatu dengan-Nya!”……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pecinta sejati, yaitu orang-orang yang benar-benar mengoroientasikan hidupnya hanya kepada tuhan semata, hal tersebut tidaklah aneh. Baginya, segala sesuatu yang bersifat kebendaan dan kemakhlukan berada dalam kekuasaan Tuhan. Sesungguhnya ia tidak memiliki suatu daya dan kekuatan kecuali atas kehendak dan kuasa Tuhan, sehingga ia tidak perlu ditakuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api adalah benda dan makhluk sebab ia termasuk barang baru yang merupakan salah satu dari sekian banyak ciptaan Tuhan. Jika Tuhan berada di dalam kobaran api, bagi pecinta sejati, semua itu tidaklah menjadi sebuah penghalang untuk segera bertemu dan bersanding dengan-Nya. Ia tidak akan ragu dan takut akan sengatan panasnya, sebab ketika Tuhan telah bersamanya, panas api tidak akan ada artinya. Semua akan tunduk bersama kuasa-Nya. Sebagaimana kisah Ibrahim AS yang dilemparkan Namrut ke dalam tungku api yang begitu besar. Saat itu panas api bukan membakar tapi berubah menjadi kenikmatan dan juga rahmat. Firman tuhan yang berbunyi: Hai api menjadi dinginlah dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim (QS. Al-Ambiyaa’:69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan orang-orang yang hanya berorientasi pada aspek keduniawian, ini sungguh aneh dan mustahil untuk dilakukanya. Jangankan ia berani menghanguskan diri ke dalam lautan api, ia baru melihat nyala api dari sebuah rumah yang terbakar, sudah lari terbirit-birit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekedar itu, dalam munajatnya, Syu’aib AS kembali mengujarkan harapanya secara lebih khusuk. Ia berkata bahwa munajat yang dilakukanya tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan pengabulan harapanya. Ia akan terus memohon dengan linangan air mata agar bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan. Ia tidak mendambakan apapun selain tuhan. Ia bahkan rela berada di dalam neraka asalkan di tempat itu ia bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan. Surga bukan jadi orientasinya lagi dan bukan tempat yang layak ia huni ketika di sana ia tidak menemukan tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh peneguhan hati yang luar biasa. Ia telah lepas dari keterikatan eksistensi surga dan neraka secara universal. Surga yang notabenenya menawarkan kenikmatan-kenikmatan, ia singkirkan begitu saja. Neraka yang notabenenya penuh dengan siksa dan derita, justru ia pilih asalakan di tempat itu ia bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Tapi jika aku tak diizinkan menatap-Nya, maka mataku akan terendam air mata menutup rapat hingga terhalang untuk melihat impian itu, lebih baik aku menetap di api neraka, surga bukanlah tempat tinggalku…… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa bertemu dan bersanding bersama tuhan, seorang manusia harus dalam kondisi suci lahir dan batin.Tindakan untuk melepasakan diri dari keterikatan rasa terhadap segala sesuatu selain tuhan merupakan tahap terakhir dari hakekat bersuci dan mensucikan diri. Sebagaimana Al-Ghazali menegaskan bahwa bersuci itu ada empat tahapan, yaitu; 1) membersihkan lahir (anggota badan) dari hadas dan kotoran-kotoran, 2) membersihkan badan dari perbuatan-perbuatan dosa, 3) membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan hina, 4) membersihkan pribadi dari selain tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga dan neraka merupakan salah satu dari ciptaan Tuhan. Setiap ciptaan berarti masuk dalam kriteria makhluk, oleh karena itu, surga dan neraka bukanlah tujuan utama bagi seorang pecinta sejati seperti Syu’aib AS. Eksistensinya harus dilenyapkan dari pribadi seseorang yang benar-benar hendak menuju tuhan. Hal tersebut disebabkan surga dan neraka sanggup menjadi tabir penghalang bagi pribadi seseorang untuk bisa bertemu dan bersanding bersama tuhan. Sejalan dengan itu, Al-Farabi juga menyatakan bahwa pada dirimu dan dari dirimu ada hijab, apalagi dari pakaianmu yang berupa badan, karena itu berusahalah untuk menghilangkan hijab dan telanjang, dan dalam keadan demikian engkau dapat mencapai-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi dan eksistensi tuhan menjadi orientasi utama dalam munajat ini. Syu’aib AS selalu memberi penegasan-penegasan yang begitu mendalam akan hasrat dan keinginannya untuk bertemu dan bersanding besama tuhan. Baginya, surga terasa seperti neraka Jahannam apabila tidak diliputi dengan cinta kasih Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Tanpa belas kasih-Nya, surga bagiku hanya seperti neraka Jahannam. Aku akan dilulur oleh warna dan aroma bau sang maut; dimanakah cahaya keabadian yang diperdebatkan itu? …… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan belas kasih-Nya jika ditinjau lebih jauh akan merujuk pada nama Tuhan dalam asmaulhusnah yaitu Ar-rahma dan Ar-rahim. Nama ini berada dalam urutan paling awal. Hal tersebut menunjukan bahwa nama ini merupakan nama yang utama bagi tuhan. Perlu diingat bahwa di dalam sebuah nama pastilah mencerminkan sifatnya. Jadi dalam nama Ar-rahman dan Ar-rahim mengandung sifat Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Sebagai mana Ibnu Qoyyim berkata bahwa di dalam nama-nama-Nya terdapat sifat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar-rahman dan Ar-rahim merupakan pondasi awal dalam mencipta segala sesuatu yang berada dalam kesemestaan alam ini. Segala sesuatu tidak mungkin tercipta tanpa diikuti dengan kasih sayang Tuhan. Begitu juga dengan keberadaan surga. Surga tidak mungkin ada jika ia tidak diliputi kasih sayang Tuhan. Tuhan mengadakan suatu hal merupakan bukti kasih saying-Nya sehingga hal tersebut ada secara esensi dan eksistensinya. Oleh karena itu, nabi mengisarahkan agar dalam setiap hendak melakukan sesuatu harus diawali dengan membaca basmalah. Hal tersebut menandai bahwa setiap gerak manusia adalah berkat kasih sayang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kata surga, ini bisa ditafsirkan pada pemberian Tuhan yang berupa kenikmatan. Jika pemberian Tuhan yeng berupa kenikmatan ini dalam munajatnya diterima oleh Syu’aib, ia takut menjadi penghalang untuk bisa bertemu dan bersanding bersama-Nya. Ia menjadi lalai dengan tujuan utamanya, yaitu Tuhan. Ia bisa terbuai dengan kenikmatan-kenikamatan yang telah diberikan Tuhan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia telah terbuai oleh hal tersebut, secara otomatis ia akan lupa terhadap pemberi-Nya (Tuhan). Ketika ia lupa, kenikmatan itu bisa berubah menjadi bencana dan siksa bagi dirinya. Selain itu ia bisa gagal bertemu dan bersanding bersama tuhan. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan bahwa orang yang hanya bergembira dengan Allah, tidak terpengaruh oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena kurnia-Nya, sebab ia sibuk memperhatikan-Nya, sehingga terhibur oleh-Nya semata, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah. Selain itu, siapa yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat itu, maka nikmat itu hanya berupa istidraj (dilulu) dan berubah menjadi bala’. Kiranya hal itulah yang menyebabkan Syu’aib AS menolak pemberian surga dan berdalih bahwa surga bisa berubah menjadi Jahannam baginya jika di sana ia tidak mendapat cinta kasih Tuhan dengan membiarkanya bisa bertmu dan bersanding bersama-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Syu’aib bertanya tentang keberadaan cahaya keabadian? Hal itu sebenarnya sebagian i’tibar dari penyebutan diri Tuhan. Tidak ada sesuatu yang abadi kecuali diri Tuhan semata. Adapun idiom Tuhan digantinya dengan kata cahaya. Ini sesuai firman-Nya dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 35 yang artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar, pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohin yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui sesuatu (QS. An-Nur:35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syu’aib merindukan cahaya keabadian itu sehingga ia menanyakan terus perihal keberadaanya. Cahaya itu adalah cahaya Illahiah, cahaya di atas cahaya. Dialah pembimbing manusia untuk menuju hakekat hidup yang sejati dan tidak ada yang sanggup memberi bimbingan menuju kesejatian kecuali Dzat Tuhan semata. Itulah esensi dasar Syu’aib AS mengi’tibarkan tuhan dengan memakai idiom cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Kata mereka, “Akhiri ratap tangismu, agar penglihatanmu tidak hitam, sebab matamu akan buta jika menangis berlebih-lebihan” ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka merujuk kepada orang-orang yang berada disekeliling Syu’aib AS yang tidak lain adalah kaum Madyan. Hal tersebut bukanlah merujuk pada sesuatu yang lain, baik mengarah pada bisikan gaib dari langit atau yang lainya. Ini adalah kaumnya sendiri. Rujukan ini berdasar pada terjemahan karya Rumi yang diberi judul Kasidah Cinta dan diterjemahkan Hartoyo Andangjaya. Dalam terjemahan itu kata mereka di ungkapkan dengan artian orang-orang berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih rinci, ungkapan tersebut merupakan himbauan dari kaum Syu’aib AS. Mereka menghimbau agar Syu’aib AS mengakhiri munajat dan tangisanya sebab ia bisa mengalami kebutaan mata. Tampaknya peristiwa ini diasumsikan berlangsung ketika hari sudah menjelang pagi. Saat itu orang-orang sudah mulai melansungkan aktifitas sehari-harinya. Ini diperkirakan saat orang-orang berlalulalang di sekitar rumah Syu’aib AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendapat himbauan semacam itu, Syu’aib AS justru memberi penegasan kepada mereka. Syu’aib berkata bahwa ia tidak akan bersedih karena buta. Baginya, buta mata tidaklah berarti sebab menurutnya bagian tubuh yang lain bisa berubah menjadi mata. Tentunya semua itu juga tidak terlepas dari kehendak, kuasa, dan keridlaan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Syu’aib menjawab, “Bila kedua mataku akhirnya buta hanya karena menangis, maka setiap bagian dari diriku akan berubah menjadi mata; mengapa aku harus bersedih karena buta?” ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan ini jika dinisbatkan dapat merujuk pada Al-qur’an surat Yasin ayat 65 yang artinya; “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan dan kaki mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. Hal ini menunjukan adanya Kebasaran dan Maha Kuasanya Tuhan yang sanggup menjadikan segala sesuatu bisa berbicara, melihat, dan juga mendengar. Tuhan tidak merasa kesulitan untuk melakukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pertanda Maha Kuasa Tuhan yang ditunjukkan-Nya di dunia ini adalah menjadikan kepekaan indra yang sangat tinggi bagi orang yang buta. Orang buta tidak bisa melihat sesuatu dengan matanya, tetapi Tuhan memberikan rahmat-Nya yang lain yang berupa kepekaan terhadap indra-indra yang lain pula, oleh karena itu, orang buta bisa mendeteksi segala hal yang ada disekelilingnya dengan cermat. Ia bisa mengetahui sesuatu dengan pasti lewat perantaraan indra peraba, pencium, pencecap, dan pendengarnya. Tidak hanya itu, Tuhan bahkan juga memberinya mata batin yang kerap dikenal dengan istilah indra keenam. Hal itulah yang kiranya menjadi maksud dan tujuan perkataan Syu’aib AS bahwa setiap bagian dari tubuhnya akan berubah menjadi mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Namun jika akhirnya Ia merampas mataku untuk selamanya, akan kubiarlah mata benar-benar menjadi buta karena ia tidak layak menatap junjungan kasih!” …… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penegasanya lebih lanjut, Syu’aib AS mengungkapkan bahwa ia akan mengikhlaskan kedua matanya menjadi buta. Hal tersebut dilakukanya sebagai suatu bentuk persembahanya kepada tuhan. Syu’aib AS benar-benar tulus dan ikhlas memberikanya, ketika penglihatan itu harus diminta kembali oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya hal ini sesuai dengan makna dasar ungkapan inna lillahi wainna ilaihi raajiuun. Arti ungkapan tersebut yaitu segala sesuatu adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya ia akan kembali kepada-Nya. Syu’aib AS menyadari benar akan hal itu. Ia paham betul bahwa dirinya dan seluruh isi alam semesta ini adalah kepunyaan Tuhan dan suatu saat pasti akan kembali kepada-Nya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala yang dimiliki oleh manusia pada hakekatnya hanyalah titipan Tuhan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Yang dikatakan titipan, suatu saat pasti akan diambil oleh pemiliknya. Saat itulah seseorang harus rela dan ikhlas menyerahkan kepada pemiliknya yang mutlak. Begitu juga dengan eksistensi indra penglihatan, ia merupakan titipan Tuhan yang dibebankan kepada manusia sebagai alat utuk melihat segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Untuk semuanya itu, tidak ada batasan waktu dalam pengambilanya. Kapanpun dan dimanapun, Tuhan sewaktu-waktu bisa mengambilnya. Entah diambil pada akhir hayat manusia ataupun di masa tua, muda, maupun balita, semuanya masih berada dalam misteri ilahiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Syu’aib AS juga sadar bahwa penglihatan mata lahir manusia tidak sanggup menangkap keberadaan Dzat Tuhan yang sejati. Hal tersebut dikarenakan Dzat Tuhan yang sejati bersifat kasat mata yang tidak dapat maujud di dalam alam materi. Ia bahkan tidak dapat digapai dengan logika. Ia hanya dapat digapai dengan keyakinan dan pengetahuan intuitif bahkan Ia merupakan wujud yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran semacam inilah yang ditunjukan oleh Syu’aib AS. Dengan merelakan penglihatan lahirnya kepada Tuhan. Ia menumbuhkan harapan baru dalam hatinya. Ia berharap dengan kebutaanya, Tuhan berkenan memberikan penglihatanya yang baru yang berupa penglihatan batin melalui peneguhan keyakinan dan juga pengetahuan intuitif, yaitu pengetahuan yang berdasarkan pada wahyu ilahiah. Sungguh harapan dan persembahan yang begitu agung dari seorang Syu’aib AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, dalam sejarah para nabi, Syu’aib pada akhirnya tidak mengalami kebutaan mata secara fisik. Karakter fisiknya pada umumnya sama dengan kebanyakan orang. Ia utuh dan tidak mengalami cacat pada kostruksi fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Harapan Syu’aib dalam munajatnya hanyalah ingin bertemu dan bersanding bersama Tuhan (Allah) di kehidupan mendatang, yaitu akhirat. Harapan itu ia iringi dengan sebuah persembahan yaitu peniadaan surga dan neraka dalam dirinya. Ia melepas keterikatan diri terhadap esensi dan eksistens surga yang notabenenya menjadi tujuan hidup manusia pada umumnya.. Tidak hanya itu, ia bahkan rela menyerahkan penglihatan lahirnya sebagai sebuah persembahan asalkan ia kelak dapat bertemu dan bersanding bersama Tuhan (Allah). Tentunya, persembahan tersebut diliputi dengan perasaan tulus dan ikhlas yang terpancar dari pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-4512804980006901635?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/4512804980006901635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=4512804980006901635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4512804980006901635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4512804980006901635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/02/imamuddin-sa-httpwww.html' title='RUMI DAN SYU’AIB ANTARA HARAPAN DAN PERSEMBAHAN'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-5648202507368356321</id><published>2010-02-02T23:41:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:44:46.770-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Supaat I. Lathief'/><title type='text'>PIKIRAN SALAH YANG DIPERTAHANKAN</title><content type='html'>Judul Buku : Delusi&lt;br /&gt;Pengarang : Supaat I. Lathief&lt;br /&gt;Jenis Buku : Novel&lt;br /&gt;Prolog : Maman S Mahayana&lt;br /&gt;Epilog : Herry Lamongan&lt;br /&gt;Penerbit : PUstaka puJAngga, Lamongan, Januari 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : 224 hlm; 12 x 19 cm&lt;br /&gt;Peresensi : Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mitos, kepercayaan, keyakinan dan keimanan merupakan satu hal yang utuh. Dapat diibaratkan dengan segelas teh atau susu. Membangun paradigma yang sulit terpisahkan. Dalam sebuah mitologi, orang yang percaya akan adanya roh halus, ia secara tidak lansung telah meyakini akan keberadaannya. Apabila ia telah yakin, keimanan pun tumbuh dalam hati kecilnya meski itu hanya seberat biji dzarrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Delusi, kita akan diajak menyelam jauh lebih dalam tentang perjalanan mitos yang berkembang di masyarakat Jawa. Pikiran kita seolah dibangkitkat kembali akan fenomena budaya Jawa klasik yang dalam modernitas ini lahan-perlahan mulai terkikis oleh budaya-budaya baru. Kita diajak kembali menengok akar budaya bangsa. Selain itu kita akan dihidangkan dengan eksistensi penyebaran agama Islam sebagai pewarna dalam tradisi kejawen. Tidak menolak, tetapi larut seperti gula ke dalam air. Dengan ajaran agama Islam, tradisi kejawen menjadi lebih manis jika dirasakan oleh kebanyakan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah dalam Delusi mengambil Desa Woh sebagai setting utamanya. Desa tersebut merupakan suatu desa yang masyarakatnya masih menunjukkan intensitas tinggi terhadap kepercayaan dengan danyang. Yaitu makhluk halus penguasa desa yang memiliki kekuatan supranatural yang dipercaya sebagai pemberi rezeki, pelindung, pemberi keberuntungan dan mala petaka. Taraf berfikir masyarakat desa tersebut rata-rata masih terbelakang. Tidak aneh jika kehidupan masyarakat tampak primitif, buta aksara, tuna pengetahuan, bahkan gagap religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tokoh Madun, kisah ini dikembangkan. Meskipun itu ada cukup banyak tokoh di dalamnya, seperti Pri, Qin, Masyarakat, Karmin (Bapak Madun), Pasinem (Ibu Madun), Pak San (seorang guru), Ki Wasesa, Karti, Sarmili, Kasmin, Karmin, Bu Nis, Pak Kasan, Pak Darmo. Madunlah yang menjadi pembuka konflik mitos dalam Delusi ini. Cerita ini bermula ketika Madun sedang diajak ayahnya pergi ke sawah. Ia memakan sesajen untuk para danyang yang ditempatkan di sawah. Padahal dalam mitos masyarakat, setelah sesajen disajikan, tidak seorang pun yang diperbolehkan menyentuhnya, apalagi sampai berani memakannya. Jika hal itu dilakukan oleh seseorang, maka ada indikasi danyang akan marah dan orang tersebut akan terkena mala petaka, bahkan seluruh masyarakat pun akan terkena mala petaka juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memakan sesajen itu, Madun tiba-tiba jatuh sakit. Sakitnya, sakit perut. Ibunya merasa bingun dengan sakitnya Madun. Ia ke sana-ke mari membelikan obat untuknya tetapi semua obat di warung habis. Katanya sudah dibeli warga yang anaknya juga mengalami sakit perut. Saat itu Bapak Madun, sempat bercerita kepada istrinya tentang ulah Madun yang memakan sesajen di sawah. Saat mendengar cerita itu, Ibu Madun sedikit kaget. Ia lantas berfikiran bahwa sakit Madun akibat tulah danyang sebab sesajenya telah dimakan anaknya. Selain itu, akibat ulah Madun anak-anak yang lain juga terkena getahnya. Mereka mengalami sakit seperti yang dialami Madun. Pada dasarnya Bapak dan Ibu Madun tidak percaya dengan tahayul tentang danyang-danyang dan sesajen. Tapi pada akirnya mereka ikut arus masyarakat karena takut dengan masyarakat yang lain yang mempercayai dengan tahayul itu. Ibu Madun lalu bertanya kepada suaminya, apakah ada orang yang tahu tentang ulah Madun yang memakan sajen itu. Suaminya pun menjawab bahwa tidak ada orang yang tahu kecuali dia sendiri dan Pri yang telah diberitahu oleh Madun. Tapi ia menyarankan agar tidak hawar kepada Pri. Sebab Pri telah didoktrinnya bahwa Madun telah membohonginya. Dan Pri pun mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian timbul desas-desus tentang wabah penyakit yang menyerang anak-anak Desa Woh. Warga beranggapan bahwa penyakit tersebut akibat balak dari danyang desa. Hati Bapak dan Ibu Madun semakin was-was mendengar ungkapan itu. Mereka takut bahwa warga telah tahu tentang ulah Madun yang memakan sesajen para danyang. Tapi tidak, warga beranggapan lain. Mereka berfikir kalau wabah itu dipicu oleh sikap dan ulah anak-anak yang kerap bermain di kali dengan seenaknya saja. Anak-anak kerap merigis dan membuat mainan kali sesuka hati mereka. Bagi mereka, sebab itulah anak-anak banyak yang sakit. Dan kali harus segera diberi sajen yang lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir seluruh orang mengiyakan dan menyiapkan sajen untuk kali tempat mandi Madun, Pri, dan Kawan-kawannya. Mereka menyiapkan sesajen dan akan melakukan upacara di kali malam hari secara bersama-sama. Tak ketinggalan juga dengan Bapak dan Ibu Madun. Biarpun mereka berdua sudah tak percaya lagi dengan balak dan danyang, namun mereka takut akan keirian warga yang akan menimbulkan masalah. Jadi ibu Madun menyiapkan sesajen sederhana. Bapak pun mengikuti upacara di kali dan menaruh sesajen di sana bersama warga yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana seperti itu masih kental dilakukan oleh masyarakat Desa Woh. Ritual untuk para danyang dan sesajen-sesajen kerap dilakukan ketika ada setiap permasalahan yang timbul di desa itu. Mereka masi merasa bahwa permasalahan-permasalahan yang menimpa warga desa adalah balak dari danyang akibat dari perilaku yang menyimpang oleh masyarakat atau anak-anak. Selain itu ritual untuk para danyang dengan sesajen-sesajen itu dilakukan ketika warga desa banyak memperoleh keberuntungan yang melimpah ruah dari hasil pertanianya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dengan masuknya ajaran agama Islam di desa itu, praktik ritual untuk para danyang sedikit bergeser persepsi dan pelaksanaannya. Sesajen kini tidak lagi dibiarkan membusuk dan sia-sia tak termakan. Ritual itu selanjutnya bergeser menjadi upacara doa-doa yang dilanjutkan dengan memakan seluruh sesajen yang ada oleh warga yang hadir. Fenomena itu terasa diakhir ceritanya. Diakhir cerita, para warga mengadakan syukuran atas kondisi desa yang gema ripa lohjinawe. Masyarakatnya tentram dan damai. Selain itu, di desa tersebut kemudian didirikan sebuah masjid sebagai tempat ritual keagamaan ajaran agama Islam yang lahan-perlahan mulai dipeluk oleh setiap warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Delusi ini dibangun dari beberapa sub judul. Ada dia belas sub judul di dalamnya. Kedua belas sub judul itu adalah: Tingkah Sumbang, Simpang Keindahan, Tengah Kumamang, Tepian Langkah, Padang Rimba, Runtuhan Senyum, Lukisan Kedamaian, Lukisan Fatamorgana, Tarian Termanis, Pekat Kepalsuan, Samar Keutuhan, dan terakhir ditutup dengan Perayaan Delusi. Secara keseluruhan, novel ini enak untuk diapresiasi oleh pembaca. Di dalamnya terdapat nilai-nilai katarsis yang layak direnungkan. Tentang nilai-nilai budaya Jawa dan tentang waham atau tahayul yang kemudian tercerajkan oleh iman Islami. Alur yang dibangunnya begitu juntrung. Bahasanya sederhana dan komunikatif sehingga tak melelahkan saat dilakukan proses apresiatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, novel ini tampaknya kurang memberi keleluasaan penikmat untuk berimajinasi lebih jauh. Kisahan novel ini tersaji sangat hitam putih. Bahkan untuk proses percintaan antara Karmin dan Pasinem hingga menjadi suami istri pada kehidupan masyarakat tahun 70-an terlalu sederhana. Tidak ada kesan yang menggigit dalam perjalanan ke pelaminan. Padahal mereka notabenenya adalah berasal dari desa yang kultur masyarakatnya berbeda jauh, baik dari pendidikan, agama, kebudayaan, dan lain-lain. Selain itu suasana batin Karmin dan Pasinem hampir tidak tersentuh. Dari setting antara Desa Woh dan Desa Legi terasa berat sebelah. Padahal desa ini bersebelahan. Kedua desa itu memiliki kultur masyarakat yang berbeda jauh. Seolah-olah Desa Woh berada di bawah permukaan bumi. Desa Legi jauh lebih maju dan warna-warni, tak sebanding dengan Desa Woh yang berantakan lahir-batin. Meskipun begitu, pembaca akan menemukan sesuatu yang lain dan lebih dari novel ini. Sebab novel ini berusaha menggali, mengungkapkam, dan menawarkan persoalan etnisitas yang dikemas dalam kisah nostalgia: tentang potret anak desa, sistem kepercayaan, dan segala aspek yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat pedesaan di Jawa. Di dalamnya, pembaca akan berjumpa dengan sesuatu yang eksotik dan menawan. Selanjutnya, selamat menikmati dan mengapresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2010/02/pikiran-salah-yang-dipertahankan/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2010/02/pikiran-salah-yang-dipertahankan/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-5648202507368356321?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/5648202507368356321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=5648202507368356321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5648202507368356321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5648202507368356321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/02/pikiran-salah-yang-dipertahankan.html' title='PIKIRAN SALAH YANG DIPERTAHANKAN'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-7474588023479068059</id><published>2010-01-30T02:50:00.001-08:00</published><updated>2011-10-08T11:45:00.575-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suryanto Sastroatmodjo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><title type='text'>MENEGUK SEJARAH DAN FALSAFAH</title><content type='html'>Judul Buku : Bung Sultan&lt;br /&gt;Pengarang : RPA Suryanto Sastroatmodjo&lt;br /&gt;Jenis Buku : Bunga Rampai Esai&lt;br /&gt;Penerbit : Adi Wacana, Juni 2008&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxxiv + 230 hlm; 15 x 21 cm&lt;br /&gt;Peresensi : Imamuddin SA.&lt;br /&gt;http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wartawan, penulis, sastrawan, budayawan dan siapa saja yang mengabdikan diri dalam bidang tulis-menulis, semuanya pastilah memunguti batu-batu peristiwa yang berserakan di tepian hidupnya untuk dijadikan konsep dasar karyanya dan sebagai suatu kesaksian kecil dalam sejarah kehidupan umat manusia. Meskipun bersikap kecil, jika batu-batu itu dikumpulkan secara terus-menerus, seseorang akan mampu membuat rumah sejarah, bukit sejarah, bahkan gunung sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Sultan merupakan sebuah karya yang patut kita selami dan kita teguk setetes demi setetes bening air kesaksian serta pemikiran pengarangnya. Karya ini digurat dari serpihan peristiwa yang tertangkap oleh indrawi pengarangnya. Pengarangnya tidak lain adalah seorang tokoh yang fenomenal yang dimiliki bangsa ini, terlebih-lebih bagi keraton Yogyakarta. Dialah KRT. RPA. Suryanto Sastroatmodjo (Mas Sur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Sur adalah seorang redaktur surat kabar, sastrawan, serta budayawan. Dalam buku bunga rampai esai ini, beliau banyak menggoreskan falsafah hidup sebagai suatu wacana kehidupan bagi umat manusia. Selain itu, di dalamnya merupakan saksi sejarah bagi daerah Yogyakarta dan sekitarnya kala bergerak mengikuti siklus modernisasi. Falsafah-falsafah hidup dalam buku ini diracik sedemikian rupa yang diarahkan dan dibenturkan dengan kepribadian manusia, realitas fisik daerah Yogyakarta dan sekitarnya serta masyarakatnya. Fenomena tersebut juga dibumbui dengan khasanah kejawen pengarangnya selaku seorang Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dan Raden Panji Anom (RPA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Sur dalam bunga rampai esai ini seolah mengingatkan kita semua akan hakekat hidup yang semestinya. Beliau menyatakan bahwa “Aja lali marang tetenger sing ana. Yen wus gumathok pathoke, yo ing kono kiwi kena digoleki punjere” (Jangan melupakan peninggalan yang ada. Manakala sudah jelas letak nisan yang dicari, maka akan lebih gampang mencari pusatnya. Apa yang disebut “tetenger” pada kalimat di atas adalah berarti sesuatu monumen yang ditinggalkan oleh tokoh tertentu yang dibanggakan oleh dunia seputar. “Pathok” yang divisualkan dalam bentuk batu nisan yang kukuh, secara langsung merupakan penunjuk dalam kehidupan di jagad ini, yang darinya suatu keturunan menapaki. Sedangkan “punjer” berarti pusat alias teleng dari nukilan sejarah yang berlangsung. Jika kita ingin sesuatu dari rantauan hakiki istilah ini, maka akan kita temukan perkataan “panjer” yang artinya senantiasa dipasang, digantungkan, dicantelkan, ditayangkan di pokoknya. Selain itu, dalam esainya yang berjudul “Jejak Menuju Cagak” beliau menegaskan definisi cagak yang gimaksus. Baginya, cagak merupakan suatu tiang-pancangan, bahkan juga berarti tonggak yang menandai suatu rangkaian peristiwa dalam kehidupan ini. Dengan kata lain, dengan menyebut adanya cagak pada kehidupan ini, agaknya manusia harus menyadari dua hal. Pertama, suatu kenangan terhadap sejarah yang berada di latar belakang, yang sekaligus sebagai kerangka tindaknya. Sedangkan yang kedua, suatu kesadaran yang lebih substansial, bahwasanya hidup ini berlangsung dari periode yang satu ke periode berikutnya, seraya mengembangkan jalur-jalur “kenerdekaan ruh”-nya”. Dengan kata lain, Mas Sur dalam nuku ini mengisyarahkan akan dua hal, yaitu kesejatian hidup dan sejarah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Bung Sultan ini cocok dinikmati oleh mereka yang gandrung dengan wacana kebudayaan serta nilai-nilai falsafah hidup. Meskipun demikian, buku ini kurang cocok dikonsumsi oleh mereka yang berusia SLTA ke bahwah. Hal itu disebabkan oleh muatan buku ini yang terlalu berat dicerna oleh mereka yang seusia itu. Bisa jadi buku ini akan terasa membosankan bagi mereka dan malah memampatkan daya minat baca mereka terhadap buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tujuh belas pokok bahasan dalam buku ini yang dirangkai dalam tujuh belas judul esai. Ketujuh belas judul tersebut adalah: “Tetenger, Punjer, dan Panjer”, Tapa Wuda Asinjang Rikma, Dari Tikungan yang Menuju Pertigaan, Sandiwara dan Sambiwara, Jejak-Jejak Menuju Cagak, Yang Melahap dan Yang Menggilas, Si Cacat yang Tanpa Cela, Ciri-Cira di Tengah Upacara, Tiada yang Hilang di Balik Watugilang, “Wara Ratna” Sri Pakubuwono IX, Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata, Yang Lingsir di Pesisir, Yang Semi di Praja Kejawen, “Sawingka Sih-ing Nugraha, Saretna Gurit Kuwasa”, “Bocah Among Pradah, Sepuh Angon Kewuh”, R.A. Kartini dan Kebudayaan, Sang Sinuwun dalam Buhul-Buhul Dimensi, Malioborodan Siklus Lingkungan: Dapatkah Model Penataan Renggaprajan Awet Bertahan?”. Selanjutnya; pemahaman tanpa rasa segalanya kan terengkuh tanpa makna. Dan akhirnya, selamat meneguk kedalaman bening air telaganya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-7474588023479068059?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/7474588023479068059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=7474588023479068059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7474588023479068059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7474588023479068059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/01/meneguk-sejarah-dan-falsafah.html' title='MENEGUK SEJARAH DAN FALSAFAH'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-5451428134174759607</id><published>2010-01-30T02:46:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:45:21.764-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><title type='text'>Sajak-Sajak Imamuddin SA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QASIDAH KEBERADAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin kau mengerti jalanku&lt;br /&gt;akan misteri jejak pagi, belum lama kutapaki&lt;br /&gt;pada tetes air mata&lt;br /&gt;di kedalaman makna tangis pertama&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku masih hampa&lt;br /&gt;membiarkan luka pori-pori kulitku&lt;br /&gt;oleh dekap alam dengan degup jantung rawan;&lt;br /&gt;hatiku pun terasing&lt;br /&gt;jauh dari semburat masa depan&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;byar-sumebyar dalan&lt;br /&gt;padang ilak-ilak wus tumandang,&lt;br /&gt;asmo lan sifat kang manunggal&lt;br /&gt;dadi ancer-ancere lelampahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak perlu kutumpahkan duka mungilku&lt;br /&gt;adalah ini seberkas garis cahaya&lt;br /&gt;akan kehendak yang sama;&lt;br /&gt;kehendakmu,&lt;br /&gt;kehendakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun, tiada kesungsangan segala&lt;br /&gt;kala kumelayang iba&lt;br /&gt;dari kepolosan masih tersisa&lt;br /&gt;berharap padamu penggenggam ketajaman mata&lt;br /&gt;menghantar kekekalan&lt;br /&gt;menghadap kesejatian&lt;br /&gt;dengan wajah purnama bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NYANYIAN BOCAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belum sempat kulihat kembali&lt;br /&gt;tarian padi yang dulu memistik hatiku&lt;br /&gt;membiarkan batin meneguk damai&lt;br /&gt;dalam keindahan musim semi kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hanya menikmati kegersangan ini&lt;br /&gt;memandang ladang tanpa jejak petani;&lt;br /&gt;adakah ia telah pergi&lt;br /&gt;bosan kebiasaan sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejengkal lagi purnama membumi&lt;br /&gt;para bocah di pematang sawah girang berlari&lt;br /&gt;menyanyi&lt;br /&gt;menyambut pesta panen, nyaris menyinggahi;&lt;br /&gt;sungguhkah ia luka&lt;br /&gt;sebab tanah terlihat hampa&lt;br /&gt;kembali bersama keputusasaan jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku yang dalam riuh&lt;br /&gt;mencoba mengabari&lt;br /&gt;berisyarah lewat bibir-jemariku&lt;br /&gt;menebar benih walau hanya sebiji&lt;br /&gt;berharap esok tumbuh meski sehelai;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahyaning wahyu&lt;br /&gt;tumurun dadi pengiloning laku&lt;br /&gt;madep marang kang tinuju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ananing sri sedono manggon tanah merdiko&lt;br /&gt;gumebyar dadi pertondo&lt;br /&gt;sandang panganing manungso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bah-obahno tangan sikilmu&lt;br /&gt;ono ndarat lan segoro&lt;br /&gt;kanti lelakon kang jowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mongko ora bakal kacingkrangan&lt;br /&gt;uripmu&lt;br /&gt;kasebab pangayomaning gustimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti kalammu&lt;br /&gt;sebutir sajakku kan menjadi setangkai padi&lt;br /&gt;menumbuhkan biji di setiap helai&lt;br /&gt;pada ladang hati&lt;br /&gt;gersang dan sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TABIR HUJAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nalikaning ati&lt;br /&gt;madep marang kang moho suci&lt;br /&gt;landeping lati nukolno ukoro kang dadi sabdo&lt;br /&gt;dadi cinore’e lelakone manungso;&lt;br /&gt;olo tan olo&lt;br /&gt;becek tan becek,&lt;br /&gt;sopo kang kasebab bakal katitik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ati-ati tor ojo sembrono&lt;br /&gt;nyawang gebyare busono,&lt;br /&gt;ora nyongko&lt;br /&gt;ora penyono&lt;br /&gt;wong kuwi gandrunganing panguoso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langit, tak ubahnya kau&lt;br /&gt;menutup wajahmu dengan dinding-dinding kabut&lt;br /&gt;dengan hijab-hijab awan&lt;br /&gt;dengan tabir-tabir hujan&lt;br /&gt;akan keelokanmu dan para kekasihmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh gaibnya kau&lt;br /&gt;membiarkan aku terkurung dalam kegoncangan&lt;br /&gt;memaknai tanda-tanda yang kau suarakan;&lt;br /&gt;ah, adakah ini batu-batu ujian untukku&lt;br /&gt;atau hanya sebatas permainan waktu&lt;br /&gt;menunggu usiaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun jangan sekali-kali kau&lt;br /&gt;ikhlaskan aku berdiri di sisi kirimu&lt;br /&gt;mendustai khalifahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya, aku pun rindu&lt;br /&gt;mengenalmu&lt;br /&gt;menyapamu&lt;br /&gt;rindu bernaung dalam panji kekasihmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SYAHADATKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana aku&lt;br /&gt;bisa membagi-bagikan syahwatku&lt;br /&gt;selain kepadamu&lt;br /&gt;dan bagaimana caranya, kau&lt;br /&gt;sanggup ajarkan aku&lt;br /&gt;merapal syahadat cinta untukmu;&lt;br /&gt;hanya namamu&lt;br /&gt;dan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harus dengan apa aku&lt;br /&gt;merayumu, agar muhammad&lt;br /&gt;kau lahirkan kembali dari rahim hatiku;&lt;br /&gt;shalatku&lt;br /&gt;zakatku&lt;br /&gt;puasaku&lt;br /&gt;segalanya telah kupersembahkan untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara kau hanya melempar senyum sinis&lt;br /&gt;di wajahku&lt;br /&gt;membiarkan luka rindu&lt;br /&gt;menghimpit batinku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dadaku sesak&lt;br /&gt;hanya untaian nafas terpenggal&lt;br /&gt;dalam gerimis tangisku yang masih tersisa,&lt;br /&gt;ingin rasanya kuteguk secawan demi secawan air mataku&lt;br /&gt;biar tak ada lagi duka di bening telagaku&lt;br /&gt;tak ada lagi kegaiban mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku terbangun&lt;br /&gt;dari malam-malam jahilku&lt;br /&gt;setelah sekian lama meringkuk&lt;br /&gt;dalam selimut tahmidku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;samar aku melihat jari-jari manismu&lt;br /&gt;perlahan memainkan hasrat&lt;br /&gt;menyalakan lilin di tanah gelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pun bangkit&lt;br /&gt;dari sajadah kumalku&lt;br /&gt;merangkak, menguntit cahayamu&lt;br /&gt;berkata dalam kealpaan yang nyaris membatu;&lt;br /&gt;jangankan shalat, syahadat pun aku tak mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya, bagaimana caranya, kau&lt;br /&gt;sanggup ajarkan aku&lt;br /&gt;merapal syahadat cinta untukmu;&lt;br /&gt;hanya namamu&lt;br /&gt;dan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Ramadhan 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-5451428134174759607?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/5451428134174759607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=5451428134174759607' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5451428134174759607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5451428134174759607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/01/sajak-sajak-imamuddin-sa_6007.html' title='Sajak-Sajak Imamuddin SA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-4031551532410262728</id><published>2010-01-30T02:39:00.002-08:00</published><updated>2011-10-08T11:45:36.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='W.S. Rendra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><title type='text'>Sajak-Sajak Imamuddin SA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ELEGI SANG BURUNG MERAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:W.S. Rendra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duka telah mengeram&lt;br /&gt;menjadi borok&lt;br /&gt;menggumpal kepedihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku membuyarkan air mata&lt;br /&gt;dari sumur hatiku&lt;br /&gt;kala sayup kudengar tasbih sakaratmu&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku yang terhijab ruang waktu&lt;br /&gt;tak sanggup berdiri di sisimu&lt;br /&gt;hanya mendampingkan doa&lt;br /&gt;di degup jantungmu yang kian terputus&lt;br /&gt;-putus&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, aku lebih terhentak&lt;br /&gt;berteriak dalam gelombang tangisku&lt;br /&gt;saat tubuhmu kau biarkan menguning&lt;br /&gt;dan ruhmu kembali pada kesucian cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh, tiada lagi yang bercerita padaku&lt;br /&gt;tentang balada-balada orang tercinta&lt;br /&gt;tentang nyanyian sumbang penduduk kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rindu suaramu&lt;br /&gt;aku rindu,&lt;br /&gt;pada siapa kan kusentuh&lt;br /&gt;indah bulu emasmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku coba menggumpalkan luhku&lt;br /&gt;mengubahnya jadi batu&lt;br /&gt;mengukirkan kata&lt;br /&gt;sekadar mengeringkan luka,&lt;br /&gt;dan aku sempat berkata;&lt;br /&gt;terbanglah&lt;br /&gt;kabarkan senyummu di sana&lt;br /&gt;padaku sang penabur bunga&lt;br /&gt;walau hanya lewat sajak belaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MATA AIR WAKTU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tumraping ilmu&lt;br /&gt;dadi ugemane laku&lt;br /&gt;nintingi ukoroe jagad&lt;br /&gt;kang sinawang pucat;&lt;br /&gt;gumantung ing rong mongso&lt;br /&gt;rendeng lan ketigo&lt;br /&gt;enom lan tuwo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rerintik hasrat sore tadi&lt;br /&gt;telah membasah tanah puitika yang sekarat&lt;br /&gt;tempo hari&lt;br /&gt;menjelma roh dalam jiwa-jiwa lunglai&lt;br /&gt;laksana jati di tengah kemarau terhujani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menyaksikan diriku&lt;br /&gt;mengeja waktu&lt;br /&gt;melukiskan jejak burung&lt;br /&gt;di kepalaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba saja aku meringsut&lt;br /&gt;membiarkan hati keriput&lt;br /&gt;setelah tak kutemukan setetes air pada gerimis&lt;br /&gt;setelah tak kucium kering tanah pada panas cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara, dari jauh&lt;br /&gt;kupandangi daun-daun bibirmu yang semakin pucat&lt;br /&gt;tak tersentuh bening sungai batin merambat; asat&lt;br /&gt;dan perlahan aku mulai mengikat&lt;br /&gt;benang merah yang nyaris tak terlihat&lt;br /&gt;mata mataku&lt;br /&gt;antara kau dan tanahmu;&lt;br /&gt;adalah kau mata air waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SELAMAT DATANG RAMADHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ahlan wa sahlan ya ramadhan&lt;br /&gt;sungguh mulia&lt;br /&gt;kau telah membuka kembali gerbang gapura&lt;br /&gt;untuk aku yang berselimut luka&lt;br /&gt;bersimbah darah-darah dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat datang ya ramadhan&lt;br /&gt;telaga maghfirah yang kau hamparkan&lt;br /&gt;begitu mengusik batinku&lt;br /&gt;untuk menyucikan najis hadatsku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihatlah, aku yang terbius&lt;br /&gt;kemilau bening airmu&lt;br /&gt;menanggalkan gaun-gaun malamku&lt;br /&gt;jubah-jubah kusut kemanusiaanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihatlah, perlahan aku&lt;br /&gt;mengayun langkah, tenggelam di kedalamanmu&lt;br /&gt;membasuh air mata tasbih&lt;br /&gt;pada goresan-goresan lalai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semakin larut hening yang kurasa&lt;br /&gt;semakin luntur kesombongan wajah&lt;br /&gt;hingga butir-butir luhku&lt;br /&gt;menjelma melati pada tanah ini&lt;br /&gt;pada hati yang nyaris mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ahlan wa sahlan ya ramadhan&lt;br /&gt;aku bersalam untukmu;&lt;br /&gt;ahlan wa sahlan ya imam&lt;br /&gt;kau balas salamku dan seluruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DALAM RASA TERPENDAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada tumbuhan paku&lt;br /&gt;di setapak jalanmu&lt;br /&gt;berlumur bisa&lt;br /&gt;yang tak sanggup diterka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengukir borok atau sebatas goresan&lt;br /&gt;hanya engkau yang tahu kedalaman&lt;br /&gt;merenungkan tusukan&lt;br /&gt;dalam rasa terpendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang konyol padamu&lt;br /&gt;berlari-lari menelanjangi kaki&lt;br /&gt;menghujankan butir-butir darah&lt;br /&gt;dari denyut nadi sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara, aku di seberang&lt;br /&gt;terlihat khusuk mengalaskan terompah&lt;br /&gt;mimilih sela&lt;br /&gt;nyaris melangkah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-4031551532410262728?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/4031551532410262728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=4031551532410262728' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4031551532410262728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4031551532410262728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/01/sajak-sajak-imamuddin-sa_1525.html' title='Sajak-Sajak Imamuddin SA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-273388975430100674</id><published>2010-01-30T02:34:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:45:44.447-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hallaj'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><title type='text'>Sajak-Sajak Imamuddin SA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BECERMIN DI HENING AIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kusampaikan bening keraguan&lt;br /&gt;pada dedaun pupus&lt;br /&gt;biar segala kegoncangan angin&lt;br /&gt;tercurah di redup cahaya senja;&lt;br /&gt;kemarin&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;mungkinkah ini aku&lt;br /&gt;becermin di hening air&lt;br /&gt;memunguti sisa luka yang hampir punah;&lt;br /&gt;ah, jangan-jangan yang kulihat adalah wajahmu&lt;br /&gt;wajah yang telah kupinjam darimu&lt;br /&gt;beberapa waktu lalu&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku pun menyaksikan&lt;br /&gt;lewat kedamaian alirnya&lt;br /&gt;ada sesosok bayang-bayang&lt;br /&gt;bersujud pada tubuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENGERINGKAN LARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bershalawat&lt;br /&gt;mengeringkan lara&lt;br /&gt;dalam ketakjuban hampir sirnah&lt;br /&gt;membayang kejernihan syafaat&lt;br /&gt;dari kesempurnaan cahaya di atas cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku yang duduk dalam gelap lampu&lt;br /&gt;nyaris tersenyum&lt;br /&gt;menyapa sayup nyanyianku;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, tembangku mengalir&lt;br /&gt;membentur-bentur dinding waktu,&lt;br /&gt;kembali menyapaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEPADA HALLAJ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau tak pernah memanggilnya tuhan&lt;br /&gt;tapi kau kerap berbisik padaku;&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;haqq!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meski berkali-kali suara itu mengusik&lt;br /&gt;namun aku masih tak mengerti,&lt;br /&gt;ada isyarat gaib di samudraku&lt;br /&gt;ada maqam yang belum tersentuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh mustahil&lt;br /&gt;aku mendayung perahu di gurun syahadatmu&lt;br /&gt;menyeberang diri ke seberang tawasinmu&lt;br /&gt;aku layaknya beo dalam mimesis kata-katamu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kini biarkan&lt;br /&gt;panggung temali itu&lt;br /&gt;menjadi saksi jahiliahku&lt;br /&gt;menjadi cambuk jejak perjalananku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERSINGGAHAN MAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak kan kubiarkan benalu hati&lt;br /&gt;bersemi di pohon yakinku&lt;br /&gt;menghapus keindahanya&lt;br /&gt;dengan kesungsangan rupa&lt;br /&gt;persinggahan maya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam kembara&lt;br /&gt;ingin kutanam seribu kamboja&lt;br /&gt;di kebun batinku&lt;br /&gt;saat sehelai rumput masih bisa tumbuh;&lt;br /&gt;sebelum kering&lt;br /&gt;sebelum gersang&lt;br /&gt;sebelum pasi&lt;br /&gt;sebelum rintik hujan menetes kembali&lt;br /&gt;menghidupkan yang telah mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ADA TANGIS DARI YANG MATI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayu kudengar nyanyian hati nan fitri&lt;br /&gt;dalam takbir kemenangan diri,&lt;br /&gt;namun ada yang berbisik;&lt;br /&gt;“ada tangis dari yang mati&lt;br /&gt;tentang kekalahan sendiri&lt;br /&gt;sebab terbitnya surya pembalasan&lt;br /&gt;atas malam kedurhakaan&lt;br /&gt;silam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku bertanya akan kesejatian&lt;br /&gt;benarkah aku telah membayi di seberang perayaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-273388975430100674?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/273388975430100674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=273388975430100674' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/273388975430100674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/273388975430100674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/01/sajak-sajak-imamuddin-sa_30.html' title='Sajak-Sajak Imamuddin SA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-9121121556553318295</id><published>2010-01-30T02:29:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:45:53.752-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><title type='text'>Sajak-Sajak Imamuddin SA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;INSOMNIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....... insomnia&lt;br /&gt;aku terhenyak menjingkrak&lt;br /&gt;dalam malamku&lt;br /&gt;kala menyaksikan kembali&lt;br /&gt;bayang-bayang wajahmu&lt;br /&gt;bersemayam di singgahsana mataku;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;di bawah gerhana&lt;br /&gt;bersama nyanyian belalang&lt;br /&gt;-tarian ilalang&lt;br /&gt;kubiarkan imajiku bercerita&lt;br /&gt;tentang hening embun&lt;br /&gt;tentang cahaya yang semakin ranum&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rupanya purnama&lt;br /&gt;sedikit bercanda denganku&lt;br /&gt;bermain teka-teki dengan wajah sendiri&lt;br /&gt;dengan hatiku yang semakin sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang kutangkap dari permainanmu&lt;br /&gt;gumamku;&lt;br /&gt;segalanya bermula dari yang mati&lt;br /&gt;-hidup&lt;br /&gt;dan hidup lagi&lt;br /&gt;dalam keabadian terjanji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BISIKAN ANGIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa yang aku mengerti&lt;br /&gt;dari bisikan angin&lt;br /&gt;dari hentakan dingin&lt;br /&gt;tentang kelnak-kelnik syahadat sungsang&lt;br /&gt;puri kemanusiaan;&lt;br /&gt;kesadaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetes air ini yang akan bersaksi&lt;br /&gt;menceritakan lenggang tariku&lt;br /&gt;yang menepi&lt;br /&gt;dan semakin menepi&lt;br /&gt;mencari persinggahan&lt;br /&gt;menemukan wajah sendiri dalam penghambaan;&lt;br /&gt;dan aku kan tahu&lt;br /&gt;siapa yang berjanji&lt;br /&gt;siapa pula yang meyakini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUAH JATUH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebenarnya aku ingin melambai&lt;br /&gt;salam padamu&lt;br /&gt;di balik gaib waktu&lt;br /&gt;namun tangan kataku tak melepasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, tak perlu kau kecewa&lt;br /&gt;sebab aku ada sedikit cerita&lt;br /&gt;tentang kabut kelam hari ini&lt;br /&gt;tentang gerimis subuh&lt;br /&gt;yang masih suci;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada buah jatuh dari pohon yakinku&lt;br /&gt;kupungut satu-satu&lt;br /&gt;sambil menyincing setapak laku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang membisik badai&lt;br /&gt;katanya; tak kan ada lagi&lt;br /&gt;gulma di tanah pekaranganku&lt;br /&gt;meski hujan tak kunjung berhenti&lt;br /&gt;merayu&lt;br /&gt;menyemikan kembang hasratku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TENTANG SYAHWAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana mungkin&lt;br /&gt;aku menikamnya&lt;br /&gt;sebilah jarum pun aku tak punya&lt;br /&gt;apalagi tempaan pisau atau anak panah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun adakah ujung lidahku&lt;br /&gt;melinang air mata&lt;br /&gt;menenggelamkan hati dengan samudra darah:&lt;br /&gt;luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbicara dari ujung ke ujung&lt;br /&gt;tentang syahwat&lt;br /&gt;tentang buah-buah laknat&lt;br /&gt;tentang jiwa-jiwa hianat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh aku tak bermaksud menyudutkannya;&lt;br /&gt;mendekap sungsang iga&lt;br /&gt;dan kini  tiada lagi penanggung perih&lt;br /&gt;cukup aku mencari&lt;br /&gt;mengajaknya kembali&lt;br /&gt;pada keabadian surgawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Nopember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;INTERLUDE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bolehkah aku merapal interlude&lt;br /&gt;dalam khusyuk sembahyangmu&lt;br /&gt;sekedar bercanda di tengah kegaiban;&lt;br /&gt;wajah siapa kau cerminkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah bagaiman kau&lt;br /&gt;menata safmu&lt;br /&gt;hari ini&lt;br /&gt;menempatkan diri pada maqam cahaya&lt;br /&gt;bersyahadat dalam keesaan rupa;&lt;br /&gt;adakah kau berdiri di belakangnya&lt;br /&gt;atau hanya sebatas masbuk belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Nopember 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-9121121556553318295?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/9121121556553318295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=9121121556553318295' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/9121121556553318295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/9121121556553318295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/01/sajak-sajak-imamuddin-sa.html' title='Sajak-Sajak Imamuddin SA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-9187019432875459433</id><published>2010-01-28T07:36:00.001-08:00</published><updated>2011-10-08T11:46:10.229-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>KILAS BALIK SERAT KALATIDA KARYA RONGGOWARSITO</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://www.sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya perjalanan kehidupan dalam alam fisik ini bersifat stagnan. Mulai dulu sampai sekarang, bahkan nanti akan bersifat sama alurnya. Sama dalam tataran peristiwa problematikanya. Yang berbeda hanyalah fenomena tempat, fasilitas, pelaku orangnya, budaya, dan peradabannya. Ini terlihat sebagai suatu siklus rotasi yang pada saatnya nanti akan teruluang kembali. Seperti suatu nasib; kadang di atas, kadang di bawah. Suatu saat akan berjaya, di saat yang lain akan terjatuh juga.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Peristiwa-peristiwa masa lalu akan terulang kembali pada masa sekarang. Begitu juga dengan sekarang, pada hari esok akan terulang pula. Namun tidak sama persis. Yang sama hanyalah suasana batiniah peristiwa itu. Seperti itulah fenomena yang seolah-olah tampak dari karya Ronggowarsito. Kita kenal bahwa Ronggowarsito adalah seorang pujangga yang konon ceritanya memiliki ketajaman batin yang khusus dan tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Dalam karya-karyanya sering terungkap prediksi-prediksi suatu kejadian masa datang. Bahkan lebih dari itu, ia juga mengetahui ajalnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Ronggowarsito bukanlah nama asli, melainkan suatu gelar kebangsawanan di keraton Surakarta. Gelar Rongowarsito ini diberikan kepada seorang juru tulis kerajaan. Nama asli Ronggowarsito yang kita kenal saat ini adalah Bagus Burham yang lahir tanggal 15 Maret 1802. Orang yang pertama kali menerima gelar Ronggowarsito ini adalah Yosodipuro II yang tidak lain adalah kakek Bagus Burham. Ronggowarsito II bernama Panjangswara dan dia adalah ayah dari Bagus Burham. Bagus Burham inilah yang yang kemudian menggantikan ayahnya dengan gelar Ronggowarsito III setelah perang Diponegoro usai; yaitu sekitar tahun 1830. Dan Bagus Burham inilah yang sampai dewasa ini akrab kita kenal dengan nama Ronggowarsito. Yang karya-karyanya sampai di tangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karyanya, Ronggowarsito pernah menyinggung datangnya bencana yang merupakan sebagian dari kutukan Tuhan. Berdasarkan penglihatan ruhaniahnya, hari itu suatu saat akan datang. Semua ini tidak lepas dari hukum sebab-akibat. Sebelum datangnya hari itu, pasti ada sebabnya terlebih dahulu. Sebab utama yang melatarbelakangi munculnya kutukan Tuhan tidak lain adalah dipicu oleh kelalaian manusia sendiri. Ia lalai dengan jati dirinya sehingga lalai pula dengan tugas kemanusiaannya di dunia. Misi kekhalifahan terabaikan. Mengobarkan api kerusakan dalam kesemestaan alam. Angkara murka bangkit di mana-mana. Bahaya, susah, dan derita meraja lela. Ilustrasi itu terungkap dalam Serat Kalatida yang diungkapkan dalam bentuk tembang Sinom. Serat tersebut berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Mangkya darajating praja&lt;br /&gt;Kawuryan wus sunyaruri&lt;br /&gt;Rurah pangrehing ukara&lt;br /&gt;Karana tanpa palupi&lt;br /&gt;Atilar silastuti&lt;br /&gt;Sujana sarjana kelu&lt;br /&gt;Kalulun Kala Tida&lt;br /&gt;Tidhem tandhaning dumadi&lt;br /&gt;Ardayengrat dene karoban rubeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Ratune ratu utama&lt;br /&gt;Patihe patih linuwih&lt;br /&gt;Pra nayaka tyas raharja&lt;br /&gt;Panekare becik-becik&lt;br /&gt;Parandene tan dadi&lt;br /&gt;Paliyasing Kala Bendu&lt;br /&gt;Mandar mangkin andadra&lt;br /&gt;Rubeda angreribedi&lt;br /&gt;Beda-beda ardaning wong saknegara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Katetangi tangsisira&lt;br /&gt;Sira kang paramengkawi&lt;br /&gt;Kawileting tyas duhkita&lt;br /&gt;Kataman ing reh wirangi&lt;br /&gt;Demimg upaya sandi&lt;br /&gt;Sumaruna anerawung&lt;br /&gt;Mangimur manuhara&lt;br /&gt;Met pamrih melik pakolih&lt;br /&gt;Temah suka ing karsa tanpa wiweka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;Dasar korban pawarta&lt;br /&gt;Bebaratan ujar lamis&lt;br /&gt;Pinudya dadya pangarsa&lt;br /&gt;Wekasan malah kawuri&lt;br /&gt;Yen pinikir sayekti&lt;br /&gt;Mundhak apa aneng ngayun&lt;br /&gt;Andhedher kaluputan&lt;br /&gt;Siniraman banyu kali&lt;br /&gt;Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V&lt;br /&gt;Ujaring Panitisastra&lt;br /&gt;Awewarah asung peling&lt;br /&gt;Ing jaman keneng musibat&lt;br /&gt;Wong ambeg jatmika kontit&lt;br /&gt;Mengkono yen niteni&lt;br /&gt;Pedah apa amituhu&lt;br /&gt;Pawarta lolawara&lt;br /&gt;Mundhak angreranta ati&lt;br /&gt;Angurbaya angiket cariteng kuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI&lt;br /&gt;Keni kinarya darsana&lt;br /&gt;Panglimbang ala lan becik&lt;br /&gt;Sayekti akeh kewala&lt;br /&gt;Lelakon kang dadi tamsil&lt;br /&gt;Masalahing ngaurip&lt;br /&gt;Wahaninira tinemu&lt;br /&gt;Temahan anarima&lt;br /&gt;Mupus pepesthening takdir&lt;br /&gt;Puluh-puluh anglakoni kaelokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII&lt;br /&gt;Amenangi jaman edan&lt;br /&gt;Ewth aya ing pambudi&lt;br /&gt;Melu edan ora tahan&lt;br /&gt;Yen tan milu anglakoni&lt;br /&gt;Boya kaduman melik&lt;br /&gt;Kaliren wekasanipun&lt;br /&gt;Ndilalah kersa Allah&lt;br /&gt;Begja-begjane kang lali&lt;br /&gt;Luwih begja kang eling lawan waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII&lt;br /&gt;Semono iku bebasan&lt;br /&gt;Padu-padune kepengin&lt;br /&gt;Enggih mekoten man Doblang&lt;br /&gt;Bener ingkang angarani&lt;br /&gt;Nanging sajroning batin&lt;br /&gt;Sejatine nyamut-nyamut&lt;br /&gt;Wis tuwa arep apa&lt;br /&gt;Muhung mahas ing asepi&lt;br /&gt;Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX&lt;br /&gt;Beda lan kang wus santosa&lt;br /&gt;Kinarilan ing Hyang Widhi&lt;br /&gt;Satiba malanganeya&lt;br /&gt;Tan susah ngupaya kasil&lt;br /&gt;Saking mangunah prapti&lt;br /&gt;Pangeran paring pitulung&lt;br /&gt;Marga samaning titah&lt;br /&gt;Rupa sabarang pakolih&lt;br /&gt;Parandene maksih taberi ichtiyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X&lt;br /&gt;Sakadare linakonan&lt;br /&gt;Mung tumindah mara ati&lt;br /&gt;Angger kang dadi prakara&lt;br /&gt;Karana wirayat muni&lt;br /&gt;Ichtiyar iku yekti&lt;br /&gt;Pamilihing reh rahayu&lt;br /&gt;Sinambi budidaya&lt;br /&gt;Kanthi awas lawan eling&lt;br /&gt;Kang kaesthi antuka parmaning suksma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XI&lt;br /&gt;Ya Allah ya Rasulullah&lt;br /&gt;Kang sipat murah lan asih&lt;br /&gt;Mugi-mugi aparinga&lt;br /&gt;Pitulung ingkang martani&lt;br /&gt;Ing alam awal akhir&lt;br /&gt;Dumununging gesang ulun&lt;br /&gt;Mangkya sampun awredha&lt;br /&gt;Ing wekasan kadi pundi&lt;br /&gt;Mula mugi wontena pitulung Tuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XII&lt;br /&gt;Sagede sabar santosa&lt;br /&gt;Mati sajroning ngaurip&lt;br /&gt;Kalis ing reh aruhara&lt;br /&gt;Murka angkara sumingkir&lt;br /&gt;Tarlen meleng malat asih&lt;br /&gt;Sanityaseng tyas mematuh&lt;br /&gt;Badharing sapudhendhana&lt;br /&gt;Antuk mayar sawetawis&lt;br /&gt;BoRONG angGA saWARga meSI marTAya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronggowarsito dalam karyanya di atas mengisahkan bahwa martabat negara hancur berantakan. Aturan, hukum, dan undang-undangnya tidak diindahkan dan diinjak-injak. Contoh-contoh yang luhur tidak ada lagi. Orang-orang terpelajar terbawa arus dalam kepincangan zaman. Suasananya mencekam, sebab hidup penuh dengan kerepotan. Ibarat yang salah jadi benar, dan yang benar menjadi salah. Yang halal menjadi haram, dan yang haram memnjadi halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya kepincangan-kepincangan itu tidaklah bersumber dari pemerintahan, tetapi semuanya mengalir dari jiwa-jiwa masyarakat dan manusianya. Pemimpin pemerintahan termasuk orang yang baik. Patihnya juga cerdik. Semua anak buah hatinya baik. Pemuka-pemuka masyarakat juga baik. Tetapi semuanya itu tidak membawa kebaikan. Justru malah sebaliknya. Hal itu disebabkan oleh kutukan zaman. Bahkan keusahpayahan semakin menjadi-jadi. Lantaran perbedaan persepsi, pandangan, pikiran, serta tujuan manusiannya masing-masing. Semuanya saling membenarkan diri-sendiri. Walau sudah jelas dirinya bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah hukum menjadi barang dagangan yang tengah diobral murah. Pemerintah tak berdaya. Yang berharta jadi penguasa. Berhak menentukan jalan hidupnya. Tak peduli benar-salah dan halal-haramnya cara yang ditempuhnya. Yang penting tujuan tercapai, segalanya digilasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena semacam itu, Ronggowarsito menangis sedih. Ia merasa malu dan terhina. Realitas yang ada penuh dengan fitnah dan intrik. Segalanya seolah-olah tampak menghibur dan menggembirakan. Di depan seseorang bersifat manis dan memuji-muji, tetapi jika seseorang itu tidak ada, maka ia justru balik menikamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai macam gosip dan rumor datang tak menentu pada zaman itu. Di mana-mana selalu ada gosip, bahkan hampir diseluruh penjuru dipenuhi dengan gosip. Bukan gosip yang positif, melainkan hanya sekedar mengumbar aib. Orang-orang banyak yang berebut kedudukan. Setiap kepala ingin duduk memerintah. Oleh sebab itu, janji-janji berhamburan demi menggapai tujuan. Tapi pada akhirnya itu hanya sekedar bualan. Kata-kata yang telah diucapkan justru malah tidak diperhatikan sama sekali. Sibuk dengan perutnya sendiri. Sebenarnya, kalau benar-benar direnungkan, menjadi pemimpin itu tidak ada guna-faedahnya. Justru malah menumpuk kesalahan-kesalahan saja. Bahkan jika lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kesusahpayahan yang berujung pada bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan buku Paniti Sastra, sebenarnya sudah ada wawancang terlebih dahulu akan peristiwa ini. Saat zaman dipenuhi kesusahpayahan, kebatilan, serta musibah, orang baik akan tidak terpakai. Ia malah dikucilkan. Hendaknya hal ini menjadi catatan penting. Kata-kata yang tak bermakna dan gosip-gosip hanya akan menyiksa hati. Ini tidak patut untuk didengarkan. Lebih baik mendengar cerita masa lalu dan dongeng-dongeng. Itu dapat dijadikan teladan dan cermin diri yang baik guna membandingkan dan mempertimbangkan antara perbuatan yang baik dan buruk. Antara kebaikan dan kejahatan. Antara yang benar dan salah. Sebenarnya cukup banyak contoh dari kisah-kisah terdahulu yang mampu membuat hati penikmatnya tenang dan damai, bersikap ikhlas menerima yang berujung pada kepasrahan dan keridhaan terhadap segala takdir Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronggowarsito mengisyaratkan bahwa hidup di zaman edan ini memanglah sangat repot. Susang menentukan sikap. Ingin mengikuti arus zaman, kita tidak sampai hati, tetapi jika tidak mengikuti, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Yang kita dapat hanyalah kelaparan. Walaupun begitu, ini sudah jadi kehendak Tuhan. Di zaman ini, seuntung apapun orang yang lupadaratan, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada. Ingat kepada yang hidup dan yang mati. Ingat pada jati dirinya sendiri. Waspada terhadap kutukan tuhan yang pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat pepatah. Orang yang hidup di zaman edan ini seolah-olah tampak menolak segala realitas kepincangan yang ada, namun pada dasarnya ia berminat menerima kenyataannya. Benar kata orang, dalam hati fenomena ini memang repot juga. Dari pada memikirkan arus zaman itu, Ronggowarsito lebih baik memimikirkan hal yang lain. Lebih baik ia menginstropeksi diri. Ia menyadari bahwa usianya semakin tua. Apa pula yang hendak dicari dalam dunia yang seperti ini. Lebih baik berkhalwat agar mendapat ampunan Tuhan yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda lagi dengan mereka yang sudah kuat, yang telah menggenggam kesejatian hidup, ia pasti telah berlimpahkan rahmat tuhan. Bagaimanpun fenomena zamannya, ia selalu bernasib mujur. Tuhan selalu memberi pertolongan padanya. Ia tidak perlu bersusah payah, dengan tiba-tiba ia akan mendapatkan anugrah. Walaupun begitu, ia masih butuh ikhtiar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang seperti itu, selalu menjalani realitas hidup dan kehidupan dengan bersikap sederhana dan sewajarnya. Urep sakmadyane. Ia berjalan berdasarkan tuntunan hati yang jernih. Memberikan kebahagiaan dan tak menimbulkan permasalahan. Seperti pepatah, manusia itu wajib berikhtiar dalam memilih jalan yang benar. Bersamaan dengan hal itu, ia harus senantiasa ingat dan waspada agar mendapat rahmat Tuhan yang Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menginstropeksi diri, dengan segala kesadarannya, Ronggowarsito berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berwasilah kepada Rasulnya. Dengan kasih sayang-Nya, Ronggowarsito berharap agar mendapatkan pertolongan di saat ajal telah menjelang. Baik saat di dunia maupun saat di akhirat nanti. Ia sadar betul bahwa hidupnya tinggal sebentar lagi. Khusnul khotimah ataukah su’ul khotimakah akhir perjalanannya nanti? Yang jelas, hanya Tuhan-lah yang kuasa memberi pertolongan padanya. Semoga ia dikaruniai kesabaran dan kekuatan ketika menjalani mati dalam kehidupan (mati sajroning ngaurip). Jauh dari bencana serta terhindar dari keangkaramurkaan. Dengan segenap jiwa Ronggowarsito merenungkan, menyucikan lahir, batin, dan pikiran sembari menyongsong berakhirnya kutukan zaman. Ia pasrah menanti datangnya putusan (takdir) Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila serat itu kita tarik benang merah dengan realitas sekarang, maka akan terasa relevansi yang begitu kuat. Fenomena yang digambarkan Ronggowarsito dalam zamannya seolah muncul kembali pada saat ini. Ini diperkuat dengan isyu “kiamat” pada akhir tahun 2012. Konon diceritakan bahwa kiamat itu adalah hari kehancuran alam. Tanda-tandanya adalah rusaknya moral manusia. Bumi digoncang-gancingkan dengan guncangan (problematika hidup dan kehidupan) yang sangat dahsyat. Manusia bingung dengan sendirinya. Bagaikan makan buah simalakama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berpandangan lebih arif terhadap isyu tersebut, kita akan menemukan titik temu antara realitas sekarang dengan ujaran Ronggowarsito dan Maya Calender. Tahun 2012 berdasarkan Maya Calender merupakan titik kulminasi dari peristiwa “kiamat”. Kiamat di sini tidak sekedar kita pahami sebagai totalitas kehancuran alam semesta, melainkan bisa jadi kehancuran yang bersifat minimum. Sebab kita kenal istilah kiamat sughroh dan kiamat kubroh. Begitu juga dengan pijakan kita tentang kehancuran alam. Alam yang bagaimanakah yang hancur! Alam fisik? Alam ruhani? Alam hati? Alam pikiran? Atau bahkan alam tubuh manusia (kematian personal)? Lantas kita juga harus berpandangan pada letak titik sentrum yang paling kuat dalam kehancuran alam tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas alam ruhaniah manusia sekarang ini memang benar-benar hancur. Esensi keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam dirinya kerap tergadaikan. Manusia banyak yang lari dari Tuhan dan berganti arah-mendekat pada nafsiahnya. Hawa nahsunya yang kerap ditonjolkan. Hal itulah yang menyebabkan hancurnya alam hati dan pikiran mereka. Alam hati tak tenang, tergoncang-gancingkan, dibayang-bayangi dengan ketakutan-ketakutan akan kemelaratan di dunia sehingga ia kerap mengejar harta dan tahta. Jika telah terjadi demikian, alam pikiran akan hancur. Pikiran-pikran yang baik dan positif akan tergantikan dengan kecurangan-kecurangan dan keculasan. Sehingga dalam setiap detik, ia akan dihantui dengan pikiran dan rasa bersalah, takut terbongkar kucurangan dan keculasannya. Wal hasil, benih penyakit yang aneh-aneh pun muncul dalam diri manusia sebab terlalu besar memendam beban rasa. Dan akhirnya, tubuh dilanda sakit. Hanya mengeluh yang ia bisa. Menyesal tiada guna. Lantas meninggal dunia. Inilah kronologis “kiamat” dalam tataran kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di atas merujuk pada personal manusia. Namun jika hal itu terjadi dalam skala yang lebih besar, kita perlu melihat titik sentrumnya. Wilayah manakah yang masyarakatnya paling dominan melakukan hal tersebut. Dari sinilah konsep penghancuran umat akan berlaku. Seperti kisah kaum Nuh AS yang dihancurkan dengan banjir besar dan kaum-kaum lain sebelum kita. Dan hanya merekalah yang mau berikhtiar mendekatkan diri pada orang-orang yang benar, pada para kekasih tuhanlah yang saat itu berlimpahkan anugrah dan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan saat ini; individu, masyarakat, dan pemerintah banyak yang bertindak korup. Lahan-perlahan bencana kerap melanda. Kematian masal meraja lela, baik di darat, laut, maupun udara. Tidakkah ini merupakan sebagian kecil dari kiamat? Apakah ini kutukan Kalatida? Ataukah ini kepastian Kalender Maya? Benarkah potret “kiamat” itu akan terjadi kembali dalam realitas masyarakat kita sekarang ini? Dan memang pantas-siapkah masyarakat kita menerima kepastian seperti itu? Jawabannya hanya ada dalam diri kita masing-masing, dalam ruang waktu yang masih terasing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-9187019432875459433?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/9187019432875459433/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=9187019432875459433' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/9187019432875459433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/9187019432875459433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/01/kilas-balik-serat-kalatida-karya.html' title='KILAS BALIK SERAT KALATIDA KARYA RONGGOWARSITO'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-8641083588656071663</id><published>2010-01-28T07:31:00.002-08:00</published><updated>2011-10-08T11:46:19.215-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>SIHIR TERAKHIR; Antara Perjuangan, Perubahan, dan Kematian</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://www.sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kerap menganggap dalam realitas kehidupan ini selalu terjadi pemarjinalan terhadap kaum perempuan. Itu akar pondasinya bertumpu pada suatu kisah sejarah akan keberadaan manusia yang disimbolkan dengan keberadaan Adam dan Hawa. Berdasarkan kisah tersebut, kebanyakan orang berasumsi akan keberadaan wanita yang selalu berada dibawah bayang-bayang laki-laki. Ia sebagai kaum lemah yang berfungsi sebagai pelengkap hidup bagi kaum laki-laki.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dikaitkan dengan tindak pemarjinalan, ada beberapa persepsi tentang kedudukan wanita yang menempatkan dirinya sebagai sosok yang selalu berada di bawah bayang-bayang kaum lelaki. Persepsi yang berkembang selama ini, kedudukan wanita tersebut dapat dilihat dari beberapa fokus, yaitu (1) dilihat dari faktor biologis, menempatakan perempuan lebih interior, lembut, lemah, dan rendah. (2) dilihat dari pengalaman, sering kali wanita dipandang hanya memiliki pengalaman terbatas, masalah menstruasi, melahirkn, menyusui, dst. (3) dilihat dari wacana, biasanya wanita lebih rendah penguasaan bahasa, sedangkan laki-laki memiliki tuntutan kuat, sehingga mengakibatkan akan timbulnya stereotipe yang negatif pada diri wanita, wanita sekedar kanca wingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring kemajuan zaman dan berkembangnya intelektualitas kaum wanita, wacana seperti di atas sedikit demi sedikit mulai dikikisnya. Kaum wanita seolah-olah menunjukkan eksistensi dirinya dalam segala bidang, sehingga ia tidak dipandang sebelah mata oleh kaum lelaki. Dengan segala talenta yang dimiliki, ia memperjuangkan hak-haknya. Ia ingin memperoleh persamaan hak dengan lelaki. Ia ingin mendongkrak legitimasi yang ada yang menempatkan dirinya hanya sekedar kanca wingking bagi kaum laki-laki. Ia ingin mendapat pengakuan yang sama dengan kaum laki-laki. Pada akhirnya muncullah gerakan feminisme yang lahir awal abad 20, yang dipelopori oleh Virginia Woolf lewat tulisan-tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi kata-kata yang dituangkan dalam bentuk tekslah yang memompa semangat perubahan sosial kemasyarakatan manusia. Bahkan peradaban umat manusia. Sengguh betapa dahsyatnya kekuatan kata-kata dalam realitas ini sehingga dalam segala hal ia menjadi pemantik semangat perubahan. Sehingga pada puncaknya, yaitu abad 21, menjadi tonggak sejarah abad kebangkitan kaum wanita dengan segala amunisinya. Sebagaimana yang diramalkan John Naisibit tentang abad itu. Pada masa-masa itulah, peranserta wanita terlihat kentara di berbagai lapisan sosial kemasyarakatan. Mulai dari sektor politik, ekonomi, hukum, pendidikan, pemerintahan, media massa, seni, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sektor seni (sastra) misalnya. Ini berimbas pada perkembangan kesusastraan Indonesia. Pada saat-saat itulah mulai bermunculan para pengarang wanita di Indonesia. Di antaranya ada Sariamin, Hamidah, Maria Amin, Nursyamsu, Waluyati, Ida Nasution, S. Rukiah, Sitti Nuraini, Suwarsih Djojopuspito, NH. Dini, Titie Said, Titis Basino, Sugiarti Siswadi, Ernisiswati Hutomo, Poppy Hutagalung, Isma Sawitri Enny Sumargo, Dwi Arti Mardjono, Susy Aminah Aziz, Bipsy Soenhatjo, Toety Noerhadi, Rita Oetoro, dll. Meskipun saat ini kita jarang menemukan dan menikmati karya-karya mereka, yang jelas nama mereka tengah tercatat dalam khasanah kesusastraan Indonesia. Pada masanya, peranserta mereka ikut mewarnai perjuangan emansipasi wanita melalui jalur sastra saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, setelah Ayu Utami (lewat Saman) dan Jenar Mahesa Ayu (lewat Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu) tampil membombastis khasana kesusastraan Indonesia, muncullah gerakan emansipasi sastra dari komunitas ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra) UPI Bandung. ASAS meluncurkan antologi puisi perempuan dengan judul Sihir Terakhir sebagai amunisi gerakan emansipasi wanita dalam kesusastraan Indonesia. Antologi ini diterbitkan oleh PUstaka puJAngga tahun 2009. Sihir Terakhir dihuni 23 penyair wanita dengan muatan 72 puisi. Secara mayoritas, mereka adalah seorang mahasiswa yang tengah menempuh gelar S1 dan hanya ada 4 wanita yang bukan mahasiswa lagi. Mereka adalah Dian Hartati, Fina Sato, Seli Desmiarti, dan Tita Maria Kanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari judulnya, kehadiran antologi ini multi tafsir. Dengan hadirnya antologi ini, komunitas ASAS seolah berharap ini adalah suatu usaha yang maksimal dan pamungkas dalam tindak penyadaran akan emansipasi wanita. Setelah ini, para pembaca (khususnya kaum lelaki) akan tercerahkan dan tidak menganggap sebelah mata kaum wanita. Ia akan berkenan memberikan persamaan hak terhadap kaum wanita dalam realitas kehidupan yang ada. Lebih menghargai pendapat, pola pikir, dan pola kerja wanita. Ia tidak hanya sekadar menganggap wanita sebagai pelampiasan seksualitas saja. Tapi lebih dari itu, yaitu sebagai partner hidup yang sederajat dalam hak dan kewajiban. Oleh karena itu, sisi lain dari sasjak Sihir Terakhir karya Seli Desmiarti menegaskan agar kaum wanita selalu berdoa agar tidak lagi menggenggam masa-masa kelam yang sebelumnya tengah menimpa dirinya. “… … Berdoalah jangan // ada kelak // teryakini di punggung tanganmu, // menggenggam murung itu.” (Sihir Terakhir, hal: 80). Walaupun begitu, jika suatu persamaan hak telah terdapatkan, seorang wanita tidak serta merta menghapus kodrat kewanitaannya. Ia harus menguasai secara penuh apa yang telah menjadi kewajibannya. Paling tidak ia harus bisa memasak, mendidik anak, dan berhias diri. Ini adalah hal dasar yang menjadi ciri khas wanita. Dengan melakukan hal itu, maka sisi-sisi kewanitaan akan terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsiran berikutnya mencanang pada suatu usaha final yang dilakukan oleh komunitas ASAS dalam menyuarakan emansipasi wanita lewat sastra. Konkritnya, setalah peluncuran antologi ini, maka dikhawatirkan dari komunitas ASAS tidak ada lagi usaha dan kiat-kiat yang sama; yaitu tidak ada lagi perjuangan emansipasi wanita dalam jalur kesusastraan. Baik dari komunitas maupun para penyairnya sendiri. Para penyairnya akan mandeg berproses. Terpangan siklus waktu. Terkalahkan oleh realitas hidup rumah tangga dan keadaan finansial kewanitaannya. Tafsiran ini bertumpu pada fenomena para penghuni antologi ini yang notabenenya lebih dari 85 % adalah seorang mahasiswa. Yang sangat riskan adalah masa-masa pasca perkuliahan dan masa-masa hidup berumah tangga. Semangat bersastra dan api emansipasi wanitanya saat itu akan meredup. Bahkan padam terguyur hujan keadaan. Sehingga tidak heran, jika cukup banyak sastrawan wanita yang sedikit nenunjukkan eksistensi bersastra hingga akhir hayatnya. Kita sulit menemukan dan menikmati prodiktifitas karya-karyanya lagi. Dan ini sudah jadi wacana umum yang tidak dapat dielak lagi. Selain itu mungkin ada faktor lain yang menyebabkan para sastrawan hilang termakan zaman beserta karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya sebatas tafsiran. Benar dan tidaknya, hanya waktu yang berhak menjwabnya. Selain itu eksistensi komunitas dan personalitas sastrawan yang berperan aktif di dalamnya. Kata-kata yang telah terujar, tak mungkin kembali pada artikulatornya. Dan sesunguhnya kata-kata adalah cambuk semangat bagi mereka yang mendambakan perubahan. Maka membaralah seperti api dalam pelukan minyak tanah. Ciptakan pejuang sejati emansipasi wanita dalam khasanah sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-8641083588656071663?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/8641083588656071663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=8641083588656071663' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/8641083588656071663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/8641083588656071663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/01/sihir-terakhir-antara-perjuangan.html' title='SIHIR TERAKHIR; Antara Perjuangan, Perubahan, dan Kematian'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-6585293885679975513</id><published>2010-01-28T07:27:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:46:41.881-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>MEMBACA JARAN GOYANG, HATI PUN BERGOYANG;</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Kecil Sajak Samsudin Adlawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://www.sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, kira-kira sehabis Isya’, saya menguhubungi kawan saya. Saya bermaksud mau ngobrol-ngobrol denganya. Seketika itu saya lansung mengambil motor dan memacunya ke rumah kawanku tadi. Bukan sekedar kawan, tapi lebih dari itu. Entah apalah, yang jelas dia istimewa bagi saya. Namanya Nurel Javissyarqi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumahnya, saya langsung bertemu dengannya. Seperti biasa, saya menemukannya sedang khusyuk dengan leptopnya. Membuat esai dan berkutat dengan facebook.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ngobrol-ngobrol panjang lebar tentang face book dan sastra. Kami berbicara masalah pempublikasian karya sastra lewat facebook. Tampaknya akhir-akhir ini karya sastra ramai diperbincangkan di face book. Padahal beberapa saat yang lalu, bloog-lah yang meramaikannya. Sungguh perputaran peristiwa yang begitu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ngobrol tentang facebook, kami juga nyentil sedikit masalah memudarnya media cetak dalam kalangan sastra, khususnya puisi. Baik di surat kabar maupun perbukuan. Peredaran puisi dalam perbukuan perlu diperhatikan. Pasalnya pihak penerbit enggan menerimanya untuk dilakukan penerbitan. Alasnnya, puisi pangsa pasarnya sedikit. Konsumennya terbatas. Hawatir pihak penerbit mengalami kerugian. Ini tidak jauh berbeda dengan nasib cerpen dan novel serius. Penerbit enggan menerimannya sebab mereka mengikuti selera pasar. Dan dalam realitasnya, pasar menghendaki karya-karya picisan, tenlit, dan teklit. Hal itu menyebabkan para sastrawan harus ekstra memutar otak agar dapat mempublikasikan karya-karyanya. Hanya mereka yang memiliki kemauan kuat dan modal vinansial yang cukuplah yang pada akhirnya dapat menerbitkan karya-karyanya. Apalagi bagi sastrawan regenerasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan surat kabar. Staf redaksi kerap meng-cut karya-karya sastrawan regenerasi yang ingin berkembang. Konon ada seorang penulis yang tengah mengirimkan karya-karyanya hingga mencapai ratusan karya, namun tak kunjung dimuat juga. Entah alasannya bagaiman. Mendengar kabar burung, katanya ada ungkapan baru; kalau tak kenal, maka tak saya-terbitkan. Kalau tak semadzhab, maka tak usah dihiraukan. Kalau tidak selera, maka tak perlu saya cantumkan. Tampaknya tiga ungkapan ini yang berdasarkan kabar burung melingkupi pempublikasian karya-karya sastrawan regenerasi. Padahal jika mau jujur dan objektif, tidak sedikit karya-karya sastrawan regenerasi memiliki kekuatan dan enak dinikmati. Perlu rasanya bagi sastrawan regenerasi untuk merapatkan barisan agar namanya muncul dalam khasanah kesusastraan. Tapi kini sastrawan regenerasi bisa sedikit bernafas dengan lega. Nasib karyanya sedikit terselamatkan oleh adanya blog dan face book. Tinggal seberapa kuat mereka dapat on line di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat setelah perbincangan kami, kawan saya, Mas Nurel, begitu saya akrab memanggilnya, beranjak dari leptopnya. Ia menuju kamar bacanya. Tak lama kemudian ia balik lagi kepada saya. Ia membawakan saya dua buah buku terbitan terbaru PUstaka puJAngga. Salah satu dari dua buku itu karya Samsudin Adlawi. Seorang wartawan Jawa Pos kelahiran Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu merupakan suatu antologi tunggal dari Samsudin. Hati saya langsung terpikat ketika melihat cover buku tersebut. Cover yang mencerminkan judul antologinya. Yaitu Jaran Goyang. Dengan ilustrasi dua kuda bersayap, yang saling mengaitkat kaki depanya satu sama lain. Yang satu berwarna kuning keemasan, satu lainnya berwarna biru lembayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu membuka buku itu. Dan membaca-baca kandungan isinya. Hati saya sempat bergoyang. Apalagi saat melihat para komentatornya. Yang memberi komentar adalah para penulis dan kritikus terkenal. Bahkan di antara mereka ada yang berasal dari luar negeri. Saya sempat minder dan berkecil hati dengan mereka. Mereka tengah menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap karya Samsudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daisuke Miyoshi telah menyatakan bahwa puisi-puisi Samsudin adalah puisi yang sukses sebab maknanya telah sampai pada pembaca. Ini bukan puisi kosong dan layak dimaknai semua orang yang bertuhan. Anett Tapai mengatakan kalau dengan karya ini Samsudin layaknya Jalaluddin Rumi yang lahir di Banyuwangi. Ada lagi Ilham Zoebazary yang menegaskan bahwa puisi-puisi Samsudin segar, menaikan gairah, dan tak terkira kaya nuansa. Tengsoe Tjahjono juga menyatakan hal yang serupa, puisi-puisi Samsudin adalah puisi yang berhasil sebab tidak harus disusun dalam wacana yang rumit dan pilihan kata yang pelik, namun cukup diksi biasa yang oleh kecermatan merangkai jadilah teks yang menimbulkan gigil pada rasa, kenyang pada makna. Rida K Liamsi juga menyatakan bahwa membaca puisi-puisi Samsudin adalah membaca renungan yang dalam tentang hidup, tetapi dengan semangat yang nakal, kritis, sinis, bahkan bercanda. Samsudin berhasil menyampaikan renungannya dengan menggunakan simbol-simbol yang sangat ragam, ragam juga dalam tema sehingga sehingga dalam pesona kata, diksi, sehingga puisi-puisinya selain enak untuk direnungkan di dalam kesendirian, juga enak untuk dibaca dengan ekspresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya komentar-komentar semacam itu, antologi puisi ini tampak begitu hebatnya. Dahsyat. Sebab para komentatornya adalah orang-orang hebat dan orang-orang besar. Memang saya akui, saya juga menangkap hal yang sama seperti mereka ketika melakukan proses pembacaan antologi ini. Diksinya sederhana, tidak pelik, kritis, nakal, simbolnya beragam, temanya juga beragam. Tapi ada sedikit pesona sajak yang mengganggu pikiran saya. Saya dalam penyelaman, seolah-olah diajak kembali pada nuansa klasik persajakan. Ada beberapa puisi yang mengingatkan saya pada gaya angkatan Balaipustaka. Suasan seperti itu tampak terlihat dari sajak Air, Dansa Akar, Gua, Rokok, Rubaiyat Cinta, Sel Imut, dan Teman Sejati. Entah ini suatu kemunduran atau sebatas rotasi selera estetika persajakan. Gaya lama terhapus gaya yang baru, gaya baru kembali pada gaya yang lama. Seperti siang dan malam, berotasi seiring perjalanan zaman. Seperti manusia, kadang susah, kadang bahagia, kembali susah, dan bahagia lagi. Sesekali kaya, sesekali jatuh miskin, dan bangkit lagi. Ah namun ini hanya sisi kecil dari keragaman saja-sajak Samsudin saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi Samsudin sangat variatif. Bisa dibilang yang diusung Samsudin dalam puisinya adalah kompleksitas masalah hidup dan kehidup. Hal itu tampaknya terpengaruh dari mobilitas Samsudin sendiri, yaitu sebagai seorang wartawan. Bisa jadi ia diilhami oleh peristiwa-peristiwa yang tengah digelutinya saban hari. Ia kerap bersinggungan dengan masyarakat yang lebih komplek dengan problematika hidup. Sehingga tema yang diangkat dalam puisinya turut beragam pula. Namun dalam pengungkapannya, sajak-sajak Samsudin terasa hambar dan kurang permenungan. Benar atau tidak, subjektivitas pembaca sendirilah yang merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membaca judul antologi ini, Jaran Goyang, memori saya kembali dibawa pada khasanah kejawen. Saya teringat akan mantra pengasihan orang Jawa. Konon dikisahkan, jika seseorang ingin menggaet hati lawan jenisnya, bagi orang Jawa bias merapal mantra pengasihan Jaran Goyang yang ditujukan langsung kepada orang yang dikehendaki. Usut punya usut, orang tersebut pun akan jatuh hati. Gandrung. Dan kesengsem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya citra mantra pengasihan itu melingkupi hadirnya antologi Samsudin ini. Samsudin bermaksud ingin menggaet hati setiap orang yang melihat dan membaca antologi puisinya. Dan itu terbukti dengan adanya komentar-komentar dari tokoh-tokoh kesusastraan di atas. Mereka pada gandrung dengan puisi-puisi Samsudin. Mungkin mereka juga tidak punya azimat penangkal Jaran Goyang Samsudin. Tapi entah dengan pembaca yang lain, punya azimat penangkal atau tidak. Yang jelas Jaran Goyangnya Samsudin begitu membius. Entah dari sisi apanya, pembacalah yang bakal menemukan daya usik di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena judul antologi ini dimantabkan dengan judul puisi yang berjudul Jaran Goyang. Dalam puisi tersebut diejawantahkan praktik ritual pengasihan jaran goyang. Dikisahkan bahwa ritual ini dilakukan pada waktu tengah malam. Orang yang melakukannya dalam kondisi telanjang bulat. Tanpa sehelai benang pun. Ini bukan berarti semata-mata telanjang fisik, melainkan juga mengarah pada kepolosan dan keikhlasan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini upacara malam // upacaranya badan tanpa sehelai benang // seperti malam yang senantiasa telanjang (Jaran Goyang, hal:45, bait 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana yang dimunculkan pada upacara ini harus benar-benar dalam kondisi sunyi. Sepi. Senyap. Tanpa ada suatu suara pun yang mengusiknya. Suasana seperti itu tidak hanya tercipta dari lingkungan sekitar saja, melainkan kesunyian yang membawa pada kekhusukan batin pelakunya juga harus tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini upacara sunyi // berjalan tanpa bunyi // berkata tanpa bunyi // menembus tembok sepi (Jaran Goyang, hal:45, bait 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara ini adalah upacara yang bersifat pribadi. Jadi ritualnya harus dilakukan seorang diri. Yang muncul dalam upacara ini hanyalah hasrat dan kehendak batin pelakunya yang tertuju kepada hati orang yang dituju. Menebarkan mahabah atas nama cinta pada perjalanan hidup anak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini upacara angin // tarik nafas hembus ingin (Jaran Goyang, hal:45, bait 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual ini berusaha keras untuk mempengaruhi pikiran seseorang. Membutakan cara pandangnya sehingga yang terpikirkan dan tertuju hanyalah si dia. Orang yang terkena pengasihan jaran goyang biasanya akan bersifat lupa dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Bahkan lupa pada dirinya sendiri. Ia hanya gandrung dan kepikiran pada orang yang memantrainya. Hatinya akan menjadi luluh. Yang diingat hanya si dia. Bayang-bayang wajah si dia akan melingkupi seluruh jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan mantra kucuci otaknya // dengan mantra kutusuk matanya // dengan mantra kuganti hatinya (Jaran Goyang, hal:45, bait 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tengah terpikat dengan mantra jaran goyang, tanpa sadar dalam batinnya tumbuh benih-benih cinta. Suasana kasmaran akan membias tanpa batas. Sebagaimana Davis menyatakan fenomena orang yang kasmaran. Orang kasmaran selalu beranggapan bahwa; “semua harapan di kepala hanya tahu namamu, lembaran putih hatiku mengenalmu, jerit tubuhku agar utuh, tangis itu milikmu, darahku mencucurkan namamu, mengalir, deras, namamu, namamu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang dalam suatu malam telah merapal mantra pengasihan, dalam sajak Samsudin dikisahkan bahwa keesokan harinya orang yang jadi sasaran mantra akan gelap mata. Yang terpikir hanyalah orang yang merapal mantra saja. Hati dan pikirannya gelap. Ia terhipnotis. Seolah-olah yang ada dalam batinnya hanyalah nama si dia. Pesonanya meruang dalam kepribadiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari menjelang // menggendong sekeranjang // otak mata dan hati yang // di dalamnya aku meruang (Jaran Goyang, hal:45, bait 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran puisi yang berjudul Jaran Goyang begitu jelas memberi isyarah bahwa daya magis yang terpancar dari mantra jaran goyang dapat menjadikan batiniah seseorang luluh-lantak. Hati seseorang dapat dengan seketika menjadi gandrung dan benih-benih cinta pun semakin bermekaran di sana. Semoga dengan adanya penyematan judul antologi ini, yaitu Jaran Goyang, seluruh hati orang yang memandang dan membacanya jadi turut bergoyang. Layaknya anting-anting, gontai dan bergelayutan, jika tak tergenggam kedalamannya. Laksana sang kembara gurun yang haus kejernihan air telaga maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-6585293885679975513?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/6585293885679975513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=6585293885679975513' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/6585293885679975513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/6585293885679975513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2010/01/membaca-jaran-goyang-hati-pun-bergoyang.html' title='MEMBACA JARAN GOYANG, HATI PUN BERGOYANG;'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-8624081499966270901</id><published>2009-08-15T20:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:46:51.200-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pringadi AS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>ALUSI; Asap, Waktu, dan Kupu-Kupu</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar peluru menembus kulitku&lt;br /&gt;Aku tetap meradang menerjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku akan lebih tidak peduli&lt;br /&gt;Aku mau hidup seribu tahun lagi&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan Chairil Anwar itu terasa lantang disuarakan kembali dalam dewasa ini. Kata-kata itu seolah menjiwai setiap pribadi anak bangsa. Sungguh betapa dahsyat aura perjuangan yang tecermin di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal itu melingkupi segala sektor kehidupan yang ada di bangsa ini. Tengok saja dari sektor ekonomi; anak bangsa kita saling berlomba memperjuangkan nasibnya demi suatu pekerjaan dan kesejahteraan hidup yang mapan. Sektor sosial kemasyarakatan lagi gencar-gencarnya menggalang kerukunan antarkelompok masyarakat. Dari sektor pendidikan, generasi muda kita tengah berjuang untuk meraih masa depannya. Mencoba berusaha mendiami lembaga pendidikan yang sesuai dengan cita-citanya. Dan masih banyak lagi perjuangan-perjuangan yang digencarkan anak bangsa kita demi terciptanya suatu keharmonisan hidup yang sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi jika dihubungkan dengan aksi teror bom belakangan ini. Pasalnya, pelaku aksi bom bunuh diri kali ini adalah seorang remaja yang berusia belasan tahun. Jangankan peluru, bom saja tengah diterjangnya. Alih-alih ia pasti berdalih berjuang demi menegakkan kebenaran. Tentunya kebenaran yang berdasar pada sudut pandang pribadi dan kelompoknya. Dari kacamatanya, mereka yang melakukan aksi itu pasti melihat banyaknya ketimpangan-ketimpangan sosial atau praktik-praktik tertentu yang dirasa kurang cocok dengan kepribadian dan ideologi meraka. Dan entah, kebenaran mana dan bagaimana yang dalam realitas fisikal ini dapat dikatakan kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang muncul hanya bersifat relatif. Yang benar dan menang hanyalah yang mayoritas. Sebab segelintir kebenaran yang hadir di tengah-tengah kesungsangan akan menjadikannya berada dalam posisi yang salah dan terlihat konyol. Dan hanya butuh keajaiban saja, kebenaran itu dapat diakui realitas yang ada. Itu tampak dari tayangan film yang ada di negara kita. Kebanyakan akhir-akhir ini tayangan televisi menayangkan film-film yang berbau magic (keajaiban). Hampir seluruh film populer jebolan Indonesia berbau seperti itu. Ini sebenarnya citra kita dan bangsa kita sendiri yang menjadi pembeda dengan bangsa lain, khususnya bangsa Barat. Lihat saja, setiap film yang diproduksi bangsa Barat, mayoritas yang ditonjolkan adalah heroik logistik. Jadi, dapat diasumsikan bahwa kehidupan mereka membutuhkan pejuang kebenaran yang sesuai dengan kebenaran logika. Selama tindakan yang dilakukan itu dapat diterima akal dan berdalih kuat, maka dengan sendirinya masyarakat akan mengakui bahwa itu benar. Dan ini tidak harus menunggu keajaiban datang layaknya realitas di negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya semua usaha yang mereka lakukan di atas itu tidak lain hanyalah agar hidupnya bermanfaat dan berkenang bagi orang lain. Bahkan akan melampaui usianya. Namanya tetap hidup walaupun jasad telah tiada. Tujuan itulah yang menjadi tonggak eksistensialisme perjuangan mereka. “Mereka ingin hidup seribu tahun lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kalah menariknya dengan aksi teror bom beberapa saat yang lalu. Tepatnya pada bulan Juni 2009 kemarin, dunia kesusastraan juga terjangkit serangan bom. Tapi amunisinya bukan mesiu atau yang lain, melainkan karya. Pelakunya adalah Pringadi AS. Pemuda kelahiran Palembang 18 Agustus 1988. Pringadi membombastis dunia kesusastraan dengan meluncurkan antoligi puisi tunggalnya yang berjudul Alusi, yang diterbitkan oleh PUstaka puJAngga 2009. Semangat perjuangan untuk memberi kenangan manis pada kehidupan sesemangat hari kelahiranya, di mana tanggal tersebut adalah masih berbau momen sejarah semangat perjuangan kemerdekaan negara kita. Ia ingin menjadi Chairil muda yang bisa hidup seribu tahun lagi dengan kehadiran karyanya. Semangat perjuangan yang bersifat positif seperti Pringadi inilah yang kiranya patut ditanamkan jauh lebih dalam pada jiwa-jiwa anak bangsa kita. Bukan doktrin-doktrin perjuangan negatiflah yang semestinya ditanamkan. Dan inilah jalur perjuangan hidup yang tampaknya tengah ditempuh oleh Pringadi untuk mengubah tatanan baru kepribadian manusia serta bangsa. Esensial makna sajak yang digurat Pringadi diharapkan mampu menjadi mercusuar bagi seseorang dalam setiap langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tampaknya pilihan yang tepat bagi Pringadi untuk berjuang dan menorehkan kenangan manis hidupnya. Dalam ilmu sastra ada istilah majas atau bahasa kiasan. Fungsinya cukup variatif. Dan yang paling menonjol adalah memberikan suasana yang indah bagi jiwa seseorang, meski menggigit hati. Istilahnya memukul dengan perasaan, sehingga orang yang terpukul tidak merasakan sakit, namun justru mampu membuat perubahan yang berarti dalam hidup dan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi judul antologi yang digurat, tujuan Pringadi sudah terlihat jelas. Alusi secara leksikal bermakna sindiran halus. Dengan ini ia ingin berusaha membuat perubahan dalam pribadi seseorang secara halus tanpa menyakiti perasaannya. Setiap orang yang membaca karya ini diharapkan akan tergugah hatinya dan berkenan membuat perubahan dalam hidup dan kehidupannya tanpa sakit hati, meski sedang tersindir oleh kata-kata dan maknanya. Itulah tujuan Pringadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensial makna sajak yang dibangun Pringadi cukup baik. Ia membangun jiwa manusia ke arah yang lebih positif, baik dari sisi eksistensialisme, religius, sosial, maupun politik. Hanya saja secara struktural, bangun sajak yang diguratnya terasa lemah. Mungkin ini faktor dari usia kepenyairannya. Ia baru mengawali karir kepenyairannya tahun 2007, sebelumnya ia adalah cerpenis. Ada beberapa hal yang patut dijadikan sebagai pusat perhatian dalam sajak-sajak Pringadi. Hal itu di antaranya adalah masalah enjambemen, penulisan huruf kapital, diksi, style, karakter, dan konjungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enjambemen dalam pengguratan sebuah sajak sangatlah penting. Sebab dengan penyematan enjambemen, seorang penyair akan mampu menciptakan konstruksi makna yang baru atau ambiguitas makna dalam karyanya. Pringadi dalam menggurat sajaknya masih kurang memperhatikan adanya enjambemen sehingga tafsiran sajaknya terasa datar dan kentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan huruf kapital dalam sebuah karya puisi Indonesia lama biasanya dilakukan dalam setiap kata pertama dalam setiap baris sajak. Itu merupakan ciri khasnya. Perkembangan puisi Indonesia baru, penulisan huruf kapital tersebut mengalami sedikit perubahan. Dalam sajak-sajak puisi Indonesia baru kebanyakan huruf kapital hanya disematkan pada awal kata dalam setiap bait serta hanya disematkan pada penulisan kata yang merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan nilai ketuhanan. Dalam puisi Indonesia kontemporer, penulisan huruf kapital sudah jarang ditemukan dalam karya-karya penyair. Kebanyakan mereka menuliskannya dengan huruf kecil semua kecuali judul puisinya. Untuk membiaskan makna dan penafsiran, mereka juga menanggalkan penulisan huruf kapital pada hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan. Alasan lain meniadakan penulisan huruf kapital adalah agar tidak mengganggu fokus dan konsentrasi pembaca saat melakukan proses penikmatan karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Pringadi sangat variatif. Dalam sajaknya, ia menggunakan gaya puisi Indonesia lama, baru, serta kontemporer. Namun kadang kala dalam penulisan sajaknya sebagian kata ada yang ditulis dengan huruf kapital semua. Ia tampaknya kurang memperhitungkan efek penulisan tersebut. Padahal dengan tindakan itu, suasana pikiran pembaca akan terusik sehingga mampu memecah konsentrasi penikmatan karya. Andaikan penulisan tersebut dilakukan pada kata-kata yang berkekuatan, ini bisa jadi berfungsi sebagai penajaman makna. Namun ini beda, Pringadi melakukannya pada kata-kata biasa yang tidak memiliki daya magis tertentu. Dan inilah yang saya kira mengganggu dalam kadar mengganggu yang bersifat negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi diksi, sajak-sajak Pringadi kurang menunjukkan kepadatan. Ia kerap melakukan pemborosan kata. Hadirnya konstruksi konjungsi juga menjadikan sajak-sajak Pringadi terasa encer. Sajaknya juga kerap terlihat menggurui pembaca. Ia seolah-olah menganggap bahwa pembaca adalah orang yang tidak mengerti akan esensial makna sajaknya. Hal itu terlihat dari penyematan dan penegasan kata-kata yang ditandai dengan tanda kurung dalam sajaknya. Tindakan ini justru malah melemahkan dan mengencerkan eksistensi sajak yang telah diguratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter cerpenis masih begitu mendominasi puisi-puisi Pringadi. Hal itu menyebabkan style bahasa yang dipergunakan dalam setiap puisi Pringadi terlihat dan terasa seperti style cerpen. Namun ini dapat dimaklumi sebab basik dasar Pringadi adalah seorang cerpenis. Ini terbukti dari prestasi yang tengah dirainya, yaitu sebagai juara lomba 1 Cerpen Hoki Literary Award 2008, juara harapan lomba menulis cerpen 2008 di kolomkita.com. Selanjutnya perhatikan sajak-sajak Pringadi berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPRINTER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BARU saja dipecahkan rekor lari seratus&lt;br /&gt;meter atas namannya sendiri yang dibuatnya&lt;br /&gt;tahun lalu (dalam debutnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari eSDe, sehingga eSeMA, dia selalu&lt;br /&gt;menjadi yang tercepat, pernah sampai&lt;br /&gt;empat koma dua dalam empatpuluh yard&lt;br /&gt;(dunia kecepatan cahaya yang sulit&lt;br /&gt;dan langkah ditempuh manusia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BESAR kepalanya akhirnya dengan medali&lt;br /&gt;emas digantung di leher yang semakin&lt;br /&gt;jenjang dan panjang dengan nama yang&lt;br /&gt;semakin sering dicetak di media mana-mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia tak lagi shalat dan bayar zakat, dia&lt;br /&gt;lupa ceramah masa kecil tentang akhirat&lt;br /&gt;dan pertimbangan segala manfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang paling baik adalah orang yang&lt;br /&gt;paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIPIKIRNYA dia sudah bermanfaat bagi negara,&lt;br /&gt;Berarti seluruh rakyat yang duaratus juta jiwa itu&lt;br /&gt;Harus berterimakasih kepadanya karena telah dia&lt;br /&gt;Membuat negara bangga dan berjaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOH jikapun dia masuk neraka, dia bisa lari&lt;br /&gt;kapan saja sebab tak ada yang lebih cepat&lt;br /&gt;darinya – dari kakinya yang sudah sudah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Alusi, hal 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMILU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak usah pilih kaus mana yang hendak kupakai&lt;br /&gt;di masa kampanye damai. mana saja kuterima&lt;br /&gt;apalagi jika disertai berlembar rupiah entah itu&lt;br /&gt;bitu atau merah atau hijau pun bolehlah. asal&lt;br /&gt;tak kurang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau ajak aku konvoi ke senayan pun tak masalah&lt;br /&gt;asal tak lupa kau gantikan bensin yang biasa habis&lt;br /&gt;untuk narik ojek sampai petang sebab tlah dipecat&lt;br /&gt;aku dari kerjaku akibat krisis ekonomi kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tak usah kau paksa aku jadi tim sukses yang&lt;br /&gt;mempromosikan dirimu sebagai caleg, entah itu&lt;br /&gt;apa kepanjangannya: calon budeg kah? ah tak&lt;br /&gt;masalah asal rupiah kau titipkan di kupiahku&lt;br /&gt;yang sudah kumal dan bulukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi untuk hak pilih tak bisa kaupaksa. atau terima&lt;br /&gt;apa saja tapi hak pilih adalah privasi seperti hak&lt;br /&gt;opsi yang kautawarkan dalam perjanjian. asasi&lt;br /&gt;yang dilindungi peraturan dan undang-undang&lt;br /&gt;bisa kutuntut di mahkamah jika kau paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Alusi, hal 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjun Bebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini areal bebas terjun kan? kita&lt;br /&gt;tak perlu takut pada ketinggian&lt;br /&gt;yang sering membuat kita gemetar&lt;br /&gt;menyebut “akbar, akbar” padahal&lt;br /&gt;sebelumnya TAK PERNAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANYA dulu, berapa meter kita dari&lt;br /&gt;permukaan laut? berapa cadangan&lt;br /&gt;oksigen yang mampu mengembungkan&lt;br /&gt;parasut yang dua dan dijamin akan&lt;br /&gt;mampu membuka dalam keadaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apapun itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kompensasi surga tak cukup meski&lt;br /&gt;segala dosa tak digubris, lesat&lt;br /&gt;saja seperti kereta tak tua di&lt;br /&gt;gerbang pertimbangan kelak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK. TIDAK. kami ingin terjun&lt;br /&gt;-terjunan saja, dari atas atap&lt;br /&gt;rumah kami yang bocor, dari ayunan&lt;br /&gt;tua kami yang ringkuh tak mau&lt;br /&gt;dibohongi waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pun KAU!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Alusi, hal 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi panjang Pringadi di atas terasa begitu lemah berdasarkan kriteria yang telah saya ungkapkan sebelumnya. Justru bagi saya, puisi-puisi Pringadi yang berhasil adalah puisi-puisi pendeknya. Pringadi dengan puisi pendeknya mampu menawarkan kealaman makna yang begitu wah kepada pembaca. Pembaca seolah diberi keleluasaan dalam menafsirkan serta mengambil kandungan makna yang ada di dalamya. Namun yang begitu menarik bagi pribadi saya pada Pringadi adalah semangat bekaryanya. Ini yang tidak dimiliki dari kebanyakan orang. Pringadi begitu subur dan eksis dalam menggurat puisi sehingga dengan waktu yang terbilang relatif singkat ini, ia mampu menyuguhkan antologi puisi tunggalnya di hadapan kita semua. Sejenak marilah kita perhatikan sajak-sajak pendek Pringadi berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau seolah paham: tak ada gerbang&lt;br /&gt;di halaman ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serumpun babmbu di sudut pertama,&lt;br /&gt;ayunan dari besi tua, dan sebuah kolam yang&lt;br /&gt;tak sempat kau beri nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau cari jejak-jejak itu, sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Alusi, hal 75)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Le Mois&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada secangkir kopi,&lt;br /&gt;tertinggal jejak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulan malam tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Alusi, hal 76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potongan Wajah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bibir bulan kutemukan&lt;br /&gt;Sepotong wajahmu yang sempat&lt;br /&gt;Kau lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Alusi, hal 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkacamata pada beberapa puisi di atas, saya kira Pringadi butuh pengenalan karakter puisi yang diguratnya, sehingga ia mampu menentukan bentuk puisi yang bagaimana yang pas baginya. Dan ia pun pada akhirnya akan mampu menggalang kekuatan eksistensialisnya melalui kekuatan sajak-sajaknya. Hal itu tampaknya tengah terlukis dalam cover antologi puisinya ini; Alusi. Antologi ini bercover lonceng yang dikaitkan dengan kupu-kupu. Ini mengisyarahkan bahwa untuk menemukan keindahan sajak yang sesungguhnya, Pringadi masih butuh proses metamorfosa lebih jauh lagi. Ia masih butuh waktu pengenalan karakter pribadinya dan mengenal lebih jauh lagi tentang puisi. Selain itu, ilustrasi covernya yang lain adalah seolah-olah ada kepulan asap yang memerah. Ini menunjukkan bahwa Pringadi butuh semangat yang lebih gigih dan bergairah lagi dalam proses kreatifnya. Ia butuh kedekatan emosional dengan penyair-penyair yang lebih tua usia kepenyairannya untuk memberi dorongan psikologi serta motivasi fisik kepadanya. Selanjutnya, selamat berproses. Selamat bekarya. Dan jika ingin hidup anda menjadi cerita yang luar biasa, mulailah dengan menyadari bahwa anda adalah penulisnya dan setiap hari anda punya peluang untuk menulis satu halaman baru darinya (Mark Houlahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2009/08/alusi-asap-waktu-dan-kupu-kupu/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2009/08/alusi-asap-waktu-dan-kupu-kupu/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-8624081499966270901?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/8624081499966270901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=8624081499966270901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/8624081499966270901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/8624081499966270901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2009/08/alusi-asap-waktu-dan-kupu-kupu.html' title='ALUSI; Asap, Waktu, dan Kupu-Kupu'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-4175117153558402968</id><published>2009-07-03T00:15:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:47:01.718-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suryanto Sastroatmodjo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>PERSEMBAHAN KEABADIAN</title><content type='html'>Judul Buku : Sahibul Hikayat al Hayat&lt;br /&gt;Pengarang : KRT. Suryanto Sastroatmodjo&lt;br /&gt;Pengantar : Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;Jenis Buku : Kumpulan Prosa&lt;br /&gt;Penerbit : PUstaka puJAngga&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxiv + 144 hlm; 14 x 20 cm&lt;br /&gt;Peresensi : Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seberapa jauh perjalanan hidup manusia? Seberapa lama ia hidup untuk sesamanya? Seberapa kuat ia dikenang oleh generasinya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang mesti direnungkan jauh lebih dalam bagi setiap orang. Fenomena yang terjadi dalam psikologi manusia, hanya dalam beberapa kurun waktu jenjang keturunan, ia masih diingat oleh generasi selanjunya. Yang jelas, seorang anak pasti masih mengingat dan mengenal orang tuanya. Ia juga pasti masih mengenal dan mengingat kakek-neneknya. Lebih jauh lagi, ia mungkin masih mengingat buyutnya. Namun yang terakhir ini intensitasnya cukup rendah. Dalam bahasa Jawa, seseorang pasti sangat sulit mengenal maupun mengingat cangga, wareng, udeg-udeg, siwur atau jenjang keturunan ke bawah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di atas menggambarkan bahwa betapa sulitnya perjalanan hidup seorang manusia untuk bisa tetap hidup dan abadi dalam jiwa-hati sesamanya. Ia dalam suatu masa pasti lekang terhapus oleh waktu. Dari sisi keturunun saja hanya dalam jangka waktu yang relatif singkat, apalagi dari sisi manusia secara keseluruhan. Hal itu secara mendasar bertumpu pada kenangan hidup yang ditorehkan. Tentunya kenangan itu memiliki arti yang begitu dalam bagi sesamanya. Adakalanya hal tersebut diabadikan melalui cerita-cerita heroik dan menyentuh secara turun-temurun maupun dari lisan ke lisan. Adakalanya juga melalui barang peninggalan yang diangap sebagai barang berharga maupun pusaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kisah, barang berhara, maupun pusaka merupakan suatu media dalam membangkitkan kembali kenangan-kenangan yang sempat terukir oleh pribadi seseorang. Hal itu sebagai bentuk perjalanan sejarah hidup seorang manusia. Dapat dikatakan, jika seseorang banyak meninggalkan sesuatu yang berharga, benda pusaka, maupun kisah-kisah yang heroik dan menyentuh kepada sesamanya, dialah yang kelak namanya bakal abadi dan rekat di jiwa-hati sesamanya. Dengan satu catatan, generasi berikutnya berkenan merumat sesuatu tersebut dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahibul Hikayat al Hayat, merupakan cerminan diri dari seorang KRT Suryanto Sastroatmodjo. Karya ini disusun sebagai bentuk pengabadian namanya dalam jiwa-hati sesamanya. Karya ini sarat akan makna yang mampu memberikan arti hidup bagi pembacanya. Selain itu, karya ini merupakan suatu rangkaian perjalanan hidup yang sempat tersapa oleh KRT Suryanto Sastroatmodjo (Mas Sur) bersama sahabat-sahabatnya. Hal itulah yang kemudian mengendap dalam batin lantas menjadi kristal-kristal kenangan yang begitu menyentuh dan patut untuk dituangkan sebagai bentuk sejarah kecil-kecilan bahkan jika tuhan berkenan, ini mampu menjadi sejarah universal. Kenagan-kenangan itu akan melampaui zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada nan taklebur dikubur umur&lt;br /&gt;Ada nan takgugur disapur uzur&lt;br /&gt;Ada nan terngiang selarut zaman&lt;br /&gt;Sedayung Kasih di arus kenangan (Sahibul Hikayat al Hayat: xv)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan tersebut pada dasarnya tertuang untuk sahabat Mas Sur, yaitu Lorenzo. Namun ini patut untuk kita renungkan secara bersama akan kedalamannya. Beliau mengisyarahkan bahwa yang akan mengabadi dan menjadi kenangan dalam kehidupan ini adalah Kasih. Konotasi maknanya cukup luas. Kasih dapat merujuk pada budi baik, kekasih, maupun tuhan. Ketiga hal inilah yang menjadi poros kenangan yang abadi dalam jiwa-hati kemanusian. Kalau kita tidak bisa menjadi idola atau kekasih kebanyakan orang, maka seyogyanya kita menorehkan budi baik kepadanya. Karena dengan melakukan hal tersebut, secara lambat-laun dalam jiwa-hati seseorang pastilah tumbuh sepercik cahaya kasih yang pada akhirnya menjadikannya kekasih yang akan dikenang terus dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai usaha pengabadian nama dalam jiwa-hati sesama, selain untuk mengenang sahabat-sahabatnya, karya ini tergurat sebagai budi baik seorang Mas Sur. Sebab di dalam karya ini menyimpan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang patut diteladani bagi kita semua. Ini merupakan suatu persembahan besar oleh seorang Mas Sur menjelang akhir hayatnya yang kelak diharapkan mampu menjadikan namanya tetap abadi di jiwa-hati kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini sungguh luar biasa intensitas kedalamannya. Meskipun demikian, kadang-kadang pembaca secara umum akan sedikit disibukkan dengan ungkapan bahasa yang mampu mengganggu proses penyelaman isinya. Hal itu disebabkan oleh adanya penyematan bahasa Jawa di dalamnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, konstruksi bahasa Jawa yang disematkan adalah dari jenis kromo inggil yang notabenenya hanya dapat dipahami oleh mereka yang benar-benar dekat dan akarab dengan bahasa tersebut. Namun itu tidak mendominasi karya ini. Ungkapan tersebut kadarnya relatif kecil. Dan adanya penyematan ungkapan tersebut terbilang sangat wajar, sebab Mas Sur adalah seorang pujangga keraton Yogyakarta yang secara penuh bergulat dalam kesusastraan Jawa. Jadi tidak mustahil, unsur-unsur Jawa mewarnai dalam setiap karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahibul Hikayat al Hayat ini merupakan karya yang disusun melalui pundi-pundi kasih sayang. Di dalamnya mengisyarahkan suatu proses memanusiakan manusia. Sanjungan, penghargaan, maupun pernghormatan terhadap eksistensi manusia begitu kental terlukis di dalamnya. Seorang manusia benar-benar ditempatkan pada kemuliaannya. Ia diposisikan pada derajat yang sesumgguhnya; sebagai makhluk yang mulia. Tutur bahasa yang diungkapkannya begitu sejuk dan damai. Mengalir bagaikan ricik hening sungai Nil. Memberi pencerahan dan kehidupan batin bagi mereka yang berada di sisinya. Sungguh, karya ini tidak layak untuk disisihkan. Karya ini tidak patut untuk ditinggalkan. Terutama bagi jiwa-jiwa yang merindu kedamaian. Inilah pusaka yang mampu merombak peradaban batin pembacanya. Menjadi saksi, sejarah perjalanan anak manusia. Selanjutnya, selamat membaca. Semoga berolehkan guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2009/07/persembahan-keabadian/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2009/07/persembahan-keabadian/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-4175117153558402968?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/4175117153558402968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=4175117153558402968' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4175117153558402968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4175117153558402968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2009/07/persembahan-keabadian.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;PERSEMBAHAN KEABADIAN&lt;/span&gt;'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-4381283403410397176</id><published>2009-03-02T22:21:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:47:16.372-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><title type='text'>Puisi-Puisi Imamuddin SA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI BATAS KABUT MUARA LOKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada kersik batin&lt;br /&gt;membangun kesadaran lain&lt;br /&gt;menerawang mata&lt;br /&gt;sejenak menata lelangkah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, masa telah menua&lt;br /&gt;seiring jiwa-jiwa lara&lt;br /&gt;menghadap kesejatian raga&lt;br /&gt;di batas kabut muara loka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;aku yang masih malu menatapmu&lt;br /&gt;mencoba berbisik&lt;br /&gt;di hening laut&lt;br /&gt;akan tawar air dalam garam bertaut&lt;br /&gt;membenturkan ketakutan ombak&lt;br /&gt;menguji kesetiaan jejak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kendalkemlagi, Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENGINTIP LOKA GAIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah kesungsangan jiwa&lt;br /&gt;menjelma melodi nyanyian nyawa&lt;br /&gt;mengeringkan embun rindu&lt;br /&gt;pada lambaian daun-daun kalbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;engkau yang setia mengeja aksara&lt;br /&gt;sejenak membatulah&lt;br /&gt;meneteskan sejuk air dari langit-langit goa&lt;br /&gt;menggenggam kedalaman laku samudra&lt;br /&gt;mengintip loka gaib semesta&lt;br /&gt;di batas permainan maya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, bangunlah dinding-dinding imanmu&lt;br /&gt;pecahkan kaca kesombonganmu&lt;br /&gt;sebab muaramu masih seribu waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kendalkemlagi, September 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENABUH GAMELAN KESEJATIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayup terhempas&lt;br /&gt;jiwaku&lt;br /&gt;menengadahkan angkuh&lt;br /&gt;membujuk hati dalam keikhlasan lati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang menarik&lt;br /&gt;sebuah persinggahan diri&lt;br /&gt;di kedalaman&lt;br /&gt;-nang&lt;br /&gt;-ning&lt;br /&gt;-nong&lt;br /&gt;-gong&lt;br /&gt;kala panjak kemanusiaan&lt;br /&gt;menabuh gamelan kesejatian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melenggang tangan kanan&lt;br /&gt;menangkap selendang kalam&lt;br /&gt;menghempas sampur kesungsangan&lt;br /&gt;lewat kiri lambaian lengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang mengawasi;&lt;br /&gt;mata-mata kaki menyisir sisi-sisi sendiri&lt;br /&gt;berdiri dengan satu jari&lt;br /&gt;menapak jejak pada ruas jalan yang bernilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kendalkemlagi, 26 September 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-4381283403410397176?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/4381283403410397176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=4381283403410397176' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4381283403410397176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/4381283403410397176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2009/03/puisi-puisi-imamuddin-sa.html' title='Puisi-Puisi Imamuddin SA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-3754486605913439425</id><published>2009-02-23T21:52:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:47:35.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>KUMPULAN PUISI INDONESIA, PORTOGAL, DAN MALAYSIA</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar jika sebuah karya ditentukan oleh zaman. Siapa yang suntuk dengan karya, dialah yang kelak tercatat dalam buku besar kesusastraan dan melegenda. Dan penyair besar itu tidaklah sebuah proses yang dadakan layaknya undian tabanas. Atau sekadar audisi.&lt;span class="fullpost"&gt; Tapi mereka yang benar-benar menyuntuki karyalah yang kelak bakal menemukan nama besarnya. Mereka senantiasa berproses untuk mencapai kekentalan tertentu dalam karya. Membubuhkan puitika dalam ruang kosong yang masih tersedia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya kira mereka juga pasti tidak sekedar iseng menggurat karya. Apalagi hanya merajut kata dalam keindahan akustik. Mereka pasti menggali kedalaman makna dalam simbol-simbol yang tengah disematkan. Mereka sadar betul kalau sebuah karya itu diharapkan mampu memberikan pencerahan bagi tiap pembacanya. Setiap pembaca setelah menikmati karya akan berkesan dan bahkan mampu mengubah sikapnya. Itulah hakekat sastra yang bersifat mendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab-sebab itulah yang pada muaranya akan menjadikan seorang penyair diakui mobilitas karyanya dalam khasanah kesusastraan nasional bahkan internasional. Karyanya mendunia dan dijadikan rujukan elemen masyarakat. Namun bukan sebatas itu, mungkin usaha tersebut sudah cukup untuk mendapat pengakuan secara nasional. Akan tetapi belum tentu mendapat pengakuan di mata dunia. Ada satu usaha yang harus ditempuh seorang penyair. Yaitu penerjemahan ke dalam bahasa internasioal atau bahasa asing (disesuaikan dengan daerah yang bakal dijadikan objek penyebaran karya). Dan karya-karya itu disebarkan pula ke negara-negara lain. Dengan tindakan semacam itu, saya kira sebuah karya akan banyak dikenal dalam khalayak internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang marilah menengok mobilitas sastra di negeri kita ini, Indonesia, berapa banyak karya-karya penyair besarnya yang tengah diterjemahkan, cukup minim bukan! Barangkali faktor inilah yang menjadi kendala kurang dikenalnya karya pribumi di mancanegara. Karya-karya dari sastrawan Indonesia kurang mendapat perhatian dari masyarakat mancanegara. Jangankan diperhatikan, dikenal saja tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang cukup menarik, seandainya sudah ada bentuk penerjemahan karya ke dalam bahasa internasional, yang patut dipertanyakan masalah mutu penerjemahannya sendiri. Jangan-jangan dengan penerjemahan itu, mutu karya menjadi menurun. Namun sangat beruntung jika terjadi peningkatan mutu karya dengan adanya pen-translit-an tersebut. Ini mampu mengangkat kredebilitas penyair dan negara asal penyair di mata dunia. Jadi, harus benar-benar selektif dalam memilih pe-translit. Jangan asal comot. Yang penting ada orang yang mau me-translit, karya langsung diberikan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu tindakan yang sangat fantastis dalam dewasa ini. Ini kabar yang cukup menggembirakan. Sebagian kelompok ada yang tengah berkenan menyuarakan kesusastraan Indonesia di kanca internasional. Mereka membuat strategi, bagaimana agar kesusastraan Indonesia eksis di luar negeri. Strategi itu ditempuh melalui pembuatan antologi puisi tiga negara. Indonesia, Portugal, dan Malaysia. Antologi ini diterbitkan PT. Gramedia dengan tebal 424 halaman. Judulnya Kumpulan Puisi Indonesia, Portugal, Malaysia: Antologi de Poeticas. Dengan 118 puisi di dalamnya. Isinya dikemas dalam bentuk bahasa portugis yang dilengkapi dengan terjemahan bahasa Indonesia. Dengan demikian, paling tidak kesusastraan (puisi) Indonesia akan dikenal masyarakat Malaysia dan masyarakat Portugal (sebab pe-translit-annya dalam bahasa Portugis). Minimal para penyair kedua negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi ini cukup banyak diisi karya-karya penyair ternama dari ketiga negara tersebut. Dari Portugal misalnya. Ada Dom Dinis, Joao Garcia de Guilhade, Sa de Miranda, Bernardim Ribeiro, Luis Vaz de Camoes, Almeida Gerret, Manuel Maria Barbosa du Bocage, Antero de Quental, Cesario Verde, Camillo Pessanha, Antonio Nobre, Florbela Espanca, Fernando Pessoa, Ricardo Reis, Alberto Caerio, Alvaro de Campos, Mario de Sa-Carneiro, Almada Negreiros, Jose Regio, Miguel Torga, Jorge de Sena, Sophia de Mello Breyner Andresen, Carlos de Oliveira, Eugenio de Andrade, Alexandre O’neill, Sebastiao da Gama, David Mourao-Ferreira, Antonio Ramos Rosa, Raul de Carvalho, Herberto Helder, Luiza Neto Jorge, Ruy Belo, Natalia Correia, Nuno Judice, Joaquim Manuel Magalhaes, Alberto, Manuel Gusmao, Ana Luisa Amaral, Fiama Hasse Pais Brandao, Jose Tolentino Mendonca, dan Jose Luis Peixoto. Dari Indonesia ada Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Muhammad Yamin, Roestam Effendi, Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Asrul Sani, Subagio Sastrowardoyo, Ramadhan KH, Toto Sudarto Bachtiar, Toeti Heraty Noerhadi, Taufiq Ismail, Rendra, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Ibrahim Sattah, D. Zawawi Imron, Abdul Hadi WM, Ahmadun Yosi Herfanda, Suminto A. Sayuti, Afrizal Malna, Isbedy Stiawan, Fakhrunnas MA Jabbar, Acep Zamzam Noor, Zeffry J. Alkatiri, Joko Pinurbo, Agus R. Sarjono, Soni Farid Maulana, Taufik Ikram Jamil, Dorothea Rosa Herliany, Radhar Panca Dahana, Warih Wisatsana, Gus TF Sakai, D. Kemalawati, Ulfatin C. H, Fika W. Eda, Jamal T. Suryanata, Cecep Syamsul Hari, Jamal D. Rahman, Aslan A. Abidin, Asrizal Nur, Moh. Wan Anwar, Taufik Wijaya, Amien Wangsitalaja, Rieke Diah Pitaloka, Sutardji Calzoum Bahchri, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fatin Hamama. Dari Malaysia ada A. Samad Said, Usman Awang, Firdaus Abdullah, Kemala, Baha Zein, Muhammad Haji Saleh, Latiff Mohidin, Abdul Ghafar Ibrahim, Siti Zainon, Moechtar Awang, Lim Swee Tin, Kassim Ahmad, Zaen Kasturi, Marsli, Hasyuda Abadi, dan Rahmidin Azhari. Nama-nama penyair yang tengah termaktub dalam antologi ini memiliki kontribusi yang tinggi dalam dunia kesusastraan di negaranya masing-masing. Karya ini memuat penyair yang bereksistensi pada abad tigabelasan Masehi hingga kiprah penyair dewasa ini. Sungguh, hadirnya buku ini benar-benar fantastis bagi masyarakat pecinta sastra dan umumnya bagi elemen masyarakat yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dari sosok penyair yang diturutsertakan dalam antologi ini, sudah barang tentu buku ini sangat bermutu tinggi. Kary-karya yang ada pasti mengandung nilai-nilai yang patut untuk diteladani. Ambil saja karya Dom Dinis penyair asal Portugal. Dalam sajak yang berjudul Ai Flores, Ai Flores do Verde Pino (Wahai Bunga, Bunga Pinus Hijau) ada nilai kesetiaan yang begitu tinggi. Si aku dalam sajak ini selalu mencari-cari keberadaan kekasih dan kawannya yang tengah berpisah dengannya. Si aku ingin merajut kebersamaan kembali. Meski ia tengah banyak dihianati dan didustai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau kabar kawanku,&lt;br /&gt;ia yang mendustai janjinya padaku!&lt;br /&gt;Oh Tuhan, di manakah gerangan dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau kabar kekasihku,&lt;br /&gt;ia yang mendustai sumpahnya padaku&lt;br /&gt;Oh Tuhan, di manakah gerangan dia? (hal: 5, bait 3 dan 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah gambaran hidup yang semestinya. Ketika seseorang pernah didustai sesamanya, ia sesegera mungkin menghapus kedongkolan hatinya. Entah itu dilakukan oleh seorang kekasih ataupun seorang kawan. Sebab tak ada seorang pun yang tak luka tatkala penghianatan melingkupi pribadinya. Yang benar, bagaimana usaha dalam menyurutkannya. Akhirnya menghapusnya. Mengharapkan kebersamaan selalu menjadi payung dalam menyisir perjalanan hidup. Menganggap kedustaan tak pernah ada. Itulah cinta dan persahabatan yang sejati. Dan kelak bakal abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda lagi dengan Joao Ruize de Castelo Branco. Peraih Nobel tahun 1998 ini dalam sajaknya Cantiga, Partindo-Se (Syair, Pergi Sendiri) memberikan penekanan pada aspek penyelaman diri terhadap orang lain. Ia seolah menyaran akan betapa pentingnya sorot mata dalam melukiskan batiniah seorang manusia. Melalui mata, seseorang mampu menangkap gambaran dan suasana batin seseorang yang berkecamuk. Mata, jendela bagi jiwa. Duka-derita, kesediha-kepiluan, kemarahan-kedengkian, sepi-rindu, kebahagiaan-ketenangan memiliki media khusus sebagai bentuk ekspresinya. Dialah mata. Cukup dengan meneropong pancaran sinarnya, seseorang mampu membongkar gejolak batin sesamanya. Namun ini menuntut kejelian tertentu dari kita agar benar-benar mendapatkan kevalidan ekspresinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata ini lebih baik mati, // dari pada hidup seratus ribu kali. // Mata sedih ini beranjak penuh kesedihan, // Jauh dari sebuah harapan yang indah, // Anda tak pernah menatap mata // Yang lebih sedih dari siapapun. (Hal: 11, bait 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair tampaknya menggunakan majas sinekdoke pars prototo. Ia memakai kata sebagian untuk keseluruhan. Kata mata mewakili keadaan jiwa dan raga seorang penyair secara keseluruhan. Ia saat itu benar-benar dalam keadaan yang kalut dalam sedih. Ia sedih dan rindu sebab terjadi perpisahan dengan kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penyair memiliki gaya dan ciri khas masing-masing. Itu tidak lepas dari kedekatan psikologi serta kultur sosial masyarakat yang berkembang saat itu. Zaman pulalah yang juga turut berperanserta dalam membentuk karakter karya seorang penyair. Karena ada hubungan sebab akibat antara seorang manusia dengan lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tengok sajak Hamzah Fansuri, Rubayat. Di dalamnya terlukis kental bahwa antara lingkungan sekitar dengan seseorang itu terjadi hubungan sebab-akibat yang kuat. Dalam sajak tersebut menyaran pada keberadaan Hamzah saat ada di Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Konon dalam legitimasi masyarakat, orang yang pergi haji merupakan orang yang tengah pergi ke rumah Tuhan. Berarti ia pergi untuk menghadap Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menghadap, diindikasikan pasti terjadi pertemuan. Tapi tidak semua penghadapan diri itu terjadi pertemuan. Adakalanya orang yang menghadap itu harus pulang dengan tangan hampa. Hamzah Fansuri ternyata dalam ibadah hajinya, ia tidak menemukan keberadaan Tuhannya di sana. Dari kota asalnya, Barus ke tanah suci Makkah ia hanya menemukan kehampaan akan keberadaan Tuhan. Ibadah yang dilakukannya hanya sebatas syariaat semata. Itu adalah pintu gerbang untuk menggapai hakikat dan kesejatian. Segala yang ada di tanah suci tersebut hanyalah berorientasikan pada simbol-simbol religius yang mesti digali maknannya. Atas beningnya hati dan niat yang tumbuh dalam dirinya, Hamzah akhirnya menemukan jawaban akan keberadaan Tuhan yang hakiki. Ternyata Tuhan ada dalam rumahnya (dirinya) sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah Fansuri di dalam Makkah&lt;br /&gt;Mencari Tuhan di Baitil Ka’bah&lt;br /&gt;Dari Barus ke Kudus terlalu payah&lt;br /&gt;Akhirnya dijumpa di dalam rumah (bait 1, hal:165).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi semacam itu didasari akan sebuah hadits yang artinya barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Tuhan itu lebih dekat dari pada urat leher manusia sendiri. Itulah dasar-dasar yang kiranya melandasi pernyataan Hamzah bahwa Tuhan ada dalam dirinya. Sebab raga manusia merupakan rumah bagi batinnya. Jika seseorang telah mengenal Tuhan, sudah barang tentu ia akan mudah menjalin pertemuanatau orang dekat. Sebagai amsal, ketika seseorang telah akrab kenal dengan pimpinan perkantoran, ia sebenarnya telah memiliki modal untuk mengatur pertemuan. Bisa sedikit leluasa keluar masuk perkantoran itu. Ibarat ia telah memiliki orang dalam. Namun jangan sekali-kali disamakan antara pertemuan manusia-Tuhan dengan manusia-manusia. Harus ada hijab yang menjadi pemilahnya. Apabila sebuah pertemuan telah berlansung, diindikasikan akan tercipta suatu dialog. Memadukan sesama kehendak. Baru kemudian terbentuklah Kun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar seseorang dekat dengan Tuhannya, istilahnya dikasihi Tuhan, itu berbeda jauh dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia. Kalau kepada sesama manusia, orang yang ingin mendekatinya harus memiliki modal yang lebih. Boleh dibilang, kalau ingin dekat dengan pengacara, minimal harus bermodalkan uang yang cukup lumayn banyak. Kalau ingin didekati gadis atau perjaka, minimal bermodalkan ketampanan. Atau bahkan uang juga. Tapi berbeda dengan pendekatn diri kepada Tuhan. Seorang manusia yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan atau ingin dicintai Tuhan, ia tidak dituntut untuk mengeluarkan modal yang lebih. Bahkan tidak sama sekali. Ia cukup bermodalkan kepolosan, keikhlasan, dan keridlaan terhadap segala yang telah diperkenankan Tuhan kepadanya. Cukup itu, tidak perlu membawa apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah miskin orang uryani&lt;br /&gt;Seperti Ismail menjadi qurbani&lt;br /&gt;Bukannya Ajami lagi Arabi &lt;br /&gt;Senantiasa wasil dengan Yang Baqi (bait 2, hal:165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah saat itu benar-benar pasrah, polos, ikhlas, dan  ridla terhadap ketentuan yang telah Tuhan berikan kepadanya. Ia mencitrakan dirinya sama seperti keridlaan Ismail AS saat Ibrahim AS hendak mengurbankannya. Dengan jalan itulah ia kemudian merasa dekat dengan Tuhan. Dekat dengan kekekalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Rubayat ini, merupakan cermin keadaan pribadi seorang Hamzah Fansuri dalam tahap pengenalan jati dirinya. Ia berusaha mengekspresikan secara total gemuruh batin yang begitu memekat. Ia memberikan tuntunan-tuntunan yang luhur bagi kita semua, terutama diri pribadinya yang dalam pencarian kesejatian. Bahkan dalam bait terakhir puisi tersebut merupakan pernyataan yang tegas akan status dirinya dalam kehidupan ini. Ia menegaskan bahwa setelah kesanggupan diri untuk ridla, menjauhkan diri dari kezaliman, serta mengenal sifat-sifat Tuhan yang ada dalam dirinya, maka ia pun menjadi pemimpin kedua dalam alam ini setelah Tuhan Yang Esa. Ia memiliki kewenangan untuk mengatur segala hiruk-pikuk yang berkecamuk dalam alam kebendaan ini. Khalifah fil ardli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah Fansuri terlalu karam&lt;br /&gt;Di dalam laut yang maha dalam&lt;br /&gt;Berhenti angin ombak pun padam&lt;br /&gt;Menjelma sultan kedua alam (bait 8, hal:166)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana religiusitas juga diciptakan oleh Raja Ali Haji dalam sajaknya Gurindam Dua Belas. Kereligiusitasannya kental. Bahkan nilai-nilai sosial juga kuat. Apalagi semuanya disandarkan pada pribadi kita. Ia memberikan tuntunan dalam hubungan vertikal manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal manusia dengan sesamnya. Ini berorientasi terhadap sikap dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang berorientasi pada tindak pengenalan jati diri, zakat, kejujuran, bertutur kata, dermawan, perilaku, ilmu, kesabaran, pengendalian diri, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesona religius tampak kentara dalam ungkapan berikut; barang siapa mengenal Allah // suruh dan tegahnya tiada ia menyalah // barang siapa mengenal diri // maka telah mengenal akan tuhan yang bahari // barang siapa meninggalkan zakat // tiada hartanya beroleh berkat (bait 1-3, hal 169). Pernyataan ini memberikat isyarat bahwa tindak atau usaha pengenalan diri terhadap Tuhan merupakan hal yang tak dapat dipersalahkan. Dan proses pengenalan itu dicapai lebih awal dari tindak pengenalan diri sendiri. Pengenalan itu tidak hanya sebatas bertumpu pada sifat dan karakter pribadi kita, melainkan berorientasi pada hakekat kita ada di dunia ini. Tujuan kita hidup di alam ini juga harus kita kenali. Ini gerbang utama sebelum masuk pada pengenalan terhadap asma dan sifat Tuhan yang telah tersemat dalam diri kita dan menyamudra di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan tersebut juga dapat mencakup pada karunia Tuhan yang tengah diberikan kepada kita. Baik berupa kesehatan dan kesempurnaan jasad serta kepribadian, maupun harta benda kita. Tindakan ini dapat diaplikasikan dalam bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Rasa syukur itu tidak sekedar diucapkan dengan ungkapan alhamdulillah saja, melainkan dalam perilaku keseharian. Semisal; kita dikaruniai lisan, cara penyukurannya semestinya dengan bertutur kata yang baik serta tidak dipergunakan untuk mengumpat orang lain. Lisan dapat lebih terjaga dan tak menggelincirkan kita dalam fitnah. Ini dapat masuk dalam kriteria zakatal fil lisani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apabila terpelihara lidah // niscaya dapat daripadanya faedah (bait 4, hal 170)&lt;br /&gt;mengumpat dan memuji hendaklah pikir // disitulah banyak orang yang tergelincir (bait 6, hal 170)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari sisi harta, kita harus menafkahkannya dengan baik dan benar. Memberikan sebagian haknya untuk fakir-miskin. Bersedekah dan zakat. Sikap ini berkonotasi pada tindak untuk menghilangkan sifat bakhil dalam diri kita. Sebab dengan sifat bakhil, rasa toleransi dan solidaritas dengan sesama akan sirnah. Dan mampu mengarahkan kita pada sikap kikir. Melupakan diri dari hakekat harta yang telah dimiliki. Bakhil laksana perompak yang mesti dilawan dengan pedang kemurahan hati. Hal itu dilakukan agar semua karunia Tuhan yang tengah diperuntukkan bagi kita berolehkan berkah yang melimpah-ruah. Menjadikan hidup kita lebih bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barang siapa meninggalkan zakat // tiada hartanya beroleh berkat (bait 3, hal 169)&lt;br /&gt;bakhil jangan diberi singgah // itulah perompak yang sangat gagah (bait 8, hal 170)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tengok kembali pada puisi Firdaus Abdullah yang berjudul Dilema. Penyair asal Malaysia ini menyuarakan tentang kerukunan antas sesama. Toleransi dan persatuan. Terutama bangsa dan negara. Ia tidak menghendaki adanya peperangan. Baginya peperangan itu sebuah kerugian yang sangat besar. Tak ada sebuah kemenangan dalam peperangan. Kemenangan hanya bersifat fatamorgana. Sebab dalam peperangan ada yang mesti dipertaruhkan. Sama-sama mengalami kerugian, baik yang kalah atau yang menang. Yang kalah jadi abu. Yang menang jadi arang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara harapan // yang tak mungkin // dan kemungkinan yang diabaikan // setimbun sesal yang pahit // dan serentetan nostalgia yang manis // berperang // dalam satu pertempuran // di mana kemenangan mutlak mustahil bertapak // karena // kalau tidak hancur jadi abu // maka terpangganglah jadi arang (hal 320).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh fenomena sajak yang benar-benar dilematis. Pernyataan yang dianggap sebagai tindak memakan buah simalakama. Itulah realitas dalam berperang. Harapan yang indah dan besar memiliki relatifitas kemungkinan yang cukup kecil. Dan bahkan kemungkinan tersebut kerap terabaikan. Pada akhirnya sebuah perang akan menghasilkan penyesalan yang begitu pahit dan keindahan hanya menjadi kenangan yang terus membayang dalam jiwa-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut fenomena kehidupan bernegara juga diungkap oleh Marsli N.O. Ia menggambarkan bagaimana jalannya pemerintahan. Penyair asal Malaysia ini dengan sajaknya yang berjudul Tanpa Kepala melukiskan kepincangan yang terjadi dalam realitas sebuah pemerintahan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kepala mereka berjalan // Tanpa kepala // Mereka khasanahkan segala indra // Hidungnya dipinggul // Matanya di dada // Telinganya di pusar // Mulutnya di perut // dan otaknya di lutut // Tanpa kepala mereka berjalan // Tanpa kepala mereka berbicara // Tanpa kepala mereka berfikir // Untuk sebuah wilayah // Bernama negara (hal 354).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi tersebut, begitu jelas terlihat kesungsangan dalam praktik pemerintahan negara. Ini juga dapat merujuk pada tidak adanya wewenang oleh seorang pemimpin negara dalam menjalankan roda pemerintahannya. Keputusan dan peraturan serta undang-undang yang tengah dirumuskan tak diindahkan dan diabaikan. Dianggap sebagai sampah rongsokan. Sistem pemerintahan tidak berjalan dengan semestinya. Hal itu tidak sejalur dengan rel yang ada. Dapat dikatakan anggota parlemen berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan kehendak pribadinya. Padahal di dalamnya masih ada pemimpin yang berkompeten memberikan kebijakan-kebijakan tertentu. Sistem pemerintahan jadi serba terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-3754486605913439425?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/3754486605913439425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=3754486605913439425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3754486605913439425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3754486605913439425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2009/02/kumpulan-puisi-indonesia-portogal-dan.html' title='KUMPULAN PUISI INDONESIA, PORTOGAL, DAN MALAYSIA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-1160749985827199982</id><published>2009-02-21T02:25:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:47:57.564-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>MISTERI TAWA ALA MILAN KUNDERA</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang terjadi dalam kehidupan, sebuah ritmik dinamis yang terbentuk lewat gerak manusianya. Darinya, segala sesuatu itu mengada. Peristiwa-peristiwa serta benda-benda yang bersifat baru yang merupakan komplemen itu hadir akibat dari pola eksistensi mausia. Misalkan saja keberadaan barang-barang elektronik. Barang-barang semacam itu pada mulanya bulum ada di lingkungan ini. Itu termasuk barang baru yang difungsikan untuk mengefisienkan pribadi manusia sendiri dalam melengkapi kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;Dulu, sebelum ada telekomunikasi, manusia masih kerap memperdayakan burung untuk memberikan kabar ke suatu tempat. Ada lagi dengan memasukkan secarik kertas ke dalam botol, lalu dilemparkan ke laut. Namun keberadaan kabar yang disampaikan lewat tindakan semacam itu memiliki nilai kecil untuk sampai pada orang lain yang dimaksud. Adakalanya kabar itu dibawa langsung oleh seorang utusan. Dan ini membutuhkan rentang waktu yang relatif lama. Baru kemudian setelah alar relekomunikasi (telepon) ada, hanya dalam hitungan detik, seseorang dapat memberi kabar kepada sesamanya yang notabenenya berada  di tempat yang jauh dan berlainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses terbentuknya barang baru tersebut masuk dalam sebuah peristiwa. Jika sebuah peristiwa berkonotasi pada tindakan yang besar, itu dapat dikategorikan sebagai sejarah peradaban manusia. Lebih jauh dari itu, terjadinya peristiwa-perisriwa kecil dan sederhana dalam realitas ini juga pengaruh dari gerak manusia. Semisal adanya ramah-tamah, tolong-menolong, pencurian, pemerkosaan dan lain-lain termasuk sebagian dari eksistensi manusia. Bahkan peristiwa perang pun akibat dari ulah tangan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu terjadi akibat pola pikir seorang manusia yang mendapat sugesti dari kehendak hatinya. Baru kemudian terciptalah gerak utuk membentuk sesuatu yang baru. Membentuk suatu perubahan yang ada dalam lingkungan sekitarnya. Entah itu perubahan yang bersifat universal maupun sebatas sederhana. Dan semuanya itu, juga tidak terlepas dari eksistensi tuhan yang tengah memberikan keleluasaan kepada manusia untuk mengatur dan mengolah segala yang ada dalam realitas kebendaan ini. Manusialah pemimpinya. Pemimpin bagi dirinya. Pemimpin untuk lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran serta manusia dalam realitas kebendaan ini sangatlah dominan. Namun kemutlakkannya masih berada di tangan tuhan. Eksistensi tuhan di sini kebanyakan hanya meng-amini apa yang telah menjadi kehendak manusia. Hanya dalam momen-momen tertentu, tuhan menunjukkan kebesarannya, bahwa Ia lebih kuasa ketimbang manusia. Itu dilakukan hanya untuk menunjukkan bahwa kekuasan manusia itu masih berada dalam naungan kekuasaan tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keleluasaan itu diberikan untuk pendayagunaan akal manusia sendiri. Bagimana eksistensi akal di sini dipertanyakan dengan serius. Dengan kemampuan akal yang ada, manusia diharapkan memberikan suatu kevariatifan serta kedinamisan dalam lingkungannya. Namun hal itu masih dengan satu catatan, jangan sampai membuat kerusakan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan akal dalam realitas ini sangat berperan aktif. Sebab eksistensi manusia di sini ditunjukkan dengan eksistensi akalnya. Descartes juga sempat menekankan akan pentingnya akal dalam realitas ini. Dengan pernyataan; ketika aku berfikir maka aku ada, ia sebenarnya telah membongkar keberadaan manusia yang sebenar-benarnya dalam lingkungan ini. Dengan pengolahan dan penggerakan akal, maka realitas lingkungan akan turut bergerak pula. Mobilitas akan terjadi secara dinamis. Itulah yang kemudian dapat dirujukkan pada ungkapan Milan Kundera; saat manusia berfikir, Tuhan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tertawa saat melihat manusia berfikir sebenarnya masih menimbulkan pertanyaan. Saya kira tawa tuhan di sini masih menjadi misteri. Apakah tawa itu menunjukkan suatu kebanggaan terhadap manusia, ataukah justru malah sebaliknya. Tawa itu sebagian dari penghinaan oleh tuhan terhadap misi kemanusiaan. Pernyataan Kundera dapat mengena pada kedua premis ini. Ini tinggal tumpuan berfikir manusia ditujukan ke arah yang bagaimana. Jika orientasi berfikir seorang manusia itu ke arah yang positif, maka tuhan akan bangga dengan sikap terebut. Namun jika pola pikirnya tertuju pada sesuatu yang bersifat negatif dan buruk, maka tuhan pun akan menertawakannya. Tuhan merendahkan kredebilitas manusia sebagai makhluk yang sempurna dengan keberadaan akal padanya. Misalkan peristiwa perang. Sudah jelas, tuhan membenci perpecahan, pertumpahan darah, dan kerususakan, tapi mengapa perang masih saja tetap terjadi. Semua itu tidak lepas dari kepentingan personal yang dipicu gelar, nama besar, maupun kedudukan.. Sehingga pola pikir pun terserang virus keserakahan dan eksistensinya terkendali oleh nafsu. Akal tak sanggup memfilter, menimbang dan menilai dengan baik. Akal lemah. Saat itulah tuhan menertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak hanya merujuk pada peristiwa universal seperti peperangan saja. Suatu tindak penilaian yang buruk dan negatif terhadap segala ungkapan, pernyataan, maupun tindakan orang lain itu juga sanggup merendahkan kredebilitas manusia di hadapan tuhan. Tuhan akan menertawakannya. Termasuk yang hanya bersifat prasangka buruk juga. Segala yang ada dan terjadi sebagai suatu rangkaian peristiwa negatif itu seyogyanya tidak dipandang dengan nilai yang buruk. Realitas semacam itu semestinya  kita pandang sebagai suatu kemutlakan untuk becermin terhadap diri sendiri. Mengambil kebaikannya dan menjadikan kenegatifannya sebagai wacana serta pengalaman yang berharga. Biar tuhan bangga dengan pola pikir kita. Tuhan bangga dengan keberadaan kita dalam mengemban amanahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kundera juga memberi pandangan akan kebajikan utama yang kudu dikembangbiakkan oleh manusia. Hal itu meliputi; toleransi, humor, dan imajinasi. Toleransi berkaitan erat dengan tindakan penghormatan terhadap individu lain. Selain itu gotong royong dan tolong-menolong juga tergolong dalam tindak toleransi. Fokusnya untuk menjalin harmonisasi antarindividu. Jika ini telah tercipta, maka rasa aman, kepercayaan, serta kesejahteraan akan menjadi buahnya dalam lingkungan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah humor tidak hanya semata-mata sebuah lelucon yang mampu membuat seseorang tertawa terpingkal-pingkal. Ini dapat dibiaskan pada persoalan usaha memberi kebahagiaan serta menciptakan suasana yang menyenangkan kepada individu lain. Sedangkan imajinasi berkonotasi pada tindak berfikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Manusia dituntut untuk berkreasi. Tentunya kreasi itu bukanlah sesuatu yang bernilai negatif. Kreasi yang tidak sekedar menguntungkan diri sendiri namun merugikan orang bayak. Ini bertalian dengan pernyataan bahwa saat manusia berfikir, Tuhan tertawa. Dan ketiga rumusan kebajikan itu bersifat menunjang-mengisi satu sama lain. Yang semestinya diaplikasikan secara bersama-sama, bukan sebagian saja. Kita tidak bisa meninggalkan salah satu di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Pebruari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-1160749985827199982?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/1160749985827199982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=1160749985827199982' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1160749985827199982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1160749985827199982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2009/02/misteri-tawa-ala-milan-kundera.html' title='MISTERI TAWA ALA MILAN KUNDERA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-8718950091374539472</id><published>2009-01-01T01:07:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:48:10.073-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>MENTARI KECIL DI BONEO Sisi Lain Film Denias; Senandung Di atas Awan</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias; seorang anak kecil yang sangat luar biasa. Ia memiliki tekad yang kuat dalam menggapai impian dan cita-citanya. Laksana menerjang badai, ia mencoba mengubah masa depannya. Selain itu juga ingin mengubah image masyarakatnya yang sangat tabu dengan pendidikan formal. Maklum, ia hidup dalam kultur masyarakat suku Boneo yang terdapat di pedalaman Irian Jaya, khususnya daerah Papua.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada dasarnya keberadaan suku Boneo cukup banyak. Mereka hidup di berbagai daerah. Ada yang di Amerika, Brunai, Malaisia, Kalimantan, serta Papua. Mereka pasti memiliki kultur kebudayaan yang berbeda-beda pula. Sebab pengaruh lingkungan dan letak geografisnya. Meski keberadaan mereka berbeda-beda, tapi masih memiliki kesamaan, yaitu bagian dari suku Dayak yang hidup di daerah pedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bercocok tanam, dan memelihara babi sebagai ternak utama, kadang kala mereka berburu dan memetik hasil dari hutan. Pola pemukimannya tetap secara berkelompok, dengan penampilan yang ramah. Adat istiadatnya dijalankan secara ketat dengan "Pesta Babi" sebagai simbolnya. Ketat dalam memegang dan menepati janji. Pembalasan dendam merupakan suatu tindakan heroisme dalam mencari keseimbangan sosial melalui "Perang Suku" yang dapat diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Sifat curiga tehadap orang asing ada tetapi tidak begitu ekstrim (Internet, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku ini memiliki kepercayaan terhadap kekuatan alam. Ia beranggapan bahwa gunung memiliki kekuatan jahat. Gunung merupakan pusat kekuatan alam yang jahat. Hal itu terlihat ketika ada satu bentuk keburukan, pasti gunung akan memangsanya. Gunung akan marah dan melenyapkan orang yang berbuat zalim tersebut. Sebagaimana yang dinyatakan Ibu Denias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gunung akan memakan orang yang nakal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu adalah inti dari kata-kata yang diujarkan Ibu Denias kepada Denias. Ini merupakan sebuah nasehat dari seorang ibu kepada anaknya. Ibu Denias tidak ingin anaknya berbuat nakal dan zalim. Sebab dengan kezaliman yang dilakukan, akan membawa malapetaka tersendiri kepada anaknya. Ia tidak ingin gunung murka kepada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu nasehat yang berorientasi pada pendidikan keluarga lagi. Nasehat itu berupa motivasi dan anjuran agar seorang anak menjadi pandai dan semangat dalam belajar serta menuntut ilmu. Ini juga masih merujuk pada image kepada gunung. Ibu Denias mengatakan bahwa gunung yang jahat akan takut dengan orang yang pandai. Gunung tidak akan berani memakan seseorang jika ia pandai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika rajin belajar, pintar sekolah, gunung akan takut kau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan keluarga sangatlah penting. Ini adalah pendidikan utama sebab semua orang itu berangkat belajar dari lingkungan keluarga baru kemudian ke lembaga sekolah. Jadi sebaiknya semua orang tua selalu getol dalam mendidik anaknya. Menanamkan nilai-nilai baik kepada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan gunung adalah kekuatan jahat merupakan sebuah keyakinan yang timbul dalam kultur masyarakat suku Boneo di Papua. Keyakinan adalah keyakinan. Dan itu merupakan hak personal bagi tiap orang. Ini tidak boleh diubah selama orang tersebut tidak sendiri yang mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias dalam keluarganya juga diajarkan untuk bersikap berani. Ia harus berikap jantan dan lantang dalam menghadapi segala sesuatu yang ada. Namun keberanian itu harus diiringi dengan kebenaran. Jika dalam posisi benar, seseorang tidak boleh takut akan suatu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau benar tidak perlu takut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu tradisi yang diterapkan dalam masyarakat suku Boneo tersebut. Ini sebagian dari adat istiadat mereka. Mereka menerapkan sebuah tradisi potong jari pada salah seorang yang anggota keluarganya ada yang meninggal dunia. Bagi realitas sosial pada umumnya, hal ini terlihat konyol. Tapi bagi mereka adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan. Mereka beranggapan bahwa memotong satu jari adalah sebuah simbol dari sakit dan pedihnya seseorang yang kehilangan sebagian anggota keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari adalah simbol kerukunan, kebersatuan, dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Satu sama lain saling melengkapi sebagai suatu harmonisasi hidup dan kehidupan. Jika salah satunya hilang, maka hilanglah sudah satu komponen kebersamaan itu. Hanya luka dan darah yang tersisa. Pedih-perih yang meliput suasana. Dan luka hati orang yang ditinggal mati anggota keluarganya itu baru sembuh jika luka di jari itu sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Denias, Bapak kehilangan punya jari Denias. Sakit rasanya ditinggal pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain upacara potong jari, ada lagi tradisi yang diterapkan dalam upacara berkabung. Tradisi tersebut adalah mandi lumpur. Mandi lumpur ini dilakukan oleh kelompok atau anggota keluarga. Dalam film ini tidak ditayangkan bagaimana proses pemakaman. Entah dibakar atau dikubur? Kalu ditinjau dari segi upacara mandi lumpur, ini bisa jadi proses pemakamannya dikubur. Sebab mandi lumpur konotasi maknanya adalah bahwa orang yang meninggal dunia itu telah kembali ke alam. Ia berasal dari tanah dan kembali ke tanah pula. Hal ini senada dengan konsep Al-Quran yang artinya; “Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah liat” (QS. Al-Mu’minun:12). Itulah anggapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias pada dasarnya hidup dalam kultur masyarakat yang terbelakang. Keterbelakangannya bukan disebabkan oleh cacat mental. Kebanyakan mereka tidak mengenyam pendidikan formal. Pada dasarnya mereka memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, namun kurangnya pengasahan intelektual, mereka minim pengetahuan. Selain itu juga dipengaruhi oleh letak geografis daerahnya. Mereka berada di hutan dan di pegunungan. Jadi informasi yang bersifat global sulit diterimanya. Lagipula mereka masih kokoh dengan tradisi lama yang mereka yakini. Yakni percaya dengan mistik, mengutamakan bekerja, dan mengabaikan pendidikan formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu kau sekolah. Tugas anak laki-laki adalah membantu bapaknya di rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu diujarkan oleh Bapak Denias dengan nada emosional saat Denias bersekolah. Memang benar, dalam bekerjapun terdapat unsur pendidikan sebab dengan bekerja ada satu proses berfikir yang membawa pada kedewasaan seorang individu. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Daradjad (2002:51) bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan pendidik untuk membimbing seseorang yang dididik dalam mencapai tingkat kedewasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari pada itu, masih terdapat kriteria lain tentang pendidikan. Jika Denias hanya diporsir dengan bekerja, maka dia akan sama seperti masyarakat kampungnya yang lain. Pola berfikir dan pengetahuannya bersifat statis. Hanya berkisar pada berburu di hutan dan memetik hasil di hutan. Lagipula kerja yang dilakukan masyarakat tersebut hanya itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria lain pendidikan menurut Alisyahbana (2002:37) adalah mematangkan perasaan, pikiran, kemauan, dan watak peserta didik. Ini yang harus diperhatikan lebih lanjut. Pendidikan bukan hanya mematangkan satu arah saja, tapi mencakup segala aspek kepribadian manusia. Termasuk juga etika dan kesopan-santunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya masyarakat suku Boneo jika ditinjau dari sudut pandang global, mereka memiliki nilai kesopan-santunan yang masih rendah. Hal itu terlihat dari cara berpakaiannya. Mereka masih enggan memakai pakaian tertutup. Mereka kebanyakan bercawat atau hanya sebatas penutup kemaluannya saja. Jarang yang berkenan memakai pakaian-pakaian tertutup. Itupun hanya dalam keadaan-keadaan tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar pada fenomena-fenomena di atas, harus ada integritas dan kesempurnaan pribadi tertentu yang mesti dicapai dalam kultur masyarakat suku Boneo. Integritas dan kesempurnaan pribadi ini meliputi integritas jasmaniah, intelektual, emosional, dan spiritual ke dalam diri manusia secara sempurna (Daradjad, 2001:115). Integritas jasmaniah berorientasi pada cara berpakaian, intelektual berfokus pada pola pikir dan kecerdasan, emosional mengarah pada kepekaan hati dan perasaan, spiritual merujuk pada keyakinan dan keimanan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film ini terdapat cukup banyak nilai-nilai pendidikan. Entah itu nilai pendidikan yang diberikan melalui lingkungan keluarga, sekolah, maupun yang lainnya. Tampaknya fokus pengejawantahan pendidikan itu hanya tertuju pada seorang Denias saja. Itu sudah wajar, sebab Denias merupakan tokoh utama dalam film ini. Sebagaimana yang dinyatakan Aminuddin (2004:80) bahwa tokoh utama adalah tokoh yang sering muncul, tokoh yang sering dibicarakan oleh pengarangnya, tokoh yang sering diberi komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan di atas telah diuraikan bentuk pendidikan yang didapatkan Denias dalam lingkungan keluarganya. Selanjutnya adalah mengarah pada bentuk pendidikan yang didapat Denias dari persahabatannya dengan seorang tentara RI yang bernama Pak Leo (Sebenarnya Maleo. Yaitu suatu nama untuk satu korps pasukan khusus TNI yang di tugaskan di kepulauan Irian Jaya. Pasukan itu terdiri dari cukup banyak orang. Namun yang di tugaskan di daerah Denias hanya satu orang itu saja. Pak Leo adalah pnggilan akrab yng dilakukan Denias). Dari nasehat-nasehat Pak Leo-lah Denias banyak menimba pengetahuannya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Leo banyak memberikan didikan tentang bagaimana menghadapi realitas hidup dan kehidupan ini. Saat Denias ditinggal wafat ibunya, dukanya begitu mendalam. Hal itu disebabkan oleh kecintaannya kepada ibunya, apa lagi dalam kematian itu, yang dapat dibilang paling bersalah adalah dia. Karena keteledorannyalah, ibu tercintanya meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah eksistensi Pak Leo sebagai sahabat dekatnya ditunjukkan. Ia memberi motivasi, semangat, dan dorongan hidup kepada Denias. Ia mencoba membangkitkan kembali gairah hidup Denias yang meredup. Ia berkata bahwa setiap manusia pasti tidak lepas dari kesalahan. Itu adalah kodrat kemanusiaan. Jadi tudak perlu lari dari kehidupan ini. Salah itu wajar. Tapi manusia harus hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia tidak lepas dari kesalahan. Tapi harus hidup”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah itu wajar, sebab manusia adalah tempat sala dan lupa. Tapi jangan salah secara terus menerus. Dalam kesalahan tersebut harus ada satu bentuk penginstropeksian diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Paling tidak meminimalisasi kesalahan dalam hidup. Dan seharusnya seorang manusia itu belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bersalah yang begitu mendalam dalam diri Denias atas kematian ibunya merupakan sebuah masalah yang besar. Ini masalah psikologi Denias. Ia mengalami gencatan batin yang begitu dahsyat. Dan ini merupakan sebuah irama kehidupan yang harus dijalani. Kadang ada duka dan kadang ada tawa. Sebab kehidupan adalah rangkaian masalah yang harus dicari solisinya dan tidak perlu mengeluh tentangnya. Dan solusi yang tepat bagi Denias yaitu menumbuhkan gairah hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem utama yang dihadapi Denias yaitu ingin ibunya hidup kembali agar bisa melihat dirinya sekolah. Menlihat hal tersebut, Pak Leo dengan sigap dan berwibawah menasehatinya, bahwa Ibu Denias akan selalu hidup selama Denias masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama kau akan selalu hidup selama kau masih hidup”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konotasi hidup di sini bukan berarti hidup secara fisik. Juga bukan bangkit lagi dari kuburnya dan bersosialisasi seperti sedia kala. Hidup di sini merujuk pada kehidupan dalam batin yang dipicu oleh segala bentuk kenangan jiwa. Jika Denias masi hidup, ia masih bisa membangkitkan kembali kenangan-kenangan yang sempat terukir bersama ibunya. Dengan demikian, ibunya akan selalu ada dalam hati dan pikiran Denias. itu sama halnya dengan hidup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias akhirnya memiliki semangat kembali dalam menjalani realitas kehidupan yang ada. Ia bisa kembali kesekolah dan bergumul dengan teman-temanya lagi. Namun semangat itu hanya sejenak ia kembali dirundung patah semangat. Kali ini ia ditinggal gur sekolahnya pulang kampung ke Jawa sebab istrinya sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa terpukul saat itu. Ia seolah tidak punya harapan lagi dalam menggapai impian dan cita-citanya, yaitu ingin bersekolah dan menjadi anak yang pandai. Denias tidak tahu harus kemana lagi dalam mewujudkan impian dan cita-cita tersebut. Ia putus asa. Ia kemudian lari ke Pak Leo (Panggilan Denias kepada seorang dari TNI. Nama aslinya tidak diketahu dengang jelas. Ia hanya tergabung dalam satu korps kelompok khusus yang bernama Maleo) untuk mencurahkan isi hatinya. Pak Leo bukan sekedar sahabat. Ia dapat dikatakan sebagai orang tua kedua dari Denias. Sebab setiap ada problematika, Denias selalu menyandarkannya kepada Pak Leo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belajar itu bisa kapan saja dan di mana saja. Tidak harus menunggu ada guru”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu terujar oleh Pak Leo. Ini tampaknya berkonotasi pada sebuah maksud bahwa yang dapat memberi pbimbingan dan pembelajaran bukan hanya guru yang ada di sekolahan saja. Siapapun orangnya dapat dijadikan guru dan sarana dalam menimba ilmu pengetahuan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajat dan menuntut ilmu itu tidak hanya di sekolah saja. Di manapun tempatnya dapat dijadikan lingkungan pendidikan. Jadi tidak harus ada bangunan sekolah. Asalkan di tempat itu memungkinkan untuk menimba ilmu, mengapa tidak di tempat itu saja. Tak perduli waktunya kapan. Setiap da kesempatan belajar, maka belajarlah. Tidak harus menunggu besok atau lusa. Maka belajarlah kepada siapapun orangnya, di manapun orang berada, dan kapanpun juga. Sebab belajar itu untuk masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias masih bingung. Ia dibingungkan dengan kondisi sosial kemasyarakatan yang ada. Baginya, orang-orang sekampungnya tidak ada yang cukup bisa mengajarinya tentang sesuatu yang baru. Mereka yang ada di sekelilingnya tidak sanggup mengantarkannya dalam menggapai impian dan cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tak ada yang mengajari saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ungkapan Denias tersebut, Pak Leo hatinya tergugah. Ia kemudian memutuskan diri untuk mengajar Denias dan teman-temannya. Denias kembali bersemangat. Ia merasa bahwa ia kini akan sanggup menggapai impian dan cita-citanya. Ia dan teman-temannya kini bisa belajar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kegembiraan itu terjadi tak begitu lama. Pak Leo pun pergi meninggalkan kampung itu sebab dipindahtugaskan. Denias kembali terpukul. Ia melinangkan air matanya saat melihat Pak Leo tidak ada lagi di rumahnya yang sekaligus dijadikan tempat sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Leo saat itu sempat meninggalkan sepucuk surat untuk Denias selaku sahabat terdekatnya dan untuk teman-teman Denias yang lain. Dalam surat itu ia menulis tentang kehidupan. Bahwasanya ada banyak sisi yang dapat dipelajari dalam kehidupan ini. Ada banya cela yang harus dimasuki. Dengan persahabatannya bersama Denias, sebenarnya Pak Leo cukup banyak menggenggam hikmah hidup dan kehidupan. Ia memandang bahwa seseorang hidup itu harus dengan satu tujuan, dengan kebahagiaan, tekad yang kuat, serta tidak berlari dari hidup dan kehidupan meski terdapat masalah yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Denias dan semua anak-anak yang Pak Leo kasihi. Pak Leo harus pergi, karena Pak Leo harus pindah tugas ke tempat lainnya. Pak Leo sudah banyak ajar kalian. Tapi Pak Leo juga banyak sekali belajar pada kalian. Pak Leo belajar bahwa kita hidup harus dengan satu tujuan. Kita harus hidup dengan tertawa, kita harus hidup dengan tekad. Dan yang terpenting, kita harus hidup, biarpun ada seribu masalah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pesan tersebut, saya teringat dengan pernyataan Milan Kundera. Ia merumuskan tiga konsep kebajikan dalam hidupnya. Salah satu dari ketiga konsep tersebut adalah humor. Humor dan tawa merupakan ungkapan yang seiring-sejalan. Konotasi utamanya adalah kebahagian dan kegembiraan pribadi seseorang. Siapa yang memiliki kebahagiaan, dia pada dasarnya telah memiliki kebajikan. Dan kebajikan yang terbesar adalah sanggup bahagia ketika seribu masalah datang menerpa. Tertawakanlah kesedihan, dan kau akan tertawa dengan baik (Moliere dalam Widada, 2004:123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kepergian Pak Leo itulah gejolak batin Denias tepat pada klimaksnya. Ia tidak tahu lagi kemana harus menyandarkan cita-cita dan impiannya. Ia terlecut untuk berusaha keras dalam menggapainya. Dan inilah yang merupakan sebuah kebenaran yang dulu sempat disampaikan guru Denias di sekolah. Ia mengatakan bahwa pribadi Denias sama persis dengan Jack dalam cerita Jack dan Kacang Polong. Suatu hari, Jack menanam kacang polong dan di hari esoknya tanaman tersebut tumbuh menembus awan. Jack kemudian menaikinya dengan perlahan-lahan hingga sampai di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak pernah bercerita kepadamu. // Tentang Jack dan kacang polong? // Tentang Jack dan kacang polong. Kamu ingat, ketika Jack menanam benih kacang polong itu, keesokan harinya, benih itu tumbuh. Dan tumbuh menjadi pohon. Menjadi besar. Dan besar. Tinggi. Dan tinggi. Tinggi lagi. Sampai menyentuh awan. Dan Jack mulai naik pohon tersebut. Dia naik dengan bersusah payah. Dia naik dengan semangat penuh. Dia terus naik semakin tinggi. Dan semakin tinggi. Dan akhirnya Jack berada di atas awan. Dan Jack bisa melihat dunia. Semangat itu ada dalam dirimu Denias. Sesuatu yang tersembunyi dalam dirimu yang dihembuskan angin lewat nyanyian yang indah. Nyanyian yang berasal dari balik awan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gambaran perbandingan kepribadian seorang Denias. Ia menanamkan dalam dirinya biji harapan dan cita-cita untuk bersekolah. Dan ia pun meski menempuhnya dengan perlahan serta susah payah. Namun akhirnya ia sanggup merengkuh impian dan cita-cita itu, walau tampaknya terlihat mustahil. Hal itu disebabkan ada tekad dan semangat serta sesuatu yang tersembunyi dalam diri seorang Denias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu kini terbukti. Denias pergi ke kota untuk bisa belajar dan bersekolah. Meski itu terasa tidak mungkin. Faktornya cukup banyak. Sekolah tempatnya cukup jauh. Denias harus menempuh dan melewati gunung dan lembah untuk sampai ke kota. Padahal transportasi tidak ada. Meskipun dia sanggup sampai ke kota, ia belum tentu dapat diterima di lembaga pendidikan itu, sebab ia tidak sanggup dalam pembiayaan. Lembaga sekolah itu hanya diperuntukkan bagi mereka anak-anak orang kaya dan berasal dari keluarga terpandang saja. Belum lagi ia yang tidak punya raport. Ini sungguh mustahil bukan untuk bisa digapai Denias!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat tekad dan semangatnya, hal itu pun akhirnya terengkuh juga. Ada pepatah, di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Mungkin itu yang cocok bagi Denias. Ia berlari menyisir pegunungan, hutan, lembah dan sungai hingga ia pun tiba di kota. Dan di sana ia diperjuangkan secara gigih oleh seorang guru yang bernama Bu Sam untuk dapat masuk di sekolah tersebut. Namun masih dengan satu syarat, yaitu ia harus membuat catatan baik di sekolah itu. Meski teman-teman di sekitarnya kerap membuat ulah. Ia harus rela mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ingat, kau tidak boleh nakal. Apalagi berkelahi. Dan jangan sampai terpengaruh dengan anak-anak yang tidak baik ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat tekad dan kemauanya yang keras serta teguh dalam menjalankan perintah, Denias akhirnya dapat diterima menjadi murid di sekolah tersebut. Meski itu harus dilalui dengan perlakuan-perlakuan yang kurang baik dari temannya. Meski duka dan derita bersarang dalam pribadinya. Dan inilah kiranya inti dari amanat dalam keseluruhan film ini, yaitu berorientasi motivasi kepada penikmat agar menumbuhkan tekad yang kuat, obsesi, kegigihan dalam menggapai sebuah cita-cita. Selain itu juga harus berpegang teguh pada prinsip dan menepati janji. Sebab di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan dan pasti berpeluang dalam menggapai impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-8718950091374539472?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/8718950091374539472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=8718950091374539472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/8718950091374539472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/8718950091374539472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2009/01/imamuddin-sa-denias-seorang-anak-kecil.html' title='MENTARI KECIL DI BONEO Sisi Lain Film Denias; Senandung Di atas Awan'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-7331063860609739538</id><published>2008-12-28T21:19:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:48:24.837-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>SINOPSIS FILM Denias; Senandung Di Atas Awan</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini mengisahkan sebuah perjalanan hidup seorang anak kecil dalam menggapai cita-cita dan impiannya. Usia anak itu adalah usia anak Sekolah Dasar. Kira-kira sembilan sampai dua belas tahunan. Ia hidup dalam lingkungan masyarakat suku Boneo. Tepatnya di daerah Papua, Irian Jaya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nama anak itu adalah Denias. Ia tergolong seorang anak dari keluarga miskin. Meskipun demikian, ia memiliki cita-cita dan impian yang tinggi, yaitu bersekolah. Di daerahnya tida ada lembaga sekolah secara resmi dan layak dijadikan sarana belajar dan pembelajaran. Selama itu, ia dan anak-anak kampung yang lain bersekolah di sebuah Honei. Yaitu sebuah bangunan rumah yang saat itu dijadikan tempat belajar darurat yang kondisinya sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias merupakan seorang anak yang pandai, cekatan, berbakti kepada orang tua, serta berobsesi tinggi. Di sekolah dan di lingkungan bermain, ia memiliki seorang teman yang selalu mencuranginya dan berbuat tidak baik kepadanya. Dia adalah Noel. Suatu ketika, saat di sekolah,mereka sempat berkelahi. Hal itu disebabkan oleh Noel yang bersikap curang dan culas saat bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak orang yang miskin, Denias berani melawan siapapun demi kebenaran, tak perduli dengan siapa ia berhadapan. Hal itu ia tunjukan kepada Noel yang notabenenya adalah anak seorang Kepala Suku yang bermartabat tinggi dan diyakini memiliki kekuatan supranatural di kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulannya Denias dan teman-temannya di Honei tersebut diajar oleh seorang guru yang berasal dari Jawa. Ia terlihat cerdas dibanding dengan teman-temannya yang lain. Ia rajin dalam bersekolah. Bersekolahnya Denias itu tidak cukup lama. Karena Istru guru tersebut sakit keras di Jawa, ia akhirnya pulang ke Jawa. Honei itupun sekarang sepi. Sesepi hati Denias. Tidak ada yang bersekolah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias bingung. Harus kemana lagi ia akan bersekolah. Ia kemudian menemui seorang tentara RI yang bernama Pak Leo. Itu panggilan yang dilakukan oleh Denias kepada tentara itu. Sebenarnya namanya bukan Pak Leo. Yang benar adalah Maleo. Yaitu suatu nama untuk satu korps pasukan khusus TNI yang di tugaskan di kepulauan Irian Jaya. Pasukan itu terdiri dari cukup banyak orang. Namun yang di tugaskan di daerah Denias hanya satu orang itu saja. Denis kemudian mencurahkan isi hatinya yang merasa kalut sebab tidak dapat bersekolah lagi. Mendengar keluhan tersebut, Pak Leo pun hatinya tersentuh. Ia kemudian memutuskan diri untuk mengajar Denias dan teman-temannya di Honei itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias memang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Hal itu dilakukannya sehari-hari. Suatu ketika ibunya terjatuh sebab kondisi kesehatannya yang kurang membaik. Melihat hal itu, Denias langsung sigap menghampirinya dan menolongnya. Ia berteriak histeris. Kebaktiannya terlihat sangat mendalam saat ia berkenan merawat ibunya. Dengan tulus dan ikhlas ia merawatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian ibunya pun tertidur. Saat itu Denias tiba-tiba dipanggil oleh beberapa orang temannya. Yang namannya pasti pernah melakukan kesalahan dan keteledoran. Apalagi seorang anak kecil seusia Denias. Denias dipanggil dan rencanannya diajak berburu ke hutan. Ia dipaksa ikut oleh teman-temannya. Ia bingung. Ia berada dalam sebuah dilema antara merawat ibunya dengan paksaan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ibunya yang sedang tidur pulas, rasa solidaritasnya muncul. Ia kemudian bersedia berburu ke hutan bersama teman-temannya. Namun sungguh naas, ia lupa bahwa sebelum berangkat berburu, ia menggantungkan bajunya di atas perapian dekat ibunya yang sedang tidur pulas. Baju tersebut kemudian terjatuh ke perapian. Api yang tadinya kecil kini menjadi besar oleh baju itu. ibunya tidak menyadari hal itu sebab sedang tidur. Kobaran api itu semakin membesar dan membakar rumah begitu juga ibunya. Denias melihat dari kejauhan ada rumah yang terbakar. Ia memastikan bahwa arah rumah tersebut adalah rumahnya. Ia lalu berlari dari hutan untuk pulang. Sesampainya di rumah, ia dikejutkan oleh kondisi fisik ibunya. Ibunya meninggal sebab terbakar api. Tubuhnya hangus. Derai air mata tak sanggup tertahan. Ia mengalami sok berat selama beberapa hari. Ia hanya bisa bermurung durja, meski ayahnya kerap menasehati dan memotivasinya. Pak Leo pun juga menasehatinya dan memberi semangat hidup yang baru kepada Denias. Akhirnya ia pun dapat menikmati hari-harinya dengan ceria lagi. Dan bersekolah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias kembali belajar bersama-sama dengan temannya. Ia bersemangat. Tapi semangatnya itu tidak didukung oleh orang tuanya. Ia kerap dilarang untuk bersekolah. Ia disuruh membantu bapaknya di rumah. Dalam kondisi semacam itu, semangatnya tidak kunjung padam. Ia bersekolah dengan sembunyi-sembunyi dari bapaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, honei itu roboh dan hancur oleh gempa bumi. Denias dan teman-temannya tidak punya tempat sekolah lagi. Pak Leo lalu berinisiatif untuk membangun tempat sekolah yang sangat sederhana. Yang penting dapat dijadikan tempat belajar dan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan tempat itu ternyata mendapat hujatan dari beberapa warga dan kepala suku. Tempat itu dilarang berdiri di sana. Tidak lama dari kejadian itu, Pak Leo pun dipindahtugaskan dari kampung enias. Kini Denias kembali dirundung duka sebab tidak dapat belajar dan bersekolah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi semacam itu, Denias terobsesi oleh kata-kata Pak Leo bahwa di balik gunung ada tempat sekolah. Tepatnya di kota. Denias hatinya merasa terpanggil. Ia kemudian memutuskan diri untuk meningalkan kampung halamannya dan juga orang tuanya. Ia pergi dengan sembunyi-sembunyi. Ia melewati gunung dan lembah untuk sampai ke kota. Ia berlari kencang untuk segera sampai di kota. Sungguh jauh tempat yang ditempuh Denias, namun tidak menyurutkan api semangatnya untuk bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di kota, mendapat seorang teman yang bernama Enos. Ia adalah gelandangan. Untuk sementara waktu, Denias tinggal bersama Enos di pingguran jalan. Ia kemudian pergi kesekolah yang dimaksud. Di sana ia bertemu dengan Bu Sam. Seorang wanita cantik dan berbudi luhur. Bu Sam meanyakan tujuan Denias datang ke sekolah itu. setelah panjang lebar dijelaskan, Bu Sam pun tahu maksid dan tujuan Denias ke tempat itu. yaitu tidak lain untuk bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Sam dalam dilema. Berdasarkan aturan sekolah yang ada, Denias tidak dapat masuk di sekolah tersebut. Hal itu disebabkan Denias tidak punya cukup uang untuk biaya sekolah. Lebih dari itu, Denias tidak memiliki buku raport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Sam berusaha keras untuk bisa memasukkan Denias ke sekolah tersebut. Ia mensosialisasikannya kepada semua guru dan pengurus sekolah. Dan untuk sementara waktu, Denias tinggal di rumah Bu Sam. Namun tidak lama. Ia kemudian tinggal di asrama sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Sam berjanji kepada Denias bahwa ia akan dapat masuk di sekolah itu. Selama berada di lingkungan sekolah, denias bertemu dengan seorang anak gadis yang berama Angel. Ia baik hati. Ia berteman akrab dengan Denias. Hal itu menyebabkan hati Noel sakit. Dan saat itulah Denias tahu bahwa Noel juga sekolah di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias mendapat syarat dari Bu Sam, bahwa jika ia ingin diterima bersekolah di tempat itu, ia tidak boleh nakal dan membuat ulah. Meski ia mendapat perlakuan kurang baik dari teman-temannya, ia harus dapat menahan emosinya. Ia harus mengalah jika ingin diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat inilah perjuangan keras Denias diuji. Di sekolah dan di asramah itu, ia masih tetap sama seperti di kampungnya. Ia masih mendapat perlakukan yang tidak baik dan culas dari Noel. Kini ia harus sabar dan tidak menanggapi segala perlakuan Noel. Ia bahkan sempat dihajar habis-habisan oleh Noel dan teman-temannya tanpa ada alasan yang jelas. Demi bisa diterima sekolah di tempat itu, ia rela dipukuli dan tidak membalasnya. Bukanya dia tidak berani dengan Noel dan teman-temannya. Demi impian dan cita-citanya, ia harus besabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di asrama, Noel juga bersikap sama. Ia bahkan lebih kejam. Ia membuat peraturan sendiri untuk tidak memperkenankan teman-temannya memberi tempat tidur pada Denias. Tempat tidur yang semestinya diperuntukkan Denias ia ambil alih. Sedangkan tempat tidurnya dibiarkan kosong. Denias dalam setiap malamnya selalu tidur di lantai tanpa alas suatu apapun. Dengan kondisi seperti itu, denias akhirnya jatuh sakit. Tapi tidak lama kemudian dia sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah itu Denias masih belum diterima sebagai murid. Ia di sana difungsikan sebagai pelayan kantin. Melayani seluruh siswa yang sedang makan dan berjajan di sana. Suatu ketika, saat jam istirahat dan makan, denias mengantarkan hidangan kepada siswa-siswa tersebut. Denias dalam menjalankan tugasnya kembali mendapat perlakuan yang kurang baik dari Noel. Denias dijatuhkan oleh Noel, denias tidak menghiraukannya, tapi Noel malah mengajaknya berkelahi. Denias maunya dipukul oleh Noel, tapi kali ini ia sedikit membela diri. Piring yang masih ada di genggaman tangannya, ia jadikan alat untuk menangkis pukulan Noel. Tangan Noel pun patah dan berdarah sebab menghantam piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias merasa bersalah. Dalam hatinya, terbersit rasa salah yang begitu besar. Ia beranggapan bahwa telah melanggar nasehat Bu Sam. Dan ia pasti tidak akan diterima bersekolah di tempat itu. ia kemudian berlari kencang keluar. Entah kemana ia pergi. Sungguh jauh ia berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Sam mencarinya kesana-kemari, namun tidak kunjung menemukannya. Denias pada saat itu berencana untuk kembali ke kampung halamannya. Ia putus asa. Ia merasa bahwa impian dan cita-citanya untuk bersekolah kini telah pupus oleh satu kesalahan yang dilakukannya, yaitu dengan melukai Noel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denias adalah anak yang berbudi baik. Ia tidak lupa dengan orang yang menolongnya. Dalam kepedihan hati dan keputusasaannya, ia masih menyempatkan diri berpamitan kepada Bu Sam. Ia berpamit untuk pulang ke kampung halamannya. Saat itulah, Denias mendapat kabar gembira dari Bu Sam, bahwa ia diterima bersekolah di tempat itu. Hati Denias berbunga-bunga. Impian dan cita-citanya kini tercapai juga. Ia pun mengurungkan niatnya untuk pulang ke kampung halamannya. Ia bersekolah dan mulai mengukir masa depannya. Denias menari di atas awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-7331063860609739538?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/7331063860609739538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=7331063860609739538' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7331063860609739538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7331063860609739538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/12/sinopsis-film-denias-senandung-di-atas.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;SINOPSIS FILM Denias; Senandung Di Atas Awan&lt;/span&gt;'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-1505101463848418376</id><published>2008-12-28T21:09:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:48:55.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>PERANG SASTRA DALAM DUNIA KONTEMPORER; KSI Sebuah Amunisi</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini peranserta komunitas dalam kesusastraan sangat mendominasi. Dapat dikatakan komunitas merupakan sentral dari sastra. Komunitas adalah nyawanya. Konotasi nyawa berorientasi pada penyambung hidup. Jadi kehidupan kesusastraan di negeri ini akibat adanya peranserta komunitas-komunitas yang ada.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mereka yang tergabung dalam komunitas sastra adalah orang-orang yang memiliki rasa senasib dan seperjuangan dalam membumisasikan serta menumbuhkembangkan kesusastraan yang ada. Ini adalah tujuan mereka. Tentunya dalam  mencapai tujuan itu, mereka memiliki upaya-upaya tersendiri. Sehingga, komunitas sastra bukan sekadar label semata, namun yang menjadi prioritas utamanya adalah eksistensi dalam berkarya. Komunitas sastra tidak hanya tempat pecandu kopi ngumpul tanpa makna, tapi juga wahana pengkajian karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembumisasian sastra dapat dilakukan dengan jalan memasyarakatkan sastra pada masyarakat. Inilah yang seharusnya digarap oleh sebuah komunitas sastra. Perioritas utamanya adalah masyarakat mampu menghargai keberadaan karya sastra dalam lingkungannya. Bentuk penghargaan tersebut dapat berupa ketertarikan diri dalam membaca karya sastra. Masyarakat menjadi gandrung dan mengakrabi karya sastra. Istilahnya budaya membaca sastra dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika karya sastra telah memasyarakat, maka regenerasipun sangat mudah dilakukan. Sebab lahirnya seorang sastrawan kebanyakan bermula dari kegandrungannya dalam membaca karya sastra. Setelah itu baru tertarik untuk berproses kreatif sendiri. Dan dengan lahirnya sastrawan baru, maka khasanah kesusastraan semakin meningkat. Hal itu disebabkan oleh privasi individu yang berbeda-beda. Perbedaan itu akan menghasilkan satu bentuk karya sastra yang berbeda pula. Baik secara konsep, style, dan karakter yang dihasilkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi belakangan ini? Kegandrungan masyarakat dalam kesusastraan sangat lemah. Karya sastra kurang diindahkan sehingga regenerasipun sulit terbentuk. Yang sungguh riskan adalah anggapan masyarakat bahwa karya sastra dan sastrawannya tidak lebih dari sebuah usaha yang berujung pada kesia-siaan saja. Bersastra adalah pekerjaan seorang pelamun. Orang yang hanya mampu berandai-andai saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Image semacam itulah yang harus dihapus dalam lingkungan kemasyarakatan. Dan ini merupakan PR besar bagi sebuah komunitas sastra. Mereka harus lebih greng dalam menyuarakan karya-karyanya dan memberi pemahaman kepada masyarakan akan hakekat karya sastra yang sesungguhnya. Sungguh, karya sastra dapat dikatan sebagai kitab suci kedua bagi pribadi seseorang setelah kitab suci agamanya. Sebab di dalam karya sastra juga terdapat nilai-nilai yang lebih yang dapat dijadikan sebagai pandangan hidup bagi seorang manusia. Namun di sini, kejelian dalam menginterpretasi masih menjadi warning utamanya. Sebab karya sastra kadang menyatakan suatu hal tapi untuk hal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha semacam itu harus ada dukungan dari beberapa pihak. Yang pertama adalah sastrawannya sendiri selaku motornya. Dan yang kedua adalah simpatisan masyarakat tertentu maupun pemerintahan yang berposisi sebagai penyangga berjalannya kegiatan; yang berkaitan dengan pembiayaan. Kalau tidak ada kerjasama yang solid antara kedua pihak tersebut, dapat dipastikan, sebuah komunitas tidak dapat berjalan dengan maksimal. Bahkan bisa jadi gulung tikar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak komunitas yang ada di negeri ini. Meskipun cukup beraneka ragam kultur yang dibawa,  tujuan mereka hanya satu; memasyarakatkan sastra. Katakan saja salah satunya adalah Komunitas Sastra Indonesia (KSI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KSI merupakan sebuah komunitas yang cukup intens dalam menjalankan program kegiatannya. Hal itulah yang menyebabkannya tetap eksis hingga sekarang. Keberadaannya semakin meluas hingga melampaui wilayah regionalnya. Ia dapat dikatakan komunitas  yang subur. Komunitas yang di dalamnya bernaung sastrawan-sastrawan yang  cukup ternama. Misalkan Ahmadun Y. Herfanda, Eka Budianta Korrie Layun Rampan, Iwan Gunadi, Hudan Hidayat, Viddy AD Deary, Diah Hadaning, Wowok Hesti Prabowo, Habiburrahman El Shirazy dan kawan-kawan. Selain itu regenerasinya cukuplah banyak. Ada Mahdiduri, Iman Sembada, I Wayan Arthawa, Aris Kurniawan, Miranda Putri, Putu Satria Kusuma, Fatin Hamama, &amp;amp; lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KSI bersifat terbuka untuk siapa saja. Sehingga Penghuni KSI pun berasal dari bermacam-macam lapisan masyarakat dan kultur sosial yang ada. Di antara penghuni KSI tersebut berasal dari kaum buruh pabrik, guru dan dosen, wartawan, hingga praktisi hukum. Mungkin keterbukaan tersebut sebagian dari penyebab semakin meluasnya cakupan dan jaringan KSI di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan KSI dalam negeri ini cukup dapat dibilang menjanjikan. Ia berpeluang besar dalam memasyarakatkan sastra. Keberadaannya cukup diakui dalam lingkungan kemasyarakatan. Hal itu terbukti dari keberadaan dan keeksistensianya sejak berdiri (1996) hingga sekarang. Ia memiliki program-program tertentu dalam menumbuhkembangkan dan menasyarakatkan sastra yang intens dan berkala. Mulai dari penerbitan karya sastra (antologi puisi dan cerpen), lomba cipta karya sastra, diskusi sastra, pembuatan jurnal, dan sebagainya. Fenomena itulah yang tampaknya banyak menarik minat seseorang (sastrawan) untuk turut gabung dalam keanggotaannya, sehingga KSI memiliki cabang-cabang komunitas di luar daerahnya (Jakarta). Seperti Yogyakarta, Kudus, dan Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konkritnya, kegiatan yang pernah diselenggarakan KSI adalah pelatihan penulisan karya sastra, menyelenggarakan dan atau memfasilitasi pembacaan puisi, cerpen,, dan pementasan drama, penerbitan antologi puisi; Antologi Puisi Indonesia 1997, Indonesia Setengah Tiang karya Toto ST Radik, Rumah Panggung Di Kampung Halaman karya Wilson Tjandinegara, Presiden Dari Negeri Pabrik karya Wowok Hesti Prabowo, penerbitan Jurnal Angkatan, antologi  Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Sajak Klasik Dinasti Tang, Lelaki adalah Sebingkai Lukisan karya Jeanny Yap, Janji Berjumpa Di Pegunungan karya Ming Fang, buku 5 Tahun KSI: Antara Badai dan Hujan Kreatif, Perempuan Penyair Indonesia 2006, Menantimu Dalam Mimpi karya Kevin Zhang, Tuhan Adalah Perkara Karya Julius La Dossa, Romansa Pemintal Benang karya Khusnul Khuluqi. Selain kegiatan itu KSI juga menyelenggarakan pembinaan apresiasi sastra dan pemberian pemahaman tentang sastra kepada masyarakat, termasuk mayarakat sekolah. KSI juga mengadakan kegiatan penelitian pelbagai komunitas sastra di Jabotabek yang hasilnya adalah penerbitan buku bertajuk Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta. Ada lagi kegiatan yang lain seperti penyelenggaraan diskusi luar kota (Semarang, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya), Debat Sastra dan Pertarungan Penyair Akhir Abad XX, memperingati hari puisi sedunia dengan menggelar acara pembacaan puisi di ruang terbuka Taman Martha Tiahahu dan di Terminal Blok M Jakarta Selatan. Mengadakan regenerasi sastrawan melalui sayembara penulisan karya sastra tingkat nasional dalam KSI Award (2001, 2002, dan 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KSI Award 2001 berhasil menerbitkan antologi puisi  yang berjudul Narasi 34 Jam; Antologi Puisi Antikekerasan KSI Award. Ksi Award 2002 berhasil menerbitkan karya yang berjudul Elegi Gerimis Pagi: Antologi Cerpen Mini KSI Award 2002. KSI Award 2003 adalah sayembara manuskrip puisi. KSI juga mengadakan sayembara penulisan cerpen tingkat nasional, pertunjukan karya sastra dan pemutaran film dokumenter tentang sastrawan, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh KSI. Termasuk penerbitan buku yang kesekian kalinya ini yang berjudul Komunitas Sastra Indonesia; Catatan Perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua fenomena di atas berorientasi pada tindak penyuaraan identitas diri KSI dan jati diri KSI. Itu menunjukkan bahwa KSI benar-benar ada dan bereksistensi serta hidup. Sebab sesuatu dikatakan hidup apabila bereksistensi. Sedangkan sesuatu itu bereksistensi apabila ia memiliki inisiatif dan pergerakan. Ini senada dengan ungkapan Deskartes; Aku berfikir maka aku ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya kira, puncak dari usaha dalam menunjukkan identitas serta jati diri KSI adalah diterbitkannya buku yang berjudul Komunitas Sastra Indonesia; Catatan Perjalanan. Buku ini mengupas masalah perjalanan KSI saat bergelut dalam dunia sastra. Di dalamnya ada penjelasan tentang periode kepengurusan KSI mulai berdiri hingga periode 2006-2007.  Selain itu juga menyajikan pahit getirnya fenomena kehidupan dalam dunia sastra. Masih banyak lagi cakupan lain yang kesemuanya dihadirkan dalam bentuk esai. Esai-esai tersebut kebanyakan bertumpu pada acara-acara diskusi yang telah diselenggarakan oleh KSI. Jelasnya mengarah pada eksistensi dan partisipasi KSI dalam membumisasikan sastra dan kepedulian sosial kemasyarakatan yang ada. Misalnya Sunami, Gempa Jogja, Banjir Besar, masalah buruh, &amp;amp; lain-lain. Di dalam buku itu juga disajikan karya-karya sastrawan jebolan KSI. Mulai dari karya-karya sastrawan regenerasi hingga sastrawan ternama yang tercakup di dalamnya (dalam bentuk cerpen dan puisi). Ini menunjukkan bahwa KSI bukan sekedar komunitas yang hanya bergerak membentuk kesadaran masyarakat dalam menghargai karya sastra namun ia juga berusaha menanam embrio ke-sastrawan-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jarang sebuah komunitas sanggup berjalan dan bereksistensi seperti itu. Apa lagi sanggup bertahan dan menjalankan kegiatanya selama itu (kurang lebih 12 tahun berjalan). Yang kebanyakan ada adalah berdiri dan hanya beberapa saat saja bertahan. Selanjutnya fakum sebab minimnya regenerasi dan pembiayaan operasional kegiatan. Bagi KSI, kemampuannya bertahan dan terus eksis hingga sekarang di tengah begitu mudahnya komunitas sastra tumbuh dan tumbang itu tak lepas dari kepercayaan yang besar terhadap keteduhan payung kekeluargaan. Keterbatasan dana, keterbatasan waktu yang dimiliki tak sedikit pengurus, dan keberagaman latar sosial anggota keluarga besar KSI seperti tak menjadi persoalan yang rumit ketika setiap kiprah selalu tak melupakan keinginan untuk bersilaturrahmi dan saling memahami. Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman tentu tak terhindarkan. Walaupun mungkin masalah-masalah seperti itu ada yang tak terselesaikan secara tuntas, rasa persahabatan dan kekeluargaan yang besar akhirnya seperti menghapus semuanya dengan begitu saja seiring perjalanan waktu. Tentu saja, mereka yang tengah mencecap kemashuran juga berkenan mengangkat regenerasinya untuk tampil di muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-1505101463848418376?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/1505101463848418376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=1505101463848418376' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1505101463848418376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1505101463848418376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/12/perang-sastra-dalam-dunia-kontemporer.html' title='PERANG SASTRA DALAM DUNIA KONTEMPORER; KSI Sebuah Amunisi'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-7228475646698508500</id><published>2008-11-28T20:30:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:52:00.824-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>DIALOG ANAK LAUT</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Kecil tentang Puisi Mardi Luhung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak kenal dengan Mardi Luhung! Penyair yang kerap dipanggil Hendry ini adalah seorang guru sebuah lembaga pendidikan di Gersik. Selain ia tekun dalam dunia pendidikan, yang tidak kalah lagi adalah ketekunannya dalam dunia kesusastraan. Ia dapat dikatakan sebagai motor kesusastraan di Gersik. Perjuangan sastranya di kota tersebut sungguh luar biasa. Hal itu terbukti dari eksistensinya sebagai gerilyawan sastra. Ia mencoba memasyarakatkan sastra mulai dari lingkungan bawah sampai atas. Dari sekolah sampai jalanan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mardi dalam karya-karyanya, khususnya puisi kerap menyuarakan realitas sosial kemasyarakatan kotanya. Ia kerap menyuarakan kultur sosial masyarakat kota Gersik yang notabenenya adalah kota pantai atau pelabuhan. Itu tecermin dari logat bahasa dalam puisinya. Yaitu keras tanpa dihalus-haluskan, ujaran atau kosa kata nelayan, suasana pelabuhan dan pantai, narasi keseharian masyarakatnya di pasar, jalan, dan gang, serta ruang publik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara kultur masyarakat pesisir, memang tidak dapat dipungkiri bahwasannya kita akan banyak menemukan nuansa kehidupan yang keras. Mulai dari logat bicara sampai perilaku masyarakatnya. Kondisi semacam itu tampaknya secara dominan dipengaruhi oleh letak geografis daerahnya. Dirujuk dari segi nenek moyangnya, masyarakat pesisir dalam realitas kesehariannya dituntut untuk melaut. Dalam kondisi semacam itu, pada dasarnya dalam kesehariannya, mereka dihadapkan dengan tantangan kematian, gemuruh ombak, dan nasib yang tidak menentu. Mereka masih dibayang-bayangi oleh ketidak mengertian bahwa ia akan dapat kembali ke darat atau tidak. Untung atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itulah yang pada dasarnya membentuk karakter dan mentalitas masyarakat pesisir yang keras dan berani. Mentalitas dalam kesehariannya dipertaruhkan dengan maut. Setiap hari mereka ditraining oleh kematian. Itu adalah makanan dan terapi mentalnya. Bayang-bayang akan kematian dan maut sudah terbiasa melingkupinya sehingga hal itu kurang terhiraukan lagi. Hal itu mampu mejadikan mereka berkemauan keras dan lantang menghadapi segala bentuk tantangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek tersebut juga dapat mempengaruhi logat bahasa mereka. Jika mentalitas selalu dicekoki dengan training-training semacam itu, maka lambat laun logat bahasa yang tercipta adalah logat bahasa yang bernada tinggi. Logat bahasa yang mencerminkan egosentris yang jika dirasa-rasa atau didengarkan mengandung nilai kesombongan. Padahal itu tidak sama sekali. Itu adalah logat bahasa alamiah yang terbentuk oleh alam. Belum lagi pengaruh deru ombak yang menyebabkan intonasi suara harus keras. Sebab kalau tidak keras, suara tidak akan sampai dengan jernih pada respondennya. Dan itu menyebabkan komunikasi terhambat. Jadi, logat yang keras, kasar, dan egosesntris merupakan harmonisasi bahasa yang terbangun dalam kultur masyarakat pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi Mardi sangat kental menyuarakan masyarakat pesisir. Ia kerap menggambarkan bagaimana realitas sosial yang melingkupi pribadi-pribadi mereka. Dalam puisinya, Mardi pernah menyatakan kebenciannya terhadap orang-orang yang mengaggap bahwa masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang tidak tahu aturan dan tidak memiliki unggah-ungguh dalam berperilaku. Terutama dari segi ungkapan bahasanya. Orang-orang tersebut kerap menganggap mereka kosro dan kasar. Bahkan kerap dianggap sebagai masyarakat yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...... “dan tahukah kau yang paling aku benci? // adalah ketika kita sama-sama ke sekolah // dan sama-sama disebut: “Orang Laut.”&lt;br /&gt;Orang yang dianggap sangat kosro // kurang adat dan keringatnya pun seamis // lendir kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai”...... (Pengantin Pesisir, bait: 5-6 dalam Ciuman Bibir Yang Kelabu, 2007:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan-anggapan orang semacam itulah yang sangat dibenci oleh Mardi. Jika ditelisik lebih jauh, bahwa sesungguhnya mereka sendirilah yang pada dasarnya tidak memiliki unggah-ungguh bahasa. Mereka dengan seenaknya mengklaim dan menilai masyarakat pesisir tanpa memperhitungkan sebab-musabab pembentukan dialek bahasa mereka. Mereka tidak sadar bahwa dialek orang pesisir semacam itu merupakan bentukan alam yang berfungsi sebagai balance dalam kehidupan ini. Jadi, bagi Mardi tidak perlulah seseorang mengklaim ini dan itu kepada masyarakat pesisir. Biarkan saja mereka mengembangkan dialektika masing-masing. Toh pada dasarnya dialektika semacam itu tidak mengganggu harmonisasi antara masrakat yang satu dengan yang lainnya. Justru itu adalah rahmatal lil alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan orang-orang pesisir tidak terlepas dari ikan. Dalam kesehariannya, mereka selalu menumpahkan pikiran dan keringatnya untuk melaut. Untuk menangkap ikan yang sebanyak-banyaknya sebagai usaha dalam mempertahankan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab terlalu kentalnya hubungan mereka dengan ikan, aroma tubuhnyapun mengandung aroma ikan. Itu secara alamiah dan tidak dimanipulasi dengan parfum-parfum pada umumnya. Baunya sedikit amis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena semacam ini yang mungkin menyebabkan timbulnya tindakan pengucilan terhadap anak-anak laut ketika mereka membaurkan diri dalam masyarakat luas yang berada sedikit jauh dari lingkungannya. Ini biasanya terjadi ketika anak-anak laut melakukan urban ke kota. Entah itu ketika menuntut ilmu ataupun yang lainnya. Kalau di Afrika Selatan ada yang namannya Politik Apartheid mungkin di sini ada Politik Ikan Pahit. Dan Mardi seolah bertindak sebagai Nelson Mandelanya. Dengan suara-suaranya, ia berusaha menghapus kesenjangan sosial yang ada. Melenyapkan perbedaan parfum ikan dengan parfum moderen. Menanamkan image persamaan harkat dan martabat antara masyarakat kota dengan masyarakat pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanamkan persamaan harkat dan martabat dalam pribadi seseorang sangatlah penting. Tidak membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lainnya merupakan sebuah keutamaan. Ini adalah sebagian dari proses pemahaman diri. Memahami pribadi orang lain untuk diselami dan mencoba memposisikan diri sendiri pada posisi orang lain. Sebagaimana Abel Bonnard menyatakan bahwa persahabatan itu butuh pemahaman. Dengan sikap semacam itu, nilai solidaritas dan persahabatan akan terbangun kokoh. Jika solidaritas dan persahabatan telah terjalin antarindividu, maka persatuan dan kesatuan masyarakat dan bahkan bangsa akan tercipta. Sehingga perpecahan tidak akan terjadi. Tampaknya ini tidak sekedar tertuju pada masyarakat kota dengan masyarakat pesisir saja. Tapi juga untuk suku, agama, dan ras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali pada masyarakat pesisir. Bagi masyarakat pesisir, ikan adalah segala-galanya. Ikan adalah penopang hidupnya. Ikan adalah bulan. Dan bulan adalah ikan. Begitu kata mardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...... “Padamulanya bulan adalah ikan // yang menggeliat dan berdenyut // lewat jantung-tak-terbilangnya” ...... (Pada Mulanya Bulan Adalah Ikan, bait:1dalam Ciuman Bibir Yang Kelabu, 2007:61).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan sangat berarti bagi kehidupan masyarakan pesisir. Semua tawa dan kebahagiaan bermula dari ikan. Ikan dapat dikatakan roh bagi masyarakat pesisir. Yang namanya roh, berarti ia menjadi perantaraan kehidupan. Orang yang rohnya melayang, secara otomatis ia tidak dinamakan orang. Tetapi mayat. Itulah eksistensi ikan bagi masyarakat pesisir. Kehidupannya bertumpu pada ikan. Mata pencahariaanya berorientasi pada ikan. Jika sehari saja mereka tidak mendapatkan ikan, duka bersarang tak tertahan. Tidak ada lagi bulan di pantai. Tidak ada lagi senyum masyarakat pesisir. Dan dapat dikatakan pula, ikan adalah separuh nyawa dari masyarakat pesisir. Separuh nyawanya lagi adalah wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...... “Tiga ratus anak laut membuntuti. // anak-anak laut yang separuh badannya adalah ikan. // Dan separuh lagi adalah kemontokan keremajaan.// Seperti ke montokan gadis-gadis pinggir pantai. // Yang percaya pada maut dan laut.” ...... (Orang Tenggelam, bait:1 dalam Ciuman Bibir Yang Kelabu, 2007:133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi wanita di sini cukup luas. Wanita dapat merujuk pada istri-istri dan gadis-gadis pesisir yang pada dasarnya keduanya itu berkonotasi pada cinta. Ikan bukan sekedar penyambung hidup sendiri, tapi ikan juga untuk menyambung hidup para wanita yang notabenenya tak mungkin melaut. Dengan mendapatkan ikan yang banyak, kesejahteraan keluarga akan tercapai. Begitu juga dengan cinta gadis-gadis remaja pun akan tegapai. Itu bagi mereka yang belum beristri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, secara mayoritas, orientasi wanita adalah materi. Siapa yang mengantongi uang banyak, dialah yang bakal menggenggam totalitas cintanya. Lihat saja, sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Ketika sang suami banyak uang, kasih sayang dan cinta sang istri begitu menyeluruh. Namun ketika uang tidak ada, yang banyak terjadi adalah emosional dan kemarahan. Dan ini sudah wajar, sebab wanita dikatakan sebagai kaum hawa. Kaum yang selalu menomorsatukan hawa nafsunya. Menomorsatukan materi dan fisik kemanusiaannya. Lebih jauh lagi, coba tengok lokalisasi. Siapa yang berkantong tebal, dialah yang bakal dimuliakan oleh para wanitanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak perlu dipikir panjang. Keberadaan wanita adalah sebuah keniscayaan. Ia sebagai penanda kesempurnaan manusia. Sebab wanita merupakan bagian dari laki-laki yang telah terbelah. Penyatuan laki-laki dan wanita, entah itu secara jasmani maupun rohani merupakan sebuah usaha dalam melengkapi kepribadian masing-masing. Berusaha menutup ruang kosong kepribadian. Jadi tidak ada lelaki yang tidak suka dengan kewanitaan. Dan tidak ada wanita yang tidak suka dengan kelelakian. Ini adalah kodrat umum kemanusiaan. Jauh dari pada itu, setiap lelaki pasti sedikit banyak memiliki sifat kewanitaan. Dan wanita juga pasti sedikit banyak memiliki sifat kelelakian. Sebab pada mulanya mereka adalah satu tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia pasti memiliki keseimbangan diri. Sekasar-kasarnya orang, pasti memiliki kelembutan. Dan selembut-lembutnya pribadi seseorang, kadang kala memunculkan tabiat yang keras. Entah sedikit atau banyak, itu pasti terjadi. Begitu juga dengan masyarakat pesisir, meskipun tampak terlihat kasar, ia masih memiliki kelembutan hati. Tinggal respondenya saja yang harus mampu memasuki ruang kosong itu. Dan mengambil kelembutannya. Entah dengan cara apa dan bagaimana, pikirkan saja. Sebab setiap individu itu memiliki cara yang berbeda-beda dalam memasuki kepribadian individu lain. Tentunya disesuaikan dengan karakter masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sekilas, bagi orang yang baru membaur dengan masyarakat pesisir, ia akan merasakan aura kepribadian yang keras. Itu wajar saja. Sebab ia belum terlalu akrab dan belum menjalin hubungan emosional yang kuat. Jika keakraban dan hubungan emosional telah terbangun, maka secara alamiah pasti merasakan kelembutan aura kepribadiannya. Dan bahkan cinta dan kasih sayangnya. Paling tidak kita akan mengetahui kelembutannya yang tercurah pada keluarganya. Dan bahkan lingkungan kemasyarakatannya. Sebagaiman tecermin dalam ungkapan Mardi berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...... “Sejauh mata memandang, sejauh itu pula aku // memandang yang berjalan di atas laut. Siapa gerangan // mereka? Wajah dan pakaian mereka seperti gelombang // lembut yang menyisir pantai dan rumah-rumah, bakau // dan perahu-perahu yang dibalik, yang warnanya sedang // dibatik, dan lambungnya ditambal dengan keringat, cinta // dan lendir ikan yang terpukat” ...... (Yang Berjalan Di Atas Laut, bait:1 dalam Ciuman Bibir Yang Kelabu, 2007:131).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, bentuk solidaritas masyarakat pesisir itu sangat tinggi. Dan itu baru muncul jika seseorang mampu mengambil kelembutan hati mereka. Jarang seseorang mampu menyelami kepribadian masyarakat pesisir. Boro-boro menyelami, mendengar logat bicara dan perawakannya saja seseorang kebanyakan ogah bergaul. Alasan takutlah, mereka tak punya sopanlah, dan masih seribu alasan lagi diungkapkannya. Ini sebenarnya sebuah pandangan yang kurang objektif. Kebanyakan orang menilai dari segi luarnya saja dan melupakan kebatinannya. Bagi yang akrab bergaul tentunya pasti akan mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-7228475646698508500?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/7228475646698508500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=7228475646698508500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7228475646698508500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7228475646698508500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/11/dialog-anak-laut.html' title='DIALOG ANAK LAUT'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-2842794955548951392</id><published>2008-11-28T20:29:00.000-08:00</published><updated>2011-10-08T11:52:09.901-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>GEDUNG KESENIAN, DKL, DAN KOSTELA DALAM BAYANG-BAYANG MODERNITAS</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dibilang, nasib Dewan Kesenian Lamongan dewasa ini masih sangat memperihatinkan. Bagaimana tidak, menjelang pesta kesenian yang kerap dikenal dengan istilah Lamongan Art yang kesekian kalinya ini masih saja seperti kemarin-kemarin. Ia masih belum memiliki gedung kesenian secara independen. Padahal, sudah berapa tahun janji itu diujarkan, tapi masih belum terealisasikan juga.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kehidupan kesenian di Lamongan dapat dibilang nomaden. Ia tidak memiliki tempat mukim yang tetap. Jika kita telisik lebih jauh lagi, kehidupan semacam ini semestinya dapat kita temui dalam zaman pra-sejarah. Atau mungkin orang primitif lah. Tapi sekarang ini, orang primitif sudah banyak yang memiliki tempat mukim yang tetap loh. Mengapa tidak dengan kesenian di Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, kehidupan nomaden kesenian di Lamongan semestinya sudah tidak zamannya lagi. Mengapa demikian? Karena hal itu sudah tidak seimbang dengan modernitas yang telah dicapai Lamongan saat ini. Kemajuan di segala bidang menunjukkan grafik yang sangat tinggi. Pembangunan terjadi di mana-mana. Ini sungguh riskan, bukan? Tapi jika tujuan nomadennya kesenian itu memang dicipta oleh Pemkot Lamongan untuk mengenang zaman pra-sejarah sih tidak apa-apa. Sebab itu sebagian dari tujuan yang mulia. He...he...he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih saat menjelang acara Lamongan Art, DKL selalu dipusingkan dengan masalah tempat penyelenggaraannya. Mau ditempatkan di sinilah. Di tempatkan di sanalah. Di gedung Olahragalah. Di Gedung Korprilah. Atau yang lainnya. Menurut hemat saya sih, tidak dibuatkan gedung kesenian tidak apa-apa. Tinggal ganti nama gedung yang sudah tidak efisien lagi dalam penggunaannya saja. Mungkin itu sudah cukup! Ambil contoh Gedung Korprilah. Toh pada dasarnya gedung tersebut kebanyakan kerap dipakai sebagai acara resepsi pernikahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bedanya sih resepsi pernikahan dengan kesenian? Resepsi pernikahan merupakan sebagian dari tradisi dan kebudayaan. Selain itu, dalam resepsi pernikahan juga kerap diiringi dengan pentas seni. Jika melihat kronologis semacam itu, sudah tepatlah jika gedung itu namanya diganti dengan nama yang baru: Lamongan Art Room. Lebih keren bukan! Namun ini hanya omongan nyleneh. Tidak perlu ditaggapi dengan serius. Ya, jelek-jeleknya wujudkan saja gedung itu. Biar pekerja seni di Lamongan berhenti nomaden. Dan lebih khusyuk menyuarakan Lamongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya, dengar-dengar Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) juga ingin mengadakan kegiatan. Itu di luar kegiatan rutin Candrakirana. Katanya sih awal tahun 2009. Entah kegiatannya dalam bentuk apa, masih belum jelas beritanya. Mendengar kabar itu, secara pribadi, saya bangga. Sebab keindependenannya kembali disuarakan. Dengan penyuaraan itu, Kostela lebih punya identitas pribadi yang jelas. Jati dirinya dapat diketahui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat akhir-akhir ini, eksistensi kegiatan Kostela berada dalam bayang-bayang DKL. Seolah tidak ada kegiatan jika DKL tidak mengadakan kegiatan. Mungkin itu pengaruh dari orang-orang yang ada di dalamnya yang kebanyakan tercakup dalam anggota kepengurusan DKL. Padahal jika meninjau lebih ke belakang, katanya sih keberadaan Kostela itu lebih sepuh ketimbang DKL. Dulu, secara intens Kostela secara independen berani membuat antologi-antologi karya sastra, khususnya puisi. Mulai dari Imajinasi Nama, Anggrek Bulan, Rebana Kesunyian, dan lain-lain yag kesemuanya itu terbitan dari Kostela. Meskipun dalam bentuk yang sederhana. Selain itu, Kostela juga menggagas berdirinya majalah sastra Indupati. Dan nama Indupati pun sampai terdengar dikalangan sastrawan luar pulau juga. Memang luar biasa. Namun entah mengapa, cahaya tersebut belakangan ini sedikit meredup. Dan mungkin hal-hal itulah di awal tahun 2009 besok yang kembali dikobarka. Hingga membakar jiwa-jiwa yang kering dalam berkesenian dan bersastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat penting penyuaraan identitas pribadi itu. Karena dengan melakukannya, seseorang atau komunitas dapat dikatakan hidup, tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan yang heterogen ini. Ia tidak hidup membatu, tetapi juga berjalan, bergerak dan menggapai satu tujuan dan cita-cita yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-2842794955548951392?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/2842794955548951392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=2842794955548951392' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2842794955548951392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2842794955548951392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/11/gedung-kesenian-dkl-dan-kostela-dalam.html' title='GEDUNG KESENIAN, DKL, DAN KOSTELA DALAM BAYANG-BAYANG MODERNITAS'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-6991009097573675507</id><published>2008-10-30T10:18:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:52:17.635-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Sebuah Sugesti Pembodohan</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu kita mengenal istilah ini. Tidak hanya itu, jangankan dalam dunia kesusastraan (fiksi), bahkan kita sendiri kerap mengalaminya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Ya, benar! Istilah itu adalah konflik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dielak lagi, jika kita mengatakan bahwa karya sastra merupakan mimesis. Karya sastra adalah gambaran realitas yang diusung oleh pengarang ke dalam bentuk teks tulis. Karya sastra adalah miniatur kehidupan. Jadi ini sudah tidak hal yang baru lagi jika di dalam sebuah karya sastra mengandung rekaman kejadian-kejadian yang melingkupi diri pribadi seseorang dengan realitas sosialnya. Ini bisa dibuktikan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengapa demikian? Hal itu disebabkan oleh eksistensi karya sastra itu sendiri. Yaitu sebuah kreatifitas manusia. Yang dinamakan kratifitas sastra itu bersumber pada pengalaman pribadi seseorang yang telah diendapkan dalam pikiranya. Yang mengalami proses imajinatif, penilaian, serta perenungan. Entah itu murni dari pengalaman pribadinya. Atau bersumber pada pengalaman orang lain yang telah dikonsumsi menjadi pengalaman pribadi oleh seorang kreator (pengarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitas ada tokoh. Dalam karya sastra (fiksi) juga ada tokoh. Kedua-duanya sama-sama memiliki karakter sebagi cermin lakuannya. Dalam realitas, seorang tokoh memiliki perjalanan hidup. Dalam karya sastra (fiksi) juga sama. Dalam realitas terjadi konflik dan pemecahan konflik. Dalam karya sastra (fiksi) juga terdapat hal yang sama. Peristiwa-peristiwa sosial juga terdapat dalam realitas masyarakat dan karya sastra (fiksi). Hal itulah yang kiranya menjadi pondasi dasar bahwa karya sastra (fiksi) adalah mimesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak terlalu jauh pembahasannya, maka perlu dibatasi. Kita coba batasi pada wilayah konflik dalam karya sastra. Ini bukan konflik antar pengarang atau kritikus sastra perihal kehadiran karya sastra (fiksi) di tengah-tengah publik sastra. Melainkan konflik yang terbangun di dalam unsur intrinsi karya sastra. Yaitu unsur yang membangun karya sastra dari dalam yang terkandung pada alur cerita. Ya benar! Konflik yang ada dalam alur cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya konflik dalam karya sastra sama persis dengan munculnya konflik dalam realitas kehidupan yang melingkupi diri pribadi seorang individu. Sama-sama bertumpu pada adanya problematika hidup. Entah itu problem pribadi dengan realitas sosial yang ada. Atau problem antarmanusia (antartokoh dalam fiksi). Ada konflik kecil. Ada pula konflik besar. Konflik besar biasanya hadir disebabkan oleh eksistensi konflik kecil. Konflik besar pada dasarnya akan mengarah pada klimaks dan peleraian. Namun perlu dicatat, bahwa tidak semua konflik sampai pada klimaks dan membutuhkan peleraian. Hanya konflik besar lah dapat mencapainya. Yaitu konflik yang menandai bahwa cerita itu akan segera usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya konflik dalam alur cerita merupakan salah satu elemen inti yang mampu menggugah hati penikmat karya sastra (fiksi) untuk larut dalam alur cerita. Pembaca seolah-olah hadir sendiri sebagai pelaku cerita. Disinilah letak kejeniusan seorang pengarang. Dengan membubuhkan konflik, pembaca akan merasa tidak sadar bahwa dia sedang dibodohi oleh pengarang. Ia tidak sadar kalau sedang digeret masuk ke dalam alur cerita. Sehingga ia secara sepontanitas akan menunjukkan ekspresi marah, geram, benci, merenung, sedih, dan bahkan ada juga yang sampai meneteskan air mata. Namun semua itu tinggal kekuatan pengarang dalam menghadirkan konflik tersebut. Mampukah pengarang mempengaruhi pembaca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memicu hadirnya konflik yang sanggup menyugesti pembaca, ada hal-hal yang patut diperhatikan sebelumnya. Salah satunya adalah penyematan falsafah hidup dalam konflik tersebut. Dengan adanya hal itu, pembaca akan larut untuk menyelami sekaligus merenungi ungkapan-ungkapan yang terujar oleh tokoh-tokohnya. Secara pribadi, pembaca akan mencoba membentur-benturkan ujaran-ujaran itu dengan realitas yang ada. Entah pembaca sepakat dengan ujaran itu. Atau tidak sepakat dan berontak hingga menggugah pemikiran serta penilaian yang baru. Ini sudah dapat dikatakan sebagai keberhasilan pengarang dalam melarutkan pribadi pembaca kedalam karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, biasanya keterlarutan pembaca ke dalam cerita juga dapat ditempuh dengan jalan penajaman perilaku antartokoh serta pengembangan dan lama penceritaan saat terjadi konflik. Entah konflik yang terjadi antara tokoh antagonis dengan tokoh utama maupun tokoh protagonisnya dalam realitas cerita. Atau sebaliknya. Bisa juga penajaman perilaku tokoh utama dengan tokoh protagonis saat terjadi konflik. Penajaman serta pengembangan dan lama penceritaan konflik pribadi seorang tokoh juga termasuk di dalamnya. Missal: tokoh utama ada konflik dengan tokoh antagonis. Tokoh utama difitnah, diculik dan diadakan penyiksaan yang begitu sadis oleh tokoh antagonis. Peristiwa ini tidak sertamerta disajikan dengan bahasa leterleg seperti ungkapan di atas. Namun harus diperluas. Baik diungkapkan dengan dialog-dialog atau pengejawantahan kesadisan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itulah yang kiranya menjadi pemicu timbulnya ketertarikan dan keterlarutan pembaca akan sebuah karya sastra (fiksi) melalui konflik yang ada. Perlu dicatat juga bahwa dengan adanya konflik, secara alamiah akan memantik hadirnya pesan moral sekaligus nilai-nilai yang berharga baik secara implisit maupun eksplisit. Namun besar tidaknya pengaruhnya dalam pribadi penikmat karya sastra (fiksi) masih ditentukan oleh penajaman dan pengembangan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, kekuatan inti dalam menyugesti penikmat karya sastra (fiksi) agar tertarik dan larut dalam sebuah karya terletak pada kekuatan pengarang dalam membangun konfliknya. Akan tetapi masih ada cara lain untuk menarik minat baca publik sastra terhadap sebuah karya, yaitu dengan menghadirkan suspene, surprise, plausubilitas, foreshadowing, dan backtracking.  Agar penikmat karya sastra (fiksi) benar-benar menyelami dan larut ke dalam sebuah karya tersebut, maka buat saja konflik yang banyak. Tentunya semua itu juga harus disesuaikan dengan panjang karya yang dibuat oleh seorang pengarang. Banyak konflik namun kurang pengembangan juga mampu mengacaukan kekhusukkan penikmat saat melakukan proses pembacaan. Sekali lagi, konflik mampu menjadikan penikmat karya sastra (fiksi) secara sepontanitas akan menunjukkan ekspresi marah, geram, benci, merenung, sedih, dan bahkan menangis tersedu-sedu. Dan itulah kekuatan dahsyat yang terpancar lewat konflik dalam alur cerita. Yang kadang dirasa membodohi penikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 01 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-6991009097573675507?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/6991009097573675507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=6991009097573675507' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/6991009097573675507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/6991009097573675507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/10/menggugah-hati-dengan-konflik-sebuah.html' title='Sebuah Sugesti Pembodohan'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-349670592821808627</id><published>2008-10-30T10:11:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:52:34.139-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>MEMOAR</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A … a … a … tida …k! Ini tidak mungkin! Bagaimana semua ini bisa terjadi? Sungguh aku tidak percaya.  Semuanya terasa begitu cepat. Baru kemarin aku melihat matahari masih terbit dari timur, namun sekarang? Ia telah terbit dari barat!”. Gemuruh batin Fatikh terasa menyesak dada. Ia bingung akan kejadian pagi itu. Begitu juga dengan orang-orang yang ada disekelilingnya. Mereka berlari-larian kian ke sana dan ke mari. Mencari jawaban yang pasti.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi hari ini? Apa yang mesti aku lakukan?”. Fatikh takut. Ia berlari kencang ke selatan. Menghampiri sebuah pohon besar seraya mencari perlindungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, orang-orang banyak yang bergelimpangan. Jatuh dan bangun lagi. Bertabrakan satu sama lain sebab kepanikan yang semakin berpilin. Goresan luka tak dapat dicegah. Darah mengucur dari kening, tangan, kaki, dan bagian tubuh yang lain. Namun semuanya tak dirasa. Hanya keselamatan nyawa yang menjadi tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerit histeris terdengar di mana-mana. Satu persatu nyawa melayang tergilas kaki-kaki sesamanya. Yang terjatuh dan tak mampu bangkit, kematian pasti menghampirinya. Terik matahari semakin lama bertambah menyengat. Jaraknya hanya tinggal sehasta. Orang-orang semakin bingung di buatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah kita akan mati semua? Tuhan ……” teriak seorang lelaki dari kejauhan.&lt;br /&gt;“Aku tidak ingin mati seperti ini! Tolong ……” teriak seorang gadis yang berambut ikal.&lt;br /&gt;“Panas ……”.&lt;br /&gt;“Ini kiamat ……Kiamat telah datang ……”.&lt;br /&gt;“Tidak ……ini bukan kiamat. Ini hanya bencana alam biasa.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak tahu lagi akan apa yang harus dilakukannya. Mereka hanya mampu berlari dan berteriak histeris menghadapi keadaan yang begitu pelik. Sementara itu, Fatikh masih berada di bawah pohon besar. Berdiri dengan pandangan mata yang kosong. Menatap pesona yang begitu merong-rong. Tiba-tiba pohon itu daun-daunnya terbakar. Merambat pada ranting dan dahannya. Batangnya pun akhirnya pecah dan terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A ……a ……a ……” Fatikh menjerit. Berlari menjauh dari pohon itu.&lt;br /&gt;“Ya Allah, mengapa bumi jadi begini? Mungkinkah ini akibat ulah tangan kami? Tolong hentikanlah semua ini. Jangan biarkan  bumi hancur tak terkendali. Berikanlah kami kesempatan taubat sekali ini. Ya Allah. Kepada siapa lagi kami mengharap pertolongan diri, selain kepada-Mulah Dzat yang menguasai.” puji Fatikh disela nafasnya yang kian tersengal-sengal. Ia masih saja berlari. Menghampiri satu tempat ke tempat yang lain. Namun tak ada satu pun yang mampu memberinya perlindungan. Kini, hanya sebatas alunan tasbih yang bisa dikumandangkan. Ia larut dalam prahara zaman.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatikh terlihat gelisah. Tubuhnya berkeringat dingin. Dan nafasnya tersengal-sengal. Raut wajahnya bak bulan kesiangan. Tampaknya ada sedikit rasa tertahan.&lt;br /&gt;“Ah ……h ……h ……”. Fatikh menghentakkan suaranya keras-keras. Ia terbangun dari tidurnya. Masih dalam pandangan hampa. Keseimbangan jiwanya belum juga sempurna. Ia duduk melongo mencoba menyetabilkan irama nafasnya. Sedikit berfikir akan kejadian yang sempat dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, malam masih bercumbu. Mendekap jasad dengan sayap-sayap dingin merayu. Fatikh masih bercanda dalam kehampaan jiwa dan kesunyian ruang itu. Pengap tanpa seberkas lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirih lambaian angin bersalam. Mengantar qasidah adzan menyapa gendang pendengaran. Namun ini bukanlah adzan subuh. Ini adzan qobla subuh. Tepatnya kira-kira pukul 2.30 dini hari. Sayu, Fatikh mendengar lantunan andzan itu. Lahan perlahan keseimbangan jiwanya kembali utuh. Ia bangkit dari duduknya. Berjalan sedikit gontai ke arah meja. Mengambil sebatang lilin dan menyalakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit ruangan itu bertambah terang seiring keseimbangan jiwa Fatikh yang semakin gemilang. Ia menunggingkan lilin itu. Dan melelehlah. Tetes demi tetes lelehan itu jatuh di hamparan meja dekat tempat tidurnya. Lelehan lilin itu laksana deru jantung Fatikh yang kian mereda. Ia lalu menegakkan lilin itu di atas lelehan tadi. Di atas meja. Begitu pun ia juga menegakkan hatinya yang beberapa saat lalu sempat gundah. Oleng akan sebuah peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatikh berjalan kembali ke tempat tidurnya. Duduk menghadap pintu. Ia mencoba merenungkan kembali, mimpi yang telah dialami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa aku bisa bermimpi seperti itu? Apa yang akan terjadi pada diriku di hari akhir esok? Akan selamatkah aku saat hari itu tiba? Apa yang akan terjadi dengan kehidupan ini? Bagaiman nasib bumi di kemudian hari? Benarkah kiamat itu demikian? Orang-orang sama-sama sibuk dengan urusannya sendiri. Mencari perlindungan dan keselamatan diri. Tanpa memandang siapa yang ada di sisi. Entah sanak, saudara, dan bahkan keluarga.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seribu pertanyaan berjubal menumpuk dalam pikiran Fatikh. Ia galau setelah mendapat mimpi seperti itu. Pandangannya masih tertuju ke pintu yang sedikiti mengatup. Pintu itu tiba-tiba lirih terbelai angin. Sedikit mengembang. Dan lumayan terbuka melebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adakah semua ini kan menjadi pembuka pintu hatiku yang selama ini masih rapat terkunci? Megantar aku agar semakin mendekatkan diri pada Dia yang Maha Suci nan Sejati! Sungguh aku tak mau dalam kepayahan diri seperti mimpi yang telah terlukis ini!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatikh menghempaskan nafas keras-keras. Seraya melepaskan segala beban yang menggumpal di dadanya. Sekarang ia sedikit lega. Sejenak ia menolehkan kepalanya ke samping kanan. Dalam pandangan matannya, ia menangkap seberkas cahaya lilin yang berkobar menyala-nyala. Berklebat menyambar-nyambar mengarah angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mimpiku tadi adalah seberkas sinar pencerahan? Meskipun hanya kecil, namun sudah cukup memberi petunjuk jalan. Menerangi hatiku yang pekat kelam. Mungkinkah ini ……?” Fatih tiba-tiba terdiam. Membekukan gumamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana saat itu memang benar-benar sunyi. Membawa keheningan dan kejernihan hati. Mungkin sebab itulah Rasulullah dulu menyaran kepada umatnya agar berkenan melakukan shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Saat itulah, dimana akan tercipta satu kedekatan batin antara Sang Khaliq dengan hambannya. Apa lagi di sepertiga malam terakhir. Dan konon dikisahkan bahwa sesungguhnya setiap malam, di sepertiga akhir malam, Allah turun ke langit dunia. Allah menawarkan kepada siapa saja yang pada saat itu bermunajat kepadan-Nya. Allah berseru dan memanggil mereka. Adakah yang bisa aku Bantu? Adakah yang bisa aku Bantu? Namun semua itu bukan berarti Allah benar-benar turun dan menghampiri manusia, melainkan berkah dan rahmat-Nnyalah yang diturunkan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, apa arti semua mimpiku ini? Sungguh, aku begitu takut akan segala apa yang akan terjadi menimpaku kelak. Aku tak kuasa dan tak kuat jika itu menimpaku. Aku tak ingin semua mimpiku benar-benar menjadi nyata. Aku berharap kepada-Mu ya Allah dengan segenap puja-pujiku.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatikh khusuk dalam renungannya. Tak terasa derai air mata mengalir lewat kedua sudut kembarnya. Pipi yang tadinya kering kini telah terlihat basah. Fatikh sesekali merebahkan tubuhnya. Menerawang jauh ke angkasa. Ia teringat akan semua perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia menikam perasaan ibunya dengan pisau kata-kata. Saat itu, Fatikh sedang asyik melihat tayangan televisi dan ibunya memanggil-manggil, meminta tolong kepadanya agar mengisi kola musholah. Menimbakan air dari sumur yang ada di sampingnya. Tapi, ia menolaknya. Ia tidak mau diganggu sebab lagi ada siaran langsung pertandingan sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat di sesalkan, Fatikh menolaknya dengan ungkapan yang sedikit menggigit hati ibunya. Apa lagi saat ibunya datang di hadapannya. Ia justru membentak-bentak hingga mata ibunya sempat berkaca-kaca. Sementara itu ia masih asyik melihat tayangan televisi tersebut. Dan malah mengeraskan suara televisinya. Ibunya terpukul lalu mengundurkan diri dari hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ibu tidak dengar? Saya bilang nanti, ya nanti. Tunggu sebentar saja tidak bisa. Sabaran dikit apa tidak bisa. Pertandingan lagi seru-serunya kok bisanya ganggu saja. Kalau ingin cepat ya isi saja sendiri. Lagian orang-orang bisa mengambil air wudlu di rumahnya masing-masing. Ibu ngerti sedikit sama Fatikh dong!” seru Fatikh dengan nada sedikit membentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“………” Ibunya hanya terdiam. Menjatuhkan embun air mata dari bening sinar matanya.&lt;br /&gt;Kejadian itu begitu membekas di hati dan pikiran Fatikh. Sehingga ia menghubungkannya dengan mimpinya barusan. Kini kejadian itu ditangkapnya laksana penjaga gawang yang menangkap bola pengalaman. Dipegang dan digenggam erat untuk direnungkan. Dijadikan sinar pencerahan demi suatu hikmah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hatinya, kini Fatikh pun beri’tikad kuat mempertahankan mahmudah sikapnya agar tidak sampai kebobolan lagi oleh serangan nafsu sesaat yang membabi buta. Membendung dan menghalau jauh-jauh bola permasalahan yang ada. Ia laksana pemain belakang dalam permainan sepak bola. Ia juga berusaha melakukan perlawanan dan penyerangan terhadap kemungkaran yang selalu menyugesti pribadinya. Berusaha mengobrak-abrik dan mengalahkannya. Ia layaknya striker yang tak kenal lelah dalam permainan denyut batinnya. Mencari cela kosong kesadaran untuk menumbangkan nafsu angkara murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hening sunyi malam itu, Fatikh sadar akan keseimbangan hidupnya. Ia merasa butuh mengatur keseimbangkan diri dalam membendung dan menyerang segala hal yang memicu kemungkaran pribadinya. Entah yang dipicu oleh kehendak pribadinya maupun orang lain. Ia mencoba mengatur irama pemainan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamar itu pikiran Fatikh menerawang jauh entah ke mana. Percik perenungan diri seolah terus mengalir laksana mata air pegunungan yang tak berkesudahan. Ia bahkan gemetaran tatkala mimpi itu terus menimbulkan seribu pertanyaan akan jejak akhlaknya yang sungsang. Ia hanyut dalam lambaian lilin oleh lirih angin yang berpilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, maafkan aku. Sungguh besar dosa yang kuperbuat untukmu hingga sampai medapat peringatan seperti ini. Ya Allah, ampunilah dosaku atas kelalaianku. Sungguh aku tak mau mengantongi kesusahpayahan di esok hari.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, berapa banyak tetes keringat yang kau tumpahkan untukku! Sejak kepergian mendiang ayah waktu itu, kau telah berjuang sendirian. Menumpahkan kasih sayang yang tak berkesudahan. Namun apa yang kau dapatkan dariku Bu? Sakit hati yang telah aku persembahkan kepadamu. Luka yang telah aku tanam di hatimu.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, aku tahu betapa besar harapan Ibu kepadaku. Kau beri aku nama Fatikh sebab kau ingin diriku berhiaskan kebajikan. Menyuarakan kandungan al-Quran. Tapi apa yang sekarang bersarang dalam diriku? Sungguh Bu, sekarang ini aku tak pantas menyandang nama Fatikh. Apa yang aku lakukan terlalu menyimpang jauh dari hakikat nama itu. Ya Allah, mungkinkah aku tak kuat menyandang nama seagung itu hingga aku berpaling dari hakikat namaku sendiri? Dan ketika aku perhatikan, setiap ada nama agung semacam itu kebanyakan perilakuku manusianya bertolak belakang dengan hakikan namanya. Apakah ini sudah menjadi kodrat? Atau hanya sekedar isyarat? Sungguh, ampunilah aku Ya Allah atas segala dosa-dosaku.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tanpa suara yang terisak-isak, linangan air mata Fatikh kian menggerimis. Satu persatu butiranya jatuh di pangkuannya. Membasah kain sarung yang dipakainya. Ia merasa begitu berat beban dosa yang dipanggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fatikh, Fatikh, bangun Nak. Sudah jam tiga.”. Lirih suara Ibu Fatikh terdengar di telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu memecah keheningan jiwa Fatikh yang larut dalam perenungan. Namun Fatikh masih khusuk dalam keheningannya. Justru dengan suara itu, pesona batin Fatikh semakin bergelora. Ia bertambah haru akan ungkapan cinta kasih yang diberikan ibunya. Samudra penyesalan kini membuncah. Menghantamkan tangan-tangan ombak pada karang hati yang mulai luluh oleh suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tikh, apa kamu sudah bangun ya? Kalau sudah, lekas kemari. Ibu sudah persiapkan semuanya. Tapi kamu cuci muka dulu ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara gaduh di ruang makan. Suara piring yang bersinggungan dengan sendok dan meja makan. Tampaknya Ibu Fatikh telah selesai mempersiapkan makanan sahur untuk hari itu. Tidak lama kemudian suara jam dinding berdenting tiga kali dengan kerasnya. Pertanda waktu sudah menunjukkan tepat pukul tiga dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan sahur merupakan sebuah rutinitas yang bersifat sunnah sebelum melakukan ibadah puasa di kala waktu fajar tiba hingga terbenanmnya matahari. Konon dikisahkan bahwa waktu yang paling afdhol malakukan makan sahur adalah menjelang imsak. Jadi, ini sudah menjadi kebiasaan jika seseorang mengakhirkan makan sahurnya. Kalau boleh diperkirakan ya, kira-kira lima belas menit sebelum imsak tiba. Saat itulah seseorang harus melakukan makan sahur. Semuanya itu demi mendapatkan keafdholannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah menunjukkan tepat pukul tiga. Sementara itu, imsak jatuh kira-kira pukul empat kurang lima belas menit. Jadi, harus menunggu setengah jam lagi Fatikh dan Ibunya agar mendapatkan keafdholan dari makan sahurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Bu, Fatikh sudah bangun”.&lt;br /&gt;“Lekas kemari Nak, nanti makanannya keburu dingin”.&lt;br /&gt;“Sebentar lagi Bu”.&lt;br /&gt;“Ya sudah. Ibu tunggu ya”.&lt;br /&gt;“………” Fatikh berdiam diri. Kesunyian malam kembali melingkupi.&lt;br /&gt;“Ya Allah, hanya kepada-Mulah, aku menyembah dan mengharap pengampunan. Kaulah Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Bijak Sana. Pada bulan yang mulia ini, limpahkanlah rahmat dan pengampunanmu atas diriku yang telah lalai.” Puji Fatikh lewat geming kecil bibirnya.&lt;br /&gt;“………” Fatikh sejenak terdiam. Dan kembali terbersit sebaris pertanyaan dalam benaknya. Ia gamang akan puja-pujinya.&lt;br /&gt;“Namun bagaimana aku bisa mendapatkan ampunan-Mu, sementara aku belum mendapatkan ampunan dari sesamaku? Aku belum minta maaf kepada ibuku atas kekhilafan dan kedurhakaanku? Apakah saat ini juga aku harus minta maaf kepada ibuku?”&lt;br /&gt;“………Ah tidak, lain kali saja. Sebentar lagi kan lebaran! Aku totalan dosa waktu itu saja. Lagian hanya tinggal beberapa hari saja. Tidak lebih dari dua minggu lagi.”&lt;br /&gt;“………Tapi, bagaimana jika ajalku telah medahuluinya? Aku mati sebelum minta maaf kepada ibuku! Aku pasti akan membawa beban dosa yang begitu berat ke akhirat sana. Bagaimana dengan nasibku saat hari kiamat tiba? Dalam mimpiku saja sudah sebegitu payahnya, apalagi dalam kenyataannya. Sungguh aku tak sanggup membayangkannya. Aku tak kuat. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini? Sementara, saat ini aku masih malu-malu mengakui kasalahan dan meminta maaf kepada ibuku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah hampir menunjukkan tepat pukul tiga lebih tiga puluh menit. Fatikh masih berjibaku dengan serpihan-serpihan pertanyaan yang kian menggumpal dalam benaknya. Sementara itu ibunya masih setia menunggunya di meja makan tanpa seorang kawan. Ia pikir, Fatikh tertidur lagi. Jadi, ia terpaksa mengulangi seruannya sekali lagi kepada Fatikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, kamu tidar lagi ya? Lekas kemari! Sudah hampir imsak nih. Nanti kamu tidak kuat loh puasannya. Apa mesti harus ibu susul dulu?”&lt;br /&gt;Mendengar serua itu, dengan sesegera mungkin Fatikh menyahutnya. “Tidak perlu Bu. Fatikh akan bergegas ke Ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatikh pun bangkit dari duduknya. Sejengkal demi sejengkal mengayunkan langkah. Ia terlihat sedikit gontai dalam berjalan. Kakinya sedikit kesemutan. Bersama keteguhan hati yang masih lunglai dan keseimbangan jiwa yang masih terhuyung-huyung oleh ombak perdebatan, ia mencoba memenuhi seruan ibunya. Ia harus berperang dengan dirinya sendiri untuk sebuah keputusan yang pasti. Kini pun ia harus bersahur. Untuk perjalanan esok yang lebih luhur. Berpuasa, bukan sekedar menahan haus dan lapar, namun membendung segala kemungkaran insaniah. Belajar mati dalam kehidupan. Membutakan pandangan. Menulikan pendengaran. Membisukan lisan. Dan bahkan mendiamkan denyut nafsu yang terdalam. Berkiblat pada satu tujuan. Keridloan Tuhan.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-349670592821808627?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/349670592821808627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=349670592821808627' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/349670592821808627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/349670592821808627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/10/memoar.html' title='MEMOAR'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-2338244398138406864</id><published>2008-10-30T10:04:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:53:09.461-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>RELIGIUITAS SANG PRIYAYI</title><content type='html'>Judul Buku: Serasi Denyutan Puri&lt;br /&gt;Pengarang: Suryanto Sastroatmodjo&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Pujangga&lt;br /&gt;Tebal Buku: 60 hlm; 13 x 20, 5 cm&lt;br /&gt;Peresensi: Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Religiuitas dewasa ini haruslah dinomorsatukan. Seorang anak manusia hauruslah senantiasa kembali pada hakekata religius yang sebenarnya. Bukan religius asal-asalan. Dan bukan religius kelembagaan semata.&lt;span class="fullpost"&gt; Melainkan religius yang mencerminkan pengagungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengagungan yang bukan sekadar kembang bualan. Namun berslimutkan dalam tangan perjalanan. Biar realitas kehidupan mengalami penurunan intensitas kecarut-marutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk pengagungan itu dapat dilakukan dengan jalan mematuhi segala perintah Tuhan serta meninggalkan segala larangan-Nya. Dalam hal ini adalah ingat kepada Tuhan dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Baik bumi sebagai makro kosmos maupun mikro kosmos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, segala kerusakan yang berada pada makro kosmos itu bersumber pada kerusakan mikro kosmosnya; yaitu pribadi manusiannya. Dan kerusakan mikro kosmos itu dipicu oleh batiniah yang keropos. Yang selalu dilingkupi hawa nafsu. Memburu kesementaraan dunia. Meninggalkan kesejatian manusiannya. Menghapus eksistensi tuhannya. Oleh sebab itu, butuhlah kiranya dengan segera, seorang anak manusia kembali melakukan penyucian batinnya. Mencuci reget-reget hati agar dapat mengagungkan Tuhan Yang Maha Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balada Serasi Denyutan Puri merupakan suatu karya agung dari seorang pujannga besar keraton Surakarta dewasa ini. Penyair merupakan cucu dari Panembahan Adipati Poeger V Lumajang dan putra mantan Ragent Kota Kabupaten Bojonegoro yang bernama Pangeran Adipati Surya Hadi Negara III dengan istri Ray Sri Haluwiyah Wuryaningrum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cover buku yang bergambar teratai ini, dapat ditelisik bahwa Serasi Denyutan Puri mengandung suatu nilai keilmuan dan pemikiran yang bersumber dari kejernihan batin penulisnya. Teratai yang rekah mengambang di tengah tenangnya air kehidupan seolah akan memberikan keindahan dan kedamaian dalam batiniah anak manusia. Asumsi itu menyemburat dari pandangan terhadap kepribadian pengarang yang kerap melakukan penyucian hati lewat semedi dan tapabrata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, nuansa religiuitas, falsafah, dan mistisme dibangun dengan kental yang kesemuanya itu berakar pada kebudayaan dan tradisi kejawen. Hal itu disebabkan oleh eksistensi beliau yang cenderung mengakrabi dan mengabdikan diri secara penuh dalam kekeratonan Surakarta dan juga bertumpu pada latar belakang beliau sendiri. Sehingga tidak jarang ketika membaca karya ini akan menemukan istilah-istilah bahasa Jawa yang dimasukkan ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masukknya unsur bahasa Jawa ke dalam karya ini bukanya melemahkan arti. Melainkan justru membentuk kekuatan tersendiri. Melaluinya, ungkapan bahasa yang dipakai dapat menjadi plural dan multi tafsir. Itu bagi pembaca yang mengerti dan paham bahasa Jawa. Namun bagi mereka yang tidak tahu-menahu dengan bahasa Jawa, ini bisa menjadi membingungkan dan menggaggu dalam proses pembacaan serta pemahaman maknanya. Jadi lebih enak lagi jika buku ini dilengkapi dengan catatan kaki tentang istilah-istilah bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya KRT. RPA. Suryanto Sastroatmodjo laksna lambaian angin. Bebas bergerak menelusup pada ruang tafsir pembacanya. Ia begitu menyejukkan, namun kadang kala menyentak-mendobrak bagi jiwa yang gerah mencari hakikat dan kesejatian hidup yang sesungguhnya. Ia memberi pemahaman akan tujuan dan makna hidup sekaligus menggugah jiwa untuk segera merengkuh kesejatiannya. Pemahaman yang disuguhkannya merupakan pemahaman khas kejawen yang menyemburat melalui kemurnian religiuitas orang Jawa sesungguhnya. Religiuitas yang tidak condong pada satu kelembagaan agama tertentu. Yaitu religiuitas yang hanya mengarah pada hakekat Tuhan Yang Maha Esa. Sungguh, karya-karya yang sarat akan makna, etika dan estetika, sekaligus sentuhan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan balada ini dicetak dengan sangat sederhana dan terbagi dalam tiga bagian. Sesederhana jiwa dan kepribadian penyairnya. Namun lebih dari itu, muatannya sungguh luar biasa yang tak tertakar oleh dahaga hati para perindu kesejatian raga. Bagian pertama buku ini berjudul Senandung Bukit dengan muatan sepuluh balada. Yaitu; Balada Segelas Kahwa, Balada Bronjong, Balada Si Lintang Telanjang, Balada Putra Aji, Balada Wiralodra, Balada Kong Gedah, Balada Gesang Geseng, Balada Rohana, Balada Perawan Sulung, dan Balada Si Bintang Timur. Bagian kedua berjudul Dalam Tungku yang berisikan empat belas balada. Yakni; Balada Wuragil Bugil, Balada Tuak Tempelak, Balada Lolong Sang Sono, Balada Kembang Kacang, Balada Kacung, Balada Julang Jalang, Balada Marmer Tembus, Balada Pulau Drini, Balada Nur Rasa, Balada Juntrung, Balada Si Bagus, Balada Rahadyan Ambarkaton, Balada Gagak Rimang, dan Balada Jago Keprok. Dan yang ketiga berjudul Ujung Ke Ujung yang di dalamnya terdapat delapan subjudul. Yaitu; Balada Cenayang, Balada Telawar, Balada Puring, Balada Bianglala, Balada Kepopongan, Balada Nilakandi, Balada Kucing, dan Balada Sang Bocah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain yang terungkap sebelumnya, kekurangan buku ini yang lain adalah tidak adanya daftar isi sehingga sedikit menyulitkan dalam proses pendeteksian isinya. Selain itu, penyematan tiap bagian balada-baladanya kurang nyaman dinikmati sebab dalam pergantian subjudulnya tidak diletakkan dalam lembar yang berbeda. Penyusunan layout-nya dijeluntrungkan saja. Meskipun demikian, keindahan dalam isi dan muatanya tidak berkurang sedikitpun. Itu hanya dari sisi kemasannya dalam bentuk buku saja. Dan selanjutnya, selamat mendalami. Semoga kedamaian kan bersemi di kedalaman sanubari akan keindahan serasi denyutan puri. Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-2338244398138406864?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/2338244398138406864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=2338244398138406864' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2338244398138406864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2338244398138406864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/10/religiuitas-sang-priyayi.html' title='RELIGIUITAS SANG PRIYAYI'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-7540091181125440346</id><published>2008-10-21T19:37:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:52:54.230-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>LAMONGAN BERTERIAK LEWAT SENI DAN SASTRA</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan! Mungkin nama ini terlalu tabu di tengah-tengah semua gendang pendengaran anak manusia. Atau bisa jadi anda akan mengerutkan dahi dan bahkan merasa takut ketika nama tersebut disebut. Ya, bagi saya itu wajar. Kota kecil yang terletak antara kota pudak Gersik dan kota Bojonegoro ini memang pada mulanya dipandang sebelah mata oleh kota-kota lain di sekitarnya. &lt;span class="fullpost"&gt;Kota yang belum memiliki talenta lokalitas yang mampu menyuarakan namanya di kanca perkembangan zaman. Namun, menjelang peristiwa peledakan bom di Bali, nama kota ini berkibar di ujung daun. Entah pada waktu itu daunya tergerogoti ulat atau daun hijau muda yang segar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yang jelas, kebanyakan orang yang mendengar nama Lamongan, hati mereka akan nggiris, ciut, dan takut. Mereka saling mengasumsikan akan betapa kerasnya jiwa-jiwa orang Lamongan. Tapi tidak apalah, yang penting sudah terkenal bahkan secara internasional. He....he....he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang terjadi? Semenjak peristiwa peledakan bom itu seolah-olah hati dan jiwa masyarakat Lamongan terlecuti oleh cambuk membara. Mereka semua terbakar untuk berlomba-lomba mengibarkan panji Lamongan di muka publik lokal, nasional dan bahkan internasional. Bahwa Lamongan itu indah, damai, dan lembut. Dari berbagai lini, masyarakat dan Pemkot Lamongan berjuang sekuat tenaga serta semampunya untuk menjunjung tinggi nama Lamongan. Salah satu bentuk usaha tersebut adalah membangun tempat pariwisata WBL (Wisata Bahari Lamongan) dan Goa Istanah Maharani yang bertaraf internasional, menyuarakan Lamongan lewat olahraga sepak bola, ada juga yang melalui seni dan sastra dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang lain tidak perlu disinggung sebab Pemkot Lamongan tengah serius menangani dan terjun di dalamnya. Jangan keras-keras, kita omongkan dari hati ke hati saja. Bagaimana nasib kesenian dan kesusastraan Lamongan kemarin, sekarang, dan ke depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi kesenian tradisional. Pada mulanya cukup banyak kesenian tradisional yang berkembang di kota Lamongan. Mulai dari ludruk, sandur, wayang, kentrung dan lain-lain. Dalam bidang-bidang tersebut cukup banyak komunitas yang berdiri di dalamnya. Namun sekarang ini banyak yang udzur diri. Entah sebab apa, juga tidak mengerti. Yang jelas mungkin sebab kesejahteraan sosial-ekonomi yang kurang dapat dipenuhi. Kini keberadaannya hanya tinggal segelintir saja. Jika hendak dihitung; sandur hanya ada di Modo Kecamatan Ngimbang, Kentrung Ki Dalang Kusairi desa Solokuro, Paguyuban Wayang Kulit Ki Dalang Kasiran desa Randu Bener, Paguyuban Wayang Kulit Ki Dalang Sudikno desa Moro kecamatan Sekaran. Generasi muda sekarang terasa ogah dan gengsi untuk menekuti seni-budaya semacam itu. Hal itulah yang juga menyebabkan semakin menurunnya keberadaan seni-budaya di Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kesenian tersebut, dewasa ini yang sangat berkembang di Lamongan adalah seni teater. Keberadaan teater di Lamongan dapat di katakan telah menjamur. Entah itu komunitas teater yang eksistensinya dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh atau hanya sekedar momental dan bahkan hanya sekedar mengisi kegiatan ekstra sekolah. Komunitas-komunitas tersebut di antaranya adalah teater Taman Babat (pelajar sekolah MAN Babat), Aum (pelajar sekolah MA. Matholi’ul Anwar Simo), Rekat (SMUN Mantup), Intan (SMA 3), Mata Es, Roda (Unisda), STNK (Unisda), Kentrung Formalin (Unisla dan SMA 3), teater MATA (Kranji Paciran), teater KENTUT (Payaman Solokuro), Cicak, Sangbala (pelajar SD Canditunggal Kalitengah). Beberapa nama penggerak di dalamnya adalah Pringgo HR, Sutardi Cempet, Javed Paul Syata, Heri Ambon, Paidi, Rokim Edan, Luqman Tohek, Kadjie Bitheng MM, Rodli TL, Heru Kusubiantoro, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini nama Lamongan terbang membumbung tinggi ke angkasa sambil menebar wewangi kasturi melalui bidang teater. Teater Sangbala yang diasuh oleh Rodli TL berhasil mengantongi juara dalam festival teater internasional. Anak-anak Sangbala dengan naskah yang berjudul Past Game berhasil menyingkirkan rival mainnya baik yang dari dalam negeri maupun luar negeri. Semua itu tidak lepas dari kerja keras, perjuangan dan pengorbanan, serta ridha Tuhan Yang Maha Kuasa. Perjuangan yang dilakukan Sangbala tidak hanya dari segi tenaga, pikiran, material, melainkan juga dengan korban perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon dijelaskan oleh pembina Sangbala bahwa komunitas mereka berjuang mati-matian secara personal untuk dapat mengikuti even tersebut. Meskipun mereka sangat dipusingkan dengan masalah biaya pemberangkatan. Bagaimana tidak pusing, komunitas yang notabenenya bernaung dalam lembaga sekolah kecil serta terpencil dan masyarakat yang relatif berekonomi menengah ke bawah, harus memberangkatkan siswa yang cukup lumaya banyaknya. Segala usaha dilakukan demi mengikuti festival tersebut sebagai wakil Lamongan. Anehnya, saat mengajukan permohonan dana ke Pemkot Lamongan, komunitas ini justru malah dipingpong yang pada akhirnnya berakhir bolong. Tapi ada satu sukarelawan yang mungkin merasa iba, ia rela memberikan bantuan secara pribadi. Meskipun demikian, biaya masih kurang banyak. Jadi ya pembina Sangbala terpaksa harus ngutang dulu untuk menutup kekurang biaya pemberangkatan itu. Walhasil, Sangbala pun menang. Lantas apa yang dilakukan Pemkot Lamongan! Sambuatan hangat yang bagaimana yang diberikan! Penghargaan apa yang disandangkan! Sangbala telah mengharumkan nama Lamongan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Sangbala, keberadaan komunitas teater yang lain juga tidak boleh di pandang sebelah mata. Dengan eksistensi mereka, baik di lokal sendiri maupun di luar kota, perlahan tapi pasti, kredebilitas Lamongan akan terangkat dengan sendirinya. Mereka telah turut meramaikan kota Lamongan. Bahkan kerap mengadakan festival teater antarkota. Yang sungguh aneh dan riskan, pengayoman terhadap pekerja seni dan komunitas teater tersebut masih menunjukkan intensitas yang kurang. Buktinya, gedung kesenian saja masih belum terbangun di Lamongan. Masak, ada orang kok gak punya rumah! Padahal dari sisi kesenian, nama Lamongan berkompeten menyemburatkan sinar gilang-gemilang. Tapi sudah lumayan, sebab sudah ada janji dari pihak Pemkot Lamongan. Tapi kapan terealisasinya? Entah! Ini kalau tidak salah dengar sudah hampir tiga tahunan bahkan lebih, janji itu diujarkan. E.....nyatanya sepetak tanahnya saja masih kabur! Mudah-mudahan tanah di Lamongan tidak habis dibuat bangunan toko dan perumahan. Paling tidak, masih ada dua meter persegi untuk pemakaman kesenian di Lamongan. Maaf salah omong. Maksud saya dua puluh meter persegi untuk pembangunan gedung kesenian di Lamongan. He...he...he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bidang kesusatraan misalnya. Para pekerja dan penggiat sastra sangat montang-manting dalam membudayakan membaca, menulis, dan bekarya kepada masyarakat Lamongan khususnya. Mereka senantiasa mencari dan membentuk regenerasi penulis Lamongan dewasa ini. Selain itu juga menanamkan kepribadian yang menghargai karya dan kreatifitas orang lain. Bentuk usaha yang dilakukannya ada yang mengadakan even lomba menulis puisi tingkat SLTA se-Lamongan (Van Der Wijck Award ke-1), membuat antologi puisi tingkat SLTA, Seminar sastra di sekolah-sekolah, diskusi Candrakirana dan lain-lain. Hal itu tentunya juga tidak lepas dari peranan guru di sekolah-sekolah tertentu yang memposisikan diri sebagai pekerja sastra yang bergerak secara mendasar dan juga para sastrawan serta penulis Lamongan yang lain. Di sana ada Hery Lamongan, Nurel Javissyarqi, Pringgo HR, Bambang Kempling, Rodli TL, Alang Khoiruddin, Haris Del Hakim, Javed Paul Syata, A. Sauki Sumbawi, A. Rodli Murtadho, Rian Sindu, Joko Sandur, Imamuddin SA. Selain mereka masih ada sekian banyak sastrawan Lamongan baik yang bereksistensi di Lamongan sendiri maupun di luar Lamongan. Mereka di antaranya adalah Satyagraha Hoerip, Mashuri, Gaidurrahman El Mistsri, Isnaini Komaruddin, Nur Aziz Asmuni, Aris, Raslayno, Sutardi Cempet, N yeas, Heru Kusubiantoro, Edy Maherul Fata, D. Zaini Ahmad, Heri Kurniawan, Ridwan Rachid, Anis CH, M Bagus Pribadi, Ariandalu, Atrap S. Munir, Ali Makhmud, Ghaffur al-Faqqih, Heri Listianto, Arina Habaidillah, Dijah Lestari, Hartiwi, dan lain-lain. Entah eksistensi mereka saat ini masih mengalir laksana gemericik air atau telah membatu, yang jelas mereka semua pernah mengisi khasanah kesusastran di Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian dan diskusi sastra di Lamongan secara intens dilakukan setiap malam lima belas bulan purnama. Sebab itulah kegiatannya dinamakan Candrakirana. Kegiatan ini digerakkan oleh Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan). Selama beberapa tahun kegiatan ini berjalan dengan lancar dan bergairah. Yang menghadiri acara tersebut cukuplah banyak, bahkan sastrawan luar kota sempat menyinggahkan diri di dalamnya. Beberapa di antaranya ada Mas Gampang Prawoto (Bojonegara), HU Mardi Luhung (Gersik), dll. Namun belakangan ini sempat fakum beberapa saat sebab menurunnya greget regenerasinya. Puncaknya pada dua tahun terakhir yaitu tahun 2006 dan 2007. Tak ada suatu usaha itu yang bebas dari hambatan. Itulah yang mungkin berlaku bagi Candrakirana waktu itu. Sekarang dengan format dan strategi yang baru, Candrakirana kembali mengibarkan benderanya. Semoga menemukan kembali keharuman namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku karya sastra yang menjadi tolok ukur kontribusi pengarang Lamongan cukup banyak. Entah itu dicetak secara terbatas atau disebar di kawasan lokal. Beberapa buku tersebut di antaranya adalah Memecah Badai (1999), Negeri Pantai (2000), Rebana Kesunyian (Kostela 2002), Imajinasi Nama (Kostela 2003), Bulan Merayap (DKL 2004), Lanskap Telunjuk (DKL 2004), Mozaik Pinggir Jalan (antologi puisi SLTA, DKL 2005), Absurditas Rindu (Sastra Nesia 2006), Khianat Waktu (DKL 2006), Memori Biru (DKL 2007), Jalan Cahaya (sajak-sajak SMA, DKL 2007), Gemuruh Ruh (Antologi Sastra Lamongan, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lembaga-lembaga sekolah SLTP dan SLTA tertentu ada juga yang menerbitkan buku antologi sendiri. Semua itu dilakukan hanya semata-mata untuk memotivasi dan menumbuhkan gairah membaca dan menulis sejak dini juga sebagai salah satu bentuk usaha regenerasi sastrawan Lamongan. Selain itu juga diupayakan dengan cara mengundang penulis-penulis ternama seperti Raudal Tanjung Banua, KH. Zainal Arifin Toha (di MA Matholi’ul Anwar) dll, di lokalitas kampus Unisda ada Tengsu Cahyono, Setya Yuwana Sudikan, dll. Di antaranya buku-buku yang diterbitkan adalah, MTs Putra-Putri Simo; antologi puisi dan esai ringan Enjelai (bunga rampai catatan harian siswa 2005), Rinai Sukma dan Guratan Pelangi (Teater Mata Es 2005), Ponpes dan MA. Matholi’ul Anwar Simo; antologi cerpen Mawar Putih (2007), antologi cerpen dan puisi Kristal Bercahaya dari Surga (2008), antologi cerpen The Power of Love (2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara individual, para sastrawan Lamongan juga membukukan karya-karyanya. Di antaranya adalah Herry Lamongan; Lambaian Muara (1988), Latar Ngarep (2006), Surat Hening (2008), Nurel Javissyarqi; Ujaran-Ujaran Hidup Sang Pujangga, Ada Puisi Di Jogja, Tabula Rasa Kumuda, Tubuh Jiwa Semangat, Kekuasaan Rindu Sayang, Segenggam Debu Di Langit, Kajian Budaya Semi, Sarang Ruh, Sayap-Sayap Sembrani, Kulya Dalam Relung Filsafat, Batas Pasir Nadi, Kumpulan Cahaya Rasa Ardana, Trilogi Kesadaran, Balada Takdir Terlalu Dini, Kitab Para Malaikat, Mashuri; antologi puisi Jawadwipa 3003 (2003), Pengantin Lumpur (2005), Ngaceng (2007), Hubbu (novel 2007), Gaidurrahman El Mitsri; Kitab Dusta dari Surga, Langit Mekah Berwarna Jingga (novel 2008) dll, Pringgo HR; Sungai Asal (2005), Bambang Kempling; antologi puisi Kata Sebuah Sajak (2002), Alang Khoiruddin; Lorong Cinta (2000), Perjamuan Embun, Fenomena Sajak Religius (2003), Kontemplasi Sufistik (2004), Oase Cinta (2004), Majenun Mencari Kekasih (2004), Wanita: Pesona Paling Melati (2004), Seruling Cinta (2002), Percikan-Percikan Cinta, Haris Del Hakim; novel Berlabuh di atas Gelombang, Lars-liris, dll, Javed Paul Syata; Syahadat Sukma (2004), Tamasya Langit (2007), The Lamongan Soul (kumpulan sajak dan cerpen 2008), A. Sauki Sumbawi; Interlude di Remang Malam (puisi, 2006), Tanpa Syahwat (cerpen 2006), #2 (cerpen 2007), Dunia Kecil, Panggung dab Omong Kosong (novel 2007), Waktu di Pesisir Utara (novelet 2008), Maskerade (prosa pendek 2008), Rodli TL; novel Dozedlove (Pustaka Ilalang, 2006), Imamuddin SA; Esensi Bayang-Bayang, Sembah Rindu Sang Kekasih, Kidung Sang Pecinta, dan Sasmita Kembang Widerda, M. Rodli Murtadho; Pameran Makam (Pustaka Ilalang, 2008), Kadjie Bitheng; Negeri Dongeng (puisi 2006) dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang unik dari eksistensi sastrawan Lamongan. Keunikannya terletak pada bentuk dan gaya kreatifitas karya yang dihasilkannya. Meski dalam satu paguyuban Lamongan, dari setiap sastrawan memiliki ciri khas masing-masing secara personal. Memang cukup variatif. Tentunya variasi tersebut bertumpu pada latarbelakang sosial dan kedekatan emosional serta psikologi dari tiap pribadinya. Mereka tidak mencipta genosis sastra. Tapi mereka berdiri dengan kekuatannya sendiri-sendiri. Berdiri dengan selera masing-masing. Dan tetap bergerak dalam satu langka bersama dalam menuju muara yang sama pula; kesusastraan Lamongan dalam kanca pergulatan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lamongan juga ada beberapa media cetak yang tengah menampung karya-karya dari luar daerah. Ambil saja Indupati, Tabloid Telunjuk (alm), Jurnal Sastra Timur Jauh, dan Jurnal Kebudayaan The Sandour. Tidak jarang penulis-penulis besar nasional berkenan menggoreskan karyanya di media tersebut. Beberapa di antaranya adalah Budhi Setyawan, Raudal Tanjung Banua, S. Yoga, Alfiyan Harfi, Y. Wibowo, Hamdy Salad, Gugun El-Guyanie, Iman Budhi Santosa, Fahrudin Nasrullah, Teguh Winarso AS, KH. Zainal Arifin Toha, KRT Suryanto Sastroatmodjo, dll (di jurnal kebudayaan The Sandour). Selain itu di Lamonngan juga ada penerbitan yang telah memiliki ISBN, yaitu Pustaka Pujangga, Pustaka Ilalang, Sastra Nesia, dan La Rose. Semua penerbitan itu bergerak pada wilayah kesusastraan. Tidak jarang para penulis terkemuka menerbitkan karya-karyanya di penerbitan Lamongan. Seperti: dari Pustaka Pujangga ada Hudan Hidayat (esai, Nabi Tanpa Wahyu), Teguh Winarsho (novel, Kantring Genjer-Genjer), Binhad Nurrahmat (esai, Sastra Perkelaminan), Amuk Tunteja (cerpen, Marhalim Zaini), dari Pustaka Ilalang ada Supaat I Lathief (Sastra: Eksistensialisme-Mistisme Religius 2008 dan Psikologi Eksistensialisme 2008), dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pergerakan sastrawan Lamongan juga turut berkembang. Demi menjalin relasi dan menyuarakan nama Lamongan di kawasan regional dan internasional, generasi muda sastrawan Lamongan mengambil inisiatif untuk membuat blog di internet. Mereka membentuk komunitas blog yang bernama Forum Sastra Lamongan (FSL). Seluk-beluk dan perkembangan sastra di Lamongan dan sekitarnya mereka dokumentasikan di sana guna memberi infomasi kepada pengunjung blog. Prioritas utamanya adalah para penulis dan sastrawan Lamongan. Anggota FSL pada dasarnya jarang bertemu secara bersama-sama. Mereka menjalin relasi dan persaudaraan dengan jalan lewat email, hand phone, dan bahkan kunjung ke rumah-rumah anggotanya. Itu sih dilakukan bagi mereka yang tengah memiliki sedikit kelonggaran waktu. Paling tidak, paling cepat sebulan ada yang kunjung ke rumah dan itu kadang dilakukan secara bergantian. Sebab semuanya bertumpu pada kondisional waktu dan kesibukan masing-masing. Selain itu juga sebab pengaruh tempat tinggal yang cukup berjauhan. Ada yang tinggal di Surabaya dan ada juga yang di Lamongan. Yang kerap mereka bahas tidak lain adalah bagaimana kesusastraan Lamongan ke depan. Bagaimana kesusastraan Lamongan dapat dikenal hingga taraf internasional. Hal itu kadang dilakukan sambil ngopi bareng di warung pinggir jalan raya atau sekedar di rumah saja. Nama-nama yang tergabung dan bergerak dalam FSL di antaranya adalah Nurel Javissyarqi, Rodli TL, Haris Del Hakim, A Sauki Sumbawi, Javed Paul Syata, dan Imamuddin SA. Dan siapa pun yang ingin gabung bareng FSL, dapat mengirim karya ke; pustaka_pujangga@yahoo.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-7540091181125440346?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/7540091181125440346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=7540091181125440346' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7540091181125440346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7540091181125440346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/10/lamongan-berteriak-lewat-seni-dan.html' title='LAMONGAN BERTERIAK LEWAT SENI DAN SASTRA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-7342224493085463323</id><published>2008-10-21T19:34:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:53:26.928-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kasnadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutedjo'/><title type='text'>BEKARYA UNTUK HIDUP LEBIH LAMA DAN MENGISI KEARIFAN DUNIA</title><content type='html'>Judul Buku: Menulis Kreatif; Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen&lt;br /&gt;Pengarang: Sutedjo dan Kasnadi&lt;br /&gt;Pengantar: Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit: Nadi Pustaka&lt;br /&gt;Tebal Buku: xii + 308 hlm; 14, 5 x 20, 5 cm&lt;br /&gt;Peresensi : Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Melangkah itu indah, berpikir itu merajut dzikir, berkarya itu melukis pesona. Dan menulis kreatif adalah salah satu upaya untuk melukis pesona itu. Sebuah pesona kepenulisan yang sering kali kita abaikan. Padahal Dr. penebekker pernah mengingatkan bahwa menulis itu adalah obat kesehatan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seklumit pernyataan di atas merupakan sebuah sugesti yang sungguh luar biasa yang tersemat dalam buku ini. Ada muatan implisit dari pernyataan tersebut. Menulis kreatif merupakan usaha untuk menghasilkan sebuah karya. Berkarya kerap diilhami oleh segala macam pesona yang hinggap dalam indrawi manusia. Tentunya dalam sebuah karya itu pasti di dalamnya mengandung unsur pemikiran. Ada proses berfikir di sana. Dan dengan berfikir, seseorang samahalnya dengan berdzikir. Jika seseorang telah berdzikir, sudah barangtentu itu merupakan proses peribadatan. Dengan melakukan peribadatan maka langkah seseorang akan menjadi indah dan terarah, mampu mengobati diri sendiri maupun orang lain. Itulah sugesti implisit yang begitu memukau. Maka menulislah barang sejenak untuk mengobati diri sendiri maupun orang-orang yang ada di sisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pernyataan di atas, secara praktis, kemasan buku ini juga mengandung nilai filosofis implisit tertentu. Buku Menulis Kreatif ini dikemas dengan gambar sampul tangan memegang bola lampu dan tagan yang tengah menulis. Dari gambar tersebut, Sutedjo dan Kasnadi seolah memberikan ilustrasi bahwa dengan menulis (bekarya), seseorang sebenarnya telah berpartisipasi dan telah memberi sumbangsi pemikiran dalam dunianya. Dan barang siapa yang telah menyumbangkan pemikiran dalam dunianya, pada hakekatnya dia telah menjadi penerang bagi sesamanya. Siapa yang telah menjadi penerang bagi sesamanya, dia kelak akan dikenang melampau zamannya. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan karya kreatifnya. Maka berkaryalah untuk hidup yang lebih lama dan untuk mengisi kearifan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan judulnya, “Menulis Kreatif; Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen” orientasi pembahasan buku ini berkisar pada masalah puisi dan cerpen. Kiat-kiat dalam menulis cerpen dan puisi akan dikupas dengan seksama di buku ini. Uniknya, buku ini tidak mengarah pada tindak pendektean atau pembelengguan secara teoritis akademis. Khasanah buku ini bersifat memberi wacana praktis akan fenomena-fenomena yang terdapat dalam perpuisian dan pecerpenan. Buku ini bukanlah sebuah teori, tetapi sebuah pemantik praktik. Hal itulah yang mungkin membedakan buku ini dengan buku-buku menulis kreatif yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi buku ini pada dasarnya dipetakan ke dalam dua bagian. Bagian pertama memuat perpuisian. Bagian kedua memuat pecerpenan. Namun penyusunan muatanya dikategorikan ke dalam enam bab. Bab pertama sampai dengan bab ketiga dalam kategori puisi, sedangkan bab keempat samai dengan bab ke enam dalam kategori cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan dari kategori bab satu ke bab yang lain dilaukan secara sistematis dan gradasi. Hal itulah yang menyebabkan buku ini enak dibaca dan dipahami. Kategori pertama bab satu, buku ini memberi pengenalan kepada pembaca akan perpuisian yang dimulai dari pengertian puisi, ragam puisi, pendekatan dalam apresiasi puisi, dan unsur pembangun puisi. Dalam bab dua, buku ini akan menyuguhkan wacana tentang langkah menulis puisi. Dan dilanjutkan pada bab empat masalah teknik kreatif menulis puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori kedua bab empat, buku ini memberi pengenalan kepada pembaca akan teori pembangun cerpen yang meliputi teori strukturalisme dan strukturalisme genetik. Setelah itu dilanjutkan dengan bab berikutnya yang menyuguhkan wacana langkah-langkah menulis cerpen. Dan pada bab terakhir disuguhkan contoh-contoh reproduksi cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku “Menulis Kreatif; Kiat Cepat Menulis Cerpen dan Puisi” ini sangat cocok digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat yang bergreget dalam tulis-menulis, khususnya dalam bidang puisi dan cerpen. Buku ini juga enak diterapkan atau dikonsumsi secara akademis maupun nonakademis. Secara akademis, buku ini dapat dijadikan bahan ajar serta dapat dijadikan pemicu peserta didik dalam bekarya. Kandungan buku ini dapat diterapkan pada peserta didik mulai dari tingkat SD, SLTP, SLTA, serta Perguruan Tinggi yang tentunya harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan materi pembelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat-kiat menulis puisi dan cerpen dalam buku ini merupakan sebuah cara yang telah teruji keberadaannya dalam kanca kepenulisan nasional. Hal itu ditengarai oleh eksistensi pengarangnya. Pengarang buku ini telah banyak mengisi ruang di media masa lokal dan nasioanal, di antaranya adalah Kompas, Kartini, Merdeka, Swadesi, Shimponi, Gatra, Suara Karya (Jakarta), pikiran Rakyat, Solopos, Jawa Pos, Surya, Karya Darma, Bali Post, Gerbang, dan lain-lain. Bahkan penulis buku ini sempat beberapa kali memenangkan even dan lomba menulis taraf lokal dan nasional, di antaranya pemenang Sayembara Penulisan Buku Bacaan Fiksi tingkat Jatim 1998, pemenang III Sayembara Penulisan Buku Bacaan Fiksi tingkat nasional 1998, pemenang Sayembara Penulisan Buku Bacaan Fiksi tingkat Jatim 2000, Pemenang lomba Menulis Cerpen tingkat Nasional Depdiknas 2001, pemenang lomba Menulis Cerpen Depdiknas 2003, pemenang lomba Mengulas Karya Sastra 2003 tingkat nasional, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang kurang lengkap dalam buku ini adalah penyematan contoh-contoh. Dalam penyematan konsep kiat-kiat menulis puisi dan cerpen tersebut kebanyakan masih ada yang dibiarkan telanjang. Padahal buku ini adalah berorientasi pada kiat-kiat menulis puisi dan cerpen, sementara kiat-kiat tersebut agar mudah dipahami dan dimengerti haruslah didampingi dengan contoh-contoh yang konkrit. Selain itu, dalam contoh yang telah ada, seharusnya diberi penanda yang berorientasi pada subbab pembahasannya (seperti dicetak tebal/miring dan lain-lain). Lihat pada subbab langkah menulis puisi, teknik kreatif menulis puisi, dan langkah menulis cerpen. Hal itulah yang mungkin menjadi titik kelemahan dalam buku ini. Meskipun demikinan, buku ini sudah memberikan ilustrasi dan pemahaman yang cukup memadai. Sudah mampu menjembatani pembaca untuk menapak jejak bekarya yang lebih gampang dan enjoi dalam memasuki ruang praktis kepenulisan kreatif. Dan selanjutnya, selamat membaca. Selamat bekarya. Jadikan apa yang ada di depan mata sebagai batu pijakan dalam mengisi kearifan dunia. Salam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-7342224493085463323?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/7342224493085463323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=7342224493085463323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7342224493085463323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/7342224493085463323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/10/bekarya-untuk-hidup-lebih-lama-dan.html' title='BEKARYA UNTUK HIDUP LEBIH LAMA DAN MENGISI KEARIFAN DUNIA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-2720273815396241562</id><published>2008-10-21T19:29:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:54:46.884-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumarlam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutedjo'/><title type='text'>MENJADIKAN JURNALISTIK SEBAGAI LAHAN HIDUP</title><content type='html'>Judul Buku: Jurnalistik Plus 1: Kiat Merentas Media dengan Ceria&lt;br /&gt;Pengarang: Sutedjo dan Sumarlam&lt;br /&gt;Penerbit: Nadi Pustaka&lt;br /&gt;Tebal Buku: xi + 167 hlm; 14, 5 x 21 cm&lt;br /&gt;Peresensi: Imamuddin SA.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah jurnalistik dapat digunakan untuk hidup? Jika anda menekuninya dengan baik, maka tidak salah untuk menjadikannya sebagai lahan hidup. Opini semacam itu memang benar adanya. Sebab dewasa ini, peranan media massa dalam kehidupan bermasyarakat sangatlah besar.&lt;span class="fullpost"&gt; Media massa seolah menjadi titik sentral pengetahuan dan informasi oleh khalayak umum. Dan eksistensi media massa tersebut tidak terlepas dari peranan seorang jurnalis. Tidak heran, jika untuk menutup kebutuhan pengetahuan dan informasi masyarakat itu, media massa berani merogoh gocek yang cukup lumayan besarnya. Ambil saja pada penulisan artikel dan cerpen. Saat ini, salah satu media massa ada yang telah memberikan honorarium kepada jurnalis artikel yang nominalnya sudah mencapai Rp. 450.000, sedangkan untuk cerpen Rp. 750.000. Itu tiap judul tulisan yang dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masuk dan mengisi ruang media massa tidak serta-merta layaknya memasukkan surat ke dalam kotak pos. Atau tidak semudah memasukkan uang ke dalam kantong celana. Karya seorang jurnalis yang tagah masuk dalam meja redaktur tentunya harus mengalami seleksi terlebih dahulu akan kelayakan muatnya. Tidak hanya satu-dua orang jurnalis yang mengirimkan karya-karyanya ke meja redaktur surat kabar tertentu, melainkan ada puluhan dan bahkan ratusan karya. Tentunya semua itu tidak harus nongkrong semua bukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menembus ruang di media massa tersebut, maka buku yang berjudul “Jurnalistik Plus 1: Kiat Meretas Media dengan Ceria” hadir di tengah-tengah kita semua. Pemahaman dan teknik-tekni menjadi seorang jurnalis yang karya-karyanya kerap nongkrong di media massa dituangkan secara apik dan rileks. Buku ini disusun oleh seorang jurnalis dan seorang penulis yang tengah malang-melintang menembus belantara media massa. Jadi, tips dan teknik-teknik yang dituangkannya merupakan suatu hal yang keberadaannya telah teruji secara seksama. Beberapa media massa yang sempat tertembus adalah sebagai berikut; Kompas, Kartini, Merdeka, Swadesi, Shimponi, Gatra, Suara Karya (Jakarta), pikiran Rakyat, Solopos, Jawa Pos, Surya, Karya Darma, Bali Post, Gerbang, Jurnal Ilmiah Masyarakt Linguistik Indonesia, dan lain-lain. Bahkan penulis buku ini sempat beberapa kali memenangkan even dan lomba menulis taraf lokal dan nasional, di antaranya pemenang 1 Lomba KTI Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup tingkat nasional (Depdiknas, 2005), pemenang 2 Lomba Menulis Resensi Grasindo tingkat nasional (2005), pemenang Sayembara Penulisan Buku Non Fiksi tingkat Jawa Timur (1999), pemenang lomba Menulis Cerpen tingkat Nasional Depdiknas 2001, pemenang lomba Menulis Cerpen Depdiknas 2003, pemenang lomba Mengulas Karya Sastra 2003 tingkat nasional, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini diulas dengan baik beberapa materi menarik yang memiliki potensi besar di dalam media massa yang dibagi ke dalam beberapa bab. Pada bab pertama, buku ini menyajikan wacana bagaimana seorang individu mampu mengenali potensi pribadinya untuk menjadi seorang jurnalis. Pemahaman tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan jurnalistik menjadi poin kedua dalam buku ini. Bab tiga mengupas masalah artikel (opini) yang dimulai dari proses mengenal artikel dan opini. Kemudian dilanjutkan pada bab empat masalah kiat-kiat cepat menulis artikel (opini). Selanjutnya buku Jurnalistik Plus 1 ini ditutup dengan bab lima yang membahas persoalan menulis cerpen untuk media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat cocok dikonsumsi oleh masyarakat secara umum sebagai wacana dan pemahaman untuk menjadi seorang jurnalis. Selain itu, kandungan buku ini sangat tepat jika diterapkan dalam lembaga pendidikan sebagai modal utama dalam melakukan pembinaan program jurnalistik di sekolah. Konsep-konsepnya sederhana dan gampang dipahami. Buku ini juga dilengkapi dengan contoh-contoh sebagai penjelas konsep yang telah ada. Yang paling asyik, buku ini juga menyajikan panduan latihan menjadi seorang jurnalis yang disusun secara sistematis. Panduan latihan itu berkisar pada pemahaman akan konsep-konsep jurnalistik hingga praktik menjadi seorang jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana judul buku yang dipakai, buku Jurnalistik Plus ini adalah buku yang pertama. Masih ada buku lanjutanya yang akan mengupastuntaskan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kejurnalistikan. Entah buku kedua tersebut terbitnya kapan? Kita tunggu saja! Dalam buku Jurnalistik Plus jilid pertama ini ada sedikit kekurangan yang mungkin nanti dapat dilengkapi dalam buku jilid keduanya. Kekurangan itu muncul ketika Sutedjo dan Sumarlam belum menyematkan alamat serta karakteristik media massa lokal maupun nasional. Sebab penyematan hal itu sangatlah penting guna tindak pengaksesan karya-karya dan tentunya untuk mempermudah menembus ruang di media massa. Dengan mengetahui karakteristik media massa, seorang jurnalis akan lebih paham akan bentuk dan karakter karya yang hendak dikirimkannya. Namun, secara muatan, buku ini sedah lebih dari cukup untuk mengantarkan seorang pembaca menjadi seorang jurnalis yang hebat nan handal. Tentunya harus dibarengi dengan kesungguh-sungguhan niat serta ketekunan diri yang tinggi. Selamat mencoba. Semoga keberhasilan mengalir mengikuti lelangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-2720273815396241562?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/2720273815396241562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=2720273815396241562' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2720273815396241562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2720273815396241562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/10/menjadikan-jurnalistik-sebagai-lahan.html' title='MENJADIKAN JURNALISTIK SEBAGAI LAHAN HIDUP'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-1980984809902440395</id><published>2008-07-31T20:30:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:54:54.939-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><title type='text'>SEMBAH RINDU SANG KEKASIH</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepanjang musim rindu&lt;br /&gt;biarlah ia membungkam waktu&lt;br /&gt;menutup layar-layar malam&lt;br /&gt;membuta kelopak siang&lt;br /&gt;menidur tiap pandang&lt;br /&gt;hanya kasih,&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dia seorang&lt;br /&gt;segala rasa racik memburu&lt;br /&gt;berbentur segurat tubuh&lt;br /&gt;giring-menggiring gelombang nurani&lt;br /&gt;dalam kilau sendang imaji&lt;br /&gt;akan galauan nurani&lt;br /&gt;pagi ini,&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;ia percik sepingit hati&lt;br /&gt;telah terbeku&lt;br /&gt;di lampau hari,&lt;br /&gt;sang kekasih&lt;br /&gt;kasih, sampai batas waktu&lt;br /&gt;tak bincang aku&lt;br /&gt;di pangkumu&lt;br /&gt;dalam gurat cintaku&lt;br /&gt;sebab tiap kan kuseru&lt;br /&gt;cakrawala tanya mengikat lenggang anganku&lt;br /&gt;sungguh, batu-batu itu&lt;br /&gt;menindih sapaku&lt;br /&gt;dalam terali bisu,&lt;br /&gt;nada-nadanya bergemuruh&lt;br /&gt;menyayat selaksa petir berderu&lt;br /&gt;ssst ……&lt;br /&gt;dengar, kembali ia berseru&lt;br /&gt;lewat segesit laku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”hai, sekarang apa&lt;br /&gt;penyulammu tuk tebar melati cinta&lt;br /&gt;padanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lirih sahutku:&lt;br /&gt;“segala cantik&lt;br /&gt;kasih sayangnya&lt;br /&gt;membius aku tuk memadu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sungguhkah itu?&lt;br /&gt;kala secantik diri ternodai&lt;br /&gt;kasih sayang berlayang&lt;br /&gt;menjenguk kebencian&lt;br /&gt;pastilah kau tarik kembali&lt;br /&gt;rasamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terpatung aku bersama&lt;br /&gt;serenung hati sunyi&lt;br /&gt;tak meracik jawaban semi&lt;br /&gt;di pusar bening itu,&lt;br /&gt;tanpa pagi&lt;br /&gt;tiupan nada bergeming&lt;br /&gt;lewat sukma lain&lt;br /&gt;membias dalam pesona hening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“jangan kau gigil tanahmu&lt;br /&gt;kala keberadaanku,&lt;br /&gt;aku kadangmu&lt;br /&gt;lama tertimbun nafsu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mengapa kau hadir&lt;br /&gt;menyapaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku kurir kasihmu&lt;br /&gt;tuk melepas simpul panggulmu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kasih yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“adalah jati kasihmu&lt;br /&gt;jauh tak kau seru&lt;br /&gt;di ujung waktu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“lalui gelanggang mana kau sampai padaku,&lt;br /&gt;adalah segala pintu&lt;br /&gt;telah tertutup&lt;br /&gt;petamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ya, ini lalaimu,&lt;br /&gt;kala tersumpal semua cela&lt;br /&gt;adalah lorongku yang merona”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“baiklah, jika kau sungguh&lt;br /&gt;kurir kasihku&lt;br /&gt;singkap misteri tabirku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“saudaraku, bisik padanya&lt;br /&gt;sebatas keberadaan hanya&lt;br /&gt;kau labuhkan raga,&lt;br /&gt;ya, sonanya&lt;br /&gt;terlukis di kedalaman rasa&lt;br /&gt;logika tanda,&lt;br /&gt;pun kau mabuk bentuk segala&lt;br /&gt;gerak tentunya&lt;br /&gt;sebab seayu kasih tak kan terbercak darah&lt;br /&gt;dalam bayang-bayang kelopak maya,&lt;br /&gt;jaring-jaring benci&lt;br /&gt;tidaklah merajut diri,&lt;br /&gt;ia hanya penenun kasih&lt;br /&gt;sayang&lt;br /&gt;lewat dawai tak semelodi&lt;br /&gt;di gaun jemari&lt;br /&gt;saudaraku, gumam klebat suaraku&lt;br /&gt;pada pelambung tanya itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbelah-lah&lt;br /&gt;buih suka&lt;br /&gt;dalam bening tirta&lt;br /&gt;gelombang cinta&lt;br /&gt;saudaraku, panggulmu&lt;br /&gt;talah kucincingkan&lt;br /&gt;aku kan terbang melayang&lt;br /&gt;menghapus jasad di sinar matamu&lt;br /&gt;bersama nafas penyeruku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pun berlayang ia&lt;br /&gt;dari puitika kisah,&lt;br /&gt;namun dengan sekedip mata&lt;br /&gt;gemuruh nyanyian-nyayian tanya&lt;br /&gt;kembali, berseru&lt;br /&gt;selaksa kuda pacu menyerbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kala kau karang syair cinta&lt;br /&gt;dari nafas bunga-bunga&lt;br /&gt;padanya,&lt;br /&gt;kau tuang apa&lt;br /&gt;dala cawan sembahmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan sentakan itu&lt;br /&gt;pun aku membatu,&lt;br /&gt;memaksa bersapa&lt;br /&gt;kadang yang lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“datanglah saudaraku,&lt;br /&gt;balik kepak sayapmu&lt;br /&gt;tuk meraba pelatarku&lt;br /&gt;biar kau hempas&lt;br /&gt;sampah-sampah khayalku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tembang itu menarik&lt;br /&gt;membawa ia ke peluk sedarah&lt;br /&gt;bersetubuh bersamaku yang mengerang tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kusemat jasadku&lt;br /&gt;di pelatarmu&lt;br /&gt;sebab lirik sendumu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saudaraku, jamalah kasih bersama&lt;br /&gt;nafas dan jemari ayu,&lt;br /&gt;pahatlah cangkir sembahmu&lt;br /&gt;dengan salukis asma kasihmu,&lt;br /&gt;ramulah anggur tulusmu&lt;br /&gt;dalam seikhlas madu,&lt;br /&gt;pun lepas galanya&lt;br /&gt;pada yang terindu&lt;br /&gt;ingatlah saudaraku,&lt;br /&gt;sekar cinta tak kan membawamu&lt;br /&gt;dalam nostalgia bilal bin raba&lt;br /&gt;lalu&lt;br /&gt;lewat ulur sembahmu,&lt;br /&gt;namun kau kan terlepas&lt;br /&gt;dari bentuk semu&lt;br /&gt;sebab ia terseru&lt;br /&gt;kasih tak layu.&lt;br /&gt;dengarlah saudaraku,&lt;br /&gt;tiap pemburu cinta&lt;br /&gt;di muara, mendekap bidiknya&lt;br /&gt;sebab yang terburu pasti&lt;br /&gt;rekat menyapa&lt;br /&gt;tak kan berlari&lt;br /&gt;entah ke mana&lt;br /&gt;tiada terlepas selamanya,&lt;br /&gt;pun jarik cinta terbatik&lt;br /&gt;tanpa tendensi&lt;br /&gt;hanya lewat canting tulus hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saudaraku, kenanglah!&lt;br /&gt;kala sang kekasih telah bersapa&lt;br /&gt;adalah nuansa mesra&lt;br /&gt;dalam roman cinta semesta&lt;br /&gt;ya, hanya sebatas itu&lt;br /&gt;selayang lirikku,&lt;br /&gt;kini biarlah kupergi&lt;br /&gt;bergapai singgahsana diri&lt;br /&gt;melayang tanda bagi yang terkasih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bersama segala kasih&lt;br /&gt;kulepas simpul benangmu&lt;br /&gt;pengikat jejak bimbang jiwaku,&lt;br /&gt;saudaraku, lantun kidungmu&lt;br /&gt;kan kubeku&lt;br /&gt;di bening kalbu&lt;br /&gt;lalui sungai nada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;laa khaula walaa kuwwata illa billah,&lt;br /&gt;terlaga&lt;br /&gt;bagai sembah rindu sang kekasih&lt;br /&gt;setia, semoga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-1980984809902440395?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/1980984809902440395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=1980984809902440395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1980984809902440395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1980984809902440395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/07/puisi-imamuddin-sa.html' title='SEMBAH RINDU SANG KEKASIH'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-1455810575974253855</id><published>2008-07-31T20:26:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:55:13.646-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Prosa-prosa Imamuddin SA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LUKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kenagan di sinar matamu. Meski hanya sesaat melintas sayu. Dan sempat merayu hatiku. Bukannya luka. Tapi kepolosan jiwa. Ya, itu yang beberapa waktu lalu sempat terukir olehku. Saat belati sayapku tepat menggores jantungmu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku terenyuh. Dan memuarakan sungai tangisku. Kala kau lemparkan senyum di atas bara mengangah yang kupersembahkan untukmu. Maaf! Beribu kembang maaf kini kurajut pula untukmu. Meski aku tak sempat menunjukkannya padamu. Sebab berselimutkan gengsi dan malu. Paling tidak, aku telah berani mengakui kesalahanku. Walau hanya sebatas di hati. Ini sebagai koreksi diri. Entah kapan aku bisa lantang membisikimu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semuanya kini telah terlambat. Apa yang telah terjadi tak mungkin bisa diputar ulang lagi. Dan tak mungkin kukembali. Mengubah lelakon yang sungsang ini. Hanya titian esok yang bisa kugapai dalam keindahan yang menyemai. Mungkin inilah kekuatan sejati yang kau miliki. Kekuatan yang sempat tersembunyi di balik kekuatanku kala itu. Saat kunyalakan api. Kutusuk jantungmu. Dan kubakar jasadmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pesona bengisku, terselip qasidah di sela senyum melatimu. “Esok, lukamu lebih mengangah ketimbang aku”! Ya, kata-kata itulah yang sempat tertangkap olehku. Meski berada dalam misteri batinmu. Sebab aku tahu, tiap nyawa pasti kan berdegup seperti itu, kala diselimuti luka oleh sayap-sayap sesamamu. Begitu juga denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, kini degupmu telah menyapaku. Aku luka. Lebih mengangah. Dan aku pun yakin, bahwa sesungguhnya orang yang kuat itu bukanlah orang yang bisa melakukan penganiayaan terhadap sesamanya. Tapi justru yang teraniayalah, orang yang memiliki kekuatan sejati itu. Kekuatan besar yang terpancar lewat degup batin yang mengerang-meradang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi maaf! Aku telah melukaimu. Aku masih enggan menyuarakannya padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEBOHONGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ada seseorang yang pernah membisikimu? Aku yakin jawabanmu pasti pernah! Namun jika tidak, kau pasti bergurau padaku. Atau bahkan kau membohongiku. Ah, tapi itu hakmu. Entah kau bohong atau tidak, itu terserah kau. Itu bukan wewenangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau boleh saja membohongiku. Tapi aku harap tidak untuk dirimu sendiri. Sebab sekecil apapun kebohongan yang kau ciptakan, sebenarnya yang menanggung beban terberat adalah dirimu sendiri. Bukan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bertanya mengapa begitu? “Mengapa aku yang menanggungnya, kok bukan kau yang telah kubohongi”? Dulu aku juga sempat berpikir seperti itu. Namun sekarang tidak lagi. Aku mengerti itu ketika aku telah mengukir kebohongan pada orang lain. Saat aku bersikap demikian, hatiku seakan-akan tertindih batu-batu cadas yang memberatkanku. Kecemasan telah menyelimutiku. Sungguh, kurasa ini lebih menyiksaku. Orang yang telah kubohongi mungkin esok telah sanggup bersemi kembali. Hanya sesaat mencecap luka perih. Tapi aku? Untuk seumur hidup harus rela memanggulnya. Menimbun dalam-dalam tanpa ada seorang pun yang akan membongkar dan mengetahu kebohonganku. Apalagi jika kebohongan itu sampai terbongkar! Itulah beban beratku. Hasil dari kebohonganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bilang, “mengapa aku tidak mengerti kata-katamu”? Bagaimana kau bisa mengerti kata-kataku, sementara kau tidak pernah mengerti aku. Dan bagaiman kau sanggup mengerti aku, sementara kau sendiri tidak pernah mengerti dirimu. Pahami dirimu sendiri, baru kau akan sanggup memahamiku dan juga kata-kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-1455810575974253855?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/1455810575974253855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=1455810575974253855' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1455810575974253855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1455810575974253855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/07/prosa-prosa-imamuddin-sa.html' title='Prosa-prosa Imamuddin SA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-2757318842806033361</id><published>2008-07-31T06:43:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:55:25.263-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>AKU HARUS BICARA, BAPAK!</title><content type='html'>Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mungkin saat ini aku harus berbicara, Bapak! Membuka pintu gejolak batinku yang berteriak. Memberontak dalam kerangkeng jasadku. Aku ingin mengutarakannya secepatnya. Mungkin dengan jalan ini aku sedikit bisa merasakan kebahagiaan. Merasakan kebebasan. Menikmati kelegaan. Sakit rasanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku masih ragu dengan keputusanku. Aku kalah dengan ketakutanku. Aku lemah. Ternyata, aku masih saja seperti kemarin. Diam. Memendam luka begitu dalam. Tidak, aku harus bangkit. Membangun keberanian untuk mengungkapkannya. Membuat jejak perubahan. Mengukir kebermaknahan. Paling tidak perubahan untuk batinku. Perubahan bagi diriku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seketika itu aku tersentak. Dan beranjak dari tempat dudukku. Berlari membawa segenap keberanian yang sempat lunglai. Menghampiri sesosok tubuh yang melintas di lensa mataku. Menelusuri remang malam berselimutkan kesunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, persis di antara kampungku dan kampung sebelah, aku menghadangnya. Menghentikan langkah kaki sesosok tubuh yang telah kukenali itu. Ya, sosok itu adalah guru kelasku. Tanpa basa-basi, aku langsung menghujamkan kepalanku di bagian rusuk kirinya. Ia terjungkal. Mengerang kesakitan. Ia bangkit. Dan mencoba melakukan perlawanan kepadaku. Namun, sebelum ia sempurnakan berdirinya, lagi-lagi kudaratkan kepalanku di rusuknya. Kali ini di rusuk sebelah kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali aku lancarkan pukulan, aku merasa sedikit puas. Waktu itu aku sengaja menghajarnya di bagian rusuknya. Hal itu aku lakukan bukannya tanpa tujuan. Aku bermaksud agar tidak terlihat bekasnya pas di sekolah besok. Ini puncak amarahku. Ini hanya sebatas peringatan kepadanya. Aku harap ia jera. Dan tidak semena-mena terhadapku sewaktu berada di kelas. Juga terhadap teman-temanku yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketidak berdayaannya, hanya tinggal mulut besarnya yang masih bisa nerocos. Ia masih berkelit menanyakan kesalahannya. Ia seolah tidak mengerti duduk permasalahannya. Ia bertanya dan bertanya terus kepadaku. Sesekali mengiba kepadaku dengan memegang kakiku. Aku hanya diam. Berdiri gagah seolah menikmati kemenanganku. Dengan kediamanku, aku harap dia bisa mengintrospeksi diri. Dan menyadari pribadinya yang sedikit kurang tepat saat melakukan proses kegiatan belajar dan pembelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar orang tak berperasaan. Keras kepala. Tak bisa megoreksi pribadinya. Melihat suasana semacam itu, aku pun tak bisa membungkam diri. Aku terpaksa melontarkan kata-kata pedas. Dan sedikit kasar kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Kau masih mengelak! Pura-pura tak mengerti?” ujarku penuh emosi. Tak ada unggah-ungguh bahasa nan mengenakkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh aku tak tahu duduk permasalahannya. Yang kutahu, kau tanpa sebab telah melakukan penganiayaan kepadaku. Gurumu sendiri. Kau murid durhaka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih saja kau bersilat lidah. Bersikap masa bodoh. Seolah tak mengerti apa-apa. Bukankah ini juga hasil pola pembelajaranmu di sekolah tempo hari? Bukankah ini yang kau harapkan dari setiap muridmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu? Omonganmu ngelantur. Kau jelas-jelas mendurhakaiku. Tapi kau malah melempar kesalahan kepadaku. Kau tidak sepantasnya melawan gurumu. Apalagi menganiayanya. Dasar tak berakhlak.” ujarnya geram, sambil melaghujamkan tinjunya ke mukaku. Seraya berkelit untuk melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalaku sedikit kuelakkan. Dan tangan kananku menangkisnya. Tanganku yang lain kembali mendarat persis di perutnya. Dia terhuyung. Jatuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perlakuan ini memang pantas untukmu. Biar kau jera. Dan aku tidak mendurhakai siapa pun di sini. Aku hanya memberi sedikit peringatan kepada bandit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jera…..? Bandit……?”&lt;br /&gt;“Ya, benar. Aku dan teman-teman yang lain bukanlah binatang yang bisa seenaknya diperlakukan melampaui batas. Main hina. Main pukul. Dan……”&lt;br /&gt;“Kau bilang tindakanku melampaui batas! Ini sebuah sarana pembelajaran. Semuanya demi masa depanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa depan katamu! Aku manusia. Bukan hewan. Pembelajaran pun harus dilakukan dengan etika yang manusiawi pula. Berbeda denganmu.”&lt;br /&gt;“Kau yang tidak mengerti. Ini kulakukan agar kau bisa secepatnya menguasai materi yang kusampaikan. Tapi, apa hasilnya? Kau tetap saja tak bisa-bisa. Apalagi tanpa kekerasan. Kau bebal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak bebal, aku tidak akan sekolah. Dan menjadi muridmu. Kalau tidak bebal, aku sudah pasti yang menjadi gurumu. Coba kau pikir. Orang menerima pengetahuan itu tidak sertamerta langsung bisa. Tapi sedikit demi sedikit. Kadang pula pemahaman yang sampai juga sedikit. Ini butuh kesabaran dalam menerima dan menyampaikanya. Apalagi setelah mata pelajaran yang satu usai, ada lagi mata pelajaran lain yang fokus dan konsepnya berbeda. Coba renungkan. Jika pada mata pelajaran yang pertama ada kekurang pahaman, sementara sudah ditumpuki mata pelajaran lain, apa yang akan terjadi. Jika kau benar-benar manusiawi, kau pasti mengerti akan hal ini. Itu sekedar contoh dari dua mata pelajaran. Belum yang lain. Berapa banyak mata pelajaran di sekolah! Hitung saja. Jika semua guru menuntut hal yang sama. Dan menerapkan strategi yang sama pula, maka apa yang terjadi?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak mengerti sulitnya berposisi sebagai guru. Ketuntasan belajar menjadi tuntutan utama seorang guru. Ini sudah aturan dari pusat. Jika tidak ada ketuntasan, ini pengaruhnya terhadap dirimu juga ketika ujian akhir nasional. Nilaimu buruk. Dan tidak lulus. Jadi aku harus melakukan penekanan keras agar tujuan itu tercapai. Meski dengan sedikit dengan kekerasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedikit kekerasan katamu? Aku kira tidak! Yang kau prioritaskan sementara ini hanya sisi intelektualnya saja. Sementara tujuan orang bersekeloh tidak hanya itu-itu saja. Seharusnya yang menjadi prioritas utama adalah mental, emosional dan perilaku. Ini bekal utama dalam melakukan pengabdian di masyarakan kelak. Dan ini hasil pendidikan kekerasan yang kau terapkan. Rasakan!” Sambil kuhujamkan kepalanku di perut guru itu. Lagi-lagi ia terhuyung jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Kau masih awam akan hal ini. Kau tidak tahu betapa sulitnya memahamkan seseorang.”&lt;br /&gt;“Aku tahu semua itu. Oleh sebab itu, di sini kuterapkan caramu dalam memahamkan pribadiku saat berada di kelas. Ini kulakukan agar kau paham. Agar kau memahami bagaimana posisiku sewaktu di kelas. Agar kau merasakan perihnya hati dan daging ini oleh goresan luka. Biar esok kau tak semena-mena lagi. Tidak ada penghinaan. Dan kebrutalan lagi dalam proses belajar dan pembelajaran. Entah terhadapku atau pada teman-teman yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tetap tidak mengerti.” sedikit erangnya.&lt;br /&gt;“Ketidakmengertianku di sini disebabkan ketidakmengertianmu pula saat kau berada di kelas. Tentunya kau telah banyak makan bangku di sekolah. Kau pasti tahu bagaimana rasanya menjadi murid sepertiku. Sebel. Jengkel. Benci. Bahkan marah, bukan? Saat kau mendapati guru yang berkarakter sama sepertimu.”&lt;br /&gt;“Benar. Tapi aku tidak brutal sepertimu. Toh nyatanya aku juga bisa berhasil seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kau sungguh keterlaluan. Melampaui batas kewajaran. Tidak ada jenjang keberkalaan. Salah sedikit langsung main hina. Main pukul. Tidak hafal sedikit, kerasnya penggaris mendarat di tubuhku. Tidak ada himbauan. Tidak ada pengarahan sebelumnya. Pendidikan macam apa ini? Gunakan rasa kemanusiaanmu. Dan perlu kau camkan. Keberhasilanmu hingga kau bisa mengajar seperti ini disebabkan pelajaran yang telah kau tekuni telah menjurus. Telah berfokus pada satu bidang pelajaran. Dan itu jadi fakmu. Sementara aku saat ini……? Berapa macam pelajaran di sekolah yang harus aku telan. Semua pelajaran itu berbeda-beda, bukan? Coba pikir!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru itu terdiam. Sedikit bangkit dari tempat jatuhnya. Lantas ia menyeruduk aku laksana banteng yang menembus kain merah matadornya. Kini giliran aku yang terhuyung. Aku terjatuh. Serudukkannya begitu keras. Tepat di bagian perutku. Kali ini aku lengah. Dan tak dapat mengelaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru itu lari sipat kuping. Sementara itu aku mengerang. Berdiri sedikit gontai. Aku berusaha mengejarnya. Namun ia sudah terlalu jauh untuk kukejar. Aku urungkan niatku. Dan membalikkan langkah kakiku. Aku kembali ke kampungku. Berjalan pelan seraya mengatur irama jantungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku kesal dengan diriku sendiri. Sebab aku telah membiarkannya pergi. Masih cukup banyak ungkapan yang harus aku nyatakan kepadanya. Emosiku masih meledak-ledak. Ibarat bom atom yang yang jatuh di Nagasaki dan Hirosima waktu perang dunia kedua. Namun apa yang telah kulakukan, rasanya sudah lebih dari cukup. Aku merasa lega sebab telah berhasil menuangkan gejolak batinku yang selama bertahun-tahun meringkuk terkurung waktu. Ya, bagiku inilah kebahagian terbesar dalam hidupku. Kebahagiaan sebab aku telah berhasil keluar dari tekanan batinku. Lega rasanya. Beban berat di pundakku terrasa hilang sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-2757318842806033361?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/2757318842806033361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=2757318842806033361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2757318842806033361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/2757318842806033361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/07/aku-harus-bicara-bapak.html' title='AKU HARUS BICARA, BAPAK!'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-3490456305285712650</id><published>2008-07-17T09:15:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:55:47.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sungatno'/><title type='text'>Menikmati Sastra Lamongan</title><content type='html'>Judul Buku : Gemuruh Ruh; Antologi Sastra Lamongan&lt;br /&gt;Penulis : Nurel Javissyarqi dkk.&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Pujangga, Lamongan&lt;br /&gt;Cetakan : I April 2008&lt;br /&gt;Tebal : 140 halaman&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sungatno.co.cc/"&gt;Peresensi: Sungatno*&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Jurnalnet.com&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pariwisata, seni, budaya dan sastra di Indonenesia, Bali, merupakan daerah di kawasan nusantara yang paling di 'anak emas' kan oleh Indonesia. Selain potensi alamiyyahnya yang memang mampu mempengaruhi tinggi rendahnya devisa Indonesia, Bali juga menjadi ikon Indonesia dalam mentransformasikan keIndonesiaannya terhadap masyarakat negara asing. Sehingga, tidak jarang ketika masyarakat asing apabila ditanya tentang Indonesia, mereka akan menyinggung tentang Bali. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, dalam mengenal Indonesia, masyarakat tersebut berangkat dari dikenalnya pulau dewata itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca tragedi meledaknya Bom di Bali, 12 Oktober 2003 lalu, dengan gamang dan kekecewaannya, Bali terpaksa menggandeng 'saudara se-Indonesia-nya, yakni Lamongan, sebagai salah satu daerah di Jawa Timur (Jatim) yang patut untuk dikenal masyarakat asing, selain pulau dewata itu sendiri. Pasalnya, dari kasus yang menewaskan ratusan manusia, termasuk masyarakat asing, kala itu, tidak lepas dari peran putera-putera Lamongan, Amrozi bin H. Nurhasyim dan kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring melambungnya nama-nama putera Lamongan yang terkait dengan kasus tersebut, terlepas dari penilaian sebagai wujud misi jihad maupun menjadi penjahat, putera-putera tersebut mendatangkan sumbangaan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia untuk sekedar menilai dan mengapresiasi Lamongan. Ironisnya, penilaian dan apresiasi tersebut, mejadikan Lamongan seakan milik Amrozi dan kawan-kawan saja, terbukti setiap masyarakat yang belum begitu mengenal tentang Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membicarakan daearah yang satu ini, tidak luput dari sekedar nyebut atau nyeletuk nama-nama Amrozi dan kawan-kawan. Bahkan, yang lebih mengenaskan, kini citra positif yang dimiliki Lamongan selama ini, "teropeng-i kedok-kedok dan kostum-kostum angker" yang membuat merinding orang-orang yang membicarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal itulah yang memantik keresahan tersendiri bagi putera-putera Lamongan lainnya dan pemerintah daerah tentunya. Meskipun Amrozi dan kawan-kawan tidak secara langsung "menyakiti" fisik masyarakat Lamongan, namun efek dari percikan-percikan api kebenciannya terhadap masyarakat asing yang dikatakan meresahkan dan mengganggu ketentraman hati dan keimanan mereka itulah yang menjadikan spirit masyarakat Lamongan untuk keluar dari kepompong anggapan-anggapan angker yang melilit Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Nurel Javissyarqi dan kawan-kawan dari ribuan putera-putera Lamongan inilah yang mencoba membedah dan keluar dari kepompong-kepompong angker tersebut dengan bekal ketajaman, keindahan, keramahan, keromantisan dan ide-ide brillian mereka yang tertuang dalam karya sastra yang kemudian terbukukan dalam sebuah antologi yang berjudul Gemuruh Ruh; Antolongi Sastra Lamongan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun antologi sastra ini hanya tertuang dalam 140 halaman yang disajikan oleh tujuh belas kawan-kawan dari Lamongan, namun spirit berjihad mereka dalam mengembalikan dan mengembangkan citra positif Lamongan cukup terasa. Karya sastra yang tidak hanya berkutat kedaerahan itulah yang menjadikan nilai lebih pada mereka, apabila dicocokkan dengan pengakuan mereka sebagai sosok penulis yang tersebar dan lahir didaerah pedesaan (Wong Ndeso) dikawasan Lamongan (hlm. 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, walaupun dalam pendahuluan buku tipis ini mereka mengaku sebagai –meminjam istilah yang biasa dimantrakan Tukul Arwana- Wong Ndeso, apabila pembaca mengamati nama-nama yang tergabung dalam ke-17 sastrawan muda ini, pembaca akan mengabaikan pengakuan mereka sebagai Wong Ndeso yang dewasa ini lebih terilustrasikan sebagai sosok orang-orang yang katrok, kuno dan ketinggalan laju arus zaman. Sebab, ke-17 penulis ini sudah tak begitu ketinggalan lagi dalam mengenalkan nama-nama mereka terhadap pembaca melalui media massa, baik lokal maupun nasional, dengan guratan-guratan karyanya yang diakui dan diloloskan oleh redaktur media massa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang tercermin dalam media massa dan buku atau karya dalam bentuk lain yang mungkin pernah kita baca itulah, para penulis menambatkan karya-karya sastra mereka dalam buku ini. Mulai dari puisi, cerita pendek (cerpen), esei, prosa bahkan naskah drama atau teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tema-tema yang dianggkat beraroma isu-isu sastra nasional yang sedang hangat (hlm. 7-36), antologi ini juga mengangkat budaya lokal Lamongan dan hal-hal yang unik yang terdapat pada daerah tersebut (hlm. 37-42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga tentang persaudaraan dan persahabatan dengan penulis karya sastra lainnya, terasa akrab dan saling menghormati dan menyayangi (hlm. 132-138). Dari ke-17 penulis buku ini, antara lain; Masyhuri, Rodli TL, Anis Ceha, Rian Sindu, Pringgo HR, Joko Sandur, Ridwan Rachid, Imamuddin SA, Heri Kurniawan, Herry Lamongan, Haris Del Hakim, M. Bagus Pribadi, Javed paul Syatha, A. Rodhi Murtadho, Ahmad Syauqi Sumbawi, Bambang Kemling dan Nurel Javissyarqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun membaca buku ini terasa asik dan kagum dengan kepedulian penulis terhadap citra Lamongan yang sempat bergolak, pembaca akan digertak Adi Ganteng, sebagai desaigner cover, dengan hasil rancangan kover buku ini yang menampilkan peta Indonesia beserta negara sekitar menjadi terbalik, sementara daerah Lamongan terlihat mengkobarkan api besar dan menjilat-jilat keangkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah artikulasi ilustrasi yang ditampilkan Ade pada kover tersebut? mungkinkah dunia akan gonjang ganjing dan Lamongan terbakar duluan, atau paradigma dunia akan berbalik dan mengelu-elukan Lamongan atas cahaya kobaran api semangat yang dimunculkan putera-putera Lamongan dalam menyadarkan dunia? Teka-teki inilah yang bergelayutan dan hendak dijawab oleh arek-arek asal Lamongan ini.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Aktivis Scriptorium Lintang Satra Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-3490456305285712650?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/3490456305285712650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=3490456305285712650' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3490456305285712650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3490456305285712650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/07/menikmati-sastra-lamongan.html' title='Menikmati Sastra Lamongan'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-1123986241323567922</id><published>2008-06-23T09:55:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:56:11.831-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><title type='text'>Puisi-Puisi Imamuddin SA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ESENSI BAYANG-BAYANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seklebat bayang-bayang berlari&lt;br /&gt;menghempas imaji&lt;br /&gt;terduduk di selembar permadani;&lt;br /&gt;bumi&lt;br /&gt;pelarian membawa padmasari&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;bersama peleburan hasrat&lt;br /&gt;mengalir lewat tirta wening&lt;br /&gt;menembus alam hening&lt;br /&gt;singgah dalam ruang terasing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu metamorfosa padmasari&lt;br /&gt;menjemput kesempurnaan diri&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah waktu terus merayu&lt;br /&gt;melembahkan martabat menjenguk madu&lt;br /&gt;di relung mayapada laku&lt;br /&gt;bukan lara besatu; membatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiap padmasari melenggang dalam imaji&lt;br /&gt;mengejar kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;SENDIRI KAU HADIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu tetap terpaku&lt;br /&gt;melepas klise&lt;br /&gt;dengan mata memutih&lt;br /&gt;mencari jalan kembali&lt;br /&gt;adalah seberkas bayang tertatih&lt;br /&gt;setubuhi benang-benang nadi&lt;br /&gt;dalam menyapa diri sendiri&lt;br /&gt;maka berapa kilo lagi&lt;br /&gt;ia mencari&lt;br /&gt;melenggang jemari&lt;br /&gt;bergapai mimpi&lt;br /&gt;sampai batas waktu&lt;br /&gt;tiktak jarum pun berlagu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia harus bersemayam sendu&lt;br /&gt;menanti seiring keretamu&lt;br /&gt;dengan tembang merdu&lt;br /&gt;berjemput ia di pangkumu&lt;br /&gt;pun sendiri kau hadir merayu&lt;br /&gt;membawa terbang ke istanah nan jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ANGGUN SASMITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kueja nama itu&lt;br /&gt;bersama kasih cintamu&lt;br /&gt;kala gebu rindu&lt;br /&gt;menyelinap&lt;br /&gt;di hilir darahku&lt;br /&gt;bukankah serapah&lt;br /&gt;telah terukir berdua&lt;br /&gt;lewat saksi terlama&lt;br /&gt;dalam pesona delta kelana;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tidaklah sebatas asma&lt;br /&gt;namun esensi rasa lelangkah,&lt;br /&gt;adalah percik anggun sasmitamu&lt;br /&gt;menjelma denyut jantungku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SASMITA KEMBANG WIDERDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kasih, biarlah ia&lt;br /&gt;membawamu kembali&lt;br /&gt;pada pesona telaga widerda&lt;br /&gt;di mushaf cerita lama&lt;br /&gt;angankan anganmu&lt;br /&gt;dalam persapaan itu&lt;br /&gt;adalah sebentuk hasrat menggebu&lt;br /&gt;melayang-layang bekejar bersama nafsu&lt;br /&gt;merayu&lt;br /&gt;sungguh, kala nuansa&lt;br /&gt;membangun pilar-pilar semesta&lt;br /&gt;kembang-kembang telaga&lt;br /&gt;bersenandung puja pujinya&lt;br /&gt;menebar sasmita nada;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“gala nista merajut gaun-gaunmu&lt;br /&gt;lewat percak-percik itu&lt;br /&gt;biarlah sang jentayu&lt;br /&gt;memangsa hasratmu&lt;br /&gt;biar berdekap jati cintamu,&lt;br /&gt;namun pingitlah pesona rasa&lt;br /&gt;dalam cakap puitika cerita;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah gejolak hati&lt;br /&gt;tiada berlari&lt;br /&gt;kala keberadaan diri&lt;br /&gt;mengukir tanda tak senilai,&lt;br /&gt;sungguh, kala rona telah bersama&lt;br /&gt;tiada hasrat bersapa tak serupa,&lt;br /&gt;sonanya&lt;br /&gt;hanyalah manifestasi pupus cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalkemlagi, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-1123986241323567922?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/1123986241323567922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=1123986241323567922' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1123986241323567922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1123986241323567922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/06/puisi-puisi-imamuddin-sa.html' title='Puisi-Puisi Imamuddin SA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-1660801286183085563</id><published>2008-06-23T09:52:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:56:23.820-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Prosa-prosa Imamuddin SA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SENYUM ITU MAWAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah bilang kalau aku tidak pernah tersenyum untukmu. Kau keliru besar. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya hendak kucapai dari semua ini. Kau perlu tahu akan rahasia di balik senyuman seseorang. Salah satunya aku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja saat ini tidak menunjukkan senyumku padamu. Sebab seseorang tidak akan tersenyum kecuali sebelumnya ia pernah menunjukkan kemuraman wajah kepada sesamanya. Begitu juga sebaliknya. Dan aku tidak ingin terlalu sering tersenyum padamu. Sebab kemuraman juga pasti akan banyak terhidang untukmu. Aku ingin wajar-wajar saja. Dan aku tak ingin kau tahu itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seharusnya kau tahu, tidak selamanya sebuah senyuman yang terlempar itu suatu pertanda kebahagiaan. Atau suatu bukti kelegaan hati pelemparnya. Dan bahkan suatu pertanda seseorang kagum sekaligus bangga kepadamu. Senyuman itu sanggup menjadi bomerang untukmu. Ia sanggup menyerang balik kepadamu. Ini kau sadari atau tidak! Yang jelas, senyuman juga sebagian dari tanda pelecehan dan penghinaan terhadapmu. Di balik senyuman, kadang menyimpan luka yang mengangah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau juga harus mengerti, jika senyuman itu laksana kembang mawar yang bersemi di rerimbun tangkainya. Membius jiwa-jiwa yang menikmati keindahannya. Melenakan kesiagaannya. Dan jika pemetiknya berada dalam kebutaan mata, maka ia akan tertusuk duri-duri sakralnya. Luka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, sejenak aku akan bilang padamu. Kemarin aku tersenyum untukmu. Ketika kau berpaling dan beranjak pergi dariku. Meski hanya sesaat. Aku tersenyum sebab kutahu, kau begitu perhatian padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUGESTI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru ini yang membuatku diterima di sisi-sisimu. Keyakinanku inilah yang membuatku kuat dalam menghadapi segala sesuatu yang hendak menimpaku. Ini seperti sugesti dalam hidupku. Kau boleh percaya atau tidak. Ini bisa kau buktikan sendiri jika keyakinanmu hanya sebatas ari padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar! Jika kau ingin membuktikannya sendiri. Aku suka kepetusanmu. Sebab jangan serta merta percaya pada omongan seseorang, sebelum kau terlebih dulu membuktikannya. Biar kau tak termakan berita dusta. Dan dengan kuat pula kau akan meyakininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya segala sesuatu yang kuhadapi dan berada di dekatku saat ini, itulah duniaku. Itu yang harus kukendalikan. Itu yang harus kukuasai. Itu yang harus kukhalifahi. Dan itu pula yang harus kumaknahi. Sebab aku tidak akan mampu menjangkau segala sesuatu yang berada jauh dariku sebelum kedekatan bersamaku. Entah aku yang mendekat atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhya siapa pun yang ada di dekatku, itulah diriku dan keluargaku. Sebab tidak akan mungkin mereka yang jauh dariku akan memberi pertolongan kepadaku. Kecuali dia yang ada di sisiku. Dia yang ada bersamaku saat itu. Pun juga sebaliknya. Itulah keyakinanku yang selama ini bersemi dalam telaga hati. Yang harus kau buktikan lewat diri sendiri. Bukan dalam pesona ilusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DUNIAKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sekarang berada dalam dunia kecil ini. Sebuah dunia yang telah lama berada dalam dunia kesemestaan bersama dunia-dunia yang lain. Meskipun kecil, ia menyimpan kesemestaan dunia. Ah, entah! Mengapa aku bisa berpikir seperti itu? Aku malah bingung sendiri dengan kata-kataku! Aku harap kau tak seserius itu. Wajar-wajar sajalah. Dan jangan kau hiraukan perkataanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kusandarkan tubuhku yang letih di sebuah batu besar. Dekat pohon ringin yang besarnya lumayan. Diiringi semilir angin yang menyejukkan tubuhku. Namun sayang, tak ada seteguk air pun yang mengelus tenggorokanku. Padahal terik matahari telah lama membakar perjalananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutengadahkan wajahku seraya menikmati belaian sang bayu. Tiba-tiba pikiranku tersentil. Menobatkan pohon di sisiku itu sebagai simbol pengayomanku. Keridangannya sanggup menghindarkanku dari sengatan surya yang begitu merayu. Akar-akaran yang tumbuh di tiap dahan rantingnya mengingatkanku akan sebuah fenomena. Ya, segala sesuatu yang berada di pesona ketinggian kelak pasti mengarah ke bawah. Orang yang berada di atas pemerintahan, sutu saat pasti lengser juga dan pada awalnya ia pun berasal dari bawah pula. Begitu juga dengan rahmat Tuhan. Ia senantiasa tercurah pada hambanya. Adzabnya pun pasti sama pula. Ah bukan adzab, tapi signal pengingat untukku yang telah lalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat itu, aku masih kehausan. Kerongkonganku kering. Ingin rasanya menguras air telaga lantas memasukkanya semua ke dalam perutku. Tapi aku sadar, ini hanya gejolak nafsuku semata. Segala yang bisa membuatku nikmat saat itu ingin kurengkuh semua. Padahal untuk menghilangkan kehausanku itu cukup dengan seteguk saja. Biar masalah baru tak datang menimpaku lagi. Seperti kaum Musa saat itu. Ya, duniaku sekarang adalah singgahsana fana. Dan nafsu adalah rajanya. Biar tak luka, aku harus menurunkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-1660801286183085563?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/1660801286183085563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=1660801286183085563' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1660801286183085563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/1660801286183085563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/06/prosa-prosa-imamuddin-sa.html' title='Prosa-prosa Imamuddin SA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-5734312965487645642</id><published>2008-06-23T09:49:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:56:39.403-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Maman S. Mahayana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herry Lamongan'/><title type='text'>Perjalanan Panjang nan Sejenak</title><content type='html'>Judul Buku : Kitab Para Malaikat&lt;br /&gt;Pengarang  : Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;Pengantar  : Maman S. Mahayana&lt;br /&gt;Epilog     : Herry Lamongan&lt;br /&gt;Jenis Buku : Antologi Puisi Tunggal&lt;br /&gt;Penerbit   : PUstaka puJAngga&lt;br /&gt;Tebal Buku : x+130hlm;15,5x23,5cm&lt;br /&gt;Peresensi  : Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hidup di dunia ini merupakan sebuah  rangkaian perjalanan panjang namun sejenak. Dikatakan panjang sebab kehidupan  manusia di dalamnya harus melalui beberapa fase. Secara fisikal, dimulai dari  fase pembentukan jasad. Kelahiran dalam wujud balita. Kanak-kanak. Dewasa. Tua.  Lanjut usia. Lantas tiada. Belum lagi perjalanan secara ruhaniah. Yaitu yang  dimulai dari tataran syariat, hakikat, ma’rifat, serta fase penyatuan.  Kesemuanya itu merupakan sebuah proses pencarian kesempurnaan dan jati diri  kemanusiaanya. Dan rentang waktu antara fase satu ke fase yang lain itu cukuplah  lama. Berpuluh-puluh tahun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan sejenak sebab dunia ini fana yang  bersifat tidak kekal. Begitu juga dengan manusianya. Secara jasadiah, manusia  pasti mengalami kematian di dalam dunia ini. Ia tidak kekal. Suatu saat ia pasti  lenyap dari keberadaan kehidupan materi ini. Yang demikian itulah fenomena hidup  di dunia yang merupakan sebuah rangkaian perjalanan panjang yang  sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian perjalanan panjang yang sejenak ini, seorang manusia  pastilah menemukan sesuatu yang lebih dalam hidup dan kehidupanya. Ia sudah  barang tentu menemukan hikmah-hikmah tersendiri yang tidak sama dengan penemuan  manusia yang lain. Yang lebih dulu hidup daripadanya. Namun jika ada satu  kemiripan, itu merupakan suatu kewajaran. Sebab realitas kehidupan manusia  sekarang tidak lain adalah hasil pengulangan realitas kehidupan yang silam. Yang  menjadi pembedanya adalah cara pengungkapan dan penuangannya dalam realitas  sosial. Tentunya dipengaruhi oleh setting suasana dan tempat yang berbeda. Jadi  yang sama adalah akar konsep pemahaman idenya. Bukan sama secara realitas  fisiknya. Hanya saja konsep ide yang lalu dalam realitas sekarang mungkin  terdapat satu pengembangan sesuai dengan prifasi dan lingkungan  fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan sesuatu yang lebih dan hikmah-himah oleh seorang manusia  itu berpangkal pada tindak pemaknahan terhadap simbol-simbol realitas yang ada.  Simbol-simbol yang terdapat di sisi sayap kanan dan kirinya. Dengan adanya  pemaknahan itu, maka beroleh manfaatlah dalam pribadi orang tersebut. Tidak  menutup kemungkinan, orang lain pun turut merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tampaknya  telah dicapai oleh seorang Nurel dengan menghadirkan karyanya Kitab Para  Malaikat. Rangkaian hikmah yang dicakup dalam hidup dan kehidupanya berpangkal  dari pemaknahan akan realitas yang melingkupi pribadinya. Perjalanan yang  relatif panjang. Kurang lebih hampir sepuluh tahun ia mengumpulkan hikmah-hikmah  tersebut hingga kini hadirlah sebuah buku yang berjudul Kitab Para Malaikat.  Tempaanya tidak pada satu tempat melainkan di berbagai tempat. Seperti di  pesantren Waticongol, Muntilan (Magelang), Tegal Sari, Jetis, (Ponorogo),  Yogyakarta, Selat Sunda, Gersik, Lamongan, dan lain-lain. Ia laksana memungut  satu demi satu kerikil makna kehidupan yang berserakan sebagai amunisi  menelanjangi peradaban zaman.&lt;br /&gt;Falsafah hidup sangat kental dalam Kitab Para  Malaikat. Dalam tiap bagianya tersebar luas nilai-nilai falsafahnya. Falsafah  tentang wanita misalnya. Siapa yang dapat menghormati dan menjujung martabat  rumah tangga, masyarakat, bangsa, dan bahkan leluhur seseorang? Semuanya itu  yang berperan adalah seorang wanita. Dialah panutannya. Dialah tulang  punggungnya. Jika pribadi seorang wanita itu rusak, maka rusaklah semuanya.  Martabat pun akan mengalami degradasi dengan indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa wanita sebagai  penentu dan tulang punggug semuanya? Ini bukan merujuk pada tindak emansipasi  wanita secara mutlak. Tidak mengunggulkan wanita harus memimpin segalanya.  Memimpin rumah tangga, masyarakat, maupun bangsa dan negara. Ini melainkan  berorientasi pada hakekat dasar wanita. Obsesi wanita sebagai seorang ibu dari  anak-anaknya. Cinta kasih harus ditanamkan oleh seorang ibu kepada anaknya  secara mendalam. Pendidikan dasar seorang anak tercermin lewat karakter ibunya.  Sebab seorang ibu pada dasarnya lebih dekat secara psikologi dengan  anak-anaknya. Seorang anak akan mempelajari secara alamiah kebiasaan-kebiasaan  ibunya. Jika ibunya sering bersikap kasar, apatis, nakal, kurang sopan, dan  sering keluar rumah, sudah barang tentu kelak karakter anak tidak jauh berbeda  dari semua itu. Bahkan bisa berbuat lebih. Tidak ingatkah ketika seorang ibu  mengalami sakit, maka bayinya pun turut merasakanya jua. Seorang ibu yang sedang  guncang jiwa dan perasaanya, maka bayinya pun merengek tak henti-hentinya. Ini  sebagai bukti bahwa kedekatan psikologi seorang anak cenderung mengarah pada  kepribadian ibunya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi peranan wanita sebagai penentu kepribadian  generasi berikutnya yang menjadi sorotan utamanya. Wanita harus bisa  memberdayakan eksistensi pribadinya. Yaitu sebagai seorang ibu yang mencurahkan  segenap kasih sayang, cinta, dan pendidikan dasar kepada anak-anaknya. Bukan  memberi contoh buruk. Biar kelak tercipta generasi penerus yang lebih unggul.  Generasi yang mampu menyemikan harkat dan martabat neneng moyangnya. Wanitalah  panutanya. Tampaknya hal itu yang menjadi titik tolak ungkapan seorang Nurel;  “Bagi bangsa-bangsa menghormati moyangnya, wanita // menjadi panutan, selendang  panjangnya menyeret lelangkah // dan dunia setuju walau berkali-kali terhempas  prahara” (Membuka Raga Padmi, I; XI, hal:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran akan nilai-nilai  keikhlasan juga semerbak dalam karya ini. Dalam perjalanan hidupnya, manusia  harus senantiasa melangkah dengan penuh keikhlasan. Mengabdi dengan bekal  keikhlasan lewat ketetapan hati, perkataan, maupun perilaku. Keikhlasan itu  diwujudkan dalam bentuk ikhlas kala memperoleh kenikmatan. Dan ikhlas kala  mendapatkan musibah. Hal itu memang terjadi secara bergantian. Ini sebuah  kewajaran. Orang tidak akan merasakan kenikmatan sebelum ia pernah merasakan  musibah atau sengsara. Begitu juga dengan sebaliknya. Ini merupakan sesuatu yang  berkala. “Sakit serta nikmat ia terima sejauh tidak mengurangi kekhusyukan, //  kesungguhan hayatmu mengabdi berbekal puja keikhlasan” (Anak Sungai Filsafat,  IX; XXI, hal:52).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai vitalitas juga terdapat dalam Kitab Para Malaikat.  Ini seolah cermin dari pribadi pengarangnya. “Bara revolusi berasal dari rindu  terkumpul gagasan sebelum bertemu, // dan akhirnya bentuklah yang menciptakan  melodi ruangan takdirmu” (Musik-Tarian Keabadian, V; XI, Hal:31). Ungkapan ini  bermaksud memberi dorongan dan semangat hidup. Bahwa sesungguhnya perubahan  besar yang terjadi dalam pribadi seseorang itu bermula dari kerinduan untuk  menggapai suatu hal. Di mana pencapaian terhadap suatu tujuan itu belum  terwujud. Oleh sebab itu dorongan batin harus segera dituangkan dalam bentuk  tindakan dan kesungguhan usaha. Adapun takdir di esok hari akan mengikuti  kekuatan tindakan dan kesungguhan usaha dalam proses penggapaian suatu hal yang  telah dirindu-impikan. Intinya, seseorang tidak boleh berhenti di tengah jalan  saat hendak merengkuh sebuah impian dan cita-cita. Kuatkan tekad sampai  muara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini merupakan karya yang dituangkan dalam bentuk romantisme  perjalanan hidup. Adapun yang menjadi selimutnya adalah romantisme filosofis.  Disusun ke dalam beberapa bagian. Lebih tepatnya dua puluh bagian ditambah satu  bagian muqaddimah sebagai pembuka awalnya. Bagian-bagianya adalah; Muqaddimah  (Waktu Di Sayap Jibril), Membuka Raga Padmi; I, Hukum-Hukum Pecinta; II,  Bait-Bait Persembahan; III, Ruang-Ruang Mengabadikan; IV, Musik-Tarian  Keabadian; V, Diruapi Malam Harum; VI, Keinginan-Keinginan Mulia; VII, Di Atas  Tandu Langitan; VIII, Anak Sungai Filsafat; IX, Sekuntum Bunga Revolusi; X,  Penampakan Do’a Semalam; XI, Duka Tangis Busa, XII, Gelombang Merawat Pantai;  XIII, Mengembalikan Niat Suci; XIV, Pembangunan Dunia Ganjil; XV, Siang Tubuh  Malam Jiwanya; XVI, Secercah Cahaya Kurnia; XVII, Tanah Kelahiran Masa; XVIII,  Ruang Waktu Padat; XIX, Muakhir (Kesaksian-Kesaksian); XX.&lt;br /&gt;Dalam setiap  bagianya tersusun secara panjang. Namun dibatasi dengan angka-angka romawi  sebagai bentuk pemisahan baitnya. Hal itu tampaknya sebagai wujud ekspresi yang  menyimbolkan bahwa karya ini digurat dalam rentang waktu yang relatif lama. Dan  dalam ruang-waktu yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan fisik Kitab Para Malaikat  cenderung mengelabuhi penikmatnya. Penikmat akan terpancing untuk memaknai dan  memahami dalam tiap baitnya secara terpisah. Tiap bait yang dicipta seolah  mengusung topik yang baru. Padahal tidak. Itu sebenarnya merupakan satu kesatuan  yang utuh dalam tiap sub bagiannya. Walaupun juga ada sedikit yang meloncat.  Namun pada akhir bagianya bisa kembali pada topik pembahasan semula. Jika pola  pemahaman penikmat dilakukan secara terpisah-pisah, maka benar apabila karya ini  disebutnya sebagai karya yang pengguratanya menggunakan ritme Jurus Dewa Mabuk.  Ritme yang tidak beraturan dan tak berarah. Namun mengandung kekuatan yang  dahsyat dan mematikan lawan-lawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa yang dipaki tidak sederhana dan  terlalu sublim. Jadi butuh pemahaman ekstra untuk menguak intinya. Dan tiap  bagianya pun terlalu panjang. Ini bagi penikmat yang kurang sabar, sering  mengalami kejenuhan dan bosan. Serta sedikit mengambil hikmah yang terkandung di  dalamnya. Yang paling sering akan menganggap ungkapan dalam karya ini minim  makna dan pesan. Sekedar keromantisan bahasa yang disajikan. Namun bagi beberapa  kalangan penikmat, ini sangat menyenangkan. Sebab ada tantangan yang lebih untuk  menguak kesublimannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, selamat menikmati. Selamat menerjemahkan  inti. Semoga kesahajaan akan melingkupi jiwa-jiwa sang pencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-5734312965487645642?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/5734312965487645642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=5734312965487645642' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5734312965487645642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/5734312965487645642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/06/resensi-kitab-para-malaikat-perjalanan.html' title='Perjalanan Panjang nan Sejenak'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5595181099083033986.post-3908453667701198146</id><published>2008-06-23T09:47:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T11:56:48.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A. Syauqi Sumbawi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Mengintip Dunia di dalam Dunia</title><content type='html'>Judul buku : Dunia Kecil; Panggung &amp;amp;Omong Kosong&lt;br /&gt;Pengarang  : A. Syauqi Sumbawi&lt;br /&gt;Jenis buku : Novel&lt;br /&gt;Epilog     : Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;Penerbit   : PUstaka puJAngga, Sastra Nesia, Lamongan 2007&lt;br /&gt;Tebal Buku : iv+220 hal,12x19cm.&lt;br /&gt;Peresensi  : Imamuddin SA&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dunia Kecil; Panggung &amp;amp; Omong Kosong merupakan karya yang imajinatif. Karya yang penuh dengan perjalanan yang diliputi dengan perjuangan untuk mengungkap misteri. Misteri dalam realitas cerita itu sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana judul yang dipakai, Dunia Kecil; Panggung &amp;amp; Omong Kosong, novel ini mengisahkan tiga dunia sekaligus dalam rentang waktu yang bersamaan. Dunia tersebut adalah dunia nyata yang diwakili oleh omong kosong yang dilakukan antara dua orang tokoh yaitu sutradara pementasan dan salah seorang penonton pertunjukan. Ah tidak, bukan seorang penonton. Bisa jadi kita sendiri selaku penbacanya. Yang kedua adalah dunia panggung atau dunia pertunjukan drama dengan tokoh utamanya, Yangrana. Dunia yang ketiga adalah kisah perjalanan Yangrana dalam menembus dan melintasi dunia kecil yang terdapat di dalam lakon pertunjukan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi penggerak alur cerita dalam novel ini adalah Yangrana, Sutradara, dan seorang Penonton. Maaf bukan penonton. Maksud saya pembaca. Eksistensi ketiga tokoh ini sangat jelas, namun yang menjadi tumpuan utama penulis, A. Syauqi Sumbawi adalah Yangrana. Tokoh inilah yang menjadi wahana penyalur ide dan pemikiran penulisnya.&lt;br /&gt;Perjalanan Yangrana dalam dunia kecil merupakan sebuah perjalanan yang misterius. Perjalanan yang penuh dengan teka-teki yang harus diungkap olehnya. Kalau boleh diilustrasikan, perjalanan Yangrana seolah-olah menyimbolkan perjalanan ruhaniah seorang mistikus dalam mengungkap tabir kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam dunia kecil tersebut, Yangrana berposisi sebagai orang yang awam. Orang yang tidak mengerti apa-apa dan bahkan ia pun tidak mengerti dengan keberadaanya saat itu. Setiap orang yang dijumpainya dalam dunia kecil tersebut, justru malah membuatnya semakin bingung. Setiap kali bertanya masalah keberadaanya, ia justru dihadapakan dengan persoalan-persoalan yang baru. Ia justru dihadapkan dengan teka-teki yang sanggup memicu timbulnya amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun setiap orang yang ditemui Yangrana di dunia kecil tersebut membuatnya bingung dan emosi, mereka juga kerap menanamkan nilai-nilai kepribadian yang lebih. Nilai-nilai tersebut tidak hanya tertuju kepada Yangrana semata, melainkan juga mengarah kepada para pembaca. Beberapa di antara nilai-nilai tersebut adalah nilai kesabaran, keyakinan, dan percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar merupakan modal utama dalam menjalani kehidupan. Hal itu disebakan oleh, setiap kehidupan pasti terdapat suatu bentuk hambatan, ujian, dan tantagan. Semua itu haruslah dihadapi dengan penuh kesabaran agar seseorang kuat dalam menjalaninya. Selain itu, kesabaran merupakan pondasi awal dalam diri seseorang sebelum ia melakukan suatu perubahan yang sangat besar dan menyeluruh. Nilai kesabaran yang ditanamkan adalah; “Benar sekali. Karena di mana pun, hanya yang mempunyai kesabaran yang bisa beradaptasi. Pertahanan diri yang pertama sebelum melakukan evolusi” (hal:42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keyakian merupakan masalah yang pokok dalam kehidupan seseorang. Keyakinan berorientasi pada personalitas seorang individu yang tidak dapat diganggu-gugat dan tidak dapat dipaksa-paksakan. Hal tersebut berorientasi kepada apa saja, baik ketuhanan, agama, ideologi, kebenaran, maupun yang lainya. Meskipun demikian, keyakinan seseorang bisa berubah-ubah dan tidak tetap. Kadang kuat dan kadang melemah. Semua itu tinggal sugestilah yang memegang peranan penting. Sugesti yang kuat dalam mempengaruhi-lah yang nantinya sanggup mengarahkan pilihan seseorang selanjutnya. Nilai keyakinan yang tercantum adalah; “Anda yakin sekali, Tuan Yangrana. Akan tetapi perlu anda tahu, keyakinan sifatnya tidak permanen. Seperti iklim cuaca yang begitu mudah berubah. Seperti temperatur. Kadang di puncak dan kadang di titik terrendah. Anda harus paham itu dan berhati-hati” (hal:93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat percaya diri keberadaanya juga sangat penting dalam diri seseorang. Dengan demikian, sifat tersebut perlu untuk ditumbuhkembagkan. Hal itu disebabkan oleh sifat percaya diri mampu menciptakan daya semangat hidup dalam diri seseorang. Seseoarang akan terlihat lebih bersemangat dalam menjalani realitas kehidupan yang ada jika ia memiliki sifat percaya diri yang tinggi. Namun perlu diingat, sifat percaya diri yang sangat berlebihan juga kurang baik dalam diri seseorang. Nilai sifat percaya diri yang terungkapkan adalah; “Kenapa anda masih bingung meskipun interpretasi anda tentang dunia kecil adalah sebuah jawaban yang benar, menunjukkan bahwa anda ragu-ragu. Apalah artinya kebenaran jika disikapi dengan keragu-raguan?!” (hal:92).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih cukup banyak nilai-nilai lain yang terdapat di dalam novel ini. Nilai-nilai tersebut dapat dijadikan cermin dalam menjalani realitas kehidupan yang ada. Masuklah ke dalam dunia kecil. Berjalanlah dan telusurilah lorong-lorong misteri yang ada di dalamnya, selaksa Yangrana yang mencari hakekat keberadaanya. Sungguh, hikmah kehidupan akan bermekaran selaksa kuncup bunga yang sedang mengembang. Dan petiklah!&lt;br /&gt;Dari bangun intrinsiknya, ada satu permainan alur yang cukup unik di dalam novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam novel ini, penulis secara sengaja menyematkan konstruksi alur yang meloncat-loncat, namun konstan dan terarah. Alurnya tidak serampangan dan tersusun secara apik. Loncatan-loncatan itu menimbulkan efek yang baik dalam karya tersebut, yaitu menimbulkan adanya suspens antara pembaca dengan karya itu sendiri. Yang menjadi titik pangkalnya adalah timbulnya foreshadowing dalam alur cerita sehingga menjadikan pembaca bertanya-tanya dan tertarik untuk mencari dan membaca kejadian-kejadian yang akan terjadi pada tokoh selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain semua itu, susunan alur yang demikian juga mampu membingungkan pembaca. Mereka yang kurang jeli, kurang teliti, dan kurang khusuk dalam membaca, maka akan mengalami hambatan saat melakukan pemahaman. Mereka kurang dapat menikmati dalam proses membaca, bahkan sanggup mengalami kejenuhan. Mereka juga akan bingung sendiri sebab tidak mampu menemukan kesatuan ide penceritaan. Jadi, dalam proses membaca perhatikan betul loncatan sekaligus perubahan alur ceritanya. Cermati dengan seksama antara suasana dunia panggung dengan di luar panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini disusun ke dalam tiga puluh bagian buku. Setiap bagianya menghadirkan loncatan-loncatan yang cukup variatif. Dan dimunculkan dalam bentuk perubahan setting penceritaanya. Yang paling unik lagi, novel ini mengajak pembaca berdialog secara langsung. Pembaca dijadikan salah satu tokoh penyusun dan penggerak alur ceritanya. Hal itulah yang kiranya sungguh fantastik dan brilian yang dilakukan penulisnya. Suatu teknik yang jarang dan bahkan bisa dibilang belum pernah di terapkan oleh penulis sebelumnya. Dan akhirnya, selamat membaca! Selamat menyelami! Selamat menikmati! Temukan segala yang menjadi misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5595181099083033986-3908453667701198146?l=anggunsasmita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/feeds/3908453667701198146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5595181099083033986&amp;postID=3908453667701198146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3908453667701198146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5595181099083033986/posts/default/3908453667701198146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anggunsasmita.blogspot.com/2008/06/resensi-dunia-kecil-mengintip-dunia-di.html' title='Mengintip Dunia di dalam Dunia'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07162340066493448650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-RjyZZ2ucR40/TlCcFXAz63I/AAAAAAAAAMA/RoeNXl7yR20/s220/buku%2BTrilogi%2BKesadaran%252C%2BNurel..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
