Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2021

Merapi dan Kearifan Pemimpin Lokal

Aguk Irawan MN *
thewindowofyogyakarta.com
 
Menjadi pemimpin (manusia) sangat tergantung pada perilaku yang melekat pada dirinya. Sementara perilaku sering dibangun dalam proses pergumulan panjang dalam menjalankan tugasnya sebagai sebuah cinta yang dilandasi prinsif kesetiaan. Tugas itu seberapapun pahit dan manis akan terus dihayati, digeluti, dan diarifi dengan pengabdian diri secara total. Cinta dan kesetiaan adalah dua unsur nilai yang dianggap paling luhur dalam ilmu filsafat etika, sehingga dengan dua sifat itulah manusia menjadi tegar, hati teguh dan berkemauan kuat serta mempunyai semangat pengabdian yang tak kenal batas.

Senin, 13 Juli 2020

Proses Kreatif; Sebuah Potret Kilat

Imamuddin SA *

Wiji Thukul pernah menyatakan, “Puisi adalah kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan. Pernyataan itu dapat ditarik dalam dua sudut pandang; puisi sebagai produk dan puisi dalam ranah proses kreatif.

Sabtu, 08 Februari 2020

KRITIK MORALITAS DAN CERITA YANG TERSELUBUNG;

Sebuah Catatan Sederhana
Imamuddin SA

Menulis sastra (cerpen) merupakan hal yang sangat melelahkan, menguras pikiran, sekaligus membingungkan. Bagaimana tidak, sejak awal kita sudah dituntut untuk memungut ide yang belum tersentuh rimbanya. Kalaupun sudah berhasil memungutnya, kita masih diminta untuk mengasuhnya dalam bentuk narasi sebagaimana kaidah yang semestinya ada; membikin tokoh dan penokohan, menyusun plot dan setting, menggarap point of view dan stilistika, lebih-lebih amanat yang konon harus menggugah. Yups, ini memang benar-benar merepotkan, belum lagi kita juga dituntut untuk mengantarnya sampai pada ranah menyunting sebagai fase finishing. Ini yang kerap membikin kita semakin bingung.

Jumat, 24 Januari 2020

Peta Perkembangan Komunitas Sastra di Lamongan dan Sekitarnya *

Alang Khoiruddin **

Pembicaraan terkait dengan peta perkembangan komunitas sastra Indonesia di Jawa Timur sebenarnya telah lama dilakukan dan diupayakan oleh para pemerhati, terutama oleh para peneliti Balai Bahasa Jawa Timur. Dari hasil pembicaraan dan sejumlah penelitian tersebut barangkali dapat disimpulkan bahwa perkembangan sastra di suatu daerah memang tidak dapat dilepaskan dari peran komunitas sastra yang ada di masing-masing daerah. Tak terkecuali di Lamongan.

Senin, 09 Desember 2019

Membaca W.S. Rendra dari Bedah Bukunya M. Muhibbuddin

Jo Batara Surya *

Sewaktu mengikuti acara bedah buku karya penulis Muhammad Muhibbuddin dari Jogjakarta. Rasanya, saya menemukan ruang-ruang lama di Mainteater Bandung, Jl. Cirateun Peuntas No.32, Wangunsari, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang menjelma di Sanggar Pasir, beralamat di Jalan Bangsalsari, Banyuurip, Mulyasari, Ujungpangkah, Gresik, tempat kegiatan tersebut dilangsungkan.

Rabu, 18 September 2019

SASTRA INDONESIA DALAM KOMENTAR ORANG BERNAMA NUREL

Catatan kecil buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia”
Taufiq Wr. Hidayat *

Gus Mus, Puisi dan Politik

Salam dari Derrida, Jacques

Radhar Panca Dahana

LELAKI tua berambut perak itu menunduk dan mengatupkan bibirnya. Dan ruang dua kali tiga meter dengan terang sekadarnya itu pun senyap, seolah mencoba mengakrabi suasana hati penghuninya. Aku duduk di hadapan, terpaku memandangnya. Begitu segera sepi menyergap lelaki itu. Mata-nya yang keras namun damai mengabarkan satu keteguhan, juga kesendirian. Ingatanku memanggil Hemingway, The Old Man and the Sea. “Monsieur Jacques, Je dois parti,” kataku sambil beranjak.

Senin, 06 Oktober 2014

KUNTOWIJOYO DALAM MAKLUMAT SASTRA PROFETIK

Imamuddin SA

Siapa yang tidak kenal dengan Kuntowijoyo! Ia seorang sastrawan, budayawan, sekaligus akademisi yang lahir di Yogyakarta 18 September 1943. Ia salah seorang maestro yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karya-karyanya sungguh luar biasa dan menjadi karya besar. Melalui karya-karyanya, Kuntowijoyo mengantongi berbagai macam gelar. Cerpenya yang berjudul “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri “(1995), “Resolusi Perdamaian” (1996), “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” (1997), dan “Jalan Asmara Dana” (2005), meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik Kompas. Cerpenya yang berjudul “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” (1968) memperoleh hadiah pertama dari majalah Sastra. Naskah dramanya yang berjudul “Rumput-Rumput Danau Bento” meraih hadiah harapan dari BTNI (1968). Sedangkan baskah dramanya yang berjudul “Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda, Cartasm” dan “Topeng Kayu” memperoleh hadiah kedua dari Dewan Kesenian Jakarta.

Sabtu, 28 Juli 2012

AVONTUR; Kesan dalam Jejak Sang Petualang

Imamuddin SA
http://sastra-indonesia.com/

Experience is the best teacher; pengalaman adalah guru terbaik. Kata mutiara ini tampaknya akan menjembatani kita untuk masuk dalam sajak-sajak Ragil. Dalam hal ini, pengalaman mampu menjelma menjadi seorang pengajar bagi para siswa, menjadi dosen untuk mahasiswa, menjadi ustad bagi murid, menjadi kiyai untuk santri, dan menjadi mursyid bagi rohaniawan, atau apa sajalah yang sejenis.

Senin, 20 Desember 2010

Estetik Sajak Syaiful Anam Assyaibani

Imamuddin SA
http://sastra-indonesia.com/

dengan bismillah segala pintu kan terbuka
mengajarkan degup jantung mengeja langkah
atas nama cinta

Ada dua hal yang memengaruhi perkembangan pribadi seorang manusia. Dua hal itu yaitu bakat dan lingkungan. Bakat mengarah pada suatu pembawaan sejak lahir. Sedangkan lingkungan merupakan stimulan dalam merangsang bakat sebagai kesempurnaan perwujudan. Ibarat tanaman yang berkuncup dan pada suatu ketika akan merekah berbunga bahkan menyembulkan wewangi khasnya.

Jumat, 28 Mei 2010

VOTUM SANG PENYAIR: Pemikiran &Pemberontakan Octavio Paz

Imamuddin SA *
http://sastra-indonesia.com/

Saya bukan mempengaruhi dan bukan mendoktrin siapapun. Saat ini cobalah alihkan segala bentuk imajinasi dan logika pada satu arah sudut pandang yaitu kesusastraan. Sastra merupakan satu bentuk perwujudan agung dan suci yang terpancar dari kedalaman pribadi seorang manusia. Ia menjelma dalam hidup dan kehidupan sebagai cahaya kejujuran yang memancarkan sinar kemalanya yang berbinar-binar. Ini tak pandang bentuk dan tampilanya. Walaupun kadang berbentuk rekaan maupun tampilan esensinya secara real terasa tersembunyi, ia pada dasarnya merupakan satu ungkapan kejujuran hati atau gambaran nyata dari kepribadian pengguratnya yang bertujuan agar mampu ditangkap, dipahami, dicerna, direfleksi, dan bahkan untuk diikuti oleh siapa saja yang berkenan membacanya.

NIETZSCHE DAN KEMATIAN TUHAN DALAM SEBUAH REFLEKSI

Imamuddin SA *
http://sastra-indonesia.com/

Ini bukan omong kosong, melainkan sesuatu yang benar-benar terjadi. Ini adalah realitas kehidupan dari dulu hingga sekarang. Fenomena ini kerap dipandang sebelah mata oleh kalangan-kalangan tetentu, padahal jika mereka bersedia menelisik kedalaman makna, mereka akan menemukan sesuatu yang besar yang sanggup dijadikan perenungan, permenungan serta refleksi terhadap realitas yang ada. Mereka tidak akan menganggap bahwa kata-kata ini bukan sebuah kata bualan yang terpancar dari mulut seorang radikal ateistik. Andaikan kata-kata ini benar merupakan ujaran dari seorang radikal ateistik, paling tidak mereka dapat mengambil sisi baiknya, sebab segala sesuatu yang ada pasti mengandung nilai yang dapat diambil dan dijadikan sebuah pembelajaran bagi diri pribadi.

Sabtu, 22 Mei 2010

S. YOGA DALAM LIMA TANGGA KEPUITISAN

Imamuddin SA *
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Cukup sulit dewasa ini memberikan penilaian terhadap karya sastra, lebih khususnya puisi. Memakai standart penilaian yang bagaimana untuk diterapkan pada sebuah karya sastra? Hal itu disebabkan oleh keberadaan karya sastra itu sendiri. Karya sastra kontemporer lebih bersifat bebas dari ikatan-ikatan atau aturan perpuisian. Inilah yang kiranya menjadikan seorang kritikus sastra harus memutar otak lebih serius lagi. Ujung-ujungnya hal ini akan mengarah pada satu bentuk kritik yang bersifat impresionis. Kritik yang memberikan tafsiran-tafsiran untuk mengagumkan dan untuk menimbulkan kesan yang indah kepada pembaca. Padahal secara konsep dasar, kritik sastra itu bertumpu pada pertimbangan baik-buruk sebuah karya berdasarkan nilai-nilai tertentu.

Kamis, 11 Maret 2010

HANTU JIWA IMAN BUDHI SANTOSA

Imamuddin SA *
http://sastra-indonesia.com/

Iman Budhi Santosa lahir di Magetan, 28 Maret 1948. pendidikan formalnya: S. Pb. M. A. 4 th Yogyakarta (1968) dan Akademi Farming (1983). Ia pernah bekerja pada perkebunan teh di Kendal (1971-1975) dam Disbun Prop. Dati I Jateng (1975-1987). Pada tahun 1969 bersama Umbu Landu Paringgi Cs mendirikan Persada Studi Klub (PSK) komunitas penyair muda di Malioboro. Ia menulis sastra dalam dwi bahasa, yaitu Indonesia dan Jawa. Karya-karyanya kerap mengisi antologi-antologi puisi maupun cerpen di antaranya: antologi puisi Tugi (1986), Tonggak 3 (1987), Zamrud Katulistiwa (1997), Embun Tajalli (2000) dan lain-lain. Cerpenya dalam antologi Lukisan Matahari (1993), Liong Tembang Prapatan (2000), dan lain-lain. Sejak tahun 2004 ia menjadi anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta (DKKY) seksi bahasa dan sastra Jawa.

Jumat, 26 Februari 2010

RUMI DAN JEJAK TUHAN DI ATAS SAJADAH MUSA

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Dalam pembahasan sebelumnya telah disinggung bahwa hakekat hidup manusia di dunia ini adalah untuk kembali kepada Tuhan dengan membawa limpahan keselamatan dan kebahagiaan. Dengan kata lain, orientasi hidup di dunia ini hanya kepada Tuhan. Manusia hidup di dunia ini hanyalah proses pencarian terhadap hakekat Tuhan yang haqq, agar saat ia kembali kepada-Nya kelak sanggup memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.

KIDUNG IMANENSI RUMI DI BALIK JUBAH MUSA

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Untuk tiap-tiap umat itu ada rasulnya (QS. Yunus, ayat 47). Berdasarkan ayat tersebut, dalam tiap umat manusia pasti memiliki seorang rasul di setiap zamanya. Rasul tersebut diutus tuhan hanya untuk menyampaikan ajaran kebenaran tentang esensi Tuhan yang telah diselewengkan dan bahkan diingkari oleh suatu umat. Ia mengajak sekaligus mengarahkan mereka yang berada dalam kesesatan agar kembali pada jalan yang benar serta memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Hal tersebut ia lakukan dengan meneladankan sifat dan sikap yang terpancar melalui perkataan maupun perbuatan.

RUMI DAN SYU’AIB ANTARA HARAPAN DAN PERSEMBAHAN

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Harapan identik dengan adanya keinginan. Orang yang menginginkan suatu hal pastilah ia memiliki harapan agar hal tersebut bisa segera terengkuhnya. Sebaliknya, untuk mendapatkan sesuatu tentunya seseorang harus ada pengorbanan, baik pengorbanan secara fisik maupun perasaan. Pengorbanan juga identik dengan persembahan.

Forum Sastra Lamongan

Imamuddin SA

Penulis bernama asli Imam Syaiful Aziz. Lahir di Lamongan 13 Maret 1986. Aktif di Kostela, PUstaka puJAngga, FSL, FP2L, dan Literacy Institut Lamongan. Karya-karyanya terpublikasi di: Majalah Gelanggang Unisda, Majalah Intervisi, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, Majalah Indupati, Warta Bromo, dan Radar Bojonegoro. Puisi-puisinya terantologi di: Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Memori Biru, Khianat Waktu, Kristal Bercahaya dari Surga, Gemuruh Ruh, Laki-Laki Tak Bernama, Kamasastra, Tabir Hujan, Sehelai Waktu, Kabar Debu, Tabir Hijau Bumi, Bineal Sastra Jawa Timur 2016, Pengembaraan Burung, Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, dan Serenada. Prosa-prosanya terpublikasi di: Mushaf Pengantin, antologi cerpen Bukit Kalam, Hikayat Pagi dan Sebuah Mimpi, Bocah Luar Pagar, Hikayat Daun Jatuh, dan Tadarus Sang Begawan. Pernah dinobatkan sebagai Juara 3 Mengulas Karya Sastra Tingkat Nasional tahun 2010, Harapan 2 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Jawa Timur 2018, dan Juara 2 Lomba Menulis Puisi Se-Kabupaten Lamongan 2019. Nomor telepon 085731999259. Instagram: Imamuddinsa. FB: Imamuddin.