Rabu, 28 Maret 2018

Imamuddin SA bersama istri dan anak tercinta


Imamuddin SA dalam suatu masa

Membayangkan Bedah Buku MMKI di PDS H.B. Jassin

Nurel Javissyarqi *

Saya tak menyangka kalau buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia” bakal dibedah di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Jangan-jangan ini lamunan saja, karena kebetulan tengah baca ulang buku susunannya ‘Paus Sastra Indonesia’ yang bertitel “Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi,” Grafiti 1995, tentunya lagi berseberangan. Bayangan ini menjulur pada peristiwa lampau “Ketika Jogja Menghakimi Jakarta,” karena lupa tanggal bulan tahun kejadiannya, saya telusuri di google, dimulai Jam 20.00 tanggal 28 Mei 2003 di Auditorium IAIN SuKa (UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta.

Imamuddin SA

Lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, Jawa Timur 13 Maret 1986. Pendidikan dasarnya MI Hidayatussibyan di tanah kelahirannya, lulusan Mts Simo 2000, alumni MA Matholi’ul Anwar 2003. Menyelesaikan S1 di Unisda 2007. Penulis bernama lengkap Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg, dan Forum Sastra Lamongan. Sempat sebagai sekretaris redaksi Jurnal Sastra Timur Jauh. Kini sebagai sekretaris pada Jurnal Kebudayaan The Sandour.
Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga), Kidung Sang Pecinta, Sasmita Kembang Widerda. Ia tinggal di Jl. Embong Gede, RT 01, RW 05, bencah kelahirannya.

Blog Archive